Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 7 : Pemilihan Klub


__ADS_3

...Aku akui kamu itu memang tampan. Namun hari ini, kamu bersikap sedikit menyebalkan. Hanya sedikit...


...\=•\=•\=...


Aku mempercepat laju jalanku, hingga tak sadar bahwa aku sudah sampai di depan sekolah. Kenapa ini terasa sangat cepat? Bukankah aku tadi baru sampai di jalan? Arghh ... benar-benar membingungkan ...!


“AI!" teriak Rey dari belakang, kemudian melanjutkan, "hahh ... hahh ... bagaimana bisa kau berjalan secepat itu ...? Hahh ... aku sampai tidak bisa menyusulmu." Napas Rey tidak teratur ... dia terlihat sangat kelelahan.


“E-e a-aku ingin masuk ke kelas dulu, ya. E-e ...." Aku langsung berjalan menuju kelas. Bukan niatku untuk meninggalkan Rey. Hanya saja, perasaan ini tidak bisa ditahan lagi. Jika aku bersamanya lebih lama, bisa-bisa mukaku menjadi merah. Hahh ...


Saat baru beranjak beberapa langkah, tanpa diduga Rey memegang tanganku dengan erat. "Ai, jangan pergi ...," ucapnya lirih dengan memasang wajah sedih. Aku merubah posisiku menjadi menghadap dia. Aku menatap Rey dengan tatapan kosong.


“Hah?!" Aku yang baru menyadari bahwa Rey sedang memegang tanganku pun langsung kaget. Pipiku kembali memerah karenanya. Dengan lembut, aku melepas cengkaraman tangan Rey.


“Uumm ... Rey ...?" Tiba-tiba aku merasa tidak tega saat melihat wajah sedihnya.


Dia menatapku dengan pandangan sendu. Kenapa aku malah menjadi merasa bersalah seperti ini? Rey juga hanya diam.


“Rey?" panggilku sekali lagi.


Tiba-tiba saja, ekspresi wajah Rey langsung berubah. Senyuman kembali terlukis di bibirnya. “Pfft ... hahahaha ... sudah kuduga kau tak akan bisa menolak cara ini. Aku tahu kamu adalah orang yang tidak tegaan. Haahaha ...!" Rey tertawa lepas di depanku. Ternyata semua ini adalah caranya agar aku bisa berhenti dan menatap wajahnya. Huhh ... benar-benar menyebalkan.


“Huh ... aku kira kamu kenapa?" ucapku geram, kemudian melanjutkan, "ah sudahlah. Aku mau ke kelas dulu." Wajahku sudah berubah menjadi merah karena Rey. Aku memutuskan untuk berjalan meninggalkannya. Aku akui, hari ini dia agak sedikit menyebalkan.


Saat aku mulai berjalan meninggalkannya, Rey pun langsung berhenti tertawa seketika. “E-eh ... Ai aku minta maaf!" teriaknya sambil berlari menyusulku. Saat sudah sampai di sisiku, dia kembali berbicara, "Ai aku minta maaf, ya ... hahaha ... aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin melihatmu kesal begitu saja."


Ketika aku mendengar penjelasan Rey, aku langsung menghentikan langkahku. “Kenapa kau suka melihatku kesal?" tanyaku dengan nada sedikit kesal, hanya sedikit.


“Karena kau cantik saat kau marah ...," jawabnya lirih.

__ADS_1


Aku tertegun dan diam sesaat. Kalimat yang diucapkan olehnya tadi, a-apa aku tidak salah dengar? Rey mengatakan bahwa aku can-cantik? Apa ini mimpi?!


"A-apa?" tanyaku lagi yang masih tak percaya.


"Apa aku kurang jelas? Ya ... kau memang terlihat cantik saat sedang kesal ataupun marah. Itulah alasan kenapa aku suka melihatmu marah daripada sedih," jelas Rey sekali lagi.


“He-hentikan ... i-ini sudah terlambat. Aku harus segera masuk ke kelas. Sebelum Bu Mai menghukumku ... ba-baiklah kalau begitu ...." Kali ini aku benar-benar berjalan meninggalkan dia, tanpa berpaling lagi. Jantungku sudah berpacu dengan cepat.


Rey menatapku dari kejauhan sembari tersenyum. 'Dia benar-benar cantik. Ai, aku berjanji, aku akan selalu berdiri untuk melindungimu!' ujar Rey dalam batin.


Sementara aku baru sampai di sekolah. Saat membuka pintu kelas, aku pun langsung duduk di bangku tempat aku duduk biasanya.


Kriiinggg ...


Ternyata dugaanku benar, baru saja aku sampai di kelas, bel masuk sekolah sudah berbunyi. Pada saat yang bersamaan, Rey juga masuk ke dalam kelas. Dia langsung duduk di bangkunya.


