Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 13 : Yui


__ADS_3

...Aku sudah pernah bilang, 'kan? Aku tidak akan pernah merasa keberatan saat membantumu...


...\=•\=•\=...


Meski Rey sudah menggerakan sepeda motornya dengan kecepatan lumayan tinggi, tetapi kami tak kunjung tiba. Kurasa, Rey ingin mengajakku ke suatu tempat yang jauh. Terpaan angin yang sangat kencang membuat rok sekolahku sedikit terbuka. Walaupun tidak terbuka sepenuhnya, akan tetapi tetap saja, aku merasa tidak nyaman.


Sekitar setengah jam kemudian, akhirnya kami berdua telah tiba. Rey memberhentikan motornya di tempat parkir salah satu pusat perbelanjaan terkenal Kota Tokyo. Dia langsung menurunkan kedua kakinya untuk menyangga dan kemudian mematikan mesin motor.


"Kita sudah sampai, Ai ...," ujar Rey seraya memutar badannya menghadapku.


"O-oh ... ba-baiklah." Aku bergegas turun dari motor dan lalu membuka helm yang dipinjamkan oleh Rey tadi. "Ini!" lanjutku seraya menyodorkan helm bermotif bunga sakura tersebut.


Rey mengambil helmku. Dia kemudian membuka helmnya juga.


"Haahh ... aku tak menduga bahwa hari ini sangat panas. Mataharinya sangat terik," keluh Rey dengan posisi tangan menghalangi cahaya matahari dari wajahnya. Dia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Padahal, ini baru jam 1 siang. Hahh ...," sambung Rey sembari menghela napasnya dengan kasar.


"Umm ... R-Rey ...," panggilku lirih.


"Hm? Ada apa, Ai?" tanyanya.


"Hee ... eee ... i-itu ... kenapa kau membawaku ke pusat perbelanjaan Tokyo?" tanyaku dengan nada canggung seperti biasanya.


Rey menaruh helm yang kukenakan tadi. "Ah iya ... hari ini aku akan mengajakmu untuk jalan-jalan di mall. Sesekali kau juga harus melepas penat. Lagipula, aku juga ingin membeli sesuatu di sini," terang Rey sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.


"O-oh ... begitu ya ...," lirihku.


Sebenarnya, aku ingin menolak ajakan Rey ini. Bukan karena aku tidak sudi. Hanya saja, aku takut ibu akan memarahiku nanti.


"Iya begitu ... ayo!" Rey merangkul bahuku dan berjalan masuk ke dalam mall.


Saat sampai di dalam, mataku langsung terbuka lebar. Meskipun banyak orang yang berlalu lalang di sini, akan tetapi hawa di dalam masih tetap dingin. Pandanganku menyisir ke segala arah.

__ADS_1


Aku dapat melihat berbagai hal. Di sisi kanan, aku melihat seorang penjual es krim sedang melayani pelanggannya. Di sisi kiri, aku melihat kios baju ramai akan orang-orang yang sedang sekedar melihat-lihat ataupun membeli. Wahh ... jadi ini adalah wujud *mall.*


Saat sedang menatap wanita paruh baya yang adalah seorang penjual baju tadi, tiba-tiba Rey menepuk bahuku pelan. Dia membuyarkan lamunanku. "Ai, apa kau mau es krim?" tanya Rey yang mungkin ingin menawariku es krim.


Aku menganggukkan kepala, tetapi pada saat itu juga, aku langsung menggeleng-gelengkan kepala. Aku tidak fokus, sehingga aku malah menanggapi tawaran Rey dengan jawaban 'iya'.


"Eh maksudku tidak usah, Rey. Hari ini aku sudah sangat merepotkanmu. Jadi, tidak usah saja hehe ...," tolakku secara halus.


Rey menghela napas berat. "Berapa kali lagi aku harus memberikan arahan kepadamu, Ai? Aku kan sudah bilang, aku sama sekali tidak merasa keberatan saat membantumu. Justru, aku malah merasa sebaliknya. Jadi, kau jangan memikirkan mengenai hal ini lagi, ya!" perintah Rey yang terdengar serius.


"Iya ...." Akhirnya aku pun memilih untuk menuruti Rey. Karena aku tak ingin membuatnya kecewa seperti tadi. Mulai hari ini, aku tidak akan menolak kebaikan Rey lagi, mungkin ....


