Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 61 : Sungguh, Aku Baik-Baik Saja ...


__ADS_3

Sejak saat itu, aku mulai sedikit menjaga jarak dengan Rey. Saat aku berpapasan atau bertemu dengannya, maka aku akan menghindar. Namun, setiap hari Rey selalu menghalangiku dan memohon untuk mengubah keputusanku.


Maaf ...


Aku tak bisa mengubah keputusanku. Biarkan saja aku yang menangangi masalahku sendiri.


Sampai hari itu tiba, hari senin dimana Reina mengatakan kalau dia memberiku waktu seminggu. Aku merasa bahwa aku telah melaksanakan apa yang dia katakan. Tapi ....


Tap ... tap ... tap ...


Aku berjalan langkah demi langkah melewati lorong kelas seraya membawa tas hitam seperti biasa. Awalnya aku berjalan dengan wajah biasa, akan tetapi aku mulai merasa tidak enak. Ya, entah kenapa aku merasa sangat tidak enak ketika melihat semua murid-murid di sini menatapku.


Kenapa mereka menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku?


"Ohayou, Ai!" sapa seorang gadis dengan rambut kucir kuda dari depanku. Dia adalah satu-satunya siswa yang tidak menatapku dengan tatapan aneh. Ya, dia adalah Rin.


"O-ohayou mo, Rin ...


... emm ano, apa ada sesuatu di wajahku, Rin?" tanyaku dengan ekspresi penasaran.


"Hm? Tidak kok. Wajahmu seperti biasa, mulus dan halus. Emmm ... memang kenapa kau menanyakan hal itu?" Seraya memeriksa wajahku, Rin malah berbalik tanya. Eem ... dia bilang, tak ada yang aneh di wajahku. Lalu, apa yang membuat mereka menatapku seperti itu.


"Eh, bukankah itu adalah Ai dari kelas 1-F?" Di tengah-tengah kebingunganku, aku mendengar suara samar-samar kedua siswi sedang berbicara bersama.


"Ah benar. Kurasa itu memang dia. Aduh ... bagaimana bisa dia tersenyum dan lewat di depan kita tanpa ada rasa bersalah. Menghakimi seorang siswi hanya karena masalah pribadi itu sungguh keterlaluan," balas siswi lainnya.


Meskipun suaranya pelan, aku masih bisa mendengarnya. Apa maksud mereka aku menghakimi seseorang?


Kapan?


"Emm–"


"Hei hei. Apa maksud kalian? Berbisik dan membicarakan Ai. ...

__ADS_1


... aku dengar semuanya, apa maksud kalian Ai menghakimi seorang siswi? Dia sama sekali tidak pernah melakukannya. Aku tahu, Ai adalah gadis yang baik. Ingat itu!" Rin menyahutku. Dengan berani dia membantah dua siswi yang sedang membicarakanku.


Aku benar-benar beruntung memiliki sahabat sepertinya.


"Hei! Apa kau tak mendengar informasi dari sekolah?" Namun, bukannya takut, salah satu dari dua gadis tadi mendekati Rin kemudian bertanya.


"Informasi sekolah? Informasi apa?"


"Haishh ... pantas saja kau terlihat begitu naif. Ya, tak heran sih, kau adalah sahabat Ai yang adalah gadis ternaif di sekolah kita pftt .... Hei, dengarkan aku. Baru-baru ini kepala sekolah mengumumkan peraturan sekolah baru yakni mengeluarkan murid yang bermain fisik dengan murid lainnya. Dengar-dengar, peraturan itu diambil karena kejadian yang dialami oleh Reina. Kau pasti tahu, kan? Reina Miyamoto. Ya, katanya Ai memukul dan mencekik leher Reina di halaman belakang sekolah. Pftt ... Ai! Apa kau ingin balas dendam kepadanya? Hahaha ... kau berani menganggu Reina yang notabenenya adalah gadis pemilik koneksi terkuat di sekolah ini. Sungguh, kau berani sekali. Aku puji kebetanianmu, Gadis bod*h." Gadis yang ternyata bernama Natsumi Otonari ini menjelaskan semuanya. Aku dan Rin mendengarkan dengan saksama.


Dia menyebutku gadis naif dan bod*h berulang kali. Tapi aku tidak peduli dengan hal ini, saat ini, hal yang harus diperhatikan adalah aku yang memukul dan mencekik Reina di halaman belakang sekolah.


Bukankah yang memulainya adalah Reina sendiri?


Lalu, kenapa aku yang disalahkan?


