
...Ayah, aku akan selalu mengenang kebaikanmu....
...\=•\=•\=...
Mentari pagi mulai memancarkan sinarnya. Suara kicauan burung saling bersaut-sautan. Mereka seolah bersatu untuk membangunkanku.
“Hoaaamm ...!" Meski mata masih belum bisa terbuka sepenuhnya, tetapi aku harus sekolah.
Dengan langkah yang terasa sangat berat, aku berjalan meraih gagang pintu dan kemudian keluar. Saat sampai di luar, aku merasa seperti terasa ada yang kurang. Hmm ... biasanya Ibu dan Miku sudah ada di dapur setiap pagi.
'Kemana mereka, ya?' pikirku seraya menoleh ke segala arah untuk mencari mereka. Aku berjalan ke setiap sudut rumah. Namun, hasilnya nihil.
Ketika aku sampai di depan kamar Miku, langkahku langsung terhenti. Aku melihat Miku sedang tertidur pulas di pelukan hangat ibu. Ibu terlihat sangat menyayangi Miku.
'Hmm ... kapan Ibu memperlakukanku seperti itu, ya?' tanyaku dalam hati.
Ah sudahlah, lebih baik aku bersiap untuk pergi sekolah. Lagipula ... ini sudah terlalu siang. Aku mengambil bahan makanan dan mulai memasak sarapan. Setelah selesai sarapan, aku bergegas untuk mandi. Semuanya telah selesai, saatnya aku berangkat ke sekolah.
Aku berjalan sambil menggendong tas berwarna hitam pemberian mendiang ayahku. Benar ... ayahku adalah seorang pria penyayang dan perhatian. Setiap hari, dia selalu menyambut pagiku dengan senyuman dan pelukan. Dia juga selalu membelikanku boneka dan mainan.
Dia adalah Yuu Hanazaka, pria yang paling aku cintai di dunia ini. Di saat semua mencela dan menghujatku, ayah selalu berdiri untuk melindungiku. Namun, semua itu tinggal kenangan, semenjak ayah meninggal karena kecelakaan beruntun.
Flashback Ai on
Aku yang masih sepuluh tahun saat itu, sedang bermain boneka bersama Miku. Namun, tiba-tiba telepon rumah kami berdering. Ibu yang tadi sedang menonton televesi pun langsung bergegas mengangkat teleponnya.
“Halo, bisakah saya berbicara Nyonya Anna Mizhunashi?" tanya seseorang dengan suara wanita di sambungan telepon.
“Iya saya sendiri. Ada apa, ya?" Ibu membalas pertanyaan wanita itu.
“Oh baiklah kalau begitu. Kami dari Rumah Sakit Sakura ingin mengabarkan bahwa suami anda, Tuan Yuu sedang dilarikan ke UGD karena mengalami kecelakaan!" ujar wanita itu.
“Apa?!" Setelah mendengar pernyataan wanita di sambungan telepon, tiba-tiba saja tubuh ibu langsung lemas dan nyaris saja jatuh, mulutnya terbuka dan berkata, "tidak mungkin ... ini semua tidak mungkin, 'kan?!"
__ADS_1
Ibu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Halo, Bu!" Wanita itu berteriak lantang. Ternyata, sambungan telepon belum dimatikan. “Halo, Bu?!" sambungnya.
Namun bukannya malah menjawab, ibu malah berteriak dengan suara lantang. “DIAM!" Satu kata yang keluar dari mulut ibu berhasil membuat wanita tadi terdiam. Ibu segera menutup teleponnnya.
Sesaat setelah itu, ibu berlari masuk ke dalam kamar dan lalu keluar lagi. Dia tampak kebingungan.
“Ai, ayo kita ke Rumah Sakit!" ajak ibu sambil memakai jaket dan membawa tasnya. Dia menggendong Miku dan menarik tanganku.
Singkat cerita, kami telah sampai di rumah sakit. Ibu berlari dengan raut wajah panik.
“Permisi, Sus. Bisa tolong tunjukan ruangan tempat pasien bernama Yuu berada?" tanya ibu kepada salah satu suster.
“Maaf sebelumnya, apa hubungan anda dengan Tuan Yuu?" Suster yang kira-kira berusia dua puluh tahun ke atas itu balik tanya.
“Sa-saya Anna Mizhunashi, istri dari Tuan Yuu!" terang ibu.
