
...Ternyata cara membuat anak kecil bahagia itu sangat mudah, ya...
...\=•\=•\=...
Setelah dia selesai menyeruput hingga kuah mie ramennya habis, Miku turun dari kursi makan perlahan dan membawa mangkuknya. Dia lalu menyerahkan mangkuk itu kepadaku yang tengah mencuci piring-piring kotor di dapur.
"Gochisousama deshita, Onee-san," ucapnya seraya menyerahkan mangkuk berwarna coklat kayu yang tadi dia pakai untuk makan.
"Sama-sama, Miku," jawabku seraya mengambil mangkuk tersebut.
Namun, saat sudah menyerahkan mangkuknya kepadaku, bukannya pergi menonton televisi atau tidur, Miku malah masih tetap berdiri di tempatnya tadi sambil tersenyum. Aku menatap Miku keheranan dengan tangan yang masih mencuci piring-piring kotor di rumah ini.
"Ada apa, Miku?" tanyaku dengan kepala menunduk, menatap Miku.
Dia tersenyum seraya menggerakan kaki kanannya ke kanan dan ke kiri. "Ee ... i-itu ...," ucapnya dengan lirih. Aku tak mengerti dengan maksud perkataan Miku barusan. Apa yang dimaksud dengan 'itu' olehnya?
Karena penasaran, aku pun berjongkok, menyamakan tinggi dengannya. "Kenapa Miku? Kakak tidak terlalu paham dengan ucapanmu tadi," ungkapku sambil memegang kedua bahu mungil anak kecil tersebut.
"I-itu ...." Dia mengulanginya sekali lagi. "Hadiah ...," lanjutnya dengan suara kecil.
"Hm?" Dia melanjutkan ucapannya dan menyebut kata 'hadiah'. Apa maksudnya? Hah ... dia semakin membuatku bingung. Hee ... tunggu sebentar.
"Oohh ... hahahahaha ... ternyata kau menanyakan itu. Baiklah baiklah ... kakak akan ambilkan hadiahnya. Kamu tunggu di kursi sofa dulu, ya!" perintahku menyuruh Miku untuk menunggu di sofa. Aku baru mengerti apa maksud dari ucapan Miku. Ternyata, dia sedang menunggu hadiah yang kujanjikan saat baru pulang tadi.
"Hmhm ...." Miku mengangguk dan berlari ke arah sofa yang terletak tak jauh dari dapur. Sementara aku pun bergegas menyelesaikan tumpukan piring kotor ini.
Tak berselang lama, aku telah menyelesaikan pekerjaan ini. Aku kemudian mengelap tanganku yang basah. Setelah itu, aku berjalan menghampiri Miku. Aku melihatnya sedang bermain dengan boneka yang dibelikan oleh ayah.
Dia terlihat sangat senang karena dia berpikir bahwa ayah masih ada. Ya ... ibu mengatakan kepada Miku bahwa ayah hanya sedang pergi sebentar dan suatu saat dia akan kembali. Aku tau ibu melakukan itu karena tidak ingin membuatnya sedih. Namun, aku tetap merasa kasihan kepadanya.
"Oi ... oi ... uhh ... kau sangat menyukai mainan ini, ya, Miku?" tanyaku kepadanya.
__ADS_1
"Iya kak. Karena mainan ini adalah mainan yang dibelikan oleh ayah. Saat aku sedang kangen dengan ayah, maka aku akan memainkan mainan ini. Semoga ayah cepat kembali, ya, Kak! Supaya aku bisa bermain pesawat seperti teman-temanku," ungkapnya.
Deg!
Aku tertegun saat mendengar ucapan Miku. Dia terlihat sangat merindukan ayah. Gadis itu juga berharap agar ayah cepat kembali dan bermain bersamanya. Walaupun dia hanyalah seorang anak kecil, akan tetapi aku juga ikut merasakan rasa rindu yang sangat amat besar dari dirinya. Hah ... seandainya ayah masih di sini.
"Umm ... Miku?" panggilku.
"Iya, Kak?" Miku berhenti bermain dan menatapku.
"Kamu mau melihat hadiahnya tidak?" tanyaku mengalihkan alur pembicaraan. Sudah cukup suasana kesedihan untuk hari ini. Lebih baik aku fokus untuk menjalani hidup yang sekarang. Masih banyak orang-orang yang kusayangi di sini.
"Mau kak mau ...." Ekpresi kegirangan terpancar di wajahnya. Dia terlihat sangat berantusias untuk melihat hadiah ini.
"Baiklah baiklah ... siap-siap, ya!" Aku sedang menyembunyikan es krim yang kubeli di mall tadi di belakang tubuhku dan bersiap memberikannya kepada Miku. "INI DIA!" Aku menunjukan hadiah es krim yang kujanjikan.
