Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 52 : Mungkinkah, Ini Adalah Akhir?


__ADS_3

...Percayalah kepada Tuhan, semua yang direncanakan olehnya adalah yang terbaik untukmu. –Rey Tachibana (Best Boy)...


...\=•\=•\=...


Keesokan paginya, aku berjalan menuju sekolah seperti biasanya. Entah kebetulan atau memang sudah direncakan, tiba-tiba Rey datang dan menghampiriku menggunakan motornya.


"Ai!" panggilnya.


Aku menengok ke arah sumber suara. "Ah, RE-" Saat hendak menanggapi sapaan Rey, aku malah teringat kembali dengan ucapan Reina kemarin yang mengatakan bahwa aku harus menjauh dari Rey atau aku akan dikeluarkan dari sekolah.


Ya, sebaiknya, hari ini, aku harus mulai menjauh dari Rey sedikit demi sedikit.


Rey mengurangi kecepatan motornya dan kemudian berhenti di tempatku berada. "Ohayou, Ai!" sapanya.


"O-ohayou ...." Aku membalas sapaannya dengan penuh keraguan.


Reaksiku membuat Rey yang awalnya tersenyum berseri-seri, mendadak menjadi murung. "Ai, apa kau sedang sakit?" tanyanya.


"Eh? Ti-tidak kok ... a-ku hanya ...." Aku tidak fokus, pandanganku teralih ke sekitar untuk memastikan bahwa Reina tak ada di sini.


"AI?!" Rey mengejutkanku.


"Eh? I-iya? ... aa-ah, emm ... aku ke kelas lebih dulu, ya, Rey? Aku sedang buru-buru. E-emm ...," ujarku kemudian meninggalkan Rey di tempat.


Meskipun aku tak melihat kalau Reina ada di sekitar sini. Tapi tetap saja, dia adalah gadis yang kaya raya. Semua anggota keluarganya adalah orang berpengaruh di Jepang. Yang kutahu, orang tuanya memiliki sebuah agensi Vtuber bernama 'Sakura'. Agensi milik kedua orang tuanya adalah salah satu agensi Vtuber yang terkenal. Bahkan, sudah membuka banyak cabang di berbagai negara. Maka dari itu, aku tak heran sih jika dia memiliki apa yang orang lain tidak miliki.


Eh? Kenapa aku malah membahas perusahaan keluarganya? Padahal memikirkannya saja sudah membuatku kesal.


\=•\=•\=


Di kelas, aku duduk di bangkuku seperti biasa. Melihat keluar melalui jendela kelas sambil termenung. Aku memikirkan bagaimana kelanjutan kisah kami berdua.


Apakah kami akan hidup bahagia?


Atau malah sebaliknya?


Emm ... kurasa, jika Rey hidup bersama Reina ... maka hidupnya pasti akan bahagia.


Ya, kurasa Rey akan bahagia karena dia memiliki pacar seorang gadis yang terkenal dan kaya raya. Bukan gadis yang kelam, selalu dibenci, dan penyendiri sepertiku.


Tapi ... tetap saja ... aku sudah terlanjur menyukai Rey. Meninggalkannya pasti akan membuatku sedih sesedih-sedihnya. Eekhh, aku tak bisa berhenti memikirkan hal ini.


Ai, berhenti memikirkan ini! Pikir yang lain!


Hah ...


Lama kelamaan, aku malah semakin merasa sedih saat memikirkan hal ini. Rasanya seperti ... kau tahu ... mataku seperti ingin menangis dan mengeluarkan air mata. Tapi, aku menahannya. Memalukan jika aku menangis di depan para siswa.


Aku memutuskan untuk menenggalamkan wajahku di sela-sela kedua tangan. Lebih tepatnya, menyenderkan kepala kurasa.


Tap! Tap! Tap!


Aku mendengar suara langkah kaki seseorang datang untuk menghampiriku. Tak perlu mendongak pun aku sudah tahu kalau dia adalah Rey.


