Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 20 : Essay


__ADS_3

..."Mau makan sendiri atau ingin kubantu lagi?!"...


...\=•\=•\=...


Ibu, sebuah kata yang terdiri dari tiga huruf, akan tetapi memiliki seribu makna. Bukan hanya sekedar wanita yang pandai menyapu, mengepel dan menyelesaikan segala pekerjaan rumah. Namun juga seseorang yang selalu memberi kasih sayang kepada anak-anaknya.


Saat anaknya sakit, beliau pasti akan panik dan khawatir atas keadaan anaknya. Beliau akan mengorbankan segalanya demi sang buah hati tercinta. Seperti kata pepatah 'Jika semua membencimu, maka kembalilah ke pelukan ibumu. Dia akan senantiasa melindungimu.'


Penjelasan singkat dari ibu adalah, seorang wanita yang memiliki banyak kemampuan. Hatinya seputih salju dan pelukannya sehangat sinar mentari pagi. Meski terkadang sang anak membangkang, dia akan selalu sabar menghadapi anaknya.


Namun, tidak semua ibu itu baik. Ada beberapa ibu yang malah membuat anaknya sengsara. Dia sama sekali tidak peduli dengan hal-hal yang terjadi kepada sang anak. Pokonya, jika keinginannya belum terpenuhi, dia akan selalu menuntut. Sayangnya, aku, Ai Mizhunashi, adalah golongan yang kedua.


Sebenarnya aku sangat ... sangat ... sangat ... tidak mau menuliskan hal ini. Namun, karena menyadari bahwa essayku belum memenuhi kriteria, aku pun terpaksa menuliskan sedikit kisah hidupku.


Jadi, jika seseorang bertanya apa arti dari ibu yang sebenarnya kepadaku, maka aku akan menjawab.


"Ibuku adalah seorang wanita."


Oleh : Ai Mizhunashi, 1-F


...\=•\=•\=...


Aku sedang berdiri di depan Bu Kizuha. Aku meneguk salivaku. Tubuhku gemetar saat melihat sorot matanya. Dia memanggilku ke sini karena ingin menanyakan sesuatu.


Kini, dia sedang duduk dengan posisi kedua tangan saling menyatu untuk menyangga dagunya. Ekspresinya datar, sehingga aku tak bisa menebak suasana hatinya saat ini. Apakah dia sedang senang atau sedih? Atau mungkin ... dia sedang marah. Umm ... kurasa memang begitu.


Ketika melihat tatapan mengerikan di balik kacamatanya itu, aku pun langsung ketakutan. Suasana sunyi senyap sangat terasa di antara kami berdua. Angin berhembus pelan sehingga membuat rambut Bu Kizuha sedikit bergerak.

__ADS_1


"Mizhunashi Ai?" panggilnya dengan suara rendah dan terdengar sangat tegas.


"Eh i-ya, Bu. A-a-ada apa?" tanyaku gelagapan karena terkejut. Dia memanggilku dengan nada begitu, ya tentu saja aku ketakutan.


Sesaat setelah aku menanggapi panggilannya, Bu Kizuha mengubah posisi tubuhnya menjadi bersandar di bagian belakang kursi dan menarik laci mejanya. Dia kemudian mengeluarkan sebuah lembar kertas yang terasa familiar bagiku.


"Apa maksudnya ini?" tanyanya seraya menyodorkan lembaran kertas tersebut. Ternyata memang benar, penglihatanku tidak salah, aku merasa tidak asing, karena kertas itu adalah kertas yang kugunakan untuk menulis essay saat itu. Aku melangkah perlahan, mendekati Bu Kizuha.


"Bisa tolong jelaskan, APA MAKSUD DARI ESSAY TAK MASUK AKAL YANG KAU BUAT INI?!" ucapnya dengan nada membentak.


Aku mengambil kertas tulisan essayku. 'HAH?!' pikirku terkejut tatkala membaca tulisanku sendiri. Kenapa tulisanku menjadi aneh begini? Bukankah tulisanku bagus saat itu?


"KENAPA DIAM SAJA?!" ketusnya lagi.


"Ti-dak, Bu. Ini memang essay yang saya tulis. Bukankah ibu menyuruh saya untuk membuat essay tentang 'Ibu'? Ya ... ini adalah essay yang saya buat. Karena ibu saya memang memperlakukan saya seperti itu," terangku.


'Upss ... astaga, apa yang barusan kukatakan? Kenapa aku mengatakan hal itu?!' batinku. Entah kenapa tiba-tiba aku mengucapkan hal itu. Mulut ini ... kenapa kau selalu tidak bisa diajak bekerjasama, sih?


