Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 64 : Mai-sensei, Ada Apa?


__ADS_3

"Baik semuanya. Ibu rasa, materi matematika di pertemuan hari ini cukup sampai disini. Sudah masuk waktunya istirahat, kalian boleh keluar," ujar Bu Mai seraya menaruh spidol yang dia gunakan untuk menulis materi di papan tulis.


"Baik, Bu!" jawab semuanya antusias. Seperti biasa, mereka girang karena akan istirahat. Berbeda dengan mereka, aku tidak berniat untuk keluar dari kelas sama sekali. Malas dan jelas rasa takut masih membayang-bayangiku. Aku tahu, jika aku keluar satu langkah saja, mereka pasti membicarakanku. Jadi kupikir, sebaiknya aku di kelas saja lah.


Ah iya, daritadi aku melihat Rey melirikku. Tapi, laki-laki itu tak mengucapkan sepatah katapun kepadaku. Ya, syukurlah. Itu lebih baik.


Setelah selesai membereskan bukuku, aku kembali duduk dan menatap jendela luar. Hari ini, mataharinya bersinar cerah. Suara cuitan burung-burung mengiringi deru angin yang perlahan mengayun-ngayunkan daun daun di pohon. Emm ... aku tak tahu, burung-burung berwarna biru itu sedang berkicau atau tidak.


Maksudku, ah lupakan.


Namun, ketika aku mulai terlarut di dalam lamunan 'Pagi cerahku', tiba-tiba seseorang berjalan mendekatiku. Seorang wanita cantik berkaca mata serta memiliki gaya busana yang sederhana tapi elegan.


"Ai?" tegur wanita tersebut sembari menepuk bahuku.


"Hee?!" Karena terkejut, aku menunjukkan reaksi seperti seekor kucing yang ekornya terinjak. Pikiranku yang kosong dan menyebar seketika langsung kembali tatkala melihat wanita yang ada di depanku.


"Bu Mai?" Ya, ternyata wanita itu adalah Bu Mai. Kukira dia sudah keluar tadi.


"Ai, ada yang ingin ibu bicarakan denganmu. Ayo ikut ibu ke ruang guru."


"Maaf?" Awalnya aku tak memahami dengan baik, apa yang diucapkan oleh Bu Mai. Karena aku masih dalam bayang-bayang lamunanku. Namun, beberapa saat kemudian, aku mengerti apa yang dibicarakan olehnya. "Eh, i-iya Bu."


Bu Mai menganggukkan kepalanya sekali sebagai tanggapan. Ia kemudian berjalan nenuju luar kelas seraya membawa buku materi matematikanya. Sedangkan aku mengikuti Bu Mai di belakang..

__ADS_1


Setibanya di ruang Bu Mai, aku merendahkan diri sebagai wujud kesopanan. Bu Mai belum mengatakan apa-apa, karena dia sedang membereskan bukunya.


"Aahh ... akhirnya, selesai. Tcaa, Ai ... duduklah dulu. Ibu ingin melontarkan beberapa pertanyaan kepadamu." Ketika ia sudah selesai, barulah dia menyuruhku untuk duduk sambil mendengarkan apa yang akan dikatakan olehnya.


"Ha-haik ...." Seperti apa yang diperintahkan oleh beliau, aku duduk di kursi berwarna merah milik Bu Mai.


Deg! Deg! Deg!


Di sisi lain, jantungku malah berdetak kencang. Jarang sekali Bu Mai memanggilku seperti ini. Apalagi saling bertatapan.


"Ai ... sebelumnya, ibu ingin berterima kasih karena telah menjadi salah satu murid ibu di kelas. Ibu tahu, rasa sakit dan pedihnya dirundung oleh banyak orang. Tapi, bukan begini caranya. Ibu tau kamu marah, ibu tau kamu kesal, tapi kamu kan bisa menyelesaikannya dengan pembicaraan. Jangan menggunakan kekerasan ...," ujar Bu Mai menjelaskan apa yang ia ingin ucapkan kepadaku. Hah ... masih berkaitan dengan masalah itu lagi.


"Ma-maaf, Bu." Ah sudahlah, aku tak mau berdebat lebih lama dengan masalah ini. Lebih baik aku minta maaf saja, iya kan?


Bu Mai menghela napas. "Hah ...


"Ai!" Suara seseorang dari belakang, ternyata itu Kak Hakuba. Bagaimana dia bisa ada di sini? Umm ... entahlah.


"Eekh? Sumimasen, Mai-sensei. Saya kira tak ada orang lain di sini," ungkap Kak Hakuba sambil tersenyum kecut.


"Hakuba? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Bu Mai.


"Itu, Bu Alta menyuruh saya untuk mengambil dokumennya. Katanya, ada di ruangan Bu Mai.

__ADS_1


"Hm? Dokumen apa?" Bu Mai terdiam sejenak. "Ahh, iya iya, ibu ingat. Sebentar ibu ambilkan. Tunggu sebentar ... Ai." Bu Mai beranjak dari kursinya untuk mengambil dokumen yang dimaksud oleh Bu Alta. Sementara itu, Kak Hakuba menepuk bahuku.


"Ai, apa yang kau lakukan di sini? Apa Bu Mai mengajukanmu lomba melukis?!" tanya Kak Hakuba seraya tersenyum ceria seperti biasanya.


"He? A ... ahh .... Ngg ... nggak kok Kak. Aku juga tidak tahu."


"Aigoo ... sayang sekali. Padahal lukisanmu itu selalu bagus lho. Jujur saja, kau adalah siswi terbaik yang ada di klub melukis," kata gadis yang kerap disapa Ha-chan oleh teman sekelasnya tersebut.


Aku terkejut mendengar itu, bagaimana tidak, Kak Hakuba mengatakan kalau lukisanku adalah yang terbaik di klub melukis kami. Ah, aku sangat senang. Tapi, kesenangan itu tidak bertahan lama.


Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa aku sangat senang mendengar ucapannya. Toh, itu tak dapat membuat semua orang menyukaiku.


"A ... arigatou, Hakuba-san."


Samar-samar terdengar suara langkah kaki dari dekat. Ternyata, itu Bu Mai. Wanita itu kembali sambil membawa sebuah map berwarna kuning. "Ini, Hakuba."


"Ah, terima kasih, Bu Mai. Baiklah, permisi, saya mau kembali ke kelas dulu." Kak Hakuba mencondongkan badannya sedikit ke depan. Ia lalu meneruskan, "Daah, Ai~"


Setelah itu, ia pun berjalan keluar dari ruang Bu Mai. Kini, kembali lagi, hanya aku dan Bu Mai di sini.


"Jadi, Ai ... tadi kita sampai dimana?" tanyanya. "Ah iya, Ai ... ibu ingin mengatakan ini kepadamu. Tadi, ibu mendapat perintah dari kepala sekolah. Beliau mengatakan kalau kamu ...."


\=•\=•\=

__ADS_1


Eitss, stoppp!!! Kira-kira, apa yang ingin dikatakan oleh Bu Mai? Pantengin new upnya ya!!! Tysm.



__ADS_2