
...Simfoni dari musik yang kau mainkan terasa seperti sedang menari-nari di udara....
...\=•\=•\=...
Setelah itu, Rey mengayunkan tangan dan menempelkannya di piano. Dia mulai memainkan lagu yang sudah ditentukan. Semua orang langsung tertegun dan memerhatikan Rey. Aku berjalan mendekatinya.
Semakin aku berjalan mendekat, semakin terasa pula nada-nada indahnya. Melodi dari dentingan-dentingan piano yang dimainkan terasa seperti sedang menari-nari di udara. Alunan musiknya sangat menyejukan hatiku. Rey ... aku tidak tahu kau bisa bermain piano semahir ini.
Lama kelamaan aku mulai terlarut dalam simfoni indahnya. Sampai-sampai aku tidak sadar bahwa lagunya telah selesai. Tak lama kemudian, sorak sorai penonton menggema di seluruh ruangan. Suara tepuk tangan saling bersaut-sautan untuk mengapresiasi musik piano Rey. Aku tersenyum sambil menatapnya yang kini juga sedang tersenyum kepada para penonton.
Aku benar-benar kagum dengannya. Tak bisa dipungkiri, telinga ini telah mendengar jelas melodi luar biasanya. Dia terlihat memainkan pianonya dengan sepenuh hati. Rey sangat meresapi lagu yang dimainkannya. Satu kalimat yang akan selalu kuucapkan, 'Aku sangat mengagumimu, Tachibana Rey'.
"Wahhh ... luar biasa sekali! Semuanya, kita beri tepuk tangan kepada Rey dengan keras!" sahut seorang gadis pembawa acara tadi. "Rey, apa kau kursus piano atau bagaimana? Kenapa kau bisa bermain semahir ini? Jujur, aku sangat amat kagum denganmu," lanjutnya sambil melontarkan pertanyaan yang juga ingin kutanyakan kepada Rey.
Rey hanya tersenyum. "Sebelumnya terima kasih karena telah menyukai permainan pianoku. Tapi, aku bukan pianis handal. Aku hanyalah remaja yang suka bermain piano, itu saja. Jadi, aku tidak ikut kursus apapun." terang Rey yang tetap bersikap rendah hati di depan orang-orang. Padahal, kemampuan bermain pianonya tadi sangat luar biasa.
"Wah jadi kamu belajar sendiri? Benar-benar mengagumkan! Umm ... kalau boleh tahu, apa kau punya seseorang yang kau jadikan panutan atau inspirasi begitu? Jika punya, tolong sebutkan siapa saja!" pinta gadis pembawa acara tersebut.
Rey menganggukan kepalanya. "Ya ... ada dua orang di dunia ini yang kujadikan inspirasi. Pertama, Kousei Yukima. Dia adalah pianis yang menjadi inspirasiku agar terus belajar dan berkembang. Selain itu, jika aku sedang sedih, maka aku akan memutar musik pianonya. Karena itu akan membuat hatiku menjadi tenang," terang Rey.
"Ooo ... Kousei Yukima memang pianis handal. Lalu, siapa satu orang lagi?" tanyanya penasaran dengan orang kedua yang menjadi inspirasi Rey.
Rey mengalihkan pandangannya ke arahku yang sedang berdiri dan menyaksikannya. "Dia adalah Mizhunashi Ai!" ucap Rey.
__ADS_1
Aku terkaget-kaget, tatkala Rey menyebut namaku untuk menjawab pertanyaan kedua. Jadi maksudnya, orang kedua yang menginspirasinya adalah, aku?
"Gadis cantik yang sedang berdiri di sana. Dia adalah orang kedua yang menginspirasiku, Mizhunashi Ai," lanjut Rey dengan posisi tangan menunjukku.
Mendadak, perhatian semua orang langsung tertuju kepadaku setelah Rey mengatakan hal itu.
"Gadis yang selalu mendapatkan perlakuan buruk entah itu di rumah atau di sekolah. Hidupnya selalu dibayang-bayangi oleh awan kelam. Dia bilang, dia tidak menginginkan rumah mewah atau apalah. Dia hanya ingin pelangi datang dan mengusir awan kelam di hidupnya. Meskipun dia selalu tersiksa, tetapi Ai tidak mudah putus asa. Dia masih semangat untuk menjalani hidupnya. Itulah yang membuatku mengaguminya," jelas Rey.
