Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 62 : Rekayasa Reina


__ADS_3

Setibanya di ruang kepala sekolah, Reina langsung berlari menghampiri pamannya yang adalah kepala sekolah juga. Dia berlari meninggalkanku bersama keempat anggota Black Blood.


"Paman! ... upss, maksudku Pak Kepala sekolah. Ai sudah di sini," ujarnya berteriak meskipun ia sudah berada tepat di samping pamannya.


Kepala sekolah menghentikan pekerjaannya ketika matanya melirikku. "Hmm ... jadi dia adalab Ai?" tanya pria berambut hitam beruban itu.


"Iya!" tegas Reina sambil tersenyum puas. Senyumannya seolah menunjukkan kalau dia akan segera mendapat apa yang dia inginkan.


Kepala sekolah menaruh pulpennya dan lalu berdiri dari kursinya. Dia berjalan mendekatiku. "Ai, kudengar kau melakukan tindakan kekerasan kepada Reina, benar?" Aku sudah menduganya, dia pasti akan menginterogasiku dengan pertanyaan ini.


"Tidak, Pak! Sungguh. Saya tidak berbohong. Saya benar-benar tidak melakukannya. Ba-bahkan, saya tidak tau kenapa Reina bisa seperti ini." Karena memang merasa kalau aku tidak bersalah, tentu saja aku tak akan diam. Apalagi ini menyangkut kehidupanku dan juga Reina.


"Hmm ...." Kepala sekolah memejamkan mata sambil berpikir, sepertinya.


"Tck! Tidak tidak. Dia berbohong, Pak! Saat itu Ai marah kepadaku karena mengira kalau aku dan teman-teman ingin merundungnya. Benar kan, teman-teman?" Gadis licik ini menanyakan kepada teman-temannya.


"I-iya! Kami ada di sana saat itu. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Ai melakukan kekerasan kepada Reina," celetuk Yukino Shouko untuk memperkuat tipu daya mereka.


"Tidak! Itu semua bohong. Aku sama sekali tidak melakukannya, Pak. Tolong percaya padaku!" Di saat-saat seperti ini, aku masih berusaha meyakinkannya, walaupun aku tahu bahwa dia hanya berpura-pura adil. Padahal sebenarnya, dia pasti akan menghukumku nanti. Haha ... aku sudah tahu itu.

__ADS_1


Kepala sekolah membuka matanya untuk menatapku. Pria ini mengatakan, "Biarkan bapak berpikir sebentar. Ai, kau sudah terbukti bersalah. Yukino Shouko, yang adalah teman Reina juga dengan yang lainnya, melihatmu melakukannya. Dan, rekaman cctv halaman belakang sekolah kemarin pun menjelaskan semuanya. Jadi, tak ada tempat untukmu mengelak. Sudahlah, akui saja kesalahanmu dan bapak akan memberimu hukuman yang ringan," jelas kepala sekolah.


"Hah ...


... Pak, bolehkah saya melihat rekaman cctv nya? Saya ingin mengetahui yang sebenarnya. Karena jujur saja, kemarin saya berada di klub melukis." Tidak, aku tidak boleh menyerah kepadanya begitu saja. Jika aku menyerah maka itu artinya aku harus menelan pahit atas ketidakadilan mereka. Kalaupun aku memang tak bisa merubah keputusannya, maka setidaknya aku ingin melihat cara apa yang mereka gunakan untuk memfitnahku.


Huh ... dengan entengnya dia menghukumku hanya dengan bukti palsu


"Hmm ... baiklah. Ayo kita lihat bersama ...!"


Kepala sekolah mengajakku untuk melihat rekaman cctv nya. Jika dilihat dari ekspresi wajahnya ... sepertinya kepala sekolah memiliki bukti. Apa aku memang memukul Reina? Kurasa tidak.


"Hmm ... tanggal 26, tanggal 26. Nah, ini!" Ia menekan rekaman cctv halaman belakang sekolah pada tanggal 26. "Lihatlah ...."


Aku menatap video rekaman itu dengan serius. Ada hal yang mengangguku, raut wajah mereka tampak seperti tak menyimpan kebohongan sama sekali. Itu berarti, aku memang memukulnya?


Deg!


Aku terkejut tatkala melihat seorang gadis berambut hitam panjang mengolok-olok Reina. Gadis di rekaman itu kemudian menghajar Reina seolah tak memberi ampun.

__ADS_1


... tapi ... aku tidak pernah melakukan ini. Kuakui, gadis ini mirip denganku, tapi hanya dari belakang saja.


"Pak, aku bersumpah, bukan aku yang melakukan ini!" bantahku tak terima berada di kondisi terpuruk. Ah, betapa bodohnya aku saat ini. Padahal aku sudah tau kalau dia pasti tak akan mau mendengarkanku, tapi kenapa aku masih mencoba melawannya? Aahh, bodoh, dasar bodoh.


"Rekaman cctv telah menunjukkan semuanya. Ai, setelah ini kau harus menemui guru bimbingan konseling untuk mempertanggung jawabkan kesalahanmu. Baiklah kalau begitu, bapak ada rapat sebentar lagi. Oh ya, sebaiknya kalian bubar saja, kembali ke kelas masing-masing!" perintahnya seolah merasa tak bersalah. Dia tak merasa bersalah walaupun telah membuat tipuan untuk memfitnah seorang siswi. Jadi ... apakah ini pendidikan? Tidak, bukan. Bukan pendidikan yang disalahkan, orang yang ada di sekolah lah yang harus disalahkan. Tidak, ini semua salahku sendiri. Andai saja aku tak mencintai Rey, mungkin hidupku akan jauh lebih bahagia ...


... mungkin.


Lamunanku buyar saat aku merasakan seseorang memegang bahuku. Ternyata, dia adalah Reina. Sambil tersenyum miring, dia mendekati telingaku dan lalu berbisik. "Hei, coba sadar diri .... Lihat, kau hanya gadis kutu buku yang sangat lemah. Hanya bisa merengek saat seseorang mengambil sesuatu darimu .... Tch, aku yakin, Rey tak akan sudi berkencan dengan gadis payah sepertimu hahaahaaa .... Ah iya, aku hanya ingin berpesan. 'Lebih baik mundur, daripada hancur', hahaha ... jika kau tahu maksudku ...."


"Khehehe ... semuanya, ayo keluar! Masih banyak hal yang harus kulakukan." Selepas mengucapkan hal tersebut, Reina mengajak para anak buahnya untuk pergi keluar dari ruangan ini. Sedangkan aku masih berada di tempat yang sama, tanpa beranjak meski satu langkah pun. Yaah, mungkin untuk sekarang aku masih selamat, tapi entah beberapa saat nanti. Apa aku masih bisa bertahan? Hmm ... entahlah.


\=•\=•\=


Tca, akhirnya aku bisa up lagi. Ah iya, ATS (Ai to Shiawase) udah mulai masuk ke dalam konflik. Itu artinya bentar lagi tamat minna.


Pantengin terus upnya ya, tysm...


__ADS_1


"A-aku nggak nyuruh kamu buat like novelku tau! Ta-tapi kalau kamu mau like ya ... ya ... ya gapapa. E-emm a-arigatou. Ta-tapi aku nggak maksa kamu buat like lho! I-ini kamu yang mau sendiri hmp!" Nakano Miku and Nakamura Rin, 2021


__ADS_2