Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 25 : Latihan Matematika


__ADS_3

...Latihan matematika memang membuat hampir semua orang menjadi pusing....


...\=•\=•\=...


Pagi hari di SMA TOKYO, semua siswa-siswi kelas 1-F sedang mengobrol sendiri-sendiri. Ada yang membahas tentang kegiatan klub kemarin, lalu ada yang membahas tentang persiapan untuk ikut klub pertemuan selanjutnya. Bahkan, ada beberapa siswa yang sedang membicarakan senior cantik di klub.


Namun, hari ini aku merasa ada sesuatu yang kurang. Ah iya, sedaritadi, aku sama sekali tidak melihat Rey. Di bangkunya, tidak ada tas sekolah hitam yang biasanya dia gunakan. Kemana dia, ya?


Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki cepat, seperti seseorang sedang berlarian, masuk ke dalam kelas.


"Hah ... hah ... hah ...." Seorang laki-laki remaja tampak sedang kelelahan. Dia menyangga tubuhnya dengan tangan yang bersandar di gawang pintu kelas, sambil mengatur napasnya. Saat ritme napasnya sudah mulai normal lagi, dia berjalan pelan menuju bangku kosong di sebelahku. Ya, dia adalah Rey.


"HAAHH ... benar-benar melelahkan!" keluh Rey seraya menenggelamkan wajahnya di meja.


Aku mengernyitkan keningku karena heran. Bagaimana tidak? Dia tiba-tiba sampai di sekolah dengan keadaan tubuh bermandikan keringat seperti itu. "K-kau kenapa, Rey? Kenapa kau terlihat sangat kelelahan begitu?" tanyaku khawatir.


Dia mengubah posisinya menjadi tegak lagi. "Huftt ...." Dia menarik napas. "Hahh ...." Kemudian membuangnya lagi.


"Itu semua gara-gara Hikari, adikku. Dia memang suka membuatku kesulitan," jawab Rey sambil mengusap keringat yang masih bercucuran di wajahnya.


Aku beranjak dari kursiku dan mengambil sapu tangan yang sengaja kuselipkan di bagian kanan tasku. "Hei, lain kali, tidak perlu berlarian seperti itu, Rey!" ucapku sambil mengusapi keringatnya menggunakan sapu tangan milikku.


Rey terkejut sesaat, hanya sesaat. Lama-kelamaan, dia mulai melepaskan kekakuan tubuhnya. Rey seperti sengaja membiarkanku mengelap keringatnya. "Ai?" Dia memegang tanganku erat.


"Iya, Rey. Ada apa?" Aku menyingkirkan sapu tanganku dari keningnya, karena aku merasa bahwa, keringat Rey sudah kering.

__ADS_1


Namun, tanpa kuduga, dia memegang tanganku dan menaruh di keningnya lagi. "Jangan pergi, Ai! Biarkan aku merasakan kehangatan belaian tanganmu sekali lagi," ungkap Rey sembari menunjukan senyum ramahnya.


"He? Ah, ba-baiklah." Aku menuruti kemauan Rey. Aku pun membiarkan tanganku dipegang olehnya. Rasa tersipu malu pasti sudah jelas kurasakan saat ini. Dia memegangi tanganku erat.


Kring ...


Bel tanda masuk sekolah, telah berbunyi. Aku pun segera menyingkirkan tanganku dan hendak kembali ke bangkuku, sebelum murid-murid lain masuk ke dalam kelas.


"Ah sial, kenapa belnya menganggu momen romantas ini," gumam Rey. Aku tidak bisa mendengar jelas apa yang dia katakan, akan tetapi, kira-kira begitulah yang dia ucapkan.


"He? Kau bilang apa tadi, Rey?" tanyaku meminta kejelasan.


"Hm? Eh, tidak tidak. Tidak apa-apa," jawabnya gelagapan.


Meski terlihat sedikit membingungkan, aku lebih memilih untuk mengiyakan ucapanmya saja. "Oh ... baiklah. Aku akan kembali ke tempatku dulu," ujarku dengan posisi badan setengah berbalik.


Semua siswa dan siswi kelas 1-F, mulai masuk ke dalam kelas satu per satu. Kegiatan bercanda yang mereka lakukan tadi, terpaksa harus dihentikan sejenak.


'Um ... ini adalah pelajaran Bu Mai. Lebih baik, aku menyiapkan alat tulis dan bukunya dulu saja,' pikirku dan lalu mengambil peralatan sekolah yang sudah kubawa di tas sekolahku.


