Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 12 : Jalan-jalan?


__ADS_3

...Kenapa kamu selalu membuatku tersipu malu? Bisa-bisa wajahku akan berubah menjadi warna merah nanti!...


...\=•\=•\=...


Setelah cukup lama aku dan Rey mencari, akhirnya kami berdua menemukan klub melukis. Aku menghela napas lega. Kami berdua kemudian berjalan mendekati klub tersebut untuk melihat-lihat.


Saat baru mendekat beberapa, langkah, aku langsung disuguhkan sebuah lukisan yang sangat indah nan memukau. Keseimbangan antar objek yang dilukis terlihat sangat teratur dan seimbang. Kemudian, warna gradasinya tampak sangat mendukung gambar tersebut. Mataku langsung terbuka dan berbinar. I-ini adalah sebuah mahakarya yang sangat hebat.


Saat sedang sibuk mengagumi lukisan indah ini, tiba-tiba terdengar suara seseorang menyahut.


"Halo semuanya! Kalian lihat lukisan ini? Orang yang membuatnya adalah Rika Tashibara. Sekedar informasi, dia adalah salah satu anggota berprestasi di klub melukis ini, lho! Kalian mau menjadi seperti dia bukan? Tenang, kami akan membantu sepenuh hati agar kalian bisa menjadi pelukis terkenal. Jadi, tunggu apalagi? Ayo segera mendaftar!" Lagi-lagi seorang gadis dengan seragam sekolah sedang menjelaskan serba-serbi tentang klub. Terutama tentang kelebihan fasilitas dan keunggulan prestasi.


"Jadi ... Ai, kamu ingin mendaftar di klub ini tidak?" tanya Rey yang berhasil membuyarkan lamunanku.


"Hm? A-ah i-itu. Hah ... aku masih belum tahu. Apa aku cocok dengan klub ini? Jika aku malah merusak prestasi mereka bagaimana?" Tiba-tiba aku merasa tidak percaya diri saat melihat lukisan tadi. Aku memang bisa melukis, tapi tidak bisa sampai seperti itu. Aku menatap lukisan tadi lagi dengan wajah sendu.


"Ai ... aku yakin kau pasti bisa. Alasan kita masuk ke dalam klub adalah untuk mengembangkan bakat kita. Kita memang datang sebagai pemula. Namun, jika kita bersungguh-sungguh dalam belajar, maka kita bisa menjadi seorang profesional nantinya. Ciaah ... kalimatku terasa seperti tidak pas, deh. Sepertinya, aku memang tidak cocok untuk menjadi seorang penyair haha ...," ujar Rey yang memberikanku semangat untuk sekian kalinya. Dia selalu berada di sisiku untuk memberi semangat dan membuka mataku lebar-lebar, agar bisa mengerti arti dari hidup yang sebenarnya. Terima kasih, Rey.


"Hmm ... baiklah kalau begitu. Aku akan memilih klub melukis saja," ungkapku dengan yakin.


Rey memegang kepalaku dengan menggunakan tangan kanannya. "Nah, begitu ... itu adalah sikap Ai Mizhunashi yang kukenal selama ini. Baiklah, sebaiknya kamu segera mendaftar, sebelum antriannya menjadi semakin panjang. Aku akan menunggumu di sini, tenang saja ...," ujar Rey.


Aku menganggukan kepalaku seraya tersenyum, menandakan bahwa aku telah mengerti.

__ADS_1


Pada akhirnya, aku memutuskan untuk mendaftar di klub melukis ini. Aku berjalan ke arah panitia yang sedang duduk sambil melayani murid-murid yang ingin mendaftar. Satu per satu siswa maupun siswi telah mendaftar. Antriannya pun mulai menyingkat. Setelah sekitar 30 menit aku menunggu, akhirnya tiba giliranku untuk mendaftar.


"Permisi, kak. Saya mau mendaftar masuk ke dalam klub," ucapku kepada seorang siswi yang kira-kira lebih tua 2 tahun dariku. Atensiku teralihkan pada bagian kanan dadanya. Bukan kepada hal-hal yang aneh. Perhatianku tertarik kepada tulisan 'Nakano Tamari'. Mungkin, itu adalah nama siswi tersebut.


Dia menoleh ke arahku. "Ah ... baiklah. Silahkan isi identitas dirimu di sini. Sertakan tanda tanganmu juga, ya! Terima kasih," ujarnya memberikan instruksi. Tadinya aku memang sedikit bingung. Namun ketika dia memberi arahan, aku pun menjadi tidak bingung lagi.


