
..."Jika seseorang sedang marah, bukan berarti dia membencimu. Mungkin, dia hanya ingin melihat wajah imutmu saat kamu merasa bersalah. Sepertiku saat ini." -Rin Nakamura...
...\=•\=•\=...
...\=•\=•\=...
Tiba saatnya pulang sekolah, tapi aku memutuskan untuk masuk ke klub melukis dulu. Karena aku ingin meminta maaf kepada Rin atas kesalahanku tadi.
Semoga dia mau memaafkanku.
Dengan tangan memegang tas, aku berjalan mendekati ruangan klub. Dan benar saja, ketika aku berniat membuka sepatu, Rin ada di sana. Dia juga sedang membuka sepatu. Aku menatapnya dengan perasaan bingung.
Aku ingin meminta maaf, tapi di sisi lain aku malu. Rin yang awalnya hanya duduk dan fokus pada sepatunya, akhirnya pun berdiri. Dia menengok ke kanan dan ke kiri. Rin menghentikan pandangannya saat menatapku.
Kurasa, dia sudah melihatku.
Namun, Rin tidak menyapaku. Dia membuang wajahnya dan lalu masuk ke dalam klub.
"R-Rin!" Hah ... aku benar-benar sudah mengacau.
Ya sudahlah.
Perasaan bersalah ini menghantuiku. Apalagi Rin itu sahabat terbaikku. Baru kemarin dia mengatakan hal baik untukku. Namun, besoknya aku malah membuat Rin kecewa. Aku memang sahabat yang buruk. Sudahlah, lebih baik aku masuk dan mencoba untuk meminta maaf. Barangkali dia mau memaafkanku.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, aku pun segera masuk ke dalam ruangan klub. Untuk hari ini, aku niatku bukanlah belajar melukis, tapi meminta maaf kepada Rin saja.
Aku membuka pintu ruangan klub dan di sana aku melihat banyak sekali murid-murid yang sudah datang. Atensi mereka semua tertuju kepadaku yang baru saja membuka pintu. Namun setelah itu, mereka melanjutkan aktivitas mereka lagi, seperti bercanda dan menggambar. Namun, saat aku melihat Rin, dia sama sekali tidak melakukan apa-apa.
Aku berjalan ke tempatku yang adalah di sampingnya. Meski sedikit malu, akan tetapi aku tetap harus melakukannya. Demi meminta maaf kepada Rin dan demi persahabatan kami.
Ketika aku sudah duduk di sampingnya, Rin malah menengok ke sisi lain. Kalau begini caranya, aku akan kesulitan meminta maaf.
Ah, aku punya ide. Eh, tapi apa itu bagus. Ah coba sajalah.
Aku mengeluarkan buku gambarku dari tas dan lalu mengambil pensil. Kemudian, aku mulai menggambar sesuatu yang mungkin bisa membuat Rin memaafkanku.
Setelah sekitar tiga puluh menit berlalu, aku telah menyelesaikannya. Gambarku sudah selesai ... tapi, bagaimana aku memberikannya.
"Emm ...." Karena aku malu untuk memanggil Rin, aku pun memutuskan untuk menyodorkan gambarannya ke depan Rin saja.
Hah ... aku paham kenapa Rin marah padaku. Dia pasti sangat kecewa saat ini. Tapi, aku tak mau kehilangan sahabatku. Jadi, aku akan berusaha lagi.
Masih belum menyerah, aku mengambil pensilku kemudian mulai menggambar sketsa manusia sebagai permintaan maafku. Menggores pensil untuk membuat garis garis tipis dan lalu menghapusnya jika ada yang salah. Begitu pula denganku, jika aku melukai hati seseorang, aku harus segera meminta maaf untuk menghapus perasaan bersalah di hatiku. Kata ayah sih seperti itu.
"Gomen ne, Rin. I miss u ...." Kata-kata ini adalah pesan yang kuberikan kepada Rin. Ketika memberikan gambarannya, perasaanku langsung berubah. Seperti ada rasa ragu-ragu dan takut. Aku ragu-ragu Rin tidak akan mau memaafkanku dan aku takut hubungan persahabatan kami akan berakhir di sini. Lalu aku akan kehilangan salah satu orang yang telah menarikku dari 'jurang kesedihan' ini.
Namun ... lagi-lagi dia tidak mempedulikanku. Tangannya menjauhkan kertas gambarku dari dekatnya. Matanya malas seolah dia hanya menganggapku sebagai angin.
Sudah terlambat, apa ini sudah terlambat?
Hidupku sudah hancur, aku benar-benar hancur.
