
Setelah klub melukis selesai. Aku dan Rin berjalan pulang bersama sambil tertawa karena mengingat momen-momen tadi. Kak Hakuba dan Kak Haru juga Rin yang mempermasalahkan ukuran dada, hihi ... itu sangat lucu.
"Hahahaha ...." Aku tertawa untuk yang kesekian kalinya karena Rin selalu menceritakan kejadian lucu itu. Entah kenapa hatiku terasa geli saat mendengarnya.
"Tapi serius. Kak Hakuba memang sengaja ingin menyombongkan ukuran dadanya. Padahal punyanya juga tak terlalu besar jika dibandingkan dengan dada Bu Alta. Hmpp menyebalkan!" ucap Rin kesal.
Aku yang merasa dia memang benar-benar sedang marah pun berusaha untuk menenangkan. "Nanti kalau kau sudah dewasa maka dadamu juga pasti akan besar. Jadi, jangan terlalu mempersalahkannya. Lagipula kau itu cantik, Rin. Tidak akan ada laki-laki yang bisa menolakmu."
Rin menengok ke arahku dan lalu merangkulku. "Ahh~ kau ini bisa saja Ai. Kau memang sahabat terbaikku! Ya sudah! Ayo kita pulang, aku sudah lapar sekali," ajak Rin seraya menarik tanganku.
"He'em!"
Kami berdua berlari dengan satu tangan bergandengan. Sementara tangan satunya membawa tas. Namun, ketika kami sedang berlari, tiba-tiba saja Rin menghentikan langkahnya. Ternyata, dia berhenti karena ada seorang laki-laki di depannya.
Tunggu ...
"Sore, Rey! Kelas musikmu sudah selesai kah?" tanya Rin kepadanya. Ya, dia adalah Rey.
"Sore, yaa ... aku sudah selesai. Tapi anehnya, Ryuji sejak kemarin tidak masuk klub. Apa mungkin dia sedang sakit?"
"Are? Ryuji juga tak ada di klub musik? Ya, akhir-akhir ini dia memang tidak muncul di hadapan kita lagi. Apa yang dilakukan olehnya?" Rin berbalik tanya.
"Entahlah ...
... tapi semoga tidak terjadi apa-apa padanya. ... emm ...." Pandangan Rey yang awalnya tertuju kepada Rin, berpaling kepadaku. Aku pun refleks membuang wajahku ke samping agar dia tidak melihat wajahku.
Tapi, pada saat bersamaan, aku terpikir sesuatu.
__ADS_1
"Ano, Rin. Kau pulang dulu saja ya. Ada yang ingin kubicarakan dengan Rey, hanya kami berdua saja. Boleh ya?"
Pada awalnya, Rin hanya diam. Tapi beberapa saat kemudian akhirnya dia merespon. "Ah, iya iya. Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu ya. Rey dan Ai, berusahalah untuk berbaikan ...
... karena aku tidak suka melihat kalian bermusuhan begini. Ya sudah, byeee~" Rin melambaikan tangan kanannya sambil berjalan menuju gerbang keluar sekolah, meninggalkan kami berdua.
"Emm ... apa yang ingin kau bicarakan, Ai?" tanyanya sungkan.
"Eh, a-a-aah, itu. Aku ingin membicarakannya di halaman belakang sekolah saja. Ka-karena ini penting," jelasku.
Rey pun menganggukan kepalanya. "Baiklah ...."
\=•\=•\=
Aku dan Rey berjalan bersama menuju tempat biasa kami berbicara. Namun, aku memutuskan untuk berjalan di belakangnya saja.
"Ti-tidak ... a-a-aku hanya ...
... hanya ... emm ...." Aku kesulitan untuk menjawabnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Rin, aku tak pandai berbohong. Tapi jika memang aku tidak bisa mengarang cerita, maka setidaknya aku diam saja. "A-aku akan membicarakannya nanti. Makanya, a-ayo cepat !...." Untuk menghindari situasi yang menyusahkan, aku pun memutuskan untuk berjalan lebih dulu.
Namun, baru beberapa langkah aku berjalan, aku menyadari bahwa Rey tidak mengikutiku. Dia hanya diam dan tidak bergerak sedikitpun sejak pembicaraan terakhir kami.
Tidak, jangan lagi. Aku pasti akan kesulitan jika dia tidak mau mengikutiku. Apalagi dia menanyakan hal yang tadi.
