Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 26 : Kegiatan Camping


__ADS_3

...Kemarin klub, sekarang kemah. Mengapa kegiatan sekolah ini sangat banyak?...


...\=•\=•\=...


Coret-coretan angka pun tampak memenuhi kertas putih polos yang memang sengaja disediakan langsung oleh Bu Mai untuk menghitung jawaban. Semua soal sudah kucek satu per satu dan kurasa, aku telah mengerjakan semuanya dengan benar. "Hah ... akhirnya ...." Aku menghela napas lega. Pada saat yang sama, sudut mataku menangkap kondisi Rey saat ini.


Rasa penasaranku tak bisa dicegah lagi. Meski, aku sudah bertekad agar tidak melihat Rey sampai waktu ulangan berakhir, tapi ternyata, mata ini tidak bisa dibohongi. Aku mengarahkan bola mataku ke arah samping. Ya, aku melirik keadaan Rey untuk memuaskan rasa penasaran ini.


"Heh?" Aku terkejut saat menengok ke arah Rey. Bagaimana tidak? Aku melihatnya sedang tertidur lelap, dengan meja yang digunakan sebagai bantalnya. Dia mendengkur, akan tetapi suaranya tidak terlalu keras.


"Arggg ... huuufftt ... arggg ... huuuftt ...." Dia mengulangi hal itu berkali-kali. Astaga, dia benar-benar tertidur lelap. Aku menengok ke arah Bu Mai yang sedang duduk sambil menatap layar ponselnya. "Baiklah!" ucapku yakin.


Tak ada pilihan lain, aku harus segera membangunkan dia. Sebelum waktu latihan matematika ini berakhir. "Psstt ... Rey ... REY!" tegurku lirih, tetapi terdengar tegas. Dia meresponku dengan dengkurannya lagi.


Aku menjadi bingung. Aku harus bagaimana ini? Dia tidak bangun-bangun sedaritadi. Aarghh ... sangat membingungkan ...! Eh tunggu dulu, jikau aku memukul kepalanya, mungkin dia bisa bangun. Um ... tidak tidak ... apa yang aku bicarakan ini. Jangan, Rey bisa sakit nanti.


Namun, mungkin, itu memang satu-satunya jalan. "Ya!" Aku mengambil kotak pensil berwarna biru yang diberikan oleh Rey saat itu dan kemudian mengambil ancang-ancang. Saat aku merasa bahwa pukulanku akan tepat sasaran, aku pun tak akan menyia-nyiakan momentum ini.


Plak!


"AWWW ...!" Sontak, dia langsung terbangun karena merasa sakit. "Aduuhh ...." Rey kesakitan sembari memegangi bagian kanan kepalanya. Aku menutup kedua mulutku. Kau tau ... aku juga terkejut saat dia bangun tiba-tiba begitu.


"Hei! Kenapa berteriak seperti itu, Rey?!" tanya Bu Mai dengan tatapan tajam kepada Rey.


Rey pun menjadi terkejut. "Ah, umm ... ti-tidak apa-apa kok, Bu. Kepala saya tak sengaja terbentur tadi hehe ... he," ucap Rey sekenanya sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.


Bu Mai membenarkan kacamatanya. "Hm, baiklah. Silakan dilanjutkan lagi. Waktu tersisa sepuluh menit lagi. Ibu harap, kalian sudah menyelesaikan semua soalnya," ujar Bu Mai seraya menatapi semua murid-murid.

__ADS_1


"Baik, Bu!" jawab semua bersamaan.


Rey mengusap matanya yang mungkin masih terasa lengket. Dia lalu mengambil penanya dan mulai mengerjakan soal tes lagi. Yah, meski tidak sesuai dengan dugaanku, tapi ... baguslah. Setidaknya, dia bisa menyelesaikan soal-soalnya.


Suasana kelas pun seketika menjadi sepi seperti sedia kala. Sebagian siswa tampak masih mengerjakan soal latihan ini. Beberapa siswa terlihat sudah menaruh semua alat tulisnya, menandakan bahwa mereka telah selesai. Aku masuk bagian siswa yang telah selesai, sementara Rey ... dia masih hampir selesai, mungkin saja.


Kringg ...


Bel tanda ganti pelajaran telah berbunyi. Tak terasa, sepuluh menit telah berlalu. Huft ... akhirnya, latihan matematika ini selesai juga.


"Baiklah semuanya. Silakan, kalian maju satu per satu dan kumpulkan hasil latihannya kepada ibu di sini, ya!" perintah Bu Mai sambil menunjuk mejanya.


