Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 23 : Jawa, Ya?


__ADS_3

...Siapa sangka, ternyata Rin itu adalah orang Jawa?...


...\=•\=•\=...


Kak Hakuba mengalihkan pandangannya ke arah laki-laki seumuranku yang tadi dia tarik untuk melakukan perkenalkan diri. "Baiklah, Dik. Kau bisa mulai memperkenalkan dirimu sekarang. Kami semua akan menunggu," ujar Kak Hakuba memintanya agar tidak malu dan segera melakukan perkenalan.


Laki-laki itu menatap sekeliling. Dia menghela napas pelan. "A-aku adalah Akira Suzuki, kalian bisa memanggilku Akira. Hobiku adalah menggambar dan menulis. Aku sangat suka membuat komik, akan tetapi, aku tidak pernah memublikasikannya ke khalayak ramai. Aku takut, mereka akan menjelek-jelekan karyaku. Makanan favoritku adalah sushi. Aku sangat suka makan sushi buatan Restoran Kageyama di dekat sekolah ini," ucap Akira, menceritakan sedikit kisah hidupnya.


Cerita Akira sangat mirip dengan kehidupanku. Aku juga sama sepertinya, cenderung tidak mau menunjukan bakatku dan lebih memilih untuk menyembunyikannya. Namun, bedanya, Akira takut dalam mempublikasikan karyanya, sementara aku takut jika ibu memarahiku. Karena dari dulu, ibu selalu menuntut agar aku menjadi seorang CEO saat aku sudah besar nanti.


Dia sama sekali tidak mempedulikan tentang kemauan anaknya. Hah ... aku juga tak bisa berbuat apa-apa.


"Waahh ... Akira, kakak juga suka makan sushi di Restoran Kageyama, lho! Nanti kapan-kapan, kita akan makan siang bersama, ya? Hihi .... Ngomong-ngomong, mengenai masalah Akira yang takut memublikasikan karya itu wajar, ya. Bukan hanya Akira, banyak orang di dunia ini yang memiliki pikiran seperti Akira. Tapi, tindakan itu sebenarnya tidak benar," ujar Kak Hakuba.


"Jika kalian memang memiliki hobi, jangan takut untuk menunjukannya kepada orang lain. Masalah haters itu kita akan pikir nanti, yang penting niat kita adalah ingin menyalurkan hobi kita dan membuat orang bahagia. Jika seseorang berkata bahwa dia tidak suka dengan apa yang kau buat, maka jangan marah. Karena, selera orang berbeda-beda. Kalian tinggal bilang saja kepada orang itu, kalau dia tidak suka, maka silakan cari karya yang kau suka," ungkap Kak Hakuba memberi penjelasan tentan tindakan yang seharusnya digunakan oleh Akira dan semua orang.


"Kesimpulannya adalah, niat kita memublikasikan karya adalah untuk menyalurkan hobi. Tetap fokus kepada orang yang menyukai karyamu dan lupakan haters yang selalu menginjak-nginjak karyamu. Mereka itu adalah tipe-tipe orang yang tidak punya pekerjaan. Hari-harinya hanya digunakan untuk menambah dosa. Benar-benar tidak bermanfaat," kata Kak Hakuba membagikan support kepada Akira dan semua orang.


Kak Hakuba lalu tersenyum kepada Akira. "Semangat membuat komiknya, ya! Jika nanti kamu sudah mau memublikasikan karyamu, jangan lupa kabari kakak, lho! Kakak ingin membaca komik buatanmu," ujar Kak Hakuba.


Akira tersenyum tipis. "Arigatou Gozaimazu, Hakuba-san." Akira berterimakasih kepada Kak Hakuba karena telah membantu membuka matanya untuk melihat dimana letak kesalahannya ini.


"Sama-sama, Akira. Baiklah, silakan duduk lagi." Kak Hakuba lalu mempersilakan Akira untuk duduk lagi.


"Baik!" Akira berjalan kembali ke mejanya.

__ADS_1


Sesaat setelah Akira duduk, Kak Hakuba meminta satu per satu murid-murid di sini untuk memperkenalkan diri. Saat itu, aku pun mulai mengenali siswa-siswi di sini. Aku mengetahui nama, hobi, hingga kisah hidup yang menyenangkan dan ada juga yang mengharukan.


"Selanjutnya, kamu!" Ini adalah giliran Rin untuk memperkenalkan diri. Saat ditunjuk oleh Kak Hakuba, Rin langsung berdiri dan berjalan ke depan. Dia terlihat tidak ragu sama sekali. "Waahh ... ini adalah contoh siswi yang berani. Tidak usah ragu dan malu jika dipanggil ke depan. Kakak-kakak di sini semua baik kok. Ya, mungkin Kak Haru ini pengecualian," ucap Kak Hakuba menggoda Kak Haru sekali lagi.


"Apa maksudmu, hm?!" tanya Kak Haru geram melihat tingkah laku Kak Hakuba yang selalu mengejeknya di depan murid-murid.


Kak Hakuba dan semua tertawa kecil. "Hihi ... hanya bercanda. Begitu saja marah, hmp, dasar pemarah!" ejek Kak Hakuba sekali lagi.


"Grrr ... Terserah kau saja!" Kak Haru menahan amarahnya dan lebih memilih memalingkan wajahnya memandang keadaan luar. Terlihat dari matanya, dia menyimpan kemarahan yang sangat besar. Namun, Kak Hakuba terlihat tidak menggubris hal itu.


