
...~Rey POV~...
Pagi hari yang cerah seperti biasanya, aku sedang duduk di bangkuku sembari menunggu gadis yang sangat kudambakan. Namun, sampai sekarang juga, dia masih belum datang.
Apakah kaki Ai masih belum sembuh sepenuhnya? Apa dia tidak baik-baik saja? Itu adalah kata-kata yang terlintas di pikiranku saat ini.
Omong-omong, aku juga masih bingung dengan ucapan ibu Ai kemarin. Apa ucapannya itu benar? Menurutku, Ai tidak akan melakukan hal seperti itu. Sejauh yang kulihat, Ai adalah gadis pemalu yang baik dan ramah. Tapi, kenapa ibunya berkata seperti itu. Arghhh benar-benar membingungkan.
Aku mengacak-ngacak rambutku kemudian menenggelamkan kepalaku di antara dua lipatan tangan di meja. Pada saat yang bersamaan, perhatianku langsung tertarik kepada suara pintu kelas yang sepertinya sedang dibuka oleh seseorang. Ketika pintu telah terbuka sepenuhnya, aku melihat seorang gadis yang wajahnya sudah tidak asing bagiku. Dia adalah Ai.
Eh, tapi dia terlihat berpenampilan beda hari ini. Biasanya, Ai membiarkan rambutnya terurai. Namun hari ini, rambutnya ditata dengan model kuncir kuda.
"Ohayou, Ai!" sapaku seraya beranjak dari bangku dan menghampirinya.
"Ohayou nee, Rey." Dia membalas sapaanku dengan senyuman. Namun, entah kenapa aku merasa bahwa senyumannya itu terkesan palsu atau dibuat-buat. Memang tidak terlalu berbeda, sih. Hanya saja, aku memang merasa begitu.
Aku mengernyitkan keningku. "Ai, apa kau sedang sedih? Meskipun kau tersenyum seperti itu, tapi entah kenapa aku merasa bahwa senyuman itu adalah senyuman palsu yang dibuat-buat untuk menutupi kesedihanmu," ucapku bertanya kepada gadis cantik dan imut ini.
Sesaat setelah mendengar pertanyaanku, mata Ai langsung membola. Dia terdiam sejenak dan berhenti berbicara. Tak berselang lama setelah itu, dia langsung menunduk. "Begitu ya ... hah ... jadi, aku gagal." Di balik wajah yang menunduk, tiba-tiba menetes bulir-bulir air mata dari sudut mata Ai.
__ADS_1
Jelas saja hal itu membuatku terkejut. "Ai ... kenapa?" tanyaku kebingungan sekaligus khawatir. Aku memegang kedua bahunya.
Ai mendongak dan menatapku. Aku semakin terkejut saat melihat ekspresi wajahnya yang terlihat sangat sedih. Ketika melihat wajahnya, pandanganku teralihkan kepada luka goresan di bagian keningnya. Aku semakin khawatir. Sebenarnya, apa yang terjadi kepada Ai.
"Hei, Ai ... siapa yang melukai keningmu, hm? Cepat katakan! Aku akan segera memberinya pelajaran!" ujarku panik.
Namun, gadis itu malah menunduk kemudian menangis sejadi-jadinya. Air matanya berjatuhan, isak tangisnya kembali terdengar di telingaku. Ini, ini adalah hal yang sangat tidak aku sukai. Melihat orang yang paling kusayangi menangis sejadi-jadinya, bahkan di depanku.
Aku masih tidak bisa mencernya sepenuhnya, apa yang sebenarnya terjadi di sini. Saat ini, tak ada yang bisa kulakukan selain berusaha menemani dan menenangkan. Ya, aku harus menenangkannya.
Sepuluh menit telah berlalu, akhirnya Ai telah berhenti menangis. Aku senang akan hal itu, akan tetapi, di sisi lain aku juga merasa sedih saat dia merasa sedih.
"Ai, a-apa kau sudah baik-baik saja?" tanyaku lirih dengan diikuti sedikit perasaan takut. Aku takut, jika pertanyaanku ini malah membuatnya sebaiknya merasa sedih.
Aku menurunkan kedua alisku karena ikut merasa sedih. "Ai, sebenarnya apa yang terjadi kepadamu? Apakah seseorang telah menyakitimu?" tanyaku.
