Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 56 : Ini Semua Salahku


__ADS_3

...Terkadang dunia ini memang tidak adil, tapi mengeluh atas keadaan juga tidak ada gunanya, 'kan? - Rey Tachibana...


...\=•\=•\=...



Keesokan paginya, sesampainya di sekolah, aku langsung menaruh tas hitam yang selalu kubawa. Aku lalu keluar dari kelas dan berjalan cepat menuju halaman belakang sekolah. Namun saat aku sedang berjalan, aku bertemu dengan Rin. Kebetulan, dia sedang berada di luar kelasnya. Dia menyapaku, "Pagi, Ai! Kenapa kau kelihatan kebingungan begitu?"


"Pagi Rin! Aku sedang buru-buru. Maaf ya!" ujarku panik.


"Hei, kau mau kemana?!" tanya Rin dengan suara berteriak, tapi karena aku sedang buru-buru, jadi aku pun tidak menanggapinya. Kepalaku menengok ke kanan dan ke kiri, mencari tempat yang kutuju saat ini. Dimana dia. Aku harus menemuinya.


Hehh ...


Ketika aku sampai di lorong sekolah, seorang gadis mengenakan jaket biru dan mulut yang sedang memakan permen, lewat berpapasan denganku.


Deg!


Aku menghentikan laju lariku seketika saat melihatnya. Dia adalah orang yang kucari saat ini. Tak menunggu lama, aku mengubah posisi badanku menjadi berbalik dan berteriak memanggil namanya. "REINA!" seruku memanggil namanya.


Dia juga berhenti berjalan saat aku memanggil namanya. Reina menatapku dengan tatapan malas dan cuek. "Oh, Ai. Haha ...." Gadis itu mengeluarkan permen yang dimakannya tadi dan melanjutkan, "tak kusangka kita bisa bertemu di sini. Ada apa kau memanggilku seperti itu? Apa ada hal penting?" Ia bertanya dengan gaya bicara seolah dia adalah orang yang akrab denganku.


Ekspresiku berubah menjadi serius. "Aku tak mau basa-basi. Apa artinya suratmu kemarin? Apa maksudnya satu minggu? Apa kau pikir, semua itu bisa instan apa?!"


Berbanding terbalik denganku, Reina malah memamerkan senyuman miringnya. "Ara ara, ternyata kau sudah menerima bunga yang kuberikan ya. Yaa, itu sih bukan masalahku. Pokoknya aku telah memberimu penawaran. Kau hanya disuruh memilih antara melakukan atau menolak, itu saja. Mudah kan?" ujarnya enteng. "Satu lagi, aku sudah menjelaskan semua resiko yang akan kau ambil jika memilih jalan yang sulit. Bukan hanya kehilangan Rey, tapi hidupmu juga akan hancur."


Tubuhku mendadak gemetar saat mendengar kalimat yang diucapkan olehnya di akhir. "A-apa maksudmu?!"


Reina melangkahkan kakinya untuk mendekatiku. Dia kemudian memegang bahuku seraya berkata, "Jangan terlalu naif Ai. Apa kau lupa? Pamanku adalah kepala sekolah di sini, jadi kau tak akan bisa menghalangi keinginanku. Kecuali, kau mau dikeluarkan dari sekolah hahahaha ...!" Ia mencengkram bahuku.


"Eekhh ...." Cengkramannya


"Dengarkan baik-baik, aku pasti mendapatkan apa yang kumau. Jika ada yang menghalangiku, maka harus disingkirkan. Termasuk dirimu, Ai ... hahaha," ujar Reina dengan suara berbisik. Dia melepaskan cengkraman tangannya dan berbalik. "Mata ne!"

__ADS_1


Hatiku seketika menjadi hampa. Suara dari pembicaraan barusan langsung terngiang-ngiang di telingaku. Seminggu, dengan waktu seminggu aku harus melepas Rey.


Reina ... dia seenaknya saja membuat keputusan. Tapi aku juga tak bisa melakukan apa-apa. Posisiku saat ini bagaikan berada di antara dua jurang. Aku tahu semua keputusan yang kuambil pasti akan berdampak buruk.


Apakah, aku harus menjauh darinya?


Kenapa dunia ini tidak adil?


Angin berhembus pelan, seolah menjawab pertanyaaanku tadi.


"Ai!" panggil seseorang dari arah depanku.


"Rin? Rey?" Ternyata mereka berdua. "Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyaku.