"Hei, sepertinya kau memang sedang sakit, Ai. Apa mau kuuantar ke UKS?" tawar Rey.

__ADS_1


Mendengar tawarannya yang agak sedikit tidak sesuai pikiranku, aku pun langsung mengubah posisiku menjadi duduk lagi. "Ti-tidak usah, aku tidak sakit kok. Hanya sedikit ... me-ngan-tuk ... iya, mengantuk."


"Hm? Kenapa kau mengantuk?Memang kau begadang kemarin?"


"Eh? Ti-tidak. Entah kenapa aku merasa mengantuk saja," jawabku sembari tertawa kecil agar kebonganku tidak terlalu tampak. Mungkin ... berhasil.


"Ooh, baiklah jika kamu benar-benar mengantuk. Tunggu sebentar!" Dia beranjak dan lalu mengangkat kursi yang digunakan untuk tempat duduknya tadi.


"Apa yang ingin kau lakukan, Rey?" Aku bertanya kepadanya.


Namun, dia tidak menjawab pertanyaanku. Laki-laki itu hanya berjalan ke sampingku sambil membawa kursi tadi.


"Nah." Dia menaruh kursinya di sampingku kemudian mendudukinya.


"Baiklah. Sandarkan kepalamu di bahuku dan tidurlah!" suruh Rey.


"... he?!" Saat mendengar perkataannya barusan, tentu saja aku terkejut. "Apa maksudmu, Rey?" tanyaku bingung.


"Bukankah sudah jelas? Sandarkan kepalamu di bahuku dan tidurlah. Aku tidak ingin melihat pac–em maksudku sahabatku tidur di meja seperti itu," ucap Rey menerangkan. "Jangan takut, jika guru memarahimu, serahkan semua kepadaku!" sambungnya.


"Bu-bukan begitu, Rey ... kau tak mengerti apa yang aku takutkan–"


"Sudahlah, ikuti saja apa yang aku katakan. Lagipula, ada yang ingin kuceritakan kepadamu. Itu, tentang kemarin." Sembari mendorong kepalaku untuk bersandar di bahunya, dia mengatakan bahwa dia ingin menceritakan tentang kejadian yang dialaminya kemarin.


Ah iya, aku baru ingat, kemarin Rey mengatakan kalau dia ingin bercerita tentang kejadian yang dialami kemarin.


"Kau mau mendengarkan ceritaku, 'kan, Ai?"


"I-itu ...." Aku kembali teringat ucapan Reina.


Hah ...


Rey, bukannya aku ingin membencimu atau apa, tapi ... aku tidak ingin dikeluarkan dari sekolah hanya karena masalah seperti ini. Dan juga, kurasa jika kau memiliki pacar seperti Reina, kau akan jauh lebih bahagia. Jadi, aku akan mulai menjaga jarak darimu.


"I-itu ... Rey, maaf ... tapi hari ini aku ingin sendiri dulu. Tolong jangan menggangguku, ya?" Aku tersenyum kepada Rey dengan senyuman yang menyimpan rasa sedih dan bingung.


Setelah melihat aku yang tersenyum seperti ini, Rey pun menatapku dengan serius. Aku sudah tahu kenapa dia menatapku seperti itu.


"Kau sedang sedih, ya?" tanya Rey.


Ya, seperti dugaanku, dia pasti mengetahui bahwa aku sedang sedih.


Aku menganggukan kepalaku, seraya berkata, "Kau sudah tahu itu, Rey. Aku memang tak bisa berbohong soal hal ini," jawabku sambil mempertahankan senyuman 'palsu'ku.


Rey menghela napas. "Hah ... apa ibumu melakukan hal buruk lagi? Aku tahu ibumu itu ya mungkin agak sedikit berbeda. Tapi, sabarlah, Ai. Semua ibu di dunia ini tak ada yang pernah menyakiti anaknya lebih dari batasan wajar. Percayalah!" ujar Rey memberikan pengertian kepadaku.


