
...Rahasia bisa dijaga jika ada yang menjaganya....
...\=•\=•\=...
Kami berempat berjalan bersama, dengan Rin memimpin di depan. Aku dan Rey berjalan bersama seperti biasa. Tapi, ada yang aneh pada Ryuji. Setelah pembicaraannya terakhir tadi, dia langsung diam tanpa berbicara lagi. Dia juga biasanya akan bersemangat seperti Rin, tapi hari ini ... tidak.
Hah ...
Aku menghela napas tatkala melihat Ryuji yang sedang berjalan sambil menatap layar ponselnya. Mendadak, rasa khawatir pun mulai tumbuh di hatiku.
Sebenarnya, apa yang terjadi kepada Ryuji?
Lamunanku langsung buyar saat aku mendengar suara ponsel berdering. Ehm, tapi kurasa itu bukan ponselku. Rey dan Rin juga terlihat tidak menerima panggilan.
"Ai, apa ponselmu berdering?" Rey berhenti sejenak dan bertanya kepadaku.
Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak, itu bukan ponselku. Nada dering ponselku tidak seperti itu," jawabku menerangkan. "Aku kira itu ponselmu, Rey. Karena, nada deringnya adalah lagu yang bisa dibilang cocok untuk laki-laki," timpalku lagi.
"Tidak tidak. Aku lebih suka menggunakan nada dering biasa. Ehmm ... jadi, Rin! Apa ponselmu berdering?" Rey bertanya kepada Rin.
"Tidak!" jawabnya dengan suara separuh berteriak.
"Tunggu, itu ponselku! Sebentar!" Tanpa mengucapkan kata-kata lain, Ryuji langsung berlari menjauh dari kami.
Aku, Rin, dan Rey hanya menatapnya dengan tatapan bingung. Dia benar-benar aneh hari ini. Biasanya, Ryuji dan Rin adalah dua orang yang sangat gaduh dan bar-bar. Dia dan Rin akan selalu bertengkar, tetapi pada saat itu juga mereka akan berbaikan. Aku sangat menyukai momen tersebut. Saat dimana Ryuji dan Rin tertawa bersama kami. Namun, kali ini ... tidak, aku tidak boleh menyimpulkan kejadian ini terlalu cepat. Mungkin, Ryuji baru saja mendapat masalah. Apapun itu, aku berharap agar dia tetap baik-baik saja.
"Hei, ada apa dengan laki-laki itu? Tck, kenapa aku menyebutnya laki-laki? Grhh ... maksudku, si pengecut itu. Apalagi yang dia pikirkan saat ini? Apa dia merencanakan sebuah hal gila? Grhh ... aku benar-benar kesal." Rin mengepalkan kedua tangannya. Tak kuduga ternyata Rin sangat marah jika Ryuji bersikap seperti tadi.
Tapi, dia marah bukan karena ingin membenci Ryuji. Dilihat dari tatapannya, Rin tampak sangat khawatir. Secara tak sadar, mereka berdua selalu dekat setiap harinya. Meskipun mereka selalu bertengkar, tapi aku tahu bahwa mereka memiliki perasaan simpati satu sama lain, tak peduli seberapa kecil perasaan itu.
"Rin, tenanglah. Mungkin Ryuji sedang memiliki masalah sekarang ini. Jadi, sebaiknya, kita tunggu saja di sini." Aku berusaha menenangkan Rin, sebelum gadis itu benar-benar meledak. Maksudku, meledak amarahnya.
__ADS_1
"Benar yang dikatakan oleh Ai. Rin, kau hanya terlalu khawatir. Tenanglah, semua akan baik-baik saja," sambung Rey.
"Huft ... siapa yang mengkhawatirkan pengecut seperti dia. Aku hanya, kau tahu ... aku hanya tidak suka melihat seseorang pergi meninggalkan sahabatnya begitu saja. Jika memang dia memiliki masalah, kenapa dia tidak menceritakan masalahnya kepada kita? Sudah jelas kita pasti akan membantu sebisanya." Rin mengeluarkan segala perasaan uneg-uneg di hatinya.
Ya, semua sudah jelas, Rin sangat mengkhawatirkan Ryuji. Bahkan, dia menawarkan bantuan kepadanya.
Hah ... kenapa aku baru menyadari bahwa hubungan mereka lebih dari sekedar 'Sahabat Tom and Jerry'?
"Hihi ... kalian ini, sangat lucu. Rin, kau sangat mengkhawatirkan Ryuji bukan? Mulutmu memang bisa berbohong, tapi wajahmu tidak. Lihat, pipimu memerah!" ujarku sambil menunjuk wajahnya.
"A-Ai, siapa yang memerah. A-aku tidak kok ...," bantah Rin bersikeras. Meskipun, semua sudah terlihat jelas. Dia tidak bisa menutupinya.
