Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 54 : Aku Tidak Menyukaimu!


__ADS_3

...~Rey POV~...


...---...


...Tidak mau mengakui yang sebenarnya itu adalah hal yang wajar bagi manusia. Meskipun, kadang itu bukanlah hal baik. -Rey Tachibana...


...----...


Kami berdua sampai di tempat yang kubicarakan tadi. Ya, halaman belakang sekolah. Tempat dimana aku dan Rin mengalami kejadian yang membingungkan.


"Jadi ... apa yang ingin kau bicarakan, Rey? Kalau tentang Ai, aku akan mencoba memahami. Tapi, jika ingin bertanya tips mendekati perempuan, maka ikuti saja tips yang kuberikan saat itu," ucap Rin kemudian duduk di kursi di dekat pohon.


"Heeh ... bahkan aku belum mengatakan apapun. Kau ini, andai saja kau bukan teman Ai. Aku tak akan mau dimanfaatkan seperti ini tck." Aku pun duduk di kursi yang sama dengan Rin.


"Hei, jangan marah begitu lah. Aku hanya bercanda tahu ...."


"Iya iya ...."


"Aku serius, apa yang ingin kau bicarakan, Rey?" tanyanya dengan raut wajah penasaran.


"Hmm ... ini adalah masalah tentang kita yang tiba-tiba dibawa oleh orang tak dikenal kemarin. Menurutmu, mereka ini siapa?" Aku berbalik tanya.


Rin yang ada di sampingku pun ikut terdiam bingung saat aku menanyakan hal ini. "Jadi, kau ingin menanyakan tentang itu, ya? Hmm ... sebenarnya aku juga tidak tahu pasti. Dan juga, aku masih bingung dengan hal kemarin." Rin mengubah posisi kakinya, kemudian melanjutkan, "saat aku membuka mata, tiba-tiba aku sudah berada di kamarku. Bukankah itu aneh?"


"He? Kau juga mengalami hal itu?"


"Ya, eh tunggu ... apa kau juga?"


"He'em. Kemarin aku juga terbangun di kasurku."


"Hmm ... sebenarnya, apa yang mereka inginkan dari kita berdua? Menculik tapi mengantar kita pulang ...." Gadis ini menyangga dagunya dengan kedua tangan. "Aarghhh ... aku bingung!" Dia kemudian mengacak-acak rambutnya dengan perasaan kesal. Sementara itu, aku hanya memandanginya dengan senyuman cuek.


"Mungkinkah, mereka berusaha menjauhkan kita dari Ai?" pikirku.

__ADS_1


Rin berhenti mengacak-acak rambutnya tatkala dia mendengar perkataanku barusan. "Menjauhkan kita dari Ai? Maksudmu?" tanya Rin.


"Maksudku, mungkinkah orang-orang itu adalah orang suruhan untuk menjauhkan kita dari Ai. Bukankah saat itu kita sedang mengikuti Ryuji dan Ai?" Aku menjelaskan kepada Rin.


Dia menatapku kemudian menghadap ke depan. Kurasa, Rin sedang memikirkan sesuatu. "Masuk akal. Sebenarnya, aku juga berpikir begitu," ucap gadis itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Tapi, jika memang benar, kenapa mereka menjauhkan kita dari Ai?" lanjutnya bertanya.


Aku menurunkan kedua tangan untuk menopang badan. "Hah ... entahlah, aku juga tidak tahu. Oh ya, ada satu hal lagi yang ingin kubicarakan kepadamu."


"Apa?"


"Yaaa ... kupikir Ai bersikap berbeda hari ini. Mungkinkah, itu ada hubungannya dengan kejadian kemarin?"


"Berbeda? Berbeda bagaimana?"


"Ya, aku merasa bahwa Ai yang kutemui hari ini seperti bukan Ai. Kau tahu maksudku?" Seraya menikmati hembusan angin kencang, aku kembali bertanya kepada Rin. Dia adalah seorang perempuan, jadi kupikir, dia lebih paham tentang masalah perempuan. Meski, dia tidak bisa dibilang perempuan sih.


Namun, bukannya menjawab. Rin malah memasang wajah dan senyuman yang tidak bisa dituliskan dengan kata-kata. "Khekhekhe ... mungkin dia cemburu karena kau selalu dikerubuti oleh banyak perempuan. Termasuk si pengganggu itu. Iya, 'kan?" ucapnya menjawab pertanyaanku. Tapi, entah kenapa aku merasa kesal dengan jawabannya.


"Hei, bisa serius sebentar tidak. Aku benar-benar bing–?" Aku menatap Rin dengan ekspresi kesal. Pada saat yang bersamaan, aku langsung tersadar. Rin mengucapkan kata 'si penganggu'. "Hei tunggu dulu, siapa 'si pengganggu' yang kau maksud itu?" imbuhku.


"Rin, bisa mundur sedikit? Kau tahu, jika aku terlalu dekat dengan gadis, bisa-bisa pipiku memerah. Ma-maka dari itu, mundurlah." Aku memegang bahu Rin kemudian mendorongnya ke belakang dengan pelan.


