Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 8 : Kizuha Teshigawara


__ADS_3

...Setiap guru memiliki karakter yang berbeda-beda. Layaknya murid-murid...


...\=•\=•\=...


Hampir semua siswa dan siswi di kelasku terlihat sedang mengerjakan tugas matematika dari Bu Mai tadi. Ada yang sedang menghitung, menulis, dan ada pula yang tertidur.


Kringg ...


Bunyi bel tanda ganti pelajaran telah menggema di seluruh sekolah. Tepat pada saat itu, aku sudah selesai mengerjakan tugasnya.


"Baiklah anak-anak, bel sudah berbunyi. Siswa yang tugasnya sudah selesai, bisa dikumpulkan sekarang. Bagi kalian yang tugasnya belum selesai, maka selesaikan di rumah, ya. Nanti dikumpulkan minggu depan. Baik, sekian dulu pelajaran hari ini. Semoga kalian bisa memahami materi yang diterangkan oleh ibu tadi. Kita sudahi dulu pelajaran di pertemuan kali ini, sekian," kata Bu Mai mengakhiri pelajaran matematika hari ini.


“Terima kasih, Bu!" jawab semua siswa bersamaan.


"Ah iya, jangan lupa untuk memilih klub yang kalian inginkan, ya!" ujar Bu Mai mengingatkan tentang pemilihan klub itu lagi.


“Iya, Bu!" jawab murid-murid singkat.


Bu Mai menganggukan kepala dan kemudian berjalan pergi meninggalkan kelas. Sepeninggal Bu Mai, kelas pun langsung berubah menjadi ricuh.


"Ah ... akhirnya pelajaran sulit ini selesai!" ucap salah satu siswi berambut pirang yang duduk di sebelahku. Dia adalah Nina Tamari, gadis keturunan Amerika-Jepang. Kedua orang tuanya adalah orang yang sangat berpengaruh di bidang bisnis. Lebih tepatnya bidang teknologi dan komputer.


Keluarganya adalah keluarga kaya raya. Ayahnya adalah orang terkaya ke-3 di Asia. Maka dari itu, dia terkenal agak sombong dan terkesan merendahkan orang-orang yang dianggapnya buruk. Tak ada yang berani mengusiknya.


"Benar ... otakku terasa seperti mau meledak huftt ...," sahut siswi lainnya yang duduk di depan Nina. Dia adalah Hori Yukihara, seorang gadis sederhana yang tidak memiliki keistimewaan apapun. Gadis yang karib disapa Hori itu bukanlah anak dari keluarga berada. Namun, semenjak dia bersahabat dengan Nina, Hori pun menjadi ketularan angkuh. Ya ... mungkin karena sifatnya yang sedikit tomboy.

__ADS_1


“Eh ngomong-ngomong, kamu sudah mikir klub apa yang mau kamu pilih belum, Na?" tanya Hori dengan posisi duduk terbalik sambil menatap Nina.


“Umm ... aku masih belum tahu, sih. Tapi mungkin, aku akan memilih klub sastra. Karena aku suka membuat puisi dan membuat syair, kalau kamu?" ujarnya dengan logat berbicara orang Amerika. Nina balik tanya kepada Hori.


Hori menundukan kepala dan lalu menyangga dengan menggunakan kedua tangannya. "Entahlah, aku masih bingung. Kau tahu, 'kan kalau aku tidak memiliki kelebihan apapun? Jangankan berolahraga, dalam bidang akademik pun aku buruk. Huh ...," keluh Hori sembari menghela napas berat.


“Ai!" panggil seseorang dari belakang sambil memegang bahuku. Aku pun refleks berbalik karena merasa geli. Ternyata, orang yang memanggilku tak lain dan tak bukan adalah Rey sendiri.


“Ah ternyata kau, Rey. Ada apa?" tanyaku.


Rey menarik kembali tangannya. "Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, kamu sudah memutuskan klub yang ingin kamu masuki belum?" Rey balik bertanya.


Aku terdiam sesaat. "Belum, aku belum memutuskan klub apa yang ingin aku pilih. Toh semua klub sama saja, sama-sama menyiksaku. Mereka akan selalu memaksaku untuk melakukan perintah mereka. Huh ... sebenarnya a-aku takut, orang-orang itu akan sama mengerikannya dengan para siswa di kelas ini ...," ujarku lirih.


Sejak kematian ayah, aku mulai menutup diri dari dunia luar. Setiap hari aku menjalani hari-hari kelam di rumah. Namun, aku rasa itu lebih baik daripada bersosialisasi dengan orang luar. Kadang, saat aku baru pulang dari toko untuk membeli barang, tiba-tiba saja teman laki-laki masa kecilku datang dan menggangungguku.