"Benar, Ai. Eh ... tunggu dulu. Sepertinya, aku sangat familiar dengan kata-kata yang diucapkan olehmu tadi. Aku merasa bahwa aku pernah mendengar, tidak, bahkan mengucapkannya." Rey berpikir sebentar. "Ah, aku tahu sekarang. Kata-kata itu kuucapkan saat kita sedang berduaan di rumahmu. Sesaat sebelum kita ciuman," lanjut Rey.
"Ee-eh, Re-Rey ...."
"Maaf, tunggu tunggu. Apa Rey baru saja menyebut kata 'ciuman'. Woww ... ini adalah berita besar. Itu artinya, kalian pernah berduaan dan berciuman? Aku benar-benar tidak menyangka hal itu. Sekarang, siapa yang memerah di sini. Ai, kurasa pipimu memerah sekarang. Kalian memang cocok." Rin mengalihkan topik pembicaraan. Gara-gara Rey, Rin malah membalikkan keadaan. Dia malah membuatku merasa malu.
"Ai, mungkin kau bisa mengatakan hal itu kepada seseorang yang masih belum mengenal baik dirimu. Hei, aku ini sahabatmu. Aku sudah tahu jelas bagaimana saat kamu jujur dan bagaimana saat kamu berbohong. Lagipula, kamu ini adalah tipe orang yang tidak pandai berbohong. Entah itu karena watakmu yang lugu atau mungkin hal lain." Rin menjawabku dengan sangat baik. Ya, aku akan selaku kalah jika berdebat tentang masalah ini.
Aku menatap Rey dengan wajah kesal. Dia tidak bisa menjaga mulutnya. Hmp!
"Ups! Sepertinya aku membuat kesalahan di sini. Tapi, Ai ... apa hal itu tidak boleh? Aku hanya mengucapkan hal yang sebenarnya. Toh, hanya ada Rin di sini. Jadi, tidak ada orang lain yang mengetahui hal itu."
"Hellow, aku adalah gadis yang paling tidak beruntung di sini. Aku harus mendengarkan keromantisan kalian seorang diri. Kutahu, kalian ini memang manis. Tapi, kau juga tak perlu pamer begitu dong, Rey. Yaa ... meski aku tidak begitu peduli, sih. Satu lagi, jangan melakukan hal yang aneh-aneh kepada Ai. Dia adalah sahabatku yang polos dan ramah. Jangan menuntunnya ke jalan yang tidak tidak. Apalagi, kau ini adalah tipe laki-laki mesum. Hihh ... aku takut kau melakukan hal buruk kepadanya!" ujar Rin.
"Oit, apa maksudmu aku ini 'tipe laki-laki mesum'? Dan sejak kapan aku melakukan hal-hal aneh. Aku ini laki-laki baik dan tampan."
"Eh, benarkah? Aku tak yakin itu. Lalu, bagaimana dengan kejadian 'rok terbuka' pada saat itu?" tanya Rin.
"Hm? Apa maksud—" Mata Rey langsung terbuka lebar. "Hei hei ... stttt ... Rin, jangan katakan hal itu lagi di sini! Kau tahu, 'kan kalau aku tidak sengaja?!" Laki-laki itu berubah sikap menjadi panik. Sepertinya, ada kejadian yang tak kuketahui.
__ADS_1
"Rok terbuka? Apa maksudnya itu, Rin?" Aku bertanya kepada Rin karena penasaran.
"Ya, itu adalah kejadian saat motor Rey mogok saat itu. Jadi, dia–" jawab Rin, akan tetapi belum selesai karena Rey memotong, "Hei ... Rin, kumohon!" Rey menyekap mulut Rin dengan kasar.
Kemudian, dia membisikkan sesuatu di telinga Rin. Menurutku, Rey sedang membisikan semacam perjanjian.
"Tidak. Dua saja tidak cukup. Tiga, jika kau memberiku tiga mangkuk ramen maka aku akan diam!" teriak Rin keras.
"Oit ... jangan keras-keras. Baiklah baiklah." Rey semakin panik
"Sepakat!"
Ya, meskipun aku masih penasaran tentang hal yang dibicarakan oleh mereka, tapi ya sudahlah. Tiba-tiba, sesuatu menarik perhatianku. Kurasa, baru saja aku melihat seseorang sedang mengintip kami dari kejauhan.
Hmm ... apa itu hanya perasaanku saja?
Tidak tidak, itu tidak mungkin. Aku yakin aku melihat sesuatu tadi.
Siapa dia?
\=•\=•\=
Gambar Rin & Ryuji pas disuruh duduk bareng
Source (Pintarast/Pinteres)
\=•\=•\=
Q. Aishiteru jadwal up nya kapan aja sih?
__ADS_1
Sekarang Miku upnya siang ya guys, jadi biar bisa nemenin waktu siang membosankan kita. Tapi kalo mood ya bisa up dua kali. Pas sore sore, jadi bisa nemenin ngabuburit.