Aku meraih pena yang telah disediakan dan mulai mengisi identitas dan lalu membuat tanda tangan. Setelah selesai, aku menutup pena berwarna hitam itu lagi.


"Baiklah ... kamu bisa mulai ikut klub besok. Kami biasanya akan mengadakan kegiatan di klub ini setiap hari, setelah jam pelajaran sekolah berakhir. Jadi, jangan lupa, ya!" ucapnya sambil tersenyum.


Aku mengangguk sambil tersenyum pula. Aku kemudian berlari menghampiri Rey.


"Bagaimana? Sudah selesai?" tanya Rey dengan posisi kedua tangan dimasukan ke dalam saku celananya.


"Kalau begitu, ayo kita pulang!" ajak Rey. Tanpa basa-basi, dia langsung menarik tanganku menuju tempat parkir.


"Ee-eh Rey ...." Aku menghentikan laju jalannya saat kami sampai di depan motor.


Perhatianku langsung tertarik kepada motor sport berwarna hijau yang kini sedang terparkir di depan Rey. Bukankah setiap hari Rey selalu berjalan kaki untuk pergi maupun pulang.


"Kenapa, Ai?" tanya Rey mengambil helmnya dan bersiap untuk memakainya.


"Motor siapa ini, Rey? Dan kenapa kamu menyeretku kesini? Katamu, kau ingin pulang," tanyaku balik dengan ekspresi bingung.

__ADS_1


"Ini motorku." Namun, Rey hanya menjawab pertanyaan pertamaku dan sepertinya mengabaikan pertanyaan keduaku. Dia memberikan helm kepadaku, seraya berkata, "Pakai ini! Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat dulu!"


"Ta-tapi, Rey ... a-aku—" Aku belum menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba saja Rey langsung menutup mulutku dengan jari telunjuknya. "Ssttt ... sudahlah. Aku tidak akan berbuat aneh-aneh kepadamu. Jadi jangan takut, ya!" ujarnya sambil memakai helm dengan warna merah mendominasi disertai beberapa garis putih.


Pada akhirnya, aku pun menuruti permintaannya. Meskipun aku tidak mengetahui alasan, mengapa Rey mengajakku secara tiba-tiba begini. Aku meraih helm berwarna merah muda dengan motif bunga sakura itu dari Rey dan kemudian memakainya di kepalaku.


Setelah selesai memakai helm, aku menaiki motor sport milik Rey. Bagian *body* motornya terlihat masih mengkilap, mungkin Rey baru membelinya.


"Sudah siap, Ai?" tanya Rey memastikan.


"Su-sudah," jawabku spontan.


Padahal aku sudah mengatakan bahwa aku sudah siap. Namun, Rey tak kunjung menyalakan mesin motornya.


"Pegang pinggangku agar kamu tidak jatuh!" suruh Rey dengan posisi kepala berbalik dan menatapku.


"Heee ... bu-bukannya aku tidak mau, ta-tapi—" Lagi-lagi, sebelum aku menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba saja Rey menyahut, "Sudahlah, aku hanya tidak ingin kamu jatuh saat kita sedang dalam perjalanan nanti."


"E-ee ... haahh ... baiklah." Tak ada pilihan lain lagi. Perlahan, tanganku mulai bergerak. Yang tadinya sedang memegang bagian belakang motor, kini mulai mendekati pinggang Rey. Aku kemudian merangkulnya dengan erat.


Kalian sudah bisa menebaknya bukan? Saat berada di dekatnya saja pipiku sudah memerah. Apalagi merangkul pinggangnya seperti ini. Seluruh wajahku langsung menjadi merah karena tersipu malu.


"Nah begitu lebih bagus. Aku merasa lebih baik eehhh ... maksudku aku tidak perlu khawatir kau akan jatuh lagi hehe," ucap Rey dengan diiringi tawa kecil di akhir.

__ADS_1


Rey lalu memutar kunci motornya ke arah kanan. Setelah mesin motor menyala, Rey pun memposisikan tangan kanannya di bagian gas. "Ya ... kita sudah siap, kalau begitu ayo!" Rey mulai menjalankan motor kerennya tersebut dengan kecepatan pelan dan sedikit demi sedikit mulai bertambah cepat.


__ADS_2