
...Lebih baik meluapkan kemarahan dan kesedihan kepada diri sendiri...
...\=•\=•\=...
Hari semakin menggelap, Rey memutuskan untuk melupakan permasalahannya dengan Ryuji tadi dan mengantarku pulang. Sementara Ryu pulang bersama Rin. Entah apa yang akan terjadi kepada mereka nanti.
Tak perlu waktu lama, kami telah sampai di rumahku. Seperti biasa, aku turun dari motor dan melepas helm merah muda bermotif sakura milik Rey yang dikhususkan untukku ... katanya. Helm itu sudah kuanggap sebagai helmku sendiri. Kenapa begitu? Ya, aku lebih sering menggunakan helm Rey daripada helmku sendiri. Sungguh unik.
"Baiklah, Ai. Aku pulang dulu, ya? Hikari sudah menunggu di rumah," ucap Rey seraya menutup kembali kaca depan trasnparan helmnya.
"Hm hm. Dadah, hati-hati di jalan, ya!" Sambil tersenyum, aku melambai-lambaikan tanganku ke kanan dan ke kiri.
Rey menyalakan mesin motornya. "Sayonara nee, Ai-chan! Haha ...." Rey menyalakan motornya, kemudian bergerak menjauh dari tempatnya berada tadi.
Sementara itu, aku berjalan masuk ke dalam rumah. Saat baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba langkahku terhenti. Sebuah ingatan tentang kejadian barusan adalah alasanku berhenti. Tadi, Rey menyebut nama 'Hikari' bukan? Lalu, siapa dia. Apa dia adalah kekasih Rey? Emm ... bisa jadi. Hikari memang lebih sering digunakan sebagai nama perempuan. Jadi, Rey sudah punya kekasih, ya. Hah ... sudahlah, besok aku akan bertanya langsung kepadanya saja.
Aku berjalan membuka pintu masuk rumah. "Aku pulang!" Seraya melepas sepatu, aku berteriak dengan suara yang tidak terlalu keras.
"Onee-saaaann!" Seorang anak kecil terlihat sedang berlari ke arahku. Dengan langkah kaki pendek, dia mendekat dan memeluk kakiku. Ya, dia adalah Miku. "Kak, Miku sudah menunggu kakak daritadi. Tapi, kakak pulangnya lama. Miku jadi bosan tahu ...," ucapnya kesal sembari menggembungkan pipinya.
__ADS_1
Aku berjongkok untuk menyamakan tinggiku dengannya. "Hei hei ... kakak minta maaf, ya. Hari ini kakak mengalami banyak kejadian membingungkan di sekolah," ucapku seraya mengusap rambut hitam terurai adik perempuanku itu.
"Kejadian membingungkan? Apa kakak ulangan hari ini?" tanya Miku polos.
Aku terdiam karena bingung harus menanggapi bagaimana. "Bu-bukan seperti itu. Ja-jadi ... eemm ...." Aku memegang tengkuk kepalaku. Namun, pada saat yang bersamaan, aku teringat bahwa ada sesuatu yang kurang di sini. "Eh ... Miku, omong-omong, dimana ibu?" tanyaku kepadanya. Aku menyadari bahwa ibu tidak ada di sini.
Miku mendekatkan mulutnya ke telingaku. "Ibu lagi tidur di kamar, Kak. Tadi, setelah membuatkan makan untuk Miku, tiba-tiha ibu merasa pusing. Makanya, ibu tidur lagi deh. Miku main sendirian daritadi, teman-teman Miku tidak ada hah ...," ungkapnya dengan nada bicara lesu.
Aku menurunkan kedua alisku karena merasa kasihan padanya. Dari dulu, Miku selalu dibohongi oleh teman-teman sebayanya. Mereka melakukan itu karena takut dimarahi oleh ibu. Jadi, Miku pun selalu bermain bersama ibu dan aku di rumah. "Emm ... nanti main bersama kakak, yuk! Kita akan bermain boneka, ok?" Aku mengajak Miku agar dia kembali semangat.
Ekspresi wajah Miku pun seketika berubah menjadi riang. Mulutnya terbuka lebar karena antusias. "Miku mau, Kak. Miku mau ...."
"Iya, Kak!" Dengan sigap, Miku berlari masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil boneka. Sementar aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar ibu dan mengecek keadaannya kini.