Mereka berdua mendekatiku. "Harusnya aku yang bertanya begitu. Apa yang kau lakukan di sini Ai? Dan kenapa kau lari-lari seperti itu?" Rin berbalik tanya.


"Ai, kau baik-baik saja, 'kan? Tidak ada yang terluka kan? Rin memberitahuku tadi, dia mengatakan kalau kau tampak buru-buru. Memangnya ada apa? Dan kenapa wajahmu bingung begitu?" imbuh Rey dengan wajah khawatir juga.


Ini pilihan yang sulit ...


Aku tak mau kehilangan Rey, tapi aku juga tak mau kehilangan keduanya. Aku punya impian dan aku bercita-cita mewujudkannya, tapi ... ewrhhh, Reina ... aku tak akan pernah memaafkanmu.


"Ai? Ai? Jawab aku!" Rin memegang pipiku sembari berusaha menyadarkanku dari lamunan.


"Ai? AI?!" Rey juga melakukan hal yang sama.


"DIAAAAM! BISAKAH KALIAN DIAM SEBENTAR? AKU SEDANG BERPIKIR?!" Berisik, semua terlalu berisik. Aku tidak punya waktu untuk berpikir. Orang-orang ini menggangguku. Aku menatap Rin dan Rey dengan tatapan kesal.


Namun, aku langsung mengubah ekspresiku saat melihat wajah mereka.


A-apa yang aku lakukan barusan? Apa aku baru saja berteriak kepada mereka?


Mata Rin berkaca-kaca. "Ai ... apa barusan kau membentakku? Maafkan aku jika aku terlalu mengganggumu. A-aku tidak bermaksud begitu. A-ku ... MAAFKAN AKU AI!" Rin berlari menjauh dariku dan juga Rey.

__ADS_1


"Rin!" Aku berteriak memanggil namanya, tapi dia tidak berhenti berlari. Ini semua salahku. Semua adalah salahku.


Aarghh ... aku telah mengacaukan semuanya. Kali ini aku malah membuat kecewa satu-satunya sahabat yang percaya padaku.


"Ai, kenapa kau marah begitu? Hei, coba ceritakan kepadaku, barangkali aku bisa membantu, iya kan?" Di satu sisi, Rey masih berada di sini. Tampaknya, ia tidak peduli walau aku memarahinya.


"Ma-maaf Rey. Aku ingin sendiri sebentar ...." Dengan sengaja aku memalingkan wajahku ke samping, lalu berjalan menjauh dari Rey.


Baru beberapa langkah aku berjalan, Rey yang ada di belakangku berteriak keras. "Ai! Apa aku punya salah kepadamu? Jika memang iya, katakan saja. Aku akan menebusnya. Tapi tolong, kembalilah menjadi Ai yang dulu. Aku sangat menyukai kepribadianmu yang selalu ramah dan lembut kepada siapapun. Kumohon, jangan acuhkan aku lagi! Aku merasa tidak enak, kau tahu!"


Lagi dan lagi, kalimat yang diucapkan olehnya semakin membuat situasiku memburuk. Aku bingung harus menjawab apa.


Rey, aku tidak membencimu, kau tidak punya salah kepadaku, hanya saja, ini adalah masalah tentang hidupku.


Aku tak mau hidupku hancur hanya karena mengejar cinta yang tak jelas asalnya.


Andai aku bisa menjawab pertanyaan Rey dengan jawaban ini. Tapi, tidak ... Rey tak boleh taju tentang ini. Karena dia pasti akan memarahi Reina. Hah ...


"Ka-kau tak punya salah kok, Rey. A-aku hanya ingin sendiri dulu. Badanku sedikit tidak enak. Eemm ...," jawabku singkat. Aku tidak ingin terlalu lama terjebak di situasi ini.


"Lalu kenapa kau berubah seperti itu? Hei?!" teriak Rey bertanya, akan tetapi aku tidak menggubrisnya.


Setelah mengatakan hal ini, aku pun kembali ke kelas dan duduk di bangkuku sambil berpikir atau mungkin merenung.


Ketika aku memandang suasana luar, entah bagaimana, tiba-tiba berbagai pertanyaan muncul di kepalaku. Dan pertanyaan-pertanyaan itu berkaitan dengan hal yang baru kualami tadi.


Apa Rin akan memusuhiku?


Mungkinkah menjauh dari Rey adalah yang terbaik?


Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang menggangguku.


Aku menghela napas berat. Pandanganku terpaku kepada sebuah pohon rindang yang ada di bawah kelasku.

__ADS_1


__ADS_2