"Apa kau percaya bahwa aku menangis karena baru saja menabrak dinding?" Dia berbalik tanya.
"Hm? Apa maksudmu? Tentu saja aku tidak percaya. Bagaimana bisa hanya gara-gara kejadian menabrak dinding saja bisa membuatmu menangis tersedu-sedu seperti ini," ucapkkejadian
__ADS_1
"Itu berarti aku tidak memiliki alasan untuk menanggapimu. Maksudku, jika aku mengucapkan segala alasan pun, kau pasti tidak akan percaya kepadaku. Rey, aku memang berbohong kepadamu, meskipun aku mengucap seribu alasan pun, kau pasti akan tahu bahwa aku sedang berbohong. Jadi, aku mohon kepadamu, berhentilah menanyakan tentang alasanku. Karena aku tidak mau mengatakan alasanku menangis kepadamu, ok?" ucap gadis itu sembari menunjukan senyuman palsunya lagi. Hah ... untuk saat ini, sebaiknya aku ikuti saja apa yang dia katakan.
"Hah ... baiklah, aku akan berhenti menanyakan tentang hal itu. Tapi kamu sungguh baik-baik saja, 'kan?" Aku bertanya kepadanya. Namun, kali ini bukan pertanyaan yang berkaitan dengan alasannya menangis.
"Iya, aku sudah baik-baik saja. Baiklah, ini sudah mau masuk, Rey. Pasti Bu Mai akan datang sebentar lagi. Ayo duduk di tempat kita masing-masing!" ajaknya seraya berjalan menuju bangkunya sendiri.
Kalau boleh jujur, aku merasa Ai semakin cantik jika rambutnya dikucir seperti itu. Entah itu karena pikiranku yang selalu negatif atau memang mataku tidak salah. Tubuhnya selalu beraroma wangi, tetapi bukan karena parfum. Yaa, kalau memang sudah cantik jadi dia akan tetap cantik dari manapun juga.
Hah ... aku ingin segera menjadikanya sebagai kekasihku. Tapi, kurasa waktunya masih belum tepat. Kami masih memerlukan waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Lagipula, aku masih belum menceritakan tentang latar belakang keluargaku. Ya, aku akan menunggu hingga saat itu tiba. Saat dimana kami berdua akan tertawa bersama untuk menutupi masa lalu kelam kami. Saat dimana dia akan tertawa lepas tanpa ada kepalsuan. Saat dimana aku dan dia saling melempar senyum. Semoga saja, semoga saja hal itu benar-benar terjadi.
Kring ....
Suara bel masuk sekolah telah berdengung. He? Padahal kukira ini masih pagi. Ternyata, ini sudah siang, ya.
Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki berlari masuk ke dalam kelas. "Eh Bu Mai datang!" teriak Taki–teman sekelasku seraya berlari tergesa-gesa. Dia memperingatkan kami bahwa Bu Mai telah datang. Setelah mendengar hal itu, aku pun langsung bergegas duduk di bangkuku.
Tap! Tap! Tap!
Benar saja, Bu Mai masuk ke kelas kami. Eem ... tunggu sebentar, bukankah hari ini tidak ada jadwal pelajaran matematika? Lalu, kenapa Bu Mai kemari. Jangan-jangan, akan ada kelas tambahan matematika. Waduh, bahaya ini.
__ADS_1
Wanita itu berhenti berjalan tatkala dia sudah sampai di depan kelas. Seperti biasa, Bu Mai terlihat cantik dengan riasan wajah yang sederhana dan terkesan natural. Juga ... dada Bu Mai sangat besar dan enak dipandang. Jika melihatnya aku selalu berpikir, mungkinkah Ai akan sepertinya di masa depan? Jika memang iya, uhh ... aku akan sangat bahagia. Astaga Rey Rey, sadarlah! Otak, otak tolong jangan berpikir aneh-aneh.
Tak berselang lama, seorang pria paruh baya dengan postur tubuh yang cukup 'lebar' masuk ke dalam kelas. Pria itu mengenakan baju jas lengkap dengan dasi layaknya kepala sekolah. Kenapa dia masuk ke kelas kami? Apa ada sesuatu yang ingin diucapkan oleh Bu Mai dan pria itu.