
...Hanya gara-gara es krim. Kita malah mendapat kesulitan seperti ini. Huft ......
...\=•\=•\=...
"Kamu mau es krim?" tanyaku kepadanya dengan lembut, agar dia percaya bahwa aku adalah orang yang baik.
Lagi-lagi dia hanya menjawab pertanyaanku dengan kepala yang mengangguk. Dia kemudian menutup wajahnya di kaki sang mama.
Aku mengubah posisi tubuhku menjadi kembali berdiri. Aku pun menatap wajah ibu dari anak itu yang sedari tadi sedang menyimak pembicaraan kami.
"Bu, silakan ibu membeli es krimnya dulu. Aku akan menunggu setelah ibu saja," ujarku meminta wanita tersebut untuk mendahului posisi aku dan Rey agar anak tadi tidak menangis.
"Eeh tidak perlu repot-repot, Nak. Anak saya sudah tidak menangis. Lagipula, belum tentu pacarmu menyetujuinya, bukan? Jadi, tidak usah saja," tolaknya halus seraya menampakan senyum lembut seorang ibu.
Aku sedikit kecewa, karena ibu itu tidak mau menerima bantuanku. Walaupun anak perempuan tadi terlihat baik-baik saja, akan tetapi aku merasa bahwa dia menyimpan rasa kesal yang mendalam di hatinya. Hahh ... eh tunggu sebentar. Tadi dia bilang 'pacar'? Ma-maksudnya ... REY?!
"Di-dia bukan pacarku, Bu." Aku meluruskan kesalahpahaman wanita itu.
Rey yang penasaran pun berjalan menghampiri tempatku berdiri. Saat dia tiba di sampingku, Rey langsung bertanya, "Apa yang terjadi di sini, Ai?"
Aku dan wanita itu seketika langsung terdiam. "Ah tidak ada apa-apa, Rey. Sebenarnya, aku ingin agar ibu ini membeli es krim dulu. Karena adik kecil itu terlihat sangat kesal," jelasku dengan bahasa yang sedikit terbelit-belit karena wanita itu menyebut bahwa Rey adalah pacarku. "Aduh bagaimana menjelaskannya, ya ...? Ummm ...," ucapku dengan lirih.
Rey diam sejenak seraya menatapku dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. "Hmm ... kenapa kau tidak mengatakan hal ini dari tadi? Baiklah kalau begitu, tunggu sebentar!" Dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah anak perempuan itu. "Hei, Dik! Kamu mau es krim rasa apa?" tanya Rey seraya menunduk dan menatap gadis imut tersebut.
Sesaat setelah Rey bertanya, mata Yui terlihat sedang meliriknya. "Coklat," jawab Yui singkat dan kembali menyembunyikan diri di balik kaki ibunya.
Rey menganggukkan kepala. Dia lalu berlari ke arah kedai es krim tersebut. "Pak, pesan es krim rasa coklatnya satu, ya!" Rey memesan satu es krim untuk Yui.
__ADS_1
"Oh, ya. Tunggu sebentar, ya! Saya akan membuatkan es krimnya," ujarnya seraya berbalik dan mengambil *cup* es krim.
"Baik." Rey berbalik menatapku dan Yui sembari tersenyum dan menunjukan kedua jempolnya. Dia seolah mengatakan bahwa es krimnya akan segera datang. Aku melihat Yui yang ekspresi wajahnya terlihat sangat senang.
Tak lama setelah itu, pria pemilik kedai es krim itu, menghampiri Rey. Di tangannya terlihat sebuah es krim dengan warna coklat yang mendominasi, yang menandakan bahwa es krim itu memang rasa coklat.
"Ini pesanan es krimnya! Total semuanya adalah 250 yen," ucapnya seraya memberikan es krim pesanan Rey untuk Yui itu.
"Baiklah, sebentar ...." Rey merogoh saku celana sisi kanannya untuk mengambil dompet. Dia lalu mengeluarkan uang dengan nominal yang diminta oleh penjual es krim itu. "Ini, terima kasih!" ujar Rey sambil menyodorkan uang itu kepada pria penjual es krim.
"Haik!" Setelah uangnya diterima, Rey pun mengambil es krim pesanannya dan berjalan ke arah kami.
"Nah, ini es krim coklat yang kau inginkan!" Rey memberikan es krim coklat tadi kepada Yui.