Tak berselang lama, seorang wanita mengenakan baju guru lengkap dan sepatu hak berwarna hitam yang cukup tinggi, masuk ke dalam kelas. Ya, dia adalah Bu Mai. Wanita paruh baya itu tampak sedang membawa lembaran kertas. He? Mungkinkah dia menyuruhku untuk menulis essay seperti Bu Kizuha? Tidak mungkin, mana bisa pelajaran matematika disuruh membuat essay. Lantas, apa yang direncanakan Bu Mai saat ini? Aku jadi penasaran.


Tap ... tap ... tap ...


Suara itu terdengar mengiringi langkah kaki Bu Mai. Saat dia sudah sampai di dekat meja guru, wanita itu pun menaruh lembaran kertas yang dibawa olehnya tadi.

__ADS_1


"Ohayou, Minna-san!" Sambil tersenyum ramah, dia menyapa seluruh murid di kelas. Tangannya menyatu.


"Ohayougozaimazu, Sensei!" balas semua murid-murid.


Bu Mai menganggukan kepala. "Yup, baiklah. Hari ini ibu akan mengadakan latihan untuk kalian. Tunggu sebentar!" Bu Mai lalu berjalan ke arah meja dan mengambil lembaran kertas yang dibawa tadi. Tunggu, dia tadi bilang latihan? Sebentar, maksudnya ulangan?


"Di lembaran ini ada beberapa soal matematika essay tentang materi yang kemarin kita pelajari. Ibu minta kalian agar mengerjakan soal-soal ini dengan serius dan jujur. Ibu lebih menghargai siswa-siswi yang nilainya tidak bagus, tapi, dia jujur. Daripada siswa-siswi yang memiliki nilai bagus tapi dari hasil menyontek," ucap Bu Mai menjelaskan. "Jika kalian memerhatikan penjelasan yang diterangkan, maka, ibu yakin, kalian pasti bisa mengerjakan soal-soal ini dengan mudah," sambungnya sambil berjalan membagikan lembaran-lembaran kertas itu.


Dia berjalan menghampiri meja siswa satu per satu. Ekspres tegang dan khawatir terpampang jelas di wajah hampir seluruh murid di kelas. Begitu juga dengan Rey. Jari-jarinya terlihat sedang bermain pulpen.


Kalau aku, ya, tidak begitu merasa takut. Aku hanya sedikit tegang, hanya sedikit. Karena, kurasa, aku sudah mempelajari materi yang dijelaskan oleh Bu Mai dengan baik. Aku yakin, aku pasti bisa ... semoga saja.


Bu Mai menghampiri mejaku dan menyodorkan lembaran kertas bersoal itu. Kemudian, dia kembali lanjut membagikan kertas soalnya. Sepeninggal Bu Mai, aku membuka lembaran soal. Senyuman langsung terlukis di bibirku, saat mengetahui, bahwa soal latihan ini, sangat mirip dengan soal latihan yang diberikan oleh Bu Mai saat itu.


Aku melirik Rey yang tampak sedang memerhatikan soal tersebut dengan serius. "Astaga, soal macam apa ini ...?" lirih Rey sambil mengacak-ngacak rambutnya.


"Um ... A—" Saat hendak bertanya keadaan Rey, tiba-tiba saja terdengar suara Bu Mai menyahut. "Silakan dikerjakan soalnya! Ibu tunggu sampai waktu jam pelajaran ini berakhir. Semangat!" Guru wanita ramah tersebut memberikan semangat kepada kami.


"Baik, Bu ...!" jawab semua murid dengan nada malas. Aku mulai mengerjakan soal itu pelan-pelan. Setiap soal selalu kubaca berulang kali, agar aku dapat memastikan bahwa jawabanku benar.


"Ichi ... ni ... san ... nyah ... arigatou ... nyah~" Rey menghitung angka-angka dengan jarinya. Sebentar, tidak, bukankah dia sedang menyanyi? Ah sudahlah, lebih baik aku selesaikan dulu soal latihanku ini.


Menit demi menit telah berlalu. Sebenarnya, aku sudah selesai mengerjakan semua soalnya. Namun, lebih baik kucek sekali lagi, supaya tidak ada kesalahan.


"Dua jika dikali dengan empat umm ... ah, iya delapan," ucap Rey menghitung jawaban. Saat mendengar hal itu, aku pun merasa senang. Mungkin, dia sudah menemukan jawabannya.

__ADS_1


"Loh, kok seperti ini? Ke-kenapa jawabannya malah jadi banyak seperti ini? Bukankah aku sudah menghitungnya dengan baik tadi?" tanya Rey pada dirinya sendiri. Yah, ternyata dia belum menemukan jawabannya.


"Tidak ... bagaimana ini? Aku tidak bisa mengerjakan soal-soal ini. Arghh ... sangat membingungkan!" umpat Rey kesal. Dia lalu membenamkan wajahmya di balik kertas soal. Kuharap, kau bisa mengerjakan soalnya, Rey.


__ADS_2