Bu Kizuha menggebrak meja kayunya sekuat tenaga, hingga atensi para guru lainnya tertuju kepadanya. "KAU SUDAH MEMBUAT ESSAY YANG TAK MASUK AKAL, SEKARANG KAU JUGA MENJAWAB PERTANYAANKU DENGAN JAWABAN YANG ANEH. SEBENARNYA APA YANG KAU MAU?!" teriak Bu Kizuha memarahiku habis-habisan.


"Ma-maaf, Bu. Karena saat itu waktu telah semakin sempit dan ternyata saya masih belum menyelesaikan essaynya. Saya benar-benar minta maaf, Bu." Aku membungkukan badanku untuk meminta maaf.


"Hanya meminta maaf?" tanyanya dengan suara pelan.


Aku mengubah posisi badanku menjadi tegak kembali dan menatap Bu Kizuha. "Saya akan menulis ulang essaynya," ucapku yang ingin segera mengakhiri situasi mengerikan ini.


Bu Kizuha memejamkan mata dan menghela napasnya. Dia kemudian duduk di kursinya lagi. "Haahh ... baiklah, perbaiki essaymu sana! Masih banyak murid-murid nakal yang harus kuberi pelajaran juga," ucap Bu Kizuha seraya mengibas-ngibaskan tangannya di udara.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu." Aku berbalik dan berjalan keluar dari kantor guru.


Saat sampai di luar, aku melihat Rey yang sedang bersandar di tembok. "Bagaimana, Ai?" tanya Rey.


Aku menghela napas berat. "Ya begitulah. Dia memarahiku karena essayku yang tak masuk akal ini," ungkapku lesu.


"Hahhh ... aku tahu apa yang kau rasakan saat ini. Baiklah, tak perlu dipikirkan, sekarang adalah jam istirahat, ayo kita ke kantin saja!" ajak Rey.


Aku melirik Rey dengan tatapan sendu. "Ah maaf, ya, Rey. Aku tidak bisa. Bukannya aku tidak mau, hanya saja aku sedang tidak enak badan. Maaf sekali," tolakku lalu berjalan menjauh dari Rey. Dia memandangiku dari kejauhan.


Aku berjalan masuk ke dalam kelas. Aku kemudian duduk di bangkuku dan membenamkan wajahku di meja. Ucapan Bu Kizuha yang membentak tadi masih sangat membekas di hatiku. Bagaimana jika aku dikeluarkan dari sekolah? Aku sangat bingung.


Suara canda tawa murid-murid di luar kelas, terdengar jelas di telingaku. Teriakan siswa-siswa yang sedang bermain bola basket di lapangan tengah juga berdengung. Namun, aku lebih memilih untuk menyendiri sejenak. Karena itu adalah caraku untuk melupakan hal-hal yang membebani pikiranku. Setidaknya begitu.


Ketika aku sedang merenung, tanpa kuduga-duga, seseorang menyodorkan mie instan siap makan kepadaku. "Hm?" Aku mengangkat kepalaku dan melihat siapa yang memberikannya. Ternyata, dia adalah Rey.


Dia membalik kursi yang ada di depanku dan mendudukinya. "Makanlah dulu! Jika tidak, kau akan kehilangan konstrasi saat pelajaran selanjutnya nanti," suruhnya sambil tersenyum.


"Ti-tidak usah, Rey." Aku menyerahkan mienya kepada Rey lagi.


Dia menghela napas dengan kasar. "Baiklah. Kalau memang tidak mau makan, maka minumlah dulu." Kali ini, dia memberikan sebuah air putih kemasan kepadaku. Dia juga tampak sedang meminum air putih miliknya.


"Hahh ... aku tahu maksudmu baik, Rey. Namun, suasana hatiku sedang tidak baik sekarang ini. Jadi, kumohon jangan—" Belum selesai aku berbicara, tiba-tiba saja Rey melesat dan menutup bibirku dengan bibirnya. Sebuah ciuman hangat mendarat.


"HMPHHH!" Aku memekakkan mataku karena terkejut. Dengan sigap, aku mendorong tubuh Rey agar menjauh dariku.


"R-Rey?!" tanyaku kesal.

__ADS_1


"Jika kau tidak mau makan ataupun minum sendiri, maka aku akan membantumu dengan cara tadi. Sekarang, kamu mau makan sendiri atau harus kubantu lagi?!" tanya Rey sambil tersenyum puas.


"Hhhh ...." Pipiku memerah. Tak ada pilihan lain, aku pun terpaksa mengambil mie instan yang dibawa olehnya dan memakannya dengan menggunakan sumpit secara perlahan. Hmphhh ... menyebalkan! Aku makan dengan perasaan kesal.


__ADS_2