Setelah mendengar pernyataanku, Rey langsung menampakan senyuman manisnya. "Ai, dengarkan aku! Tidak semua orang di luar itu adalah orang jahat. Mungkin karena kamu selalu bertemu orang-orang jahat di lingkunganmu, sehingga kamu trauma dan mengatakan bahwa dunia luar itu menyeramkan. Orang-orang di sini adalah pembunuh, begitu kah ...?" ujarnya memberiku nasihat dan melanjutkan, "kau harus merubah pikiranmu. Tidak semua orang di luar itu jahat. Jika ada yang berani-berani mengganggumu, maka aku akan memastikan dia masuk UGD seperti para preman itu ...."


Sontak aku langsung terdiam. Setiap kata yang diucapkan oleh Rey tadi berhasil mengetuk pintu hatiku. Pikiranku langsung berubah, seolah ingin berganti memori. Aku melihat sekeliling, para siswa dan siswi sedang tertawa dan bersenda gurau di tengah-tengah jam kosong pelajaran Bahasa Jepang. Aku berdecak kagum. Ternyata, dunia ini tidak menyeramkan seperti apa yang aku pikirkan. Kurasa, aku telah berlebihan dalam menilai.


“Rey ...," seruku memanggil nama Rey dengan suara lirih.


Saat aku memanggil namanya, dia langsung menatap wajahku. "Ada apa, Ai?" tanya Rey.


"Terima kasih ...," ucapku berterimakasih dengan suara pelan.

__ADS_1


"Hm? Untuk apa?" tanya Rey lagi yang sepertinya masih belum bisa mengerti sepenuhnya, arti dari ucapan terimakasihku.


“Untuk—" Belum selesai aku berbicara, tanpa diduga-duga, Bu Kizuha Teshigawara—guru Bahasa Jepangku, masuk ke dalam kelas. Dia terlihat sedang membawa lembaran kertas putih polos. Haihh ... perasaanku menjadi tidak enak.


Saat melihat kedatang Bu Kizuha, semua siswa di kelas pun langsung berlari menuju bangkunya masing-masing.


"Ohayou, Minna!" sapa wanita yang karib disapa Bu Kizuha oleh para siswa itu dengan suara nyaring dan tegas.


Bu Kizuha memang terkenal dengan kegarangannya. Meski dia masih tergolong guru baru, karena dia baru pindah kesini beberapa tahun yang lalu. Sudah banyak murid kelas ini yang terkena hukumannya. Selain itu, dia juga tak kenal belas kasihan kepada siswa-siswi pembuat onar. Dia memperlakukan semuanya sama. Bahkan, anaknya sendiri pun, dia hukum.


"O-ohayou, Ki-zuha sensei ...!" Semua menjawab dengan lirih dan terbata-bata. Tidak heran, sih ... mereka memang selalu begini setiap pelajaran Bu Kizuha. Mereka sudah terlanjur takut dengannya. Begitu juga denganku.


“HEI!" teriaknya sambil menggebrak meja seorang siswa yang duduk paling depan. "KENAPA KALIAN SELALU MENJAWAB DENGAN NADA KETAKUTAN SEPERTI ITU? APA KALIAN TAKUT DENGANKU?!" lanjutnya bertanya dengan membentak.


Semua langsung terdiam. Suasana kelas mendadak langsung berubah menjadi sunyi. Aku meneguk salivaku sambil memain-mainkan jari.


“KAMU! APA KAU TAKUT DENGANKU?!" tanya Bu Kizuha kepada Yujin, siswa yang duduk di meja paling depan dengan posisi badan membungkuk.


“Ti-tidak, Bu ...," jawabnya gemetar ketakutan.


Bu Kizuha merubah posisi badannya menjadi tegak lagi. "Hmm ... sudahlah lupakan saja. Jika aku masih meneruskan ini, maka pelajaran tidak akan dimulai," ucapnya kesal. "Buka buku paket kalian, halaman 158. Materi tentang penggunaan kata 'ore' dan 'watashi'," sambungnya.


Aku dan semua murid langsung mengambil buku paket Bahasa Jepang dan membuka halaman yang dimaksud.


"Baiklah ... kemarin kita telah sampai di materi huruf kanji. Sekarang kita akan ganti ke materi bab selanjutnya. Penggunaan kata ganti 'ore dan watashi'," ujarnya.

__ADS_1


Kemudian, Bu Kizuha mulai menerangkan materinya. Sering kali dia menulis di papan tulis dan memerintahkan kami untuk mencatat.


__ADS_2