
...Hadiah misterius yang membuatku takut ini, ternyata adalah ......
...\=•\=•\=...
Saat sudah sampai di dalam kamar, aku pun berjalan menuju meja belajar. Aku berniat untuk mengerjakan tugas matematika yang diberikan oleh Bu Mai tadi. Meski hanya tugas latihan saja, akan tetapi sebaiknya kukerjakan saja. Lagipula, soalnya hanya sedikit.
Aku membuka buku tulis matematikaku dan membuka halaman dimana aku menyalin soal yang ditulis Bu Mai di papan tulis tadi. Setelah ketemu, aku pun mengambil alat-alat tulisku di tempat khusus di tasku. Aku mulai mengerjakan satu per satu soal latihan yang dituliskan oleh Bu Mai.
"Ahh ... begini." Aku mengerjakan tugas ini sambil memahami lebih dalam tentang materi yang dijelaskan.
Cahaya lampu belajar dan suara musik healing yang kuputar di ponsel, menemaniku dalam mengerjakan tugas. Aku memang selalu melakukan hal ini. Karena menurutku, jika aku belajar dengan cara ini, maka aku bisa lebih berkonsentrasi.
Detik demi detik dan menit demi menit telah berlalu. Setelah cukup lama mengerjakan, akhirnya aku pun selesai.
"Akhirnya, selesai juga!" Aku menghela napas lega. Sekarang, aku merasa telah membuang beban yang menjanggal di hatiku.
Tak terasa malam telah semakin gelap. Rasa mengantuk mulai membayang-bayangi tubuhku. Mataku ini terasa seperti ingin memejam sendiri. Aku juga mulai kehilangan keseimbanganku dan nyaris saja terjungkal ke belakang.
"Hah ... sebaiknya aku segera pergi tidur. Aahh ... aku sangat mengantuk ...!" Aku menguap, menandakan bahwa aku sudah mengantuk.
Namun, sebelum aku merebahkan diri di ranjang, aku membereskan buku dan alat-alat tulisku. Saat sedang memasukan alat tulis ke dalam 'ruang khusus' di tas, aku menemukan sebuah benda. Itu adalah kado?
Aku mengeluarkan benda balok yang dibungkus oleh kertas kado berwarna biru gelap dengan motif bintang-bintang kuning di angkasa itu. Hee ... bagaimana bisa benda ini ada di tasku? A-apa aku mencuri?
Tidak, tidak mungkin! Kurasa, aku tak mengambil barang-barang orang lain hari ini. Maksudku, aku juga tak akan pernah sudi mengambil barang yang bukan milikku. Lantas, siapa pemilik barang ini?
Aku menatap kado itu dengan serius. Aku membolak-balik dan lalu menggoyang-goyangkannya. Hmm ... kurasa ini bukan bom. "Haih ... tapi apa isinya? Jika kubuka nanti, pemilik asli benda ini akan marah. Tapi, jika aku tidak membukanya, maka rasa penasaran ini akan semakin menggeluti pikiranku," ujarku bingung. Buka? Tidak? Buka? Tidak? Buka? Tidak? Itu adalah kata-kata yang tertulis di pikiranku saat ini.
__ADS_1
Namun, karena sudah terlanjur penasaran, aku pun memutuskan untuk membuka benda berbungkus kertas kado itu. Saat merobek kertasnya, terlihat sebuah kotak kardus yang masih tertutup rapat. Sepertinya, kardus tersebut memang masih baru.
"Hmm ... jika ini adalah sebuah paket yang ditujukan kepada ******* bagaimana? Kalau ini adalah pesan rahasia untuk para sindikat mafia bagaimana?!" Pikiran-pikiran negatif dan tidak masuk akal mulai bermunculan di benakku. Entah itu karena faktor ketakutan atau memang aku yang penasaran.
Dengan mata terpejam, aku membuka kardus itu agar dapat melihat isinya. Eh maksudku ... aku melihatnya dengan mata terbuka ... sedikit. Saat dibuka, aku melihat sebuah kotak pensil dengan warna abstrak. Dengan latar belakang hijau cerah, menambah kesan elegan kotak pensil 'misterius' itu. Kuakui, bahwa kotak pensil ini benar-benar bagus. Namun, kembali lagi ke sumber masalahnya. 'Ini barang milik siapa?'
"Eh?" Atensiku tertarik kepada sebuah lembaran kertas. Di kertas itu tampak ada sebuah tulisan yang ditulis tangan. Aku mengambil kertas merah muda itu. Aku merebahkan tubuhku di kasur perlahan dan mulai membaca surat itu.