"Rey, ayo cepat! A-aku akan ter–"
"Kau sudah berubah, Ai."
__ADS_1
Aku berniat membujuknya, akan tetapi dia malah mengucapkan hal itu. Ia mengatakan kalau aku sudah berubah.
"Berubah? Berubah apanya? A-aku biasa-biasa saja kok," bantahku dengan perasaan sedikit bingung. Otak dan hatiku seolah mengatakan, 'Apa yang kuucapkan ini benar? Apa aku salah?'
Setelah aku bertanya, Rey malah terdiam sesaat. Tak berselang lama setelahnya, dia pun mulai bicara. "Ya, kau berubah. Dulu Ai yang kukenal itu adalah orang yang pemalu. Tidak berani berteriak atau membentak orang lain. Selalu tersenyum ...
... tapi, hari ini kau bukanlah Ai yang kukenal. Kau mengacuhkanku, mendiamkanku, dan kau bahkan tidak mau berjalan berdampingan bersamaku. Lalu, barusan kau berteriak kepadaku, bukan? Hei, ada apa denganmu? Kau telah berubah sekali." Dengan rambut yang mengibas karena terpaan angin, Rey menjelaskan semuanya. Menjelaskan alasan kenapa dia mengatakan kalau aku 'berubah'.
"Hah ...." Aku menghela napas sambil menahan air mata yang sudah nyaris tumpah. Untuk saat ini, aku tidak boleh menangis. Aku tak boleh membuat Rey semakin mengasihaniku, justru, aku harus membuatnya semakin membenciku kalau bisa.
"Itulah yang ingin kubicarakan denganmu, Rey. Aku akan menjelaskan semuanya kepadamu. Aku akan menjelaskan alasan kenapa aku berubah, lalu kenapa aku coba untuk menjauhimu, pokoknya semua. Tapi dengarkan aku dulu ... aku akan menjelaskannya nanti saat kita sudah sampai, ok?" ujarku berupaya untuk meyakinkannya, tidak aku harus mendapat kepercayaannya.
Awalnya Rey sempat menunjukkan wajah kesal, tapi akhirnya dia setuju denganku. "Hah ... baiklah. Tapi kau harus janji kalau kau akan menjelaskan semuanya, ya?"
"Iya." Seraya menganggukkan kepalaku, aku menyetujuinya. Hah ... akhirnya aku bisa keluar dari situasi mengerikan ini.
Kami berdua pun kembali berjalan menuju taman halaman belakang sekolah, tempat dimana aku mengetahui berbagai hal yang sangat menyakitkan. Jika ditanya alasan mengapa aku memilih tempat ini, ya karena aku ingin Rey dapat mengerti alasan kenapa aku berusaha menjauh darinya, suatu saat nanti. Karena kuyakin, Rey pasti akan tahu, tapi bukan dariku. Aku tak ingin memberi tahunya, hanya ingin mengatakan hal yang sudah lama ingin kukatakan. Sebelum aku benar-benar menjauh dari hidupnya. Lagipula, tempatnya juga sejuk dan nyaman. Sepi, tak ada orang maupun penjaga sekolah yang lewat pada jam segini.
Sesampainya di sana, aku dan Rey duduk di bangku kursi yang sama, tapi tidak berdekatan. Aku tahu sebenarnya dia kesal denganku, tapi dia masih tampak memakluminya. Aku semakin merasa bersalah saat melihat ekspresi wajahnya saat ini. Kau tahu, aku merasa seperti seorang sahabat yang tak tau terima kasih.
"Rey ... aku ingin mengutarakan sesuatu. Tapi kau harus berjanji untuk tidak membantah, oke?" ujarku memastikan. Karena mungkin ... pembicaraan hari ini terkesan berat bagi kami berdua.
"Tidak, aku tak akan menjawab pertanyaanmu ini sampai aku mendengar semuanya. Tolong Ai, katakan yang sebenarnya ...
... dan juga, biarkan aku merespon apa yang kau katakan dengan kemauanku sendiri. Jika memang ucapanmu ini membuatku marah, maka biarkan aku memarahimu. Tapi aku berjanji, aku akan tetap percaya padamu. Ya?" ujar Rey.
Mataku membelalak. Aku tahu ini akan menjadi situasi sulit untuk kami berdua. Tapi aku tak ingin menarik Rey jauh dalam masalahku. Jadi ... aku terpaksa.
__ADS_1
"Rey ... dengarkan aku. Se-sebenarnya ...