Saat aku kembali mendudukannya, wajah gadis itu juga memerah. Dia memalingkan wajahnya ke samping sama sepertiku. "Ba-baka!" ucapnya kesal. Dia terlihat kawaii saat marah seperti itu. Aarhh...


"Rey no baka!" Dia mengulangi kalimat itu berkali-kali. Semakin aku melihatnya, semakin aku tahu kalau Rin adalah cewek tsundere. Dia imut sama seperti Ai. Andai sifatnya tidak menyeramkan, mungkin kini dia sudah jadi gadis terpopuler di sekolah. Mungkin.


Setelah pembicaraan terakhir, mendadak suasana menjadi sepi. Kami berdua berhenti bicara karena malu. Namun, aku memberanikan diri untuk membuka pembicaraan lagi. "Ja-jadi, Rin ... siapa yang kau maksud dengan 'si penganggu' itu?"


Rin menengok ke arahku dengan malu-malu. "Di-dia ...."


"Hei ... ja-jangan malu-malu seperti itu. Katamu, kau tidak suka dengan laki-laki," ujarku sembari memegang tengkuk kepalaku. Ya, aku sengaja melakukan ini agar tidak terjebak dalam suasana mengerikan seperti ini.


"Si-siapa yang malu-malu? Aku tidak kok. Kau pikir, aku menyukaimu? Cih, tidak akan pernah. Aku Rin, Nakamura Rin. Gadis yang sudah bertekad untuk tidak menyukai laki-laki tidak jelas sepertimu," ungkapnya dengan suara penuh kebanggaan.

__ADS_1


Ya, seperti biasa, Rin tidak mau mengakuinya walaupun semua sudah terlihat jelas. Selain itu, kalimatnya sangat menusuk. "Huftt ... iya deh. Terserah kau saja. Hmm ... jadi siapa 'si pengganggu' itu?" Pada akhirnya, aku bisa membuat Rin berhenti malu-malu dan kembali ke dirinya semula. Meski sebenarnya, aku lebih suka dia versi imut tsundere.


"Kupikir, kau pasti tahu anak ini. Si gadis terkenal, tapi sifatnya sangat menjijikan. Ketua organisasi lima gadis yang selalu menganggu murid-murid di sini. Kalau tidak salah, nama kelompoknya itu Black Blood," terang Rin.


Deg!


Seluruh tubuhku terasa berhenti saat mendengar ucapan Rin. Gadis ketua kelompok 'Black Blood'. "Ma-maksudmu?!"


"Ya, dia adalah Reina Miyamoto. Orang yang paling kubenci di sekolah ini. Setiap hari, dia dan teman-temannya pasti akan melewati depan kelas kami. Namun, mereka bukan hanya sekedar lewat saja. Kadang, Reina dan teman-temannya akan datang saat murid-murid di kelasku sedang piket. Dia menginjak-injak lantai yang telah kami pel, kemudian menumpahkan minumannya. Aku ingin sekali memukulnya untuk memberikan pelajaran. Tapi, kau tahu kalau dia memiliki koneksi yang kuat di sekolah ini, 'kan? Pamannya adalah kepala sekolah. Jadi sia-sia saja jika aku melukainya. Bukannya puas, aku malah mendapat hukuman yang berat nanti. Hah ...." Rin menghela napas.


Sudah kuduga. Ternyata, dia tidak hanya mengganggu Ai. Tapi semua orang di sekolah ini. Rin benar tentang koneksi yang dimiliki oleh Reina. Tapi, aku tak mungkin tinggal diam melihat hal ini. "Hei, kau mungkin benar dengan Reina yang jahat. Tapi kau itu salah jika mengira bahwa Reina itu menyukaiku," ujarku seraya mengibas-ngibaskan tangan.


"Are? Kau tidak tau hal ini juga? Sebenarnya kau ini hidup di dunia mana sih?!" Nee, semua orang di sekolah ini sudah tahu kalau Reina itu menyukaimu dari awal kau pindah ke sekolah ini."


"Benarkah? Aku benar-benar tidak tahu."


"Heh, kau ini."


Kringgg!


Di tengah-tengah pembicaraan kami, tiba-tiba bel waktu istirahat berakhir. Sial, padahal aku ingin bertanya lebih banyak lagi.


"Baiklah. Aku kembali ke kelas dulu ya. Nanti sepulang sekolah, aku akan bertemu dengan Ai. Siapa tahu dia bisa membuka diri kepadaku," kata gadis itu sambil tersenyum.


Aku pun tersenyum. "Ya," jawabku singkat.


...---...


Q. Menurut kalian, siapa yang lebih cocok. Rey x Ai atau Rey x Rin?


Btw sebenernya Miku tu niatnya hiatus sampe tanggal 10. Tapi nyatanya otak Miku tu nggak bisa. Ya gapapa. Besok minggu aja kok. Enjoy gaiss ><


Dan Miku mau ngasih tau nih. Abis PAS nanti, Miku bakal balik sambil bawa kejutan. Yang suka Aishiteru, mungkin kalian bakal suka sama kejutan ini. Nanti tanggal 10/11 guys, Miku kasih hadiahnya buat semua yang ada di sini eakk. Tapi gak janji. Masih dalam proses soalnya🐧

__ADS_1


Hadiahnya ... em rahasia hehehe...


__ADS_2