
"Apa menurutmu bos akan memberikan upah lebih kepada kita berdua? Maksudku, kita telah menjalankan tugas yang diberikan dengan sangat baik, tanpa ada halangan sedikitpun. Jadi, kupikir ... bos akan memberikan upah yang lebih besar daripada yang dijanjikan." Seorang pria masuk ke dalam mobil bagian depan, lebih tepatnya bangku yang terletak di depan.
"Hah ...." Seseorang menghela napas dari arah yang berlawanan. "Apa kau lupa kalau bos itu orang yang ... ya ... pelit? Bahkan kita harus membujuknya untuk mendapatkan upah standar di pekerjaan ini. Tck, dia tidak tahu betapa sulitnya menangkap mereka berdua. Andai aku tidak bergerak cepat tadi, pasti gadis itu sudah menendangku dengan keras." Pria yang tingginya nyaris sama juga masuk ke dalam ke dalam mobil. Ia kemudian mengambil sebatang rokok dan lalu dibakar.
"Ha? Gadis mana yang kau maksud?"
"Iwtwu ... haah ... itu ... apa kau tak bisa melihat?" Pria yang merokok tersebut menunjuk Rin dengan jari telunjuknya.
"Hm?" Orang yang tadi bertanya tentang si gadis yang dibicarakan oleh rekannya itu, langsung menengok ke arah yang ditunjuk oleh jari telunjuk temannya. "Apa? Di-dia adalah seorang perempuan? Haishh ... jujur saja, saat pertama melihatnya, aku mengira bahwa dia adalah seorang laki-laki yang berpura-pura jadi gadis SMA."
"Kau ini, penglihatanmu memang sudah tidak bisa dibilang baik. Haihh .... Eh, tapi wajar saja sih. Soalnya, dadanya itu kecil, lebih kecil dari milik nona muda kita. Dan juga rambutnya yang dikucir itu mirip jamet. Jadi, ya nggak salah juga kalau kamu ngira dia itu laki-laki," ucapnya sembari menghisap asap rokok, kemudian mengeluarkannya lagi.
"Mereka membicarakan Rin dengan hal buruk. Kalau dia tidak bisa menahan emosinya, bisa bahaya nanti," batin Rey.
"Tck, sialan. Pokoknya, kalau aku sudah lepas dari sini, maka aku pasti akan segera membunuh mereka. Astagfirullah, Rin sabar ... jangan emosi. Tenang Rin tenang, jangan marah."
"Oke, ayo cepat berangkat! Nona sudah memerintahkan kita dari tadi."
"Iye."
Pria tadi pun langsung menaruh rokoknya kemudian mulai menjalankan mobil hitam tersebut. Rey dan Rin hanya terdiam, mereka tidak tau kemana para pria ini akan membawa mereka. Tapi yang pasti, Rin dan Rey sudah berencana, jika sebuah hal buruk akan terjadi, maka mereka akan segera menghajar habis-habisan orang-orang ini.
\=•\=•\=
Kembali lagi ke tempat dimana Ai dan Ryuji berada. Saat Ai sedang memejamkan mata sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang datang. "Hah ... udaranya sangat sejuk. Eem, omong-omong ... Ryuji, katanya kau ingin curhat?" tanya Ai.
"Eh, emm ... yaaa ... sebentar lagi deh. Aku ingin menenangkan diriku sebentar lagi."
"Aa-ah, baiklah." Dia tersenyum dengan menampakan gigi putih berserinya.
"Grrhh ... kenapa mereka belum datang juga. Jika tidak cepat datang, maka pasti Ai akan curiga," ucap Ryuji dalam batin.
Tak berselang lama setelah Ryuji menggerutu dalam hati, dua anak perempuan seusia Ai, datang dan mendekatinya.
__ADS_1
"Halo, Ai!" sapanya seraya melambaikan tangan kepada Ai.
Perhatian Ryuji dan Ai pun langsung tertuju kepada si penyapa. Tubuh Ai seketika langsung terasa kaku saat melihat bahwa gadis-gadis itu adalah Reina dan Shouko.
"Re-Reina?"
"Nee nee, aku Reina, Miyamoto Reina hihi. Eh, kenapa kau terlihat ketakutan seperti itu? Apa ada sesuatu di belakangku? Hm?"
"E-em ...."
Saat melihat Ai seperti itu, Reina malah tersenyum miring. "Ara ara, aku tau kenapa kau ketakutan seperti itu Ai hihi. Tapi tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Oke, kalau begitu langsung saja, ya? Jadi begini Ai, alasanku berdiri di sini adalah satu. Satu, aku ingin memintamu untuk melakukan satu permintaanku. Kemudian, aku akan pergi dari sini. Bagaimana?" Reina duduk di bangku taman halaman belakang sementara Shouko berdiri di dekatnya.
Ai menatap Ryuji dan lalu menatap Reina lagi. "Baiklah, aku akan mendengarkan," ucap Ai dengan nada bicara sedikit ketakutan.
"Ara ara ... aku sangat menyukai kepribadianmu yang selalu membuat masalah orang lain menjadi mudah hihi. Ya, jadi begini ... aku ingin memintamu untuk menjauh dari Rey. Kau pasti tau siapa dia bukan? Ya, Rey ... Tachibana Rey. Aku ingin agar kau bukan hanya sekedar mengacuhkannya, tapi juga menjauh darinya. Mudah bukan?" Gadis dengan rambut hitam serta wajah yang judes itu menjelaskan permintaannya.
Deg!
"Hm?"
"Tidak mungkin, AKU TAK AKAN PERNAH MELAKUKAN HAL ITU!" teriak Ai kesal.
"Ara ara, hei hei ... tenanglah Ai. Jangan emosi. Aku tak ingin mencari ribut kau tahu. Hmm ... jadi, kamu tidak mau ya? Sungguh kau tidak mau melakukan permintaanku?"
"Grhh ... aku tak akan melakukan hal itu." Ai menunduk dengan perasaan yang campur aduk. Antara sedih dan bingung. Dia tidak mengerti kenapa Reina melakukan hal ini secara tiba-tiba. Sementara Ryuji tidak melakukan apa-apa, dia hanya berdiri sambil menatap mereka.
"Nee, kenapa kau begitu marah saat aku menawarkan hal itu. Selama ini, tak ada yang pernah berani berteriak di depanku. Tapi sekarang, bukan itu masalahnya. Aku ingin bertanya kenapa kau tidak suka melakukan hal ini? Apa ada alasan, hm?" tanya Reina dengan wajah yang sudah mulai berubah menjadi marah.
Ai masih menunduk. "Itu karena ... Rey adalah orang yang telah mengubah hidupku. Dia telah memberitahuku arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia telah menunjukan sebuah 'pelangi' di hidupku. Dia telah membuatku tersenyum saat aku sedang terlarut dalam kesedihan. Aku ... aku menyukainya," ujar Ai.
"Hm ... ara ara. Sudah kuduga, ternyata kau memang menyukainya, ya? Hihi, tapi kurasa kau tidak akan bisa memilikinya Ai. Karena Rey adalah milikku. Aku sangat mencintainya, jadi pergilah! Pergi menjauh darinya!" ujar Reina puas.
"Apa maksudmu? Tidak, kau tak boleh melakukan hal itu. Rey masih memiliki masa sekolah. Lagipula, mana ada hubungan yang dilandasi oleh pemaksaan seperti ini. Hubungan cinta dapat berjalan jika kedua orang yang menjalin saling mencintai. Jika hanya satu orang saja, itu tidak bisa dinamakan cinta, melainkan pemakasaan!" ucap Ai kesal.
__ADS_1
Sesaat setelah Ai mengucapkan hal tersebut, Reina menghela napas. Dia langsung berdiri dari kursinya dan lalu berjalan perlahan mendekati Ai. "Nee, aku juga tahu tentang hal itu. Tapi, jika Reina sudah meminta. MAKA AKU PASTI AKAN MENDAPATKANNYA!" Reina melompat dan mencekik leher Ai sekuat-kuatnya.
"Aarghh ... sa-kit."
"Nee, ingat! Jangan pernah menceramahi Reina. Karena kau tak mau melaksanakan permintaanku, maka aku akan membuatmu meregang nyawa hihi."
Mata Ai langsung membola dan ketakutan. Napasnya pun menjadi sesak karena Reina mencekiknya begitu kencang. Ryuji dan Shouko hanya memandangi mereka dengan senyuman yang misterius.
\=•\=•\=
Nama : Nakamura Rin
Nama Asli : Mutiara Putri Aryani
Tempat Tanggal Lahir : Surabaya, 30 Juni 2002
\=•\=•\=
Q. Nama Aslinya itu terinspirasi dari seseorang?
Iyep, Miku buat nama itu terinspirasi dari seseorang ya. Jadi kalo mau manggil Rin bisa manggil Put, atau Rin juga boleh awokawok
Q. Tanggal lahirnya juga terinspirasi?
Yap, itu tanggal ulang tahun Miku btw awokawok. Rin ini terinspirasi dari Miku sendiri ya. Secara sifat atau lainnya juga nyaris mirip kayak Miku. Cantiknya juga awokawok
Q. Upnya lama lagi?
Gomennasai, Miku bener-bener repot belakangan ini. Hikz
Arigatou Gozaimashita, Minna-san
__ADS_1