Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 31 : Tak Sengaja


__ADS_3

...Terkadang ketidaksengajaan dapat berdampak buruk bagi orang lain....


...\=•\=•\=...


Tak terasa klub melukis hari ini telah berakhir. Ternyata, guru melukisku tidak seburuk yang kubayangkan. Pak Raito mengajar dengan sangat lembut. Kadang-kadang, dia menyelipkan sebuah candaan di tengah-tengah materi agar suasana belajar mengajar menjadi menyenangkan.


Aku dan Rin berjalan keluar bersama sambil membawa tas tentunya.


"Etto ... Rin ...." Aku menghentikan langkahku dan memanggil Rin.


Rin pun seketika menghentikan langkahnya dan memutar 180 derajat badannya. "Hm?" Rin mengangkat kedua alisnya. "Ada apa, Ai?" lanjutnya bertanya.


"Haa? A-ah tidak tidak. Itu ... tidak ada apa-apa hehe ...." Sebenarnya, aku ingin meminta kembali pensil yang dinjam oleh Rin tadi. Tapi, kurasa tidak perlu. Biarkan sajalah, lagipula Rin juga telah banyak membantuku.


Setelah mendengar tanggapanku yang berlogat gelagapan, rasa curiga pun muncul pada dirinya. Ya, itu terlihat dari keningnya yang mengernyit. "Aigoo ... jika ingin mengucapkan sesuatu, maka ucapkan saja. Jangan bermain rahasia rahasiaan seperti ini. Aku tidak suka tahu ...." Rin merangkul leherku erat hingga aku nyaris jatuh.


Aku kembali mengeluarkan 'jurus pamungkas' yang kugunakan untuk mengelak. Yah, aku menunjukan senyuman terpaksa. "Sungguh, tidak ada apa-apa, Rin. Aku hanya ingin memanggilmu, itu saja," ujarku mengarang cerita untuk menutupi kebenaran.


Rin mengendurkan rangkulannya. "Emm ... baiklah jika memang seperti itu. Tapi, lain kali kalau kamu ingin mengucapkan sesuatu padaku, ucapkan saja. Tak perlu sungkan. Aku tidak akan marah ... mungkin hehe ...." Seraya menggaruk-garuk bagian kepalanya, Rey tersenyum lebar.


"Hm hm!" Aku menganggukan kepalaku dua kali untuk mengiyakan Rin.


Pada saat yang bersamaan, terdengar suara langkah kaki manusia bersaut-sautan dari jarak yang tidak jauh dari tempat kami berada. Aku dan Rin pun refleks berbalik dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di sini. "Hah?!" Betapa terkejutnya kami saat mengetahui bahwa suara langkah kaki itu adalah suara langkah kaki Rey dan Ryuji yang tengah berkejar-kejaran.


"Oy, berhenti dasar sialan!" Rey berteriak kencang. Sepertinya, dia sedang memperingatkan Ryuji agar berhenti berlari. Tapi, kenapa Rey menyebutnya 'sialan'. Sebuah hal buruk baru saja terjadi, aku yakin itu.


Namun, bukannya berhenti, Ryuji malah menambah kecepatan larinya. Alhasil, dia pun berhasil melebarkan jaraknya dengan Rey. Sesekali dia menengok ke belakang untuk mengecek keadaan Rey.


Saat Ryuji berlari, pandangannya tertuju kepada kami. Dia pun bergegas mengubah arah larinya, menuju tempat kami berdiri saat ini. "Rin Rin ... Ai ... tolong lindungi aku." Ryuji berjongkok di belakang kami berdua. Dia tampak sangat ketakutan.


"Ryuji? Ada ap–" Belum selesai Rin berbicara, aku lebih dulu menyahut, "RYUJI! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Aku memegangi bagian belakang rokku dan memukuli kepalanya. Baru saja, aku merasa bahwa dia sedang memegangi rok bagian belakangku.


"Aduh ... sakit ... eeee ... aku minta maaf, Ai. A-aku tidak sengaja, ha-hanya saja. Re-Rey ... dia ... hii ...." Ryuji membenamkan seluruh tubuhnya di balik tubuhku dan Rin.

__ADS_1


"Rey? Kenapa? Ada ada dengan Rey?!" Aku melontarkan pertanyaan berkali-kali agar rasa penasaran ini dapat terbayarkan.


Ryuji perlahan mulai mendongak. "Di-dia–" Lagi lagi, belum selesai dia bicara, seseorang lebih dulu memotong pembicaraannya. "Hei! Jangan bersembunyi di sana! Cepat keluar!" Rey berteriak memperingatkan Ryuji sekali lagi. Namun, kali ini bukan peringatan untuk berhenti berlari, melainkan peringatan untuk keluar dari balik badan kami.


"Rey, aku benar-benar tidak sengaja tadi. Aku minta maaf!" ungkap Ryuji ketakutan.


"Hei! Gara-gara ketidaksengajaanmu, aku menjadi bahan tertawaan di klub musik kau tahu? Cepat, kau harus membayar semua perbuatanmu!" bentak Rey dengan nada marah, kesal, sekaligus penuh dendam.


