Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 21 : Nakamura Rin


__ADS_3

...Tunggu dulu ... dia terlihat sedikit berbeda dari orang-orang lain....


...\=•\=•\=...


"BA-BAKAAAA!" Aku berteriak dengan suara kencang seraya memegangi bagian bibirku yang masih merasakan bekas ciumannya. "R-Rey ... kenapa kau menciumku secara tiba-tiba seperti itu?!" tanyaku kesal dan bersiap untuk meledakkan amarah saat dia selesai mengucap jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan olehku ini.


Dia berhenti meneguk air putih kemasan yang sedari tadi dia pegang. "Hah ... leganya ... emm ... maaf, kau bilang apa tadi?" tanya Rey yang sepertinya pura-pura tidak tau.


Aku terdiam dan tidak menjawab pertanyaannya agar dia mengerti