Tanpa basa-basi, Yui langsung mengambil es krim yang ada di tangan Rey dan perlahan mulai memakannya. Senyuman senang terpancar di wajah Yui.
Namun, dengan sigap Rey langsung menolaknya, "Tidak perlu, Bu. Harga es krimnya tidak mahal sama sekali. Lagipula, aku memang ingin memberi es krim untuk adik imut ini hehe ...."
Wanita itu tersenyum ramah. "Kalian ini memang pasangan kekasih yang baik hati. Ibu do'akan supaya kalian akan terus bersama hingga memiliki anak atau bahkan cucu," ujarnya yang sekali lagi mengatakan bahwa kami adalah sepasang kekasih.
"Umm ... Bu, sebenarnya kami ini—" Saat hendak mengatakan bahwa kami berdua bukanlah sepasang kekasih, tiba-tiba saja Rey menyahut, "Baik, terima kasih, Bu ...."
"Hihi ... kalian memang sangat serasi. Oh iya, kita belum berkenalan. Aku adalah Hiroyome Nami, kalian bisa memanggilku Nyonya Nami atau Bu Nami pun boleh," ujar Bu Nami memperkenalkan diri.
"Aku adalah Rey Tachibana dan gadis yang ada di sampingku ini adalah Ai Mizhunashi," ucap Rey memperkenalkan diriku dan dirinya juga.
"Kalau begitu, aku memanggil kalian dengan panggilan Rey dan Ai saja, ya?" kata Bu Nami.
__ADS_1
"Haik!" tegas Rey mengiyakan perkataan Bu Nami.
Pada saat yang bersamaan, perhatianku langsung tertarik kepada es krim Yui yang perlahan mulai menetes ke lantai. "BU, ES KRIM YUI!" Aku berteriak dengan lantang seraya menunjuk Yui.
"Hm? EEEHHH ...." Bu Yui dengan sigap langsung mengambil tisu di tasnya dan membalut cup tersebut dengan tisu.
"Huft ...." Kami menghela napas bersamaan. "Terima kasih Ai, karena telah memperingatkan ibu tadi," lanjutnya berterima kasih.
"Sama-sama," jawabku.
"Baiklah kalau begitu. Hari sudah semakin sore. Kami pulang dulu, ya," kata Bu Nami. "Yui, ayo berterima kasih kepada kakak kakak ini!" Bu Nami menyuruh Yui untuk berterima kasih kepada kami.
Yui berhenti memakan es krimnya sejenak. "A-arigatou ...." Yui berterima kasih dengan suara imut khas anak kecil. Hal itu jelas membuatku gemas. Sifatnya sama persis seperti Miku—adikku.
"Sama-sama Yui. Jangan menangis lagi, ya?" Aku mengelus-ngelus rambut hitam terurainya.
"Ayo, Yui!" Bu Nami menggandenga tangan kanan Yui dan berjalan berbalik meninggalkan mereka berdiri tadi.
"Sayonara!" kata Bu Nami dan Yui bersamaan seraya melambai-lambaikan tangannya. Aku dan Rey tersenyum seraya melambai-lambaikan tangan pula.
Sepeninggal Yui dan Bu Nami, kami berdua dikagetkan oleh suara seseorang berteriak dengan lantang. "HEI KALIAN! MASIH LAMA ATAU TIDAK DRAMANYA? AKU DAN YANG LAINNYA SUDAH LAMA MENUNGGU TAU?!" ketus seorang pria mengenakan busana santai dengan topi merah di kepalanya.
"Eeehh ... maaf. Kami lupa bahwa kalian sedang menunggu. Kami benar-benar minta maaf. Silakan bapak dan yang lainnya membeli es krim terlebih dulu. Kami akan menunggu di belakang. Sekali lagi, kami minta maaf!" Rey membungkukan badannya untuk meminta maaf. Sama halnya denganku. "Sumimasen!" ujarku meminta maaf dengan posis badan agak condong ke depan sama seperti Rey.
"Haihh ... anak zaman sekarang. Pacaran tapi tidak tahu tempat mereka. Hah ... ya sudah kalau begitu." Pria itu berjalan ke arah kedai es krim tadi untuk membeli es krim tentunya.
Aku dan Rey terdiam dan tak tau harus berbuat apa. Sesekali aku melihat dia meringis entah itu tersenyum atau kesal.
__ADS_1