Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 39 : Pertemuan Rey dan Ibu


__ADS_3

...Mengarang hal buruk tentang orang lain adalah hal buruk. Apalagi jika disebarluaskan....


...\=•\=•\=...


Setelah cukup lama kami berjalan, akhirnya Rey berhasil mengantarku sampai rumah. Dari kejauhan, aku melihat seorang anak kecil sedang bersama wanita dewasa. Aku tidak bisa melihat jelas, sih, hanya sebuah pandangan samar-samar saja. Namun, aku yakin seyakin-yakinnya, mereka adalah Miku dan ibu.


"Rey, turunkan aku di sini ...," pintaku lirih. Ya, aku tak ingin ibu marah gara-gara aku digendong seperti ini. Jangan sampai dia mengira bahwa aku sedang memperbudak orang lain. Hiihh, aku pasti akan kena hukuman berat jika hal itu memang benar-benar terjadi.


"Heei ... kakimu ini terluka kau tahu. Jadi, aku mohon, jangan berusaha untuk baik-baik saja!" ujar Rey dengan suara tegas. Dilihat dari raut wajahnya, dia tampak sangat serius.


Meski begitu, aku harus tetap turun. Apapun caranya, pokoknya, aku tak mau ibu melihat Rey sedang menggendongku. "Rey, hah ... aku memang belum sembuh. Tapi, aku mohon, turunkan aku sekarang juga! Tak perlu menanyakan alasanku, karena pasti aku akan kesulitan dalam menjawab, ok?" tanggapku dengan suara yang tak kalah tegas pula.


Setelah mendengarku, tiba-tiba Rey terdiam. "Hahh ... baiklah jika kau memaksa. Hati-hati!" Rey menurunkan tubuhku pelan.


Tap!


Kedua kakiku turun dan menopang berat badanku agar tidak terjatuh. Namun, ketika kedua kakiku menginjak di tanah, rasa sakit itu kembali muncul. Kakiku terasa seperti sedang tersambar petir. Akan tetapi, aku harus tenang. Aku tidak boleh berteriak kesakitan di sini, atau Rey akan bersimpati lagi nantinya. Aku menutupi mulutku dengan kedua tangan, berusaha untuk menahan rasa sakitku ini.


Pada saat yang bersamaan, Rey berbalik dan menatapku. "Kenapa kau menutupi mulutmu, Ai?" tanya Rey.


"Emmm ... ti-tidak. A-aku hanya mempraktikan adegan film yang kutonton kemarin ahaha ... haha ...." Aku tersenyum lebar dengan tawa menyisip. Aku terpaksa melakukan ini agar kebohonganku terlihat sempurna. Eeem, ya begitulah.


"Ooh, baiklah. Tapi jika kau merasa bahwa kakimu sakit, cepat katakan saja. Tak perlu dipendam atau bahkan ditahan. Atau kau akan kesakitan nanti," ucapnya memberi nasehat.

__ADS_1


"Iya ...," balasku lirih.


"Onee-san!" teriak anak kecil yang kulihat tadi seraya berlari menghampiriku dan Rey. Ketika dia mendekat, barulah aku mengetahui siapa dia. Ya, ternyata pandanganku benar. Dia adalah Miku. "Eh, Kak Rey juga ada di sini? Woaah ...." Miku berdiri di depan Rey sambil mendongak untuk melihat wajah Rey.


"Halo, Miku! Sebentar, Kak Ai harus masuk ke dalam rumah dulu, ya. Karena Kak Ai baru saja mengamalami kejadian buruk. Kakinya terluka," jelas Rey sembari mengelus rambut pendek hitam terurai Miku.


"Eeh? Kak Ai ... kaki kakak sakit?" tanya Miku polos.


"Ti-tidak kok, Miku. Kakak hanya luka sedikit saja. Sekarang sudah sembuh, tidak sakit lagi," jawabku dengan senyum lebar terlukis di wajahku.


"Ah benarkah? Kalau begitu, malam ini kita bisa bermain lagi, 'kan, Kak?" tanya Miku sekali lagi.


"I-itu ...." Aku dan Rey saling bertatapan. Kami berdua bingung harus menjawab apa.


Tap! Tap! Tap!


"Ai, ada apa?" tanya ibu dengan alis mengernyit. "Lalu, dia siapa?" Ibu melontarkan pertanyaan lain.