“Selamat pagi anak-anak!" sapa Bu Mai dengan senyum cerianya.


“Pagi, Bu!" balas semua murid kompak.


“Hari ini adalah jam pelajaran matematika. Apa kalian sudah mengerjakan tugasnya?" tanya Bu Mai.


“Sudah, Bu!" Kali ini suara murid-murid terdengar sedikit pelan. itu artinya, hanya beberapa yang menjawab bahwa mereka sudah mengerjakan tugas.


“Ah ... ternyata masih banyak yang belum, ya. Kalau begitu, yang belum silahkan kerjakan sekarang. Sementara yang sudah, bisa dibuka bukunya halaman 189!" perintah Bu Mai.


“Iya, Bu!" jawab mereka kompak, meski sekarang nada bicara mereka terlihat sedikit lemas.


"Umm ... oh ya, ibu hampir lupa. Ibu minta, nanti sepulang sekolah kalian memilih klub, ya," ujar Bu Mai.

__ADS_1


“Klub?!" Tentu saja semua murid menjadi ribut karena ucapan Bu Mai tadi. Mereka yang tadinya sedang menulis dam membaca langsung berubah menjadi berbicara. Suara nyaring mereka terdengar sangat berisik.


“Semuanya ... hei ... tolong diam ...!" perintah Bu Mai—membuat semua murid menjadi diam. Bu Mai pun kembali menjelaskan.


“Hari ini, ibu meminta kalian untuk bergabung ke klub yang cocok dengan hobi kalian. Maksudnya adalah, kalian akan masuk ke dalam sebuah kelompok tempat para siswa dan siswi yang memiliki minat sama dengan kalian," terang Bu Mai. Semua murid menyimak dengan serius agar bisa memahami penjelasannya.


"Contohnya, kalian suka menari, maka kalian masuk ke dalam klub menari. Kalau kalian suka menyanyi, maka kalian masuk ke dalam klub menyanyi, dan lain-lain. Di sana kalian bisa saling berbagi ilmu dan bergaul bersama teman-teman dari kelas lain. Bebas! Semua bebas memilih klub kesukaannya, tak ada paksaan. Baiklah, kalian pikirkan klub yang cocok ya. Saat pulang sekolah nanti, kalian bisa memilih klub yang kalian suka. Bagaimana? Apa sudah jelas? Kalau ada pertanyaan, silahkan bertanya!" jelas Bu Mai secara rinci.


Sesaat setelah Bu Mai menjelaskan, tiba-tiba seorang gadis berkaca mata dengan rambut pendek berwarna hitam natural mengacungkan tangannya. Dia adalah Yuki Tamaguchi, sang ketua kelas. Ya ... aku tidak heran, jika dia didaulat untuk memimpin kelas. Selain cantik, dia juga sangat pintar. Berbeda jauh denganku.


"Bu!" serunya sembari mengacungkan tangan kanannya.


“Ya, Yuki? Ada pertanyaan?" Bu Mai dan semua murid di kelas langsung menatap Yuki.


“Apa kita boleh memilih lebih dari satu klub, Bu?" tanya Yuki.


“Sebaiknya kamu memilih satu saja. Karena setiap klub pasti memiliki kegiatan yang berbeda-beda. Bisa saja jadwal kegiatan setiap klub sama. Jika kamu memilih lebih dari satu, ibu khawatir kamu akan kelelahan. Tapi, itu semua kembali ke pribadi masing-masing, Yuki," ungkap Bu Yuki menerangkan.


“Ah begitu ... baiklah, Bu. Terima kasih," kata Yuki mengerti.


“Sama-sama ... hmm ... apa ada pertanyaan lagi?" tanyanya.


Namun, tidak terdengar suara seseorang menyahut. "Baiklah, kalau tidak ada yang bertanya, maka kalian lanjutkan mengerjakan tugas matematikanya dulu. Kita bahas soal klub lagi nanti, ya?" ucap Bu Mai.


“Baik, Bu!" jawab semua murid.


“Baiklah ... lanjutkan mengerjakan tugasnya lagi!" Bu Mai berjalan ke arah mejanya dan kemudian duduk. Dia mengawasi para siswa dalam mengerjakan tugas.


Aku mengerjakan tugas sambil sesekali menatap keadaan luar lewat jendela kaca kelas kami. Aku melamun sambil memikirkan tentang klub ini. Haruskah aku ikut ke dalam klub? Kalian kan sudah tahu bahwa aku adalah orang yang introvert. Jangankan bergaul, berjumpa dengan orang pun aku pasti gemetar. Sejauh ini, aku hanya merasa nyaman saat berada di dekat Rey dan Miku, itu saja. Tapi apa boleh buat.

__ADS_1


__ADS_2