Hei, Ai! Jika kau menemukan surat ini, maka itu artinya kau telah membuka hadiah yang kuberikan. Bagaimana? Apa kau menyukainya? Saat melihat kotak pensilmu rusak tadi siang ... tidak, maksudku saat melihat kotak pensilmu rusak, aku pun mulai berpikir untuk membeli yang baru dan akan kuberikan untukmu.
Ya ... agak sulit saat mencari warna yang cocok denganmu. Saat sedang di toko, aku kebingungan. Lebih baik warna hijau abstrak atau biru abstrak? Bahkan, aku sempat melempar koin untuk menentukan pilihan hihi ....
Hasil lemparan koin menuntunku untuk membeli kotak pensil berwarna biru. Namun, entah kenapa aku merasa bahwa warna yang tepat untukmu adalah warna hijau. Jadi, aku pun membeli kotak pensil berwarna hijau dengan motif abstrak ini.
Oh iya, setelah mendapatkan kotak pensil ini, kau harus belajar lebih semangat lagi. Pokoknya, besok kau harus menggunakan kotak pensil ini. Kalau tidak ... aku akan mengambilnya lagi seperti es krim yang kita beli di mall.
To : Ai Mizhunashi
...\=×\=×\=...
Itu adalah bunyi surat yang ditulis oleh Rey. Rupanya, kotak pensil ini adalah pemberian Rey untukku. Aku tersenyum tipis dan hampir saja tertawa saat mengingat kejadian memalukan tadi.
Tiba-tiba, terdengar suara nada dering ponsel seseorang di kamarku. Aku pun langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut. Ternyata, ponselku lah yang sedang berdering. Sepertinya, ada yang meneleponku.
Aku langsung merangkak turun dari ranjangku dan berlari mengambil ponsel putih dengan case bergambar hewan panda tersebut.
"Eh?" Aku terkejut saat mengetahui bahwa yang sedang meneleponku adalah Rey.
__ADS_1
'Kenapa Rey meneleponku malam-malam, ya?' pikirku.
Aku mengangkat teleponnya dengan segera. "Halo, Rey ...," ucapku lirih seraya berjalan menuju kasurku kembali.
"Ah ... halo, Ai." Dia membalas sapaanku di sambungan telepon. "Apa aku sedang mengganggumu?" tanyanya.
"He? Tidak tidak. Aku sudah selesai mengerjakan tugasku. Memang ada apa, Rey?" Aku berbalik tanya kepada Rey.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengobrol denganmu. Umm ... kamu sudah membuka hadiahku belum?" Rey menanyakan tentang hadiah yang dia berikan padaku.
"Hm? Ah, sudah. Kotak pensil warna hijau-nya sangat bagus. Aku sangat ... sangat ... sangat menyukainya. Arigatou, Rey," ungkapku sambil melihat-lihat kembali kotak pensil yang diberikan oleh Rey.
"Hah ... syukurlah. Aku sempat khawatir jika kau belum membukanya tadi. Ya, sama-sama," ucap Rey. "Ai, besok adalah hari pertama klub melukis dimulai. Apa kau sudah menyiapkan semua barang-barangnya?" tanya Rey yang ingin memastikan bahwa aku sudah menyiapkan segala persiapan untuk klub melukis nanti.
"Ee ... i-itu. Aku belum menyiapkannya hehe .... Aku pikir, lebih baik kusiapkan besok pagi saja hehe." ujarku sambil tertawa kecil.
"Aigoo ... lebih baik kau siapkan sekarang saja, Ai ...! Karena mungkin saja besok kau malah lupa," suruh Rey.
"Hm ... ya, kurasa kau benar. Baiklah, aku akan menyiapkan barang-barangnya dulu," ucapku.
"Ya. Aku akan menutup teleponnya. Oyasumi, Ai," kata Rey mengucapkan selamat tidur kepadaku.
"Oyasumi nee, Rey!" balasku.
Rey menutup teleponnya, semebtara aku pun segera melaksanakan perintah Rey. Aku mulai menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan untuk melukis. Pensil, buku gambar, dan peralatan menggambar lainnya, kumasukan ke dalam tas.
"Ah akhirnya, selesai juga." Setelah semuanya selesai, aku pun menidurkan tubuhku di kasur dan lalu perlahan memejamkan mata. Konbawa ...!
__ADS_1