Srieet ...
Aku membuka pintu kamar ibu secara perlahan. Ternyata benar, ibu masih tertidur dengan seluruh tubuhnya dibalut oleh selimut hangat. Karena sudah terlanjur khawatir, aku pun berjalan mendekatinya. "Ibu ... apa ibu baik-baik saja ...?" tanyaku berbisik
"Hm ...? Ai? Aku baik-baik saja. Tak perlu khawatir. Cepat ganti baju sana!" perintah ibu susah payah.
__ADS_1
"Tidak. A-Aku akan memberi ibu obat terlebih dahulu. Tunggu sebentar." Aku mengalihkan pandanganku ke sekeliling kamar untuk mencari kotak obat.
"Tidak perlu! Ibu baik-baik saja! Cepat ganti bajumu sana dan tolong jaga Miku ...!" perintah ibu. Sepertinya, dia memang tidak ingin diobati olehku. Yah, tak ada yang bisa kulakukan saat ini selain menuruti perintahnya.
"Ba-baiklah, Bu." Aku berjalan keluar dari kamar sambil membawa rasa kecewa dan rasa bersalah yang dalam. Aku kecewa karena ibu tidak mau kuobati. Di lain sisi, aku merasa bersalah karena menjadi anak yang buruk di mata ibu. Seharusnya, aku tidak usah lahir di dunia ini saja.
Aku membuka pintu kamarku dan melangkah masuk ke dalam. Langkah demi langkah aku berjalan menuju lemari tempatku menyimpan segala baju berharga milikku. Setelah cukup lama mencari baju yang tepat untuk dipakai saat ini, aku pun segera mengambilnya. Aku mengambilnya dengan hati-hati agar lipatan baju di atasnya tetap rapi dan tidak jatuh.
Ketika aku hendak memakai baju, entah kenapa atensiku tertarik kepada kaca cermin yang terletak tak jauh dari tempatku berada saat ini. Aku mendekati cermin yang memantulkan wajahku saat ini. Aku mendekati cermin dan bertanya kepada bayangan pantulanku, "Hei, sebenarnya apa salahmu? Kenapa kau begitu dibenci di sini? Apa yang kau perbuat hingga ibumu tidak sudi dibantu olehmu?" tanyaku dengan mimik wajah kesal.
Namun, bukannya malah menjawab. Dia malah meniru ekpresi wajahku ini. "Hei, jawab!" Aku memukuli cermin itu karena marah. Pukulanku berangsur-angsur kehilangan tenaga seiring rasa sakit hati ini muncul. Aku menangis di depan cermin sejadi-jadinya. Bayanganku di cermin pun ikut menangis seolah ikut merasakan kesedihanku di sini. Ya, aku tau kini aku sedang gila. Tapi, kegilaanku ini adalah kesalahan seseorang.
Sekitar lima belas menit telah berlalu, aku memutuskan untuk berhenti menangis meski hatiku masih terasa sangat pedih. Mataku seakan ingin mengeluarkan air mata dan memulai tangisku sekali lagi. "Hahh ...." Namun, seperti yang diucapkan oleh Rin. 'Tak ada gunanya menangis, lebih baik bangun dan berbahagialah. Karena hidup ini singkat, kita tak boleh selamanya larut dalam kesedihan.' Kata-kata motivasi yang diberikannya saat itu masih kuuingat hingga saat ini. Kurasa, dia benar. Lebih baik aku segera menemani Miku bermain daripada bersedih seperti ini.
Aku membuka kuncir rambutku dan kemudian membuka dasiku. Namun, dari sisi samping, aku mendengar suara-suara aneh. "Eemm ... Heem ...." Aku tidak menghiraukan hal itu, mungkin itu hanya seekor kucing.
Aku hendak membuka bajuku, akan tetapi, seketika aku berhenti bergerak ketika mendengar suara mendengar suara ketukan di jendela.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Terlihat sebuah tangan mengetuk kaca jendelaku. Aku hanya mengedipkan kedua mataku karena bingung. Setelah tangan itu mengetuk, muncullah seorang laki-laki tampan berseragam dengan wajah dihiasi oleh senyuman. "Halo, A ... i ...!" sapa laki-laki itu kemudian terdiam. Dia menatapku yang hendak membuka baju dengan tatapan kosong.