Ryuji semakin ketakutan di belakang. "Rey, maafkan aku!" Laki-laki bermarga Tashibara ini meminta maaf kepada Rey berkali-kali. Sebenarnya, apa yang terjadi di sini?!


Rey mengepalkan tangannya dan kemudian berjalan maju menuju tempat Ryuji berada. "Baiklah. Jika kamu tidak mau menyerahkan diri, maka aku akan membawamu paksa!" ancam Rey seraya berjalan mempersingkat jaraknya dengan Ryuji.


"Rey ... apa yang ingin kau lakukan?!" Ryuji mengintip ketakutan dari balik badan Rin.


Rey tersenyum sinis. "Entahlah. Mungkin, aku akan menjadikanmu makanan harimau," ancam Rey menakut-nakuti Ryuji.


"Ha?!" Ryuji terkejut.


"HAAA?!" Setelah mendengar ancaman Rey, Ryuji malah semakin terkejut.


"Hihihi ... ayo kita ke kandang singa, Tashibara Ryuji!" Tangan Rey hendak menarik kerah baju Ryuji. Namun, aku lebih dulu mencegah Rey.


Aku memegang tangan Rey, seraya bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi, Rey? Kenapa Ryuji ketakutan seperti itu? Dan kenapa kamu malah berkejar-kejaran dengannya?!" Kini, aku melontarkan banyak pertanyaan kepada Rey. Aku ingin memastikan ketidak jelasan ini.


Rey menatap mataku sayu. "Hah ...." Kemudian, dia pun menghela napas. "Ryuji telah mempermalukanku di klub musik. Jadi, aku ingin membalasnya!" sinis Rey.


"Tapi aku tadi tidak sengaja!" sahut Ryuji dari belakang badan kami.


"Sengaja atau tidak, aku tak peduli. Kamu telah mempermalukanku!" geram Rey.


Mereka berdua kembali berdebat tentang masalah ini. Sementara aku dan Rin hanya menyimak saja, karena kami tidak tahu akar permasalahannya. Namun, lama kelamaan, telinga ini menjadi kesal saat mendengar perdebatan mereka. Aku menutup telingaku, berusaha untuk meredam suara bising perdebatan ini, tetapi sayangnya, aku tidak bisa. "DIAAAAAM!" Aku berteriak, "SUDAH, CUKUP! Rey, bisa jelaskan kenapa kamu dan Ryuji bertengkar?!" Aku bertanya sekali lagi.


Namun, Rey, Ryuji, dan bahkan Rin, terdiam. Mereka mengedipkan mata dua kali. "Ba-baiklah, aku akan menceritakannya," ujar Rey.

__ADS_1


Flashback Rey on


"Baiklah, hari ini, bapak ingin mendengar salah satu murid klub musik SMA TOKYO, bermain piano. Adakah di sini yang suka bermain piano?" tanya guru klub musik.


Semua murid pun seketika terdiam. Namun, dengan rasa yakin, Rey mengangkat tangannya. "Saya, Pak!"


"Hm? Wah ... bagus bagus. Jarang sekali ada murid yang mau maju dan menjukan bakatnya. Siapa namamu, Nak?" tanyanya lagi.


"Rey ... Tachibana Rey," ucap Rey memperkenalkan diri.


"Baiklah, Rey. Silakan maju ke depan dan tunjukan bakatmu, bapak ingin melihatnya!"


"Baik, Pak!" Rey beranjak dari kursinya dan berjalan menuju piano yang telah disediakan.


Tap ... tap ... TAP ...


Rey menghentikan langkahnya saat mengetahui bahwa dia telah berdiri di depan kelas.


"Semuanya, kita akan mendengarkan permainan piano Rey. Kalian, perhatikan baik-baik, ya!" tegas pria itu. "Silakan, Rey!" Pria itu mempersilahkan Rey untuk bermain piano.


"Terima kasih, Pak!" Rey duduk di kursi piano dan memposisikan badannya agar bisa bermain dengan nyaman.


Saat sudah merasa nyaman, barulah Rey memainkan musik pianonya. Seperti biasa, musik piano Rey terdengar sangat luar biasa. Semua pandangan berpusat kepadanya. Namun, melodi memanjakan telinga itu seketika berhenti, tatkala sebuah karet gelang berwarna merah semu coklat mengenai sudut mata Rey.


Nada piano yang dimainkan oleh Rey langsung acak-acakan. Semua murid yang tadinya terpesona, malah menjadi tertawa. Rey merasa sangat malu karenanya. Ternyata, orang yang melakukan hal tadi adalah ... Ryuji.


Flashback Rey Off


"Jadi begitu ceritanya ...," lanjut Rey dengan nada bicara lesu. Aku dan Rin berbalik dan menatap Ryuji.


"Ryuji ...," panggilku dan Rin bersamaan dengan suara lirih.


"AAAKU MINTA MAAF!" teriak laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2