Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 38 : Persahabatan Kami Berakhir?


__ADS_3

...Terkadang, pada suatu waktu, kita akan takut mengutarakan perasaan kita yang sebenarnya....


...\=•\=•\=...


"Aaiii!" Rey berteriak keras kemudian bergegas menghampiriku. "Ai, kau tidak apa-apa? A-apa ada yang terluka?!" tanya Rey dengan wajah panik.


Aku tersenyum ramah kepadanya. "Tidak apa-apa kok, Rey. Ini hanya luka gores biasa saja hehe ...," jawabku lalu kembali berdiri.


Klek!


Namun, tiba-tiba aku merasa seperti ada sebuah petir yang menyambar di pergelangan kakiku. Alhasil, aku pun tumbang dan akhirnya nyaris terjatuh, nyaris. Beruntung, Rey berhasil menangkap tubuhku sebelum aku benar-benar terjatuh ke tanah.


"Awwwh ...." Aku merintih kesakitan sembari memegangi pergelangan kakiku. Ah, ternyata, kakiku benar-benar terluka.


"Sepertinya kakimu terluka. Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang," ucap Rey seraya membantuku kembali berdiri.


"Eh tidak usah, Rey. A-aku bisa jalan sendiri kok. Lagipula, jika kau mengantarku, motormu nanti bagaimana? Jadi, maksudku, lebih baik kamu perbaiki motormu saja," tolakku halus seraya tersenyum.


Namun, sepertinya dia tidak menggubris ucapanku. Ekspresi wajahnya telah menjawab, bahwa dia tidak setuju dengan ucapanku tadi. "Tidak, aku akan mengantarmu pulang dulu. Lagipula, motorku terparkir di sekolah. Di sana pasti ada satpam yang berkeliling untuk menjaga. Ya ... kau tak perlu khawatir. Ayo!" Sudah kuduga bahwa dia pasti akan menjawab seperti itu. Ya sudahlah, lebih baik aku ikuti saja.


Rey membantuku berjalan perlahan. Agak sedikit terasa aneh karena Rey dan aku memiliki tinggi badan yang bisa dibilang sangat berbeda. Semua orang pasti dapat melihat perbedaan yang signifikan ini. Alhasil, tanganku pun mulai terasa pegal karena hal itu.


"Rey, Rey ... tunggu sebentar." Di tengah-tengah perjalanan, aku meminta Rey untuk berhenti sebentar. Dengan senang hati dia menyanggupi permintaanku. Rey membantuku duduk di sebuah bangunan semacam pembatas taman. Ya, seperti batu bata yang disusun untuk membatasi tanah taman. Aku ingin berhenti sejenak karena aku merasa bahwa tanganku sudah tak bisa menahan rasa pegal.


"Eerghh ... pegal." Aku memegangi bagian tanganku yang terasa pegal.

__ADS_1


"Eh, tanganmu pegal? Kenapa, Ai?" tanya Rey, kemudian melanjutkan, "a-ah, aku tahu ... tanganmu pegal karena tadi membentur jalan bukan?"


"E-eh, bu–" Aku belum selesai berbicara, akan tetapi tiba-tiba Rey menyahut. "Aaah, aku tahu aku tahu, aku ini memang pengertian. Baiklah, ayo! Aku akan menggendongmu saja!" Rey berjongkok dengan posisi tubuh membelakangiku.


"Eeeem ... eeehh, a-apa? Gen-gendong?" Aku terkejut saat dia mengatakan bahwa dia akan menggendongku.


"Iya. Apa itu terdengar salah?" Rey berbalik dan bertanya kepadaku.


"I-itu. Ti-tidak kok. Ha-hanya saja–" Tiba-tiba Rey menutup bibirku dengan jari telunjuknya. "Sttt ... ayo! Sebelum hari semakin sore. Nanti, Miku akan menunggu lama di rumah," pangkasnya. Lagi dan lagi, entah sudah berapa kali dia memotong pembicaraanku. Hah ... padahal aku ingin menjelaskan. Namun, dilihat dari sisi lain, ucapan Rey ada benarnya. Namun, te-tetap saja. Ma-maksudku, Rey dia, arghh...


"Ai, ayo!" Rey mengajakku seraya menunjuk-nunjuk bagian punggungnya, mengisyaratkanku agar segera mendekap punggungnya.


"Eemm ... ba-baiklah." Akhirnya, aku pun terpaksa menuruti Rey. Aku mendekat dan meraih pundaknya, mengalungkan kedua tanganku di bahunya, kemudian bersandar.