Ah, aku tahu. Tapi, bukankah aku sudah menuruti permintaan Reina?


Hah ... aku benar-benar sudah hancur saat ini.


Aku kehilangan Rey dan sekarang citraku di sekolah pun juga lenyap.


Hahaha ... haha ... haha ... yap, setidaknya aku masih memiliki Rin dan Miku.


Hahaha ... terima kasih Reina. Mungkin sebentar lagi aku akan menjadi gila.


"Entahlah. Aku tak mau ikut campur terlalu dalam ke masalahmu, Ai. Hii ... membayangkan bagaimana aku akan dikeluarkan dari sekolah dan menjadi anak terlantar. Hii ... menyeramkan. Haha ... tapi aku doa kan kau, supaya kau masih memiliki mental yang cukup kuat untuk melewati semua ini. Asalkan jangan sampai bunuh diri sih, upssi. Kurasa aku terlalu berlebihan," ungkap Natsumi dengan tingkah laku layaknya salah satu anggota Black Blood.


"Kau–"


Prok! Prok! Prok!


Pada saat yang bersamaan, terdengar suara tepuk tangan dari sampingku. Terlihat lima gadis dengan perawakan layaknya seorang tokoh antagonis dalam novel. Mereka adalah organisasi 'Black Blood'.

__ADS_1


Umm ... hari ini ada yang berubah dari mereka. Ah, wajah Reina tampak penuh plester dan lehernya di perban.


"Hahaha ... Natsumi, namamu Natsumi kan?" tanya Reina sambil tersenyum ke arah Natsumi.


"I-iya, Re-Reina."


"Waah wahh ... ucapanmu tadi terdengar sangat luar biasa. Aku sangat menyukainya. Apalagi waktu kau memperingatkan Ai untuk tidak bunuh diri. Sugooii! Aku merasa kau pantas menjadi salah satu anggota Black Blood haha!" ujar Reina sambil memegang bahu Natsumi.


Atensi Reina yang awalnya tertuju kepada Natsumi berubah menatapku. "Ai, aku juga ingin berbicara kepadamu. Lihatlah ini! ...


...Ini adalah perbuatanmu. Awalnya aku tak menyangka bahwa kau bisa bertindak sekeji itu ....


... Karena sepengatuhanku, kau adalah gadis yang baik, pemalu dan ramah. Tapi ternyata, sifat aslimu begini ya. Padahal aku hanya mencoba untuk akrab denganmu. Apa Black Blood memang sejahat itu? Koreksi, maksudku, apakah aku sejahat itu?" Lagi, dia berpura-pura baik di depan semua orang dan bertingkah memelas agar semua orang bersimpati kepadanya dan menjadikanku sebagai kambimg hitam. Bagai berjalan di atas neraka dengan tapakan duri. Dia sangat licik.


"Hei kau si pengganggu. Mundur! Jangan dekat-dekat dengan Ai! Apa kau sadar apa yang kau lakukan saat ini? Memfitnah orang lain adalah tindakan seekor binatang. Tck, aku tak percaya kalau aku saat ini sedang berbicara dengan seekor binatang," ucap Rin membentak Reina.


Namun, bukannya marah, Reina malah tersenyum. "Ah, kau Nakamura Rin dari kelas 1-E itu ya? ...


... ahahaha ... jangan marah begitu. Aku hanya mengatakan fakta saja kok," kata gadis itu. Aku tahu, dia sedang berpura-pura. Tapi ... aku tak bisa melakukan apa-apa.


"Jangan pura-pura baik! Aku tahu kau–"


"Sudah Rin. Jangan marah-marah. Apa kau tidak malu? Semua orang melihatmu ...," ucapku dengan suara berbisik.


"Tapi, Ai ...


"Ba-baiklah. Aku akan menemui kepala sekolah." Walaupun aku gemetar ketakutan, akan tetapi aku harus melakukannya. Daripada masalah ini semakin membesar.


"Ai ...." Rin memegang tanganku. "He'em." Kemudia menggelengkan kepala. Sepertinya dia tidak mau aku mengikuti Reina.


Aku tersenyum. "Aku akan baik-baik saja. Percaya padaku, Rin ... kau tahu kan, aku tak pandai berbohong? Hihi ... aku sungguh baik-baik saja. ...


... daah!" ujarku sambil melepas tangan Rin dan lalu berjalan bersama Reina da anggota Black Blood lainnya untuk menemui kepala sekolah.

__ADS_1


__ADS_2