"Re-Rey, bukan itu ... hah ... terima kasih sarannya, Rey. Tapi, aku ingin sendiri dulu." Aku melepaskan sandaran kepalaku dari bahu Rey.


"Baiklah. Jika kau sudah seperti ini, apa boleh buat .... Ya sudah, aku akan pergi ke bangkuku saja. Lagipula, ini juga sudah mau masuk jam sekolah." Dia melirik jam dinding yang menempel di depan kelas. "Daah, Ai~" Rey berpindah tempat ke bangku yang ada di sampingku. Ya, itu bangkunya.


"Rey, bangkunya belum kau kembalikan ...," kataku sambil menunjuk bangku yang diduduki oleh Rey tadi.


"Eh, lah iya ... lupa hahaha ...."


Laki-laki itu berdiri lagi dan mengembalikan kursi yang tadi dia gunakan. Tapi, tiba-tiba dia berubah ... ya berubah. Mendadak, Rey mengangkat kursinya tinggi-tinggi dengan satu tangan sembari menatapku. Em, entah itu pamer atau melucu. Yang pasti, dia sedang melakukan hal yang berbahaya saat ini.

__ADS_1


"Rey, jangan melakukan itu ... nanti kursinya jat–"


Brak!


Belum selesai aku berbicara, akan tetapi sebuah kejadian buruk menimpa Rey. Sesuai yang ingin aku katakan, kursi yang dipegang oleh Rey jatuh dan menimpa kepalanya denga keras. Bahkan suaranya terdengar sangat kencang. Untung saja kursinya tidak apa-apa.


"Aduh, sakit ...." Dia memegangi kepalanya yang kesakitan.


"Hihihi ... HAHAHAHA!" Tak bisa kutahan, tawaku meledak begitu saja.


Aku tak tahu, mungkinkah ini adalah hari kebersamaan terakhir bagi kami?


Apakah ini adalah tawa terakhirku?


Entahlah, aku hanya bisa berharap kepada Tuhan. Tak banyak, hanya satu yang kupinta ... kebahagiaan.


Ya, aku hanya meminta kebahagiaan.


Meskipun jika memang aku tidak bisa bersama Rey ...


...\=•\=•\=...


Rin : "Allahu Akbar~ Allahu Akbar~ Allahu Akbar~ Lailahaillallahu Allahu Akbar~ Allahu Akbar Walillahil Hamd~"


Ai : "Etto ... kamu lagi nyanyi kah, Rin?"


Rin "Hm? Oh, bukan Ai ... aku sedang mengucap takbir. Atau biasanya disebut Takbiran kalau di negaraku."


Ai : "Ohh begitu ...."


Rin : "Kamu mau ikut ngucapin buat temen-temen?"


Ai : "Ngucapin apa, Rin?"


Rin : "Besok adalah hari raya idul fitri, hari rayanya umat muslim. Jadi, kamu mau ikut ngucapin selamat buat temen-temen kita yang muslim nggak?"


Ai : "Waaahh, pasti! Aku tau cara ngucapinnya kok. Aku sering lihat di internet."


Rin : "Ok, semua ikut juga ya!"


All : "Siap!"


Rin & All : "Kami segenap keluarga beaar novel Aishiteru mengucapkan, Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin! Yatttaaa!!"


Miku (Si Othor) : "Nah, mantap, Minna-san!"


\=•\=•\=


Miku mewakili semua mengucapkan, mohon maaf yang sedalam-dalamnya. Kalo diitung itung itung sih, banyak bat dosa Miku itu. Makanya, Miku minta maaf banget ya, maafin ya?


Btw Miku punya hadiah nih, ini :



Gimana gambarnya ges? Bagus nggak?Semoga aja kalian suka sih. Ini bisa dipanggil semacam 'Wallpaper' sih awokawok. Ya udahlah, itu aja. Sekian dan terima kasih! >.<

__ADS_1


__ADS_2