Tanpa kusangka-sangka, Rey langsung bergerak. Dia memegang kedua pahaku dan ya, mengangkat tubuhku kemudian bangkit dan mulai berjalan. "Yosh, tujuan selanjutnya adalah rumah Mizhunashi Ai. Penumpang diharapkan untuk mengencangkan pegangannya agar tidak jatuh nantinya. Nona, silakan mengaitkan kedua tanganmu dan dekatkan tubuhmu," ucap Rey sambil menirukan gaya bicara ... apa itu namanya ... yang berbicara untuk memperingatkan para penumpang di kereta, pesawat, maupun bus. Ya, pokoknya itulah.


Sesekali aku melihat keringat bercucuran dari kening maupun bagian belakang telinganya. Rey, dia tampak sangat kelelahan. Namun, dia masih berjalan meniti perjalanan singkat yang terasa panjang ini. Sinar jingga matahari yang mulai tenggelam, seolah ikut menemani kami. Angin sepoi-sepoi menghembus pelan, mengibaskan rambut pendeknya.


"Rey, apa kau baik-baik saja? Sepertinya kau terlihat sangat kelelahan. Kalau kau lelah, aku akan turun saja. Lagipula, kakiku ini sudah sembuh," ucapku lirih. Bukannya aku tidak mau digendong seperti ini, hanya saja aku tidak mau membuat dia kelelahan. Apalagi karena aku.


Dia tersenyum. "Ya, aku baik-baik saja. Tak perlu khawatir, aku tidak merasa lelah sama sekali. Berat badanmu ini sangat ringan, jadi tidak berpengaruh sama sekali bagiku yang memiliki tubuh tinggi dan kuat ini hahaha ...." Dia menjawab dengan jawaban yang tak kusangka-sangka. Rey tidak mengiyakan ucapanku, laki-laki itu malah mengucapkan hal-hal yang hebat tentangnya, meski kurasa, ucapannya itu sedang menyindir tentang tubuhku. Ya, kurasa dia memang melakukan hal itu.


"Reyy ... hmmpphh ...." Aku mengeratkan tangan yang mengalung di lehernya itu. Kueratkan hingga membuat lehernya tercekik. "Hmpp rasakan itu heehhh ...." Amarahku sudah tidak dapat ditahan lagi. Setiap hari aku harus sabar saat dia melakukan hal-hal yang dibilang tidak wajar, kepadaku.


"Eerghh AI AI, LEHERKU, AI, AKU KESULITAN BERNAPAS HEEEH ...," ucap Rey panik.

__ADS_1


Melihat hal tersebut, jelas saja aku ikut kaget sekaligus panik. "Eeh, Rey ... maafkan aku. A-aku tidak bermaksud begitu," ujarku meminta maaf.


"Aduh ... aku merasa bahwa napasku terhenti tadi. Hmm ... baiklah, aku akan memaafkanmu. Tapi, nanti beri aku ciuman, ya?" ujar Rey.


"Reyy ... hmpph!" Aku memukuli kepalanya dengan kedua tangan.


"Aduh aduh ... Ai, aku hanya bercanda tahu ... hei, hentikan! Atau aku akan benar-benar menciummu," ancam Rey. Hmp, dia berhasil membuatku takut. Tck, tak ada yang bisa kulalukan lagi ketika dia sudah mengatakan hal ini.


"Hahaha ... aku tahu kau pasti akan kalah jika aku mengatakan hal itu. Memang apa yang membuatmu begitu takut jika kucium? Apa kau menyukaiku, Ai?" tanya Rey. Pertanyaan yang dilontarkan olehnya membuatku terkaget-kaget. Aku bingung harus menjawab apa.


"I-itu ...." Ayolah, otak, aku butuh bantuanmu saat ini.


"Hm? Itu apa?" tanya Rey sekali lagi.


"I-itu, kita hanya sahabat kau tahu. Tidak baik jika sahabat melalukan hal-hal yang seperti ini. Tidak boleh!" jelasku. Ya, otakku sekarang bekerja dengan sangat baik. Terima kasih otak, kau telah membantuku saat ini.


"Ooh, jadi begitu, ya? Ya, harusnya aku segera mengakhiri hubungan sahabat kita ini," kata Rey dengan suara lesu.


"Ha? Apa maksudmu, Rey?!" tanyaku terkejut. Aku terkejut karena ucapan Rey yang mengatakan bahwa dia ingin mengakhiri hubungan sahabat kami. Jadi maksudnya, dia ingin pergi dari hidupku, begitu?


Namun, dia hanya menjawab pertanyaanku dengan senyuman. Aku masih tidak tahu apa maksud kata-katanya itu, tapi kuharap, dia tidak pergi dari hidupku. Karena aku, sangat membutuhkannya.


...\=•\=•\=...


__ADS_1


Ai : "Hei, kalian, iya kalian! Jangan lupa like, komen dan beri hadiah, ya? Ayo kita dukung author agar dapat meneruskan cerita kami hingga tamat nantinya. Arigatou, Minna-san!"


__ADS_2