Rey tersenyum. "Baiklah, tidak usah dipikirkan lagi. Ayo, kita kesana! Kita akan membeli es krim dulu," ajak Rey seraya menunjuk kedai es krim yang terletak tak jauh dari tempat kami berdiri saat ini.


Aku menganggukan kepala, mengiyakan ajakan Rey. Aku dan dia pun berjalan ke arah kedai es krim yang kini terlihat ramai. Terlihat antrian orang-orang yang cukup panjang di depan kedai. Ya ... kami berdua harus menunggu dulu jika ingin membeli es krim.


Satu per satu orang mulai dilayani. Antrian pun juga mulai terlihat menyingkat. Setelah sekitar 15 menit aku menunggu, akhirnya tiba giliranku untuk membeli es krim.


"Hmm ... hari ini aku milih rasa coklat saja deh. Kamu mau es krim rasa apa? Coklat? Strawberry? Atau vanilla mungkin? Mau pilih yang mana, Ai?" Rey menanyakan rasa es krim yang kuinginkan.


"Ummm ...." Aku melihat-lihat daftar menunya. Semuanya terlihat sangat enak. Aku bingung memilih rasa es krim yang mana. Karena, semua terasa enak. "Aku ingin ...." Akhirnya aku telah memutuskan es krim yang ingin kubeli. Aku tidak mau membuat Rey menunggu lama hanya karena masalah memilih rasa es krim ini.


Namun, tiba-tiba aku mendengar suara rengekan seorang anak kecil dari belakangku. Aku berbalik untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata, seorang anak perempuan dari barisan antrian ke-4 sedang menangis sesegukan.


"IBU ... AKU MAU ES KRIM ...!" Anak yang kira-kira baru menginjak usia 5 tahun itu, menarik-narik bagian bawah seorang wanita paruh baya yang mungkin adalah ibunya. Air matanya terlihat mengalir deras.


Wanita itu berjongkok, menyamakan tingginya dengan anak itu. Dia kemudian menunjukku dan Rey, seraya berkata, "Iya, Nak. Sebentar lagi kita akan segera membeli es krimnya."


Wanita itu tampak sedang berusaha menenangkan sang anak agar berhenti menangis.


"HUWEE ... AKU MAU ES KRIM, BU!" Namun bukannya berhenti menangis, anak dengan baju ungu itu malah semakin menjadi.

__ADS_1


Ekspresi panik pun langsung terlukis di wajah wanita tersebut. "Nak, berhentilah menangis! Ibu janji, sebentar lagi kita akan segera mendapat es krimnya, ok?" Ibu itu mengusap-ngusap rambut hitam terurai milik anak itu.


Anak itu langsung berhenti menangis seketika, akan tetapi, wajahnya masih terlihat kecewa.


"Anak pintar ...," puji ibu itu sambil tersenyum kepada anaknya.


"Ai?" tegur Rey.


Aku yang tadinya sedang melihat anak perempuan tadi pun langsung refleks berbalik. "I-iya, kenapa Rey?" tanyaku.


"Kau sudah memikirkan rasa yang ingin kau pilih belum?" Rey menanyakan tentang rasa yang ingin kupilih.


"Hm? A-ah itu. A-ku sudah memilihnya. Ta-tapi, aku akan membeli es krimnya nanti," ujarku.


Rey mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?" tanya Rey. Sepertinya dia tidak paham dengan apa yang kukatakan.


"Tunggu sebentar!" Aku berjalan ke arah antrian ke-4, tempat anak perempuan yang tadi menangis.


"Hei!" sapaku seraya melambai-lambaikan tangannya ke arah anak itu.


Namun, setelah melihatku, dia langsung sembunyi di balik kaki ibunya.


"Umm ... kamu tidak perlu takut. Kakak tidak jahat kok," ucapku sembari mengubah posisiku menjadi berjongkok.


Perlahan, anak itu mulai menampakan dirinya untukku. Baguslah, sekarang dia sudah mulai tidak takut denganku.


"Adik cantik, siapa namamu?" tanyaku.


Dia menjabat tanganku, seraya berkata, "Yu-Yui." Dia mengucap kata Yui saat aku menanyakan namanya. Mungkin, itu adalah namanya.


"Yui? Jadi, namamu adalah Yui?" tanyaku sambil tersenyum.

__ADS_1


Dia menganggukan kepalanya, mengiyakan pertanyaanku. Sesekali dia melirik wajahku lalu kembali sembunyi. Ya, aku tidak terlalu mempedulikan hal itu. Namanya juga anak-anak.


__ADS_2