Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 37 : Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

...Setiap langkah yang diambil oleh seseorang, pasti memiliki resikonya masing-masing....


...\=•\=•\=...


Tak terasa sore hari telah tiba, bel pulang sekolah telah berbunyi. Seperti biasa, aku dan Rey berjalan keluar dari kelas bersama. Eh, tunggu dulu, aku merasa seperti ada yang kurang di sini. Hmmmm ... ah, Ryuji dan Rin. Eh, kemana mereka. Biasanya, mereka akan datang dan menghampiriku dan Rey setiap pulang sekolah.


Aku berhenti berjalan sejenak dan berbalik menatap kelas Rin yang terletak di sebelah kelasku. Kalau kelas Ryuji berada di bawah. Yaa, sekolah kami memiliki bangunan bertingkat. Beberapa kelas terletak di atas dan kelas lainnya terletak di bawah. Emm ... mungkin, Rin dan Ryuji telah pulang lebih dulu. Umm ... ya mungkin saja.


"Hei, Ai. Kau sedang melihat apa?" tanya Rey sambil menatapku.


Aku menengok ke arah Rey. "A-ah, tidak apa-apa kok, Rey. A-aku hanya–" Ketika aku ingin menjawab pertanyaan Rey, tiba-tiba saja, dari arah kelas Rin terdengar suara seperti sebuah benda menabrak sesuatu. Jelas, hal itu pun menarik perhatianku dan juga Rey.


Brak!


Seorang laki-laki remaja dengan baju seragam dan rambut yang acak-acakan, terlihat sedang merintih kesakitan karena tubuhnya terbentur tembok. Entah bagaimana dia bisa terbentur, yang pasti ... dilihat dari wajahnya saja, aku sudah dapat mengetahui bahwa dia merasa sangat kesakitan.


"Aahh sakit ...." Laki-laki itu memegangi bagian punggung dan perutnya.


Tak berselang lama setelah laki-laki itu merintih kesakitan, dari dalam kelas, muncullah seorang gadis dengan gaya rambut kuncir kuda. Dilihat dari wajahnya, gadis itu terlihat sangat marah. Bahkan, langkah kakinya saja bergerak dengan kuat. Tangannya mengepal, hingga membuat 'buku-buku lipat' di jarinya ikut menekuk sempurna.


"Apa sekarang kau tahu bagaimana rasanya dipukul, hm? Jangan hanya berani dengan orang yang lebih lemah darimu. Cari lawan yang sepadan denganmu!" Gadis itu menendang pagar pembatas lantai atas untuk memperkecil ruang si laki-laki agar tidak kabur. Emm ... kira-kira begitu ... mungkin. Aku menatap wajahnya dengan serius, gadis itu terlihat sangat familiar bagiku. Tunggu, dia Rin.


Laki-laki itu hanya bisa menatap ke depan sambil meneguk salivanya. Dia melirik ke arah kaki Rin, tetapi pandangannya malah menatap bagian dalam rok Rin.


Rin melipat kedua tangannya di depan dada. "Tck," singkatnya.


Brak!


Rin menendang perut laki-laki itu dengan sangat keras, layaknya seorang pemain sepak bola. "Kau sudah memukuli orang tak bersalah dan sekarang kau malah mengintip bagian sensitif perempuan. Kau ini ... memang ... laki-laki ... bodoh! ...." Rin menendang perut laki-laki remaja itu berkali-kali.


"Rin, a-a-aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku tak akan mengulangi perbuatanku lagi!" Laki-laki ini memohon dengan tatapan penuh harap.


Rin menghentikan serangan tendangannya seketika. "Heeh ... kali ini aku percaya padamu. Tapi jika suatu saat nanti kau mengulangi perbuatanmu ini, maka aku tak akan segan-segan mematahkan semua tulang di tubuhmu ini. Kau mengerti?!" ancam Rin dengan suara yang menakutkan. Aku tak tahu, kalau Rin memiliki sisi yang mengerikan seperti itu.

__ADS_1


"Ba-baiklah." Laki-laki itu berdiri dan kemudian berlari masuk ke dalam kelas. Tak lama kemudian, dia berlari keluar sambil membawa tasnya.


Ketika dia sudah berlari menjauh, Rin berjalan masuk ke dalam kelas lagi. Namun, pandangannya tertuju kepadaku. "Heh, Ai? Rey?" Rin terkejut tatkala melihat kami sedang berdiri dan melihatnya.


"Rin ...." Aku dan Rey berlari menghampirinya. "Rin, sebenarnya, apa yang sedang terjadi tadi? Kenapa kau memukuli laki-laki itu?" tanyaku bingung sekaligus penasaran.


