Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 43 : Gurauan


__ADS_3

...Terkadang, gurauan dapat membuat kita melupakan kesedihan....


...\=•\=•\=...


Jam pelajaran pertama telah berakhir. Semua orang berlarian keluar dari kelas, akan tetapi tidak denganku. Kurasa, aku masih terlarut dengan pikiran tentang ibu kemarin. Ya, memang begitu.


Hah ...


Aku menghela napas panjang sembari menatap siswa-siswi SMA yang sedang bermain dan bercanda dari luar jendela. Perutku terasa sangat lapar, karena pagi ini, aku memutuskan untuk tidak sarapan. Kau tahu, aku merasa bersalah ketika mengingat perkataan ibu. Aku takut melihat tatapannya, aku takut melihat wajahnya, aku takut bertemu dengannya.


Aku sangat ingin pergi ke kantin dan membeli sesuatu, tapi tetap saja, aku tidak bisa. Kakiku ini terasa seperti sedang terbelenggu oleh rantai pikiran tajam.


Ketika aku sedang sibuk memikirkan tentang hal yang seharusnya aku lupakan, tiba-tiba seseorang berjalan ke arahku dan kemudian langsung duduk di depanku. Ya, sudah dapat diduga, orang itu adalah Rey.


"Hei, Ai. Kau tidak pergi ke kantin?"


"Hm? Ah, aku tidak. Lagipula, aku juga tidak terlalu lapar. Jadi, tidak apa-apa," jawabku. Aku terpaksa berbohong lagi agar Rey pergi sebentar dan aku akan kembali ke dalam ruang pikiranku.


"Sungguh? Tapi wajahmu terlihat pucat seperti itu. Hei, jika kau memang lapar, ucapkan saja. Aku akan berusaha untuk membantumu," ujar Rey. Sudah kuduga, dia pasti tidak dapat dibohongi oleh perkataanku.


Dia selalu begitu, membuat alasan agar tuntunnya semakin kuat. Padahal, wajahku baik-baik saja ... eem ... aku juga tidak tahu, sih. Andai saja ada cermin di sini, mungkin semua akan jelas.


"Hah ... kau benar, Rey. Aku memang sedang lapar sekarang. Tapi, aku masih berusaha untuk tidak lapar. Jadi kumohon, berikan sedikit ruang untukku. Aku harus berpikir sejenak.


"Hei, ayolah! Aku sudah menuruti kemauanmu agar tidak menanyakan alasanmu bersikap seperti ini. Kini, aku juga memiliki satu permintaan. Turuti perkataanku! Kita akan makan! Tenang saja, aku yang akan membayarnya, ok?"


"Rey ... kuhargai kebaikanmu. Tapi–" Aku belum menyelesaikan kata-kataku, akan tetapi, Rey malah menghentikan dengan jari telunjuknya. "Sudahlah, tidak ada kata tapi-tapian. Aku tidak menerima penolakan di sini. Sekali lagi, aku memberimu dua opsi, mau atau ingin?" pangkas Rey dengan kening mengernyit.


Tatapannya terlihat sangat serius. Dia benar-benar serius. Sebaiknya, aku ikuti saja permintaannya hari ini. "Hah ... baiklah." Dengan berat hati aku menerima tawarannya tersebut. Bukan karena aku tidak suka kepada Rey, hanya saja, aku ingin ruang pribadi saat ini. Tapi tampaknya, Rey tak memahami hal ini.

__ADS_1


"Nah, begitu. Itu adalah Mizhunashi Ai yang kukenal." Rey tersenyum kepadaku. "Ai si gadis SMA dengan wajah cantik rupawan layaknya seorang Miyazono Kaori. Rambut hitam menawan layaknya Mai Sakurajima. Sifat lugu dan pendiam layaknya Shouko Nismishya. Kemudian, tingkah imut nan lucu layaknya Nakano Miku. Cocok untuk dijadikan waifu, ciyaah .... Ai oh Ai ... jangan bersedih lagi atau nanti aku akan memberimu sebuah kiss," lanjut Rey dengan gaya bicara aneh. Tidak, dia mengucapkan kalimat tadi dengan penuh penghayatan. Tangannya bergerak-gerak mengikuti irama bacaan. Sepertinya, dia sedang membaca puisi.


Tak kusadari, aku malah tertawa kecil ketika mendengar puisinya. Aku tahu itu adalah puisi romantis yang bermaksud untuk melontarkan kata-kata gombalan dan menghiburku. Namun, pemilihan kata Rey yang bisa dibilang agak sedikit nyeleneh, itulah yang membuatku tertawa.


Dia mengaitkanku dengan para karakter perempuan di anime. Aku tak secantik tokoh-tokoh yang disebutkan olehnya tadi. Emm ... omong-omong, memang benar, Rey adalah seorang otaku atau nama lainnya anime lovers. Salah satu hal yang membuat pembicaraan kami selalu terlihat bahagia.