"Baiklah, jangan pedulikan kakak pemarah itu. Lebih baik, kita dengarkan saja perkenalan diri dari teman kita ini. "Silakan, Dik." Kak Hakuba meminta Rin agar segara memperkenalkan dirinya.


"Halo semua! Perkenalkan, aku adalah Nakamura Rin. Kalian bisa memanggiku Rin. Jangan pernah memanggilku Nakamura! Atau kalian akan menyesal!" Rin mulai memperkenalkan diri. Baru di awal saja, Rin sudah mulai menunjukan keanehannya.


"Hobiku adalah bermain sosial media di ponsel. Terkadang, aku juga suka melukis untuk mengisi waktu luangku. Makanan kesukaanku adalah ... huuffft ...." Rin menarik napas panjang. Oh tidak, ada sesuatu yang salah, aku bisa merasakannya. "SUSHI, RAMEN, BURGER, PIZZA, NASI GORENG, AYAM, SASHIMI, DAN MASIH BANYAK LAGI!" lanjutnya menyebutkan nama-nama makanan favoritnya. Sudah kuduga.


"He? Ka-kakak …," ujar Rin.


"HAHAHAHAHA ...." Semua orang di ruangan ini tertawa lepas, kecuali Kak Haru. Aku juga tak bisa menahan tawaku.


"Tidak tidak ... hanya bercanda." Kak Hakuba menutupi mulutnya dengan satu tangan. "Oh ya, lanjutkan lagi perkenalannya, Rin!" suruhnya.


"A ... Hm ... hm ...!" Rin mengangukan kepalanya dua kali, menandakan bahwa dia setuju. "Cita-citaku adalah menjadi seorang polwan!" sambung Rin, mengatakan bahwa dia bercita-cita menjadi seorang polwan.


"PFT ...." Seorang laki-laki remaja tertawa kecil setelah Rin mengucapkan hal itu. Dia adalah Kak Haru. "Hei, jangan terlalu banyak berkhayal! Perempuan itu tidak bisa melakukan hal-hal berat!" ucap Kak Haru lebih menjurus kepada merendahkan Rin, tidak ... lebih tepatnya seluruh kaum perempuan. Melihat hal itu, jelas saja Kak Hakuba tidak tinggal diam.

__ADS_1


"Apa maksudmu berkat seperti itu, hm? Perempuan itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Kami para kaum perempuan bisa saja membunuh kalian, jika kami mau!" ancam Kak Hakuba dengan nada bicara mengerikan.


"He? Aku hanya mengucapkan fakta saja, kok. Nyatanya, perempuan itu sama sekali tidak berguna. Mereka—" Belum selesai mengucapkan kalimaynya, tiba-tiba Kak Hakuba langsung menarik kerah baju laki-laki itu. "Jika kau berani mengucapkan hal itu lagi, maka kau akan kehilangan kepalamu. Ingat itu!" ancamnya sekali lagi. Kak Haru pun seketika terdiam.


"Tck, lanjutkan saja, Rin!" Kak Hakuba masih terlihat kesal.


"Ba-baiklah, Kak. A-aku adalah gadis keturunan Jepang-Indonesia. Ayahku adalah orang Jepang sementara ibuku adalah orang Indonesia, lebih tepatnya orang Jawa. Aku pindah ke Jepang karena tuntutan pekerjaan ayahku. Jadi, maaf kalau pelafalan Bahasa Jepangku kurang fasih," ujar Rin. Ternyata, dia juga memiliki darah Indonesia. Pantas saja, saat bertemu dengannya, aku mendengar suara medok seperti seorang sinden yang pernah kutonton di televisi saat itu.


"Woaaa ... Jawa ya? Bisakah kau mengucapkan sedikit kata berbahasa Jawa? Kami sangat ingin mendengarnya ...," ungkap Kak Hakuba penasaran dengan budaya Jawa, begitu juga denganku.


"Hm ... baiklah. Sugeng Enjing, konco-koncoku!" ujar Rin dengan bahasa yang terdengar asing bagiku. Mungkinkah, itu Bahasa Jawa?


"Su-sugeng en-ening, koco-koco?" Kak Hakuba mencoba mengikuti perkataan Rin, akan tetapi, ternyata itu sulit.


"Tidak, Kak. Bukan begitu. Su ... geng ... en ... jing." Rin mengajari Kak Hakuba pelan-pelan, aku pun ikut belajar.


"Su ... geng ... en ... jing." Akhirnya Kak Hakuba bisa meniru perkataan Rin.


"Nah, seperti itu, Kak," ujar Rin tersenyum senang.


"Wahh ... ternyata sulit juga, ya. Atau memang kakak yang tidak pandai hehe .... Lalu, apa artinya sugengu enjinge ini?" tanya Kak Hakuba yang benar-benar penasaran.


Rin dengan senang hati menjawab, "Itu artinya adalah 'selamat pagi' ...," terang Rin.


"Oohhh ... begitu. Baiklah, terimakasih, Rin! Lain kali, kakak ingin belajar Bahasa Jawa lagi bersamamu, boleh, 'kan? Hihi ...," kata Kak Hakuba.

__ADS_1


"Boleh, Kak," singkat Rin.


__ADS_2