"Oo-oh ... i-itu–" Aku belum selesai menjelaskan, akan tetapi, Rey malah memotong pembicaraanku, "Aa-ah, Bibi, perkenalkan, aku adalah Tachibana Rey, teman sekelas Ai! Ya ... mungkin hubungan kami lebih dari sahabat, sih ... eh maksud saya, sa-saya ingin menjelaskan kepada Bibi tentang Ai. Bi, baru saja, Ai ditabrak oleh orang asing pengendara sepeda motor. Ya, jadi, kaki Ai pun terluka. Mungkin terkilir." Rey menjelaskan semua kejadian yang kualami tadi. Emm ... aku merasa, kata-kata yang diucapkan olehnya tadi seperti ada yang salah. Ah sudahlah.


"Ooh, jadi kau teman sekelasnya Ai? Wah, aku benar-benar bersyukur. Ternyata, putriku memiliki teman di sekolah. Ya, dia ini adalah anak yang cenderung tidak mau keluar rumah. Lebih parahnya lagi, dia ini tidak mau kalau disuruh melakukan pekerjaan rumah. Selalu malas-malasan. Kuharap, kamu bisa merubah sikapnya yang sudah melenceng jauh dari kehidupan gadis SMA pada umumnya ini," ujar ibu.


Deg!

__ADS_1


Perkataan itu jelas membuat emosiku memuncak. Apa maksudnya 'malas-malasan'. Aku selalu mengerjakan pekerjaan rumah setiap hari. Bahkan, aku tak memiliki waktu istirahat karena hal itu. Lalu, kenapa dia malah mengucapkan hal itu di depan Rey. Grrghhhh ....


Aku mengepalkan satu tanganku. Aku masih berusaha untuk menahan emosi di dalam diriku ini. Kalau saja dia bukan ibuku, maka sudah kupukul dia dari tadi.


"Eeh, apa Ai begitu di rumah? Aa-ah baiklah. Bi, saya izin pulang. Saya minta agar Bibi merawat Ai sampai sembuh, ya?" kata Rey.


Emm ... apa dia sudah terpengaruh ucapan ibu. Apa dia percaya apa yang dikatakan oleh ibu? Itu adalah kata-kata yang terlintas di pikiranku saat ini. Kuharap, Rey tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ibu. Aku tak ingin hubuangan persahabatan kami merenggang. Hah ... tapi sebenarnya aku masih tidak mengerti, kenapa ibu selalu ingin melihatku dalam kesulitan. Apakah aku bukan anak kandung? Apa aku hanya seorang anak perempuan yang dipungut olehnya dari panti asuhan? Ya, kalau dipikir-pikir hal itu bisa saja terjadi.


Namun, kenapa dia harus menggunakan status 'ibu kandung' dalam kartu kependudukan. Jika memang dia hanya ibu tiri yang mengadopsi anak untuk disakiti, sebaiknya tidak perlu menggunakan status 'ibu kandung'. Emm, sepertinya, dia melakukan itu agar kejahatannya tidak terlalu tampak. Hah ... aku benar-benar tidak paham pola pikir orang dewasa.


"Baiklah, Nak. Terima kasih telah mengantarkan Ai sampai rumah. Maaf kalau merepotkan, ya? Eh omong-omong, siapa namamu?" tanya ibu.


"A-ah, tidak sama sekali kok, Bi. Emmm ... nama saya adalah Rey, Tachibana Rey. Bibi bisa memanggil saya dengan panggilan 'Rey' saja boleh," ujar Rey.


"Baiklah. Bibi akan mengingat namamu, Rey. Sekali lagi, bibi ucapkan terima kasih, ya? Apa jadinya Ai kalau tidak ada kamu. Hah ... dia sangat beruntung. Kalau dia selalu bergantung kepadamu, tolong maafkan, ya? Dia memang memiliki sifat manja dari dulu." Ibu mengucapkan hal itu sekali lagi. Meskipun ucapannya itu ada benarnya, tetapi tetap saja. Pengucapannya terdengar sangat membuatku kesal.


"Ah, tidak sama sekali. Ai adalah gadis yang baik. Dia sama sekali tidak merepotkan saya. Yossh, kalau begitu, saya pulang dulu, ya, Bi. Hari sudah semakin sore," ungkap laki-laki itu.


"Baiklah ... terimakasih, Rey." Ibu berterimakasih kepada Rey sekali lagi.


Rey berbalik kemudian berjalan menjauh dari tempat kami berada. Aku melambai-lambaikan tangan kananku di udara


...\=•\=•\=...

__ADS_1



Rey : "Hei, jangan lupa like, komen, dan beri hadiah, ya? Omong-omong, foto bangun tidurku ini bagus tidak? Aku tak mau kalah dari Ai. Sekedar mengingatkan, aku lebih tampan dari Ai dan Rin."


__ADS_2