Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 48 : Rey, Bangun!


__ADS_3

Bruk!


Ryuji menghempaskan tubuh Ai hingga menabrak pohon yang ada di sekitar mereka berdua. Laki-laki itu kemudian mengangkat kedua tangan Ai tinggi-tinggi dan menanatapnya dengan tatapan aneh.


"Ryu-Ryuji, a-apa yang ingin kau lakukan kepadaku?!" tanya Ai gemetar ketakutan.


"Sstt ... jangan banyak omong, Ai. Begini, aku ingin bertanya kepadamu, apa kau pernah melakukan 'itu' dengan laki-laki atau pria? Maksudku adalah 'bermain' ya 'bermain'." Ryuji membelai pipi halus Ai dengan jari telunjuknya. Jelas saja hal itu membuat Ai merasa tidak nyaman.


"Ryu-Ryuji, lepaskan aku!" Gadis ini menggerak-gerakan badannya ke kanan dan ke kiri, berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman Ryuji. Namun, sayangnya hal tersebut sia-sia saja. Dua tangan yang terbelenggu dengan kuat, membuatnya tidak berdaya.


"Hei, aku sudah bilang, 'kan? Jangan banyak bergerak, tapi sepertinya kau tidak menghiraukan ucapanku. Ya, kalau begitu tidak ada pilihan lain. Ai, aku akan melakukan 'itu' kepadamu. Tenanglah, kau pasti akan merasa senang denganku," ucap Ryuji sembari tersenyum tipis. Dia lalu mendekatkan bibirnya di telinga Ai dan menggigitnya perlahan.


"Aargh ... sakiittt ...." Ai menggigit bibir bagian bawahnya dengan giginya. Dia menahan sakit karena telinganya digigit. "Ryuji ... kenapa?" Ai bertanya dengan mata berkaca-kaca. Air mata nyaris saja menetes dari sudut matanya.


Namun, Ryuji tidak menjawab pertanyaan Ai. Ia hanya diam sambil menikmati permainannya ini. Ryuji mulai turun sedikit ke bawah untuk menciumi bagian leher Ai.


"Aaakhh~" Gadis itu mendesah karena perbuatan Ryuji. "Kumohon, Ryuji ...." Tak lama setelah itu, dia menangis. Bulir-bulir air mata menetes dari matanya.


"Aarghh!" Ai berteriak kencang.


"Eh, Ai, kenapa?" tanya Ryuji dengan ekspresi khawatir. Dia menatap Ai yang sedang menutup telinganya serta memejamkan mata.


Setelah mendengar pertanyaan Ryuji tadi, Ai pun langsung membuka matanya.


"Hee?" Kini, dia menyadari bahwa ternyata yang dilihatnya itu hanyalah bayang-bayang saja.


"Kenapa kau ketakutan begitu, Ai? Apa ada yang salah?"


"Eh? Ah, eng-enggak kok, Ryu. A-aku hanya melihat laba-laba tadi ahaha ya itu, laba-laba."


"Hmm? Ah, baiklah kalau tidak ada apa-apa. Lain kali, kalau ketakutan, bilang saja padaku, aku ini pemberani kau tahu."


"Ahaha ... iya."


"Hahaha ... yah, kita sudah sampai." Ryuji menghentikan langkahnya tatkala melihat sebuah halaman sepi dengan pagar besi berwarna perak membatasi ujung halaman.


"Woaahh ...." Hal itu membuat Ai ternganga kagum. Halaman belakang sekolahnya terlihat sangat indah.

__ADS_1


"Jadi, Ai ... sekarang kau tahu kenapa aku selalu merasa tenang di sini bukan?"


"He'em ... aku tak tahu kalau ada tempat seperti ini di sekolah kita. Tempat yang kutahu di sekolah itu ya hanya kantin, ruang klub, dan aula. Emm ... kapan-kapan, aku ingin mengajak Rey dan Rin ke sini boleh, 'kan?" Ai menatap Ryuji dengan senyuman polosnya.


"Ya, tentu saja. Kita akan menggunakan tempat ini bersama." Ryuji membalas senyuman gadis yang ada di sampingnya itu dengan senyuman pula. Namun, ketika Ai mengalihkan pandangannya untuk menatap pohon sakura yang ada di dekat mereka, senyuman Ryuji pun perlahan memudar. Tatapan yang awalnya gembira berubah menjadi tatapan serius.


\=•\=•\=


Sementara itu di tempat lain, Rin dan Rey masih tak sadarkan diri. Akan tetapi, tak berselang lama, Rin mulai membuka matanya. Dia pun langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Rin terkejut saat mendapati tangannya dalam keadaan terikat serta mulut ditutup dengan lakban. Dia semakin terkejut ketika melihat Rey sedang tersandar di dinding mobil dengan keadaan yang sama dengannya saat ini.


Gadis kelahiran Indonesia ini membisu sebentar. Ia berusaha untuk mencerna kejadian yang dialami olehnya barusan.