Tiba-tiba saja mataku berkaca-kaca setelah mendengar ucapan Rey.
"Ahh ... benar-benar kisah yang mengharukan. Nona Ai, bisa naik ke panggung?" tanya gadis itu yang bermaksud memintaku untuk naik.
"Um ... a-aku ...." Entah kenapa tiba-tiba aku merasa ragu. Mungkin karena aku menjadi pusat perhatian. Arghh ... aku tidak suka situasi ini.
"Ai, ayo!" ajak Rey.
"Wahhh ... halo, Ai! Kau sangat cantik. Ngomong-ngomong, kalian ini pacaran kah?" tanya sang pembawa acara.
Aku langsung refleks dan menjawab pertanyaannya. "Ti-tidak ... kami hanya bersahabat, tidak lebih hihi ...," sahutku dengan sigap untuk meluruskan opini ini. Karena jika tidak, maka besok aku dan Rey akan menjadi trending topik di sekolah.
"Ohh ... sayang sekali. Padahal kalian terlihat sangat serasi," ucapnya dengan sedikit rasa kecewa. Hanya sedikit.
Setelah itu, aku dan Rey diajak untuk mengobrol tentang kesan, pesan, dan harapan kami mengenai pemilihan klub ini. Rey menjawab setiap pertanyaan dengan sangat lancar. Sebaliknya, aku malah terkesan gugup dan ragu-ragu. Beruntung, Rey ada di sisiku untuk membantu.
__ADS_1
Singkat cerita, acara berbicara singkat ini telah selesai. Aku dan Rey turun dari panggung untuk memilih-milih klub lagi.
"Rey ... aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Umm ... kok kamu bisa tampil di panggung begitu? Bagaimana ceritanya?" tanyaku keheranan.
"Hm? A-ah, itu. Ya ... saat aku sedang melihat-lihat klub, aku baru sadar bahwa kamu tidak ada. Aku panik kemudian berlari kesana kemari untuk mencarimu. Karena banyaknya siswa di sini, aku pun jadi kesulitan untuk menemukanmu. Nah, pada saat yang bersamaan, aku melihat sekumpulan orang-orang sedang berdebat di dekat panggung. Mereka bingung karena pianis pengisi acaranya berhalangan hadir," ujar Rey. "Maka dari itu, aku pun berinisiatif untuk menggantikan pianis itu," sambungnya.
"Ooh ... begitu. Tadi aku juga sempat panik saat menyadari bahwa kau tidak ada di sisiku," ungkapku mengaku.
"Emm ... kenapa? Apa kau takut kehilanganku? Hahaha ...," goda Rey.
Pipiku kembali memerah karenanya. Kenapa dia selalu menggodaku di saat yang tidak tepat. Contohnya, ketika aku sedang panik atau kesal, dia malah menggodaku seperti ini. Huhh ... benar-benar menyebalkan. "A-apa yang kau bicarakan? Ti-tidak," dalihku.
"Iya deh iya ... um ... ngomong-ngomong, kamu sudah mendapatkan klub yang kau inginkan belum?" tanya Rey.
Ehh ... aku baru ingat bahwa aku masih belum memilih klub. Sedari tadi, aku hanya mengitari dan menyaksikan Rey.
"Aku belum memilih klubnya. Kurasa, tidak ada yang cocok denganku. Lagipula, aku memang tidak memiliki kelebihan apapun," kataku nyaris putus asa.
"Heeeeyyy ... baru saja aku mengatakan di panggung tentang bagaimana kamu semangat dalam menjalani hidup dan tidak akan pernah putus asa. Jangan kecewakan semua orang! Aku yakin, setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing," ujarnya memberiku semangat.
Aku pikir, orang yang menginspirasi sebenarnya bukanlah aku melainkan kamu, Rey.
"Kau benar ... umm ... aku suka melukis dan menggambar. Meski hasilnya tidak begitu bagus, sih. Apa ada klub seperti itu?" tanyaku pada Rey.
__ADS_1
"Pasti ada. Ayo kita cari bersama!" ajak Rey sambil menggandeng tanganku.
Aku dan Rey berkeliling mengitari seluruh ruangan untuk mencari klub melukis. Langkah demi langkah kita pijakkan. Sesekali aku dan dia menoleh ke segala arah untuk menemukan klubnya.