Aku mengambil kertas latihanku dan beranjak dari kursi. Aku berjalan menghampiri Rey yang sedang terduduk tanpa reaksi. Ekspresi wajahnya datar. Entah itu senang atau sedih.


"Rey?" Aku memanggilnya seraya memegang lembaran kertas tadi. Aku berniat untuk mengajaknya mengumpulkan hasil ulangan ini bersama-sama. Namun, kenapa dia menjadi aneh begini. "Rey? K-kau kenapa?" tanyaku keheranan.


"Psttt ... ini!" Aku menyodorkan kertas buram yang kugunakan untuk menghitung, kepada Rey.


"Hm? Eh, ke-kenapa—" Saat hendak bertanya, aku reflek langsung memotong pembicaraannya. "Ssstt ... jangan keras keras, nanti Bu Mai dengar. Kau salin saja tidak apa-apa kok. Aku tidak merasa keberatan sama sekali," ungkapku.


Dia menganggukan kepalanya dan bergegas menyalin jawabanku. Tak berselang lama, Rey telah selesai. Kemampuan menulis daruratnya ternyata bisa diandalkan sekarang ini.


"Ayo, Rey!" Aku mengajak Rey mengumpulkan hasil latihannya bersama.


"Ya," tanggapnya singkat dan kemudian beranjak dari kursinya. Kami berdua berjalan bersama ke depan kelas. Aku dan Rey mengumpulkan kertas soal latihannya di meja Bu Mai. Setelah selesai, kami pun kembali ke kursinya masing-masing.


Bu Mai berdiri dari kursinya sambil merapikan kertas-kertas latihan para siswa. Semua murid hanya memandanginya tanpa bersuara sedikitpun.

__ADS_1


"Terima kasih karena kalian telah mengerjakan latihan matematika dengan baik. Ibu akan mengoreksi latihan kalian ini di kantor. Baiklah, kita akhiri pelajaran matematika pada pertemuan kali ini. Semoga semua siswa siswi kelas 1-F mendapat hasil yang maksimal," ujar Bu Mai seraya mengangkat tumpukan kertas soal tersebut.


"Baik, Bu!" jawab kami kompak.


Bu Mai berjalan keluar kelas. Namun, saat hendak membuka pintu, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya. Pandangan semua siswa langsung berpusat kepada Bu Mai yang tiba-tiba berhenti berjalan.


"Ah iya, ibu hampir lupa. Sebentar!" Bu Mai berbalik dan berjalan menuju depan kelas. "Anak-anak, kemarin, pihak sekolah SMA TOKYO mengadakan rapat dengan para guru. Kami semua berdiskusi tentang acara kemah sekolah. Ya, setelah meminta pendapat dari para guru, akhirnya pihak sekolah sepakat. SMA TOKYO akan mengadakan acara camping sekolah bersama di kawasan perkemahan," terang Bu Mai menjelaskan tentang acara kemah.


"Ha? Kemah?" tanya Yujin. Seperti biasa, murid-murid langsung berunding sendiri-sendiri tentang acara kemah ini.


"Semuanya, mohon diam!" Bu Mai memerintahkan semuanya untuk diam. "Acaranya akan diadakan minggu depan, jadi, ibu harap, kalian bisa bersiap-siap, ya?" lanjut Bu Mai. "Ada pertanyaan?" Bu Mai bertanya kepada semua.


Yujin mengangkat tangannya. "Bu!"


"Ya, Yujin? Ada ?" tanya Bu Mai sambil menatap Yujin.


"Berapa hari kita akan berkemah, Bu?" tanya Yujin. Dia menanyakan berapa hari kami akan berkemah.


"Umm ... ibu kurang tahu. Nanti, jika ibu sudah tahu, maka ibu pasti akan memberi tahu kalian," jawab Bu Mai.


"Ah, baiklah, Bu ...," jawab Yujin.


"Yup. Apa ada pertanyaan lain?" tanya Bu Mai, akan tetapi, tidak ada tanggapan dari para murid. "Ya sudah jika tidak ada. Ibu akan kembali ke kantor." Bu Mai berjalan keluar kelas.


"Iya, Bu." Semua mengiyakan ucapan Bu Mai itu.


Huuuh ... kemarin kegiatan klub, sekarang kegiatan kemah. Kenapa sekolah ini memiliki banyak kegiatan, sih? Eeh ... tunggu, bukankah kemah itu harus menginap? Lalu, bagaimana dengan ibuku nanti.

__ADS_1


__ADS_2