Aku dan Rey sama sama menyukai anime. Tapi, ya aku juga tidak terlalu suka, sih. Hanya suka menonton beberapa anime saja. Itupun hanya anime romance. Aku suka anime bergenre teen, drama, romance. Sementara Rey, sepertnya dia suka semua genre. Seringkali aku meminta rekomendasi anime yang bagus kepadanya. Tapi, dia malah memberikan rekomendasi yang sesat.


Aku selalu memarahinya jika dia memberitahu judul anime yang tidak layak ditonton kepadaku.


Eh tunggu tunggu, kenapa malah membahas anime, sih?


Hahh ...


"Hei, Rey ... jangan samakan aku dengan mereka! Aku ini manusia nyata sementara mereka adalah animasi. Ingat, hanya animasi!" ujarku memberi peringatan kepada Rey.


"Aigoo ... aku sangat menyukai mereka sebelum mengerti cinta kau tahu. Tapi, sejak seseorang hadir dalam hidupku, aku mulai lupa dengan mereka. Lagipula, orang itu terlihat lebih cantik dari mereka semua. Sangat waifuable sekali pokoknya," ucap Rey. Lagi-lagi, dia mengucapkan suatu hal yang menimbulkan banyak pertanyaan.


"He? Kau tidak tahu? Sungguh? Sungguh? SUNG-GUH?!" Rey bertanya kepadaku dengan agak sedikit berlebihan kurasa.


"Tidak. Memang siapa?"


"Haisshh ... padahal dia ada di sini saat ini. Gadis yang sedang duduk di dekatku ini," kata Rey.


Setelah mendengar ucapan Rey, aku menengok ke samping untuk melihat, apakah ada gadis yang duduk di dekat sini. Saat menengok ke samping, aku hanya dapat melihat satu orang saja. Aku melihat seorang siswi dengan badan yang ... 'Lebar'. Dia sedang makan bekal dengan sangat lahap. Jadi, maksudnya ... Rey ....


"Rey, apa kau serius dengan hal ini?" tanyaku tak yakin.


"Eh, kau sudah menyadarinya? Syukurlah ... jadi, bagaimana?" Rey berbalik tanya.

__ADS_1


"Eemm ... ta-tapi, a-apa kau benar-benar suka dengannya?" Aku melontarkan pertanyaan sekali lagi. Aku benar-benar tidak yakin.


"Tentu saja. Aku sangat amat menyukainya. Meski aku selalu menebar senyuman kepada banyak gadis, tapi hanya dialah yang aku sukai."


"Eemm ... bukannya aku mengejekmu atau apa, Rey. Hanya saja, apa siswi yang ada di sampingku ini memiliki bakat yang hebat, sehingga dia bisa menarik perhatianmu?" Aku bertanya lagi.


"Iyap! Dia memiliki bakat melukis ... eh tunggu. Kau bilang, siswi yang ada di sampingmu?" Rey menoleh ke arah yang kutunjuk tadi. "E-eeh ... Ai, bukan seperti itu. Sepertinya kau salah paham. Dia bukan orang yang kumaksud. Astaga, bagaimana menjelaskannya, ya?"


"Hihihi ...." Aku tertawa kecil. Ya, aku sudah tahu, sih. Syukurlah kalau bukan dia yang Rey sukai. Maksudku, sudah seharusnya Rey mendapatkan pasangan yang layak. Pasangan yang cantik, baik, dan selalu membantu tentunya.


Kurasa, orang yang dimaksud Rey bukanlah aku. Meskipun dia memberikan kata-kata manis, tapi dia hanya melalukan itu agar bisa menghiburku. Aku yakin, Rey pasti bisa menemui pasangan yang dibicarakannya itu.


Dan, semoga aku juga memiliki pasangan yang serasi denganku. Pasangan yang bisa menemaniku dan menerima segala kekuranganku.


Hehh ... kenapa malah memikirkan tentang pasangan?


Berkat gurauan yang diucapkan oleh Rey tadi, rasa sedihku pun mulai berkurang. Aku juga mulai melupakan kejadian semalam. Ya, Rey benar, aku tidak boleh selalu tenggelam dalam pikiran ini.


...\=•\=•\=...


Note Miku (Author) :


Rey menyebut bahwa Ai mirip dengan banyak waifu, itu adalah benar. Kenapa? Soalnya, Miku ini bentuk karakter Ai dari gabungan waifu. Sama kayak yang disebut sama Rey tadi. Ya, Miku juga gak begitu ngerti sih, bener apa gak tuh. Miku cuma tahu beberapa. Jadi nih ... maap kalau salah ya!


...\=•\=•\=...



Oh iya gess... kalo ada adegan Rey sama Ai kiss. Liat aja gambar ini! Kan cocok tuh! Awokawok. Aduh berdosa aku tuh, lagi puasa malah macam ini. Ya udahlah. Sekian dan terima likenya.

__ADS_1


(Source : Pintarast/Pinteres)


__ADS_2