15 menit berlalu, akhirnya Rin mengingat kenapa dia bisa ada di sini. Ya, dia mengingat saat dia dan Rey sedang berusaha melawan kedua pria berbaju jas lengkap.


"Grrghh ... kenapa mereka menangkapku dan Rey? Apapun alasannya, itu pasti buruk. Rey, ya, sebaiknya aku harus membangunkan Rey," batin Rin.


Mengikuti kata hatinya, Rin mulai mendekati Rey dan menyenggol-nyenggol tubuhnya dengan kakinya sendiri. "Hmpp hmpp hmpp hmmp hmpp hmpp hmpp hmpp!" teriak Rin dengan mulut tertutup. Sebenarnya dia ingin mengucapkan bahwa kini mereka sedang dalam bahaya, tapi kembali lagi, mulutnya tertutup lakban, hingga membuat ucapannya tidak terlalu jelas.


"Grhh ... kumohon, bangun, Rey! Kita harus segera keluar dari sini!" batin Rin kesal sekali lagi.


Dag!


Saat terbangun, Rey langsung bertambah kaget. Ya, sama seperti Rin, dia terkaget-kaget karena tangannya diikat dengan tali.


"Hmppp!" Rin berteriak untuk meminta perhatian Rey.


Sesuai apa yang diinginkan oleh Rin, Rey langsung menengok saat mendengar teriakan gadis itu.


"Hmppp hmpp!" Rin berteriak sembari memberi isyarat dengan menggunakan mata. Bola matanya berputar menunjuk ke arah kanan Rey. "Hmpp hmppp!" Dia mengulangi hal tersebut berkali-kali.


Namun, sepertinya Rey tidak paham dengan isyarat Rin. Tak peduli berapa kali Rin menjelaskan, tetap saja dia tidak mengerti.


"Hahh ... ayolah, Rey. Tolong pahami apa yang aku katakan ...," ucap Rin dalam hati.


"Apa yang dikatakan oleh Rin? Kenapa matanya menunjuk ke arah mainan ini? Eh tunggu, kurasa dia tidak menunjuk mainan. ITU DIA! DIA MENUNJUK PISAU!"


"Hmpp hmppp!" Rin masih berusaha memberitahu Rey.

__ADS_1


Sekarang, Rey sudah paham apa yang dikatakan oleh Rin. Tanpa menunggu lama, dia langsung berdiri mengambil pisau yang berada di tempat yang lumayan jauh dari posisinya saat ini. Berjarak sekitar satu meter, tapi hal itu tak membuat Rey kesulitan. Karena yang diikat hanya tangannya, sementara kakinya tidak.


Tap ... tap ... tap ...


Setelah mengambil pisau berukuran kecil yang ditunjuk oleh Rin tadi, Rey pun langsung berjalan mendekati temannya ini. Ya, dia ingin membebaskan Rin terlebih dahulu, barulah Rin membantu Rey nantinya.


Namun, saat Rey hendak memotong tali yang mengikat Rin, terdengar suara langkah kaki manusia dari luar mobil. Jendelanya terbuka, sehingga Rey dan Rin dapat mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Didengar dari suara langkahnya, Rin berpikir bahwa yang datang bukanlah satu orang saja. Melainkan dua orang.


Rin mengatakan hal itu karena suara langkah kakinya saling bersaut-sautan satu sama lain. Jelas, hal tersebut membuat Rey dan Rin menjadi was-was. Laki-laki bermarga Tachibana itu langsung menyembunyikan pisaunya di belakang benda dan kembali ke posisinya semula. Sama halnya dengan Rey, Rin juga kembali ke posisi semula. Mereka tidak ingin kedua orang yang sedang berjalan mendekati mereka akan tahu bahwa Rey dan Rin telah sadarkan diri.


Pintu mobil terbuka. Benar saja, dua orang tampak masuk ke dalam mobil.


\=•\=•\=


Berkenalan lebih dekat dengan tokoh novel Aishiteru :


• Ai Mizhunashi



Nama : Ai Mizhunashi


Tempat Tanggal Lahir : Tokyo, 16 September, 2002


(Yang lain udah ada di bagian Visual + Story)


\=•\=•\=


Q. Kenapa rambut Ai pendek? Di visual pertama rambutnya panjang deh perasaan. Terus kenapa mukanya sedih?


Ya, itu bakal dijelasin di eps mendatang ya.


Q. Kok lahirnya tahun 2002? Bukannya Ai 15 tahun ya? Kalo lahirnya tahun itu, ya harusnya Ai udah 19 tahun dong.


Miku ngambil latar waktu Jepang tahun 2017, bukan 2021. Dan, saat itu belum ada Covid-19 kan? Nah, makanya itu.


Q. Kenapa upnya lama btw?

__ADS_1


Elahh, maap Miku punya banyak tugas hiks. Tapi kuusahain tetep up. Stay tune guys!


Arigatou Gozaimashita!


__ADS_2