"Waahh ...." Miku ternganga saat melihat es krim rasa *vanilla* yang sedang kupegang.
Sesaat setelah mendapatkan es krimnya, dia langsung mengubah posisinya menjadi berdiri dan kemudia melompat-lompat kegirangan.
"Terima kasih, Kak," ucap Miku berhenti melompat-lompat dan kembali duduk. Dia kemudian memakan mulai es krimnya.
"Iya. Baiklah, cepat habiskan es krimnya. Ini sudah hampir malam," ucapku meminta agar Miku menghabiskan es krimnya dengan segera karena hari sudah hampir malam. Aku takut, jika dia makan es krim malam-malam, maka dia akan jatuh sakit nanti.
"Oh ya, kak. Di mana kakak membeli es krim enak ini?" tanya Miku sembari menyendok es krim dan memasukannya ke dalam mulut.
"Hm? Oh, itu. E-eem ... saat dalam perjalanan pulang, kakak tak sengaja melihat ada seorang penjual es krim. Es krimnya tampak sangat enak. Ya ... karena kakak tahu bahwa kau menyukai es krim, maka kakak pun membelikannya untukmu," terangku meski harus berbohong. Karena jika aku memberi tahu kepada Miku, bahwa aku membelinya di mall, bisa saja dia memberi tahu ibu. Kalau ibu sampai tahu, ya bahaya.
"Woaa ... kelihatannya, sekolah itu sangat menyenangkan, ya, kak? Aku ingin cepat-cepat sekolah dan membeli es krim seperti kakak. Kira-kira, kapan aku akan sekolah?" tanyanya sambil mengayun-ngayunkan kedua kakinya yang mungil itu silih berganti.
Aku mengelus-ngelus rambutnya. "Kau sudah besar, Miku. Sebentar lagi kau akan sekolah," ujarku menghiburnya.
__ADS_1
"Benarkah? Yeayy ...!" Dia berteriak kegirangan. Ternyata, semudah itu membuat seorang anak kecil bahagia. Hanya dengan mengiyakan ucapannya saja sudah berhasil membuatnya bahagia. Bertambah satu ilmu yang kudapatkan hari ini.
Kami berdua saling mengobrol bersama. Kadang aku menceritakan bagaimana enaknya sekolah. Lalu, kami berdua bercanda dan bermain bersama. Suasana malam yang sunyi senyap itu berhasil kami rubah menjadi suasana malam yang penuh kehangatan. Canda tawa dan senyuman menyelimuti kami berdua.
"Hahaha ...." Kami berdua tertawa bersama karena saling menggelitik. Pada saat yang bersamaan, perhatianku langsung tertarik kepada jam dinding yang telah menunjuk pukul 7 malam.
"Hei, Miku. Ini sudah malam. Ayo tidur!" Aku mengajak Miku untuk tidur karena malam semakin larut.
Wajah Miku langsung berubah menjadi murung. "Yah ... Kak. Padahal aku masih ingin bermain dengan kakak lagi ...," ucap Miku dengan nada bicara sedih.
Aku tersenyum kepada Miku. "Besok kita akan bermain bersama lagi, ya! Kakak berjanji." Aku menunjukan jari kelingkingku di depan wajah Miku untuk berjanji.
Wajah Miku yang tadinya sedih, langsung berubah menjadi senang. "Baiklah kak." Dia meraih kelingkingku dengan kelingkingnya. Kami berdua telah melakukan janji.
Sebelum tidur, aku dan Miku menyikat gigi terlebih dahulu. Kami berdua rutin melakukan ini setiap hari. Setelah selesai, aku pun mengantar Miku untuk masuk ke dalam kamar ibu.
"Selamat tidur, Miku." Aku mengecup kening Miku dan mengucapkan selamat tidur kepadanya.
Miku tersenyum dan kemudian memejamkan matanya. Aku berjalan ke arah keluar kamar. Aku hendak mematikan lampu. Namun, tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Kak!" panggil Miku yang sedang dalam posisi tidur di samping ibu.
Aku menoleh ke arah Miku. "Iya, ada apa, Miku?" tanyaku.
"Konbawa ...." Dia mengucapkan selamat malam kepadaku.
Aku tersenyum ramah dan menganggukan kepala dua kali. "Selamat malam, Miku," ucapku kemudian keluar dari kamar dan masuk ke dalam kamarku sendiri.
Namun, saat hendak membuka pintu, aku melihat tasku yang terletak di atas sofa. Ya ... saat melihat Miku kelaparan tadi, aku langsung berlari menghampirinya tanpa mempedulikan apapun. Sampai-sampai aku lupa bahwa aku melempar tasku. Hahh ....
Aku mengambil tas ransel berwarna hitam polosku itu dan lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1