“Oh baiklah ... Kini, Tuan Yuu sedang mendapat perawatan. Jika anda ingin mengunjunginya, maka anda tinggal berjalan lurus!" jelas suster berparas cantik tersebut.
Saat sampai di depan ruangan, kami langsung dipertontonkan keadaan ayah yang sedang diatasi oleh dokter. Detik demi detik dan menit demi menit, para dokter masih berusaha untuk menyelamatkan ayah. Namun tiba-tiba terdengar suara sistem datar.
Tuuuutttt ...
Ternyata itu adalah bunyi ECG. Alat itu menampilkan sebuah garis hijau lurus. Setelah melihat keadaan jantung ayah, dokter pun segera mengecek denyut nadi ayah.
“Haaahhh ...." Dokter pria yang menangani ayah menghela napas. “18:34, Hanazaka Yuu," lanjutnya.
Mata ibu langsung membola. Dia menutupi mulutnya dengan kedua tangan. “Tidak ... mungkin!" ucap ibu masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Yuu-kun ...," lirih ibu kemudian menangis sejadi-jadinya.
Flashback Ai off
Aku kembali berjalan dan berusaha untuk melupakan kenangan manis dengan ayah. Saat baru beranjak beberapa langkah dari tempat sebelumnya—dari seberang jalan, aku melihat seorang laki-laki berseragam sekolah sedang mendengarkan musik di headphone berwarna biru miliknya. Dia juga terlihat mengayun-ngayunkan tangannya seolah-olah sedang bermain piano.
__ADS_1
Hmmm ... dia terlihat tidak asing bagiku.
“Rey!" seruku memanggil nama laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah Rey.
Tetapi, Rey tampak tidak menoleh ke arahku. Mungkinkah karena dia sedang mendengar musik di headphonenya? Umm ... mungkin saja. Tak peduli berapa kali aku berteriak memanggil namanya, dia tetap saja tidak dengar.
Aku memutuskan untuk menyebrang dan menghampiri Rey. Tetapi sebelum itu, aku menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa tidak ada kendaraan yang lewat. Setelah dipastikan aman, aku bergegas menyebrang dan mengejar Rey.
“Rey!" tegurku seraya menepuk pundak Rey.
Dia menoleh ke arahku. Ternyata sesuai dugaan, dia adalah Rey.
“Oh ... ternyata kamu, Ai. Umm ... sebentar, kamu pasti manggil-manggil namaku terus, iya, 'kan?" tanya Rey dengan melanjutkan, "maaf ya, aku tidak dengar. Karena aku mendengar musik."
“Ah tidak apa-apa kok, Rey. Aku tahu kamu tidak menjawab karena sedang mendengarkan musik," ucapku lalu melanjutkan, "ngomong-ngomong, aku boleh tanya tidak?"
Rey menatap wajahku. “Apa yang ingin kau tanyakan, Ai?" lanjutnya bertanya balik.
“Tadi aku melihatmu sedang mengayun-ngayunkan tanganmu. Sebenarnya, apa yang kau lakukan?" tanyaku penasaran.
"Hm? Ah, itu. Ya ... kau pasti sudah tahu aku sedang melalukan apa. Tak lama lagi akan ada ajang mencari bakat dan aku akan ikut serta. Meski banyak orang berbakat di luar sana. Tapi, dengan kemampuan bermain pianoku ini, aku pasti bisa," ujar Rey kekeh.
“Waahh ... ternyata kamu bisa bermain piano? Jujur, aku baru mengetahui hal itu sekarang," ucapku dengan hati penuh dengan rasa kagum.
“Hahaha ... belakangan ini aku sudah jarang bermain piano," kata Rey sembari menatap langit biru Kota Tokyo.
Aku memandangi Rey dengan senyum senang. Sekarang, aku mulai mengenal sosok Rey yang sebenarnya. Tunggu ... kenapa aku malah membahas Rey, sih. Heee ... pipiku, kenapa berubah jadi merah?!
Rey yang melihat tingkahku pun langsung sigap mencubit pipiku. “Kenapa pipimu merah begitu, Ai?" tanyanya berpura-pura tidak mengerti.
“Eh tidak apa-apa kok." Aku melepas cubitan pipi Rey dan bergegas berjalan meninggalkan Rey sendirian. Perasaan ini memang tidak bisa dikendalikan.
“Hei, Ai! Tunggu!" teriak Rey yang ingin menghentikan lajuku.
__ADS_1
'Dia terlihat sangat imut saat salah tingkah seperti itu!' batin Rey sambil tersenyum.