Mata Rin membelalak tatkala mendengar pertanyaanku. "He? Ka-kalian melihatnya?"


Aku menganggukan kepalaku dua kali untuk mengiyakan Rin.


Rin menghela napas. "Yaa, ti-tidak ada apa-apa kok. Hanya masalah biasa saja hehe ...," jawab Rin sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.


"Ah, syukurlah kalau baik-baik saja. Kukira ada apa tadi." Untuk saat ini, sebaiknya aku percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rin saja. "Baiklah kalau begitu, aku dan Rey pulang dulu, ya. Eh omong-omong, kau tidak pulang?" tanyaku.


"Aku masih ada urusan di kelas. Mungkin aku akan terlambat pulang nanti," ujar Rin menjelaskan kepadaku.


"Ah begitu. Baiklah." Aku tersenyum kepada Rin.


"Hee ... baiklah baiklah," ucap Rey agak ketakutan. Hmpph, kenapa aku malah merasa seperti seorang gadis yang sedang dimanjakan.


"Hahaha ... ya sudah, Ai. Aku masuk dulu, ya. Dah~" Rin masuk ke dalam kelasnya.


"Dah~" Sedangkan aku dan Rey berjalan turun menuju halaman sekolah untuk pulang tentunya.


Ketika kami telah sampai di tempat dimana motor Rey terparkir, tanpa diduga sebuah kejadian tak menyenangkan, menimpa kami berdua.


"Arghh sial. Kenapa motor ini mogok?!" tanya Rey kesal sembari memukul-mukul motornya sendiri.


"He? Kenapa, Rey?" tanyaku.


"Hm? Ah, ini ... motorku mogok. Entah kenapa bisa seperti ini. Padahal, kemarin masih baik-baik saja." Rey mengacak-ngacak rambutnya karena panik dan bingung.


Melihat Rey kesulitan seperti ini, aku pun tak akan tinggal diam. Rey sudah sangat membantuku. Kini saatnya aku membalas kebaikannya. Meski aku tak bisa membuat motornya bisa kembali, tetapi setidaknya aku dapat mengurangi beban Rey.

__ADS_1


"Eem ... Rey, ayo kubantu mendorong motor ini sampai ketemu bengkel terdekat. Ya, aku tahu aku pasti tidak banyak membantu. Ta-tapi, aku akan berusaha membantu sebisaku," ujarku lirih sambil memegang helm merah muda bermotif sekura milik Rey.


"Eeh ... tak perlu begitu, Ai. Aku bisa mendorong motorku ini sendirian. Sebaiknya, kamu pulang saja ... aku tidak bermaksud mengusirmu atau bahkan menolak bantuanmu. A-aku hanya tak ingin melihatmu kelelahan. Tenang saja, aku pasti bisa kok hihi ...." Rey menolak bantuanku dengan halus. Hah ... dia selalu saja begini. Aku menjadu merasa tidak enak tatkala Rey menolak bantuanku. Maksudku, aku merasa seperti orang yang menyusahkan di sini. Tapi, semua kembali kepada keputusan Rey.


"Kau yakin, Rey?" tanyaku memastikan.


Rey menatapku sambil tersenyum. "Tenang saja, aku ini sudah terlatih dalam menangani masalaj seperti ini kau tahu ...."


Aku tersenyum untuk membalas senyumannya. Ya sudahlah, sebaiknya aku percaya saja kepada Rey. Aku berjalan pulang, meninggalkan Rey dengan motor mogoknya seorang diri. Namun, saat sedang berjalan, tiba-tiba sebuah kejadian mengejutkan kembali menimpaku.


Sepeda motor dari arah kanan itu bergerak dengan arah yang tak beraturan. Hah ... perasaanku tidak enak.


Brak!


Sesuai dugaanku, sepeda motor itu menyerempet, tidak, bahkan menabrak tubuh bagian kiriku. Alhasil, aku pun terjatuh.


"Awwwhh ...." Aku merintih kesakitan sambil memegangi bahu dan pergelangan kakiku.


Bukannya bertanggung jawab, pengendara sepeda motor itu malah bergerak meninggalkanku.


...\=•\=•\=...


Q. Kira-kira, siapa orang yang menabrak Ai?


a.) Anna Mizhunashi


b.) Ryuji Tashibara


c.) Reina Miyamoto


d.) Lainnya?


Tulis jawaban kalian di kolom komentar ya, teman-teman! Arigatou Gozaimashita!

__ADS_1


__ADS_2