__ADS_1
Aku mengambil kembali kedua gambar yang tidak dipedulikan oleh Rin dan berniat membuangnya. Akan tetapi, tiba-tiba tangan seseorang memegang lenganku, seraya mengucapkan, "Mata yang kau gambar itu tidak sesuai Ai. Balance dan komposisi gambar harus tepat, ingat kan? Ya, mungkin karena tadi kau menggambar tanpa sketsa jadi hasilnya tidak memuaskan. Haha ... omong-omong, kenapa kau meminta maaf? Dan ... menuliskan kata-kata manis seperti ini? Ulang tahunku sudah lewat tahu." Benar, orang itu adalah Rin. Dia ...
"Ri-Rin, ku-kukira kau marah padaku tadi ...." Aku masih sedikit bingung dengan ini.
"Pfttt HAHAHAHAHA ... gomen ne Ai. Aku hanya bercanda tadi. Lagipula siapa juga yang ingin marah kepada sahabatnya secantik dan sebaik kamu. Aku tadi hanya pura-pura saja, digertak oleh orang lain adalah hal yang sudah biasa bagiku. Eemm ... jika dihitung, aku sudah mendapat banyak gertakan sebelum sarapan. Dan rata-rata ibuku yang melakukannya. A-aaa ... intinya Ai, jangan merasa bersalah hanya karena ini. Ingatlah, meskipun semua membencimu, semua tidak percaya padamu, aku akan tetap di sini. Melindungimu dan menjadi orang yang selalu percaya padamu," ucap Rin seraya mengambil pensil dan kertas gambarku.
Sesaat setelah mendengar ucapannya barusan, aku pun merasa lega. Syukurlah Rin tidak marah padaku. Tapi, ada sesuatu yang menggangguku.
"Rin ... kenapa kau begitu percaya kepadaku? Bukankah aku tadi membentakmu? La-lalu, aku bisa saja hanya pura-pura polos untuk membunuhmu?" tanyaku serius.
Rin yang sedang menggambar seketika berhenti. Dia menatapku dengan senyuman sendunya lagi. "Yaaa, jika kau ingin membunuhku, maka bunuh saja sekarang, Ai. Aku rela dibunuh oleh orang yang sudah mengajarkanku banyak hal yang mungkin belum kudapat dari keluarga maupun sekolah. Pengajaran tentang makna-makna kehidupan dan bagaimana cara menjalani hidup. Aku tidak tahu pasti bagaimana kehidupan aslimu, tapi aku tau bahwa hidupmu itu tidaklah bagus. Meski begitu, Ai masih tetap berusaha untuk hidup. Eemm ... kalau ditanya kenapa aku begitu mempercayaimu ... itu karena kau cantik. Aku sudah mulai menyukaimu ketika pertama kali bertemu. Pipimu yang halus dan bibir yang tipis semakin membuatku ingin menciumimu sepuasnya," jawab Rin. Namun, jawabannya ... terdengar seperti ada yang salah.
"Heee? Ta-tapi, Rin ... kau ini perempuan ... dan aku juga perempuan. Ja-jadi–"
"Ya ya ya, aku sudah tau kau ingin mengucapkan apa. Aku tidak boleh menyukaimu karena kita sama-sama perempuan, ya kan? Ta-tapi ... kalau sudah suka mau bagaimana lagi," ujar Rin dengan tangan kanan menyangga dagu.
"Ri-Rin, ja-jangan begitu. I-itu tidak boleh." Tanpa disangka pipiku malah berubah menjadi merah padam. Itu artinya, aku tersipu malu dengan Rin.
"Ai, kau adalah milikku, aku akan selalu menjagamu dimanapun dan kapanpun. Aku menyukaimu, Ai." Rin memegang bahuku kemudian mendekatkan bibirnya ke wajahku. Matanya mulai memejam, seolah sedang menikmati ciuman. Ja-jadi maksudnya ...
"Rin ...." Pada akhirnya, aku pun pasrah dan melepaskan tangan yang menahan tubuh Rin.
Namun, tepat di saat bibir kami berdekatan, Kak Hakuba masuk ke dalam kelas dengan napas terengah-engah. Seperti orang yang sedang berlarian. Tak berselang lama, Kak Haru juga datang dengan kondisi yang sama.
Melihat senior datang, dengan sigap aku mendorong tubuh Rin ke belakang. "Ma-maaf, Rin ...." Pipiku masih memerah dan malu-malu.
"Ah, padahal sebentar lagi ...," gumam Rin yang masih bisa didengar olehku.
__ADS_1
Kurasa, Rin harus segera mencari laki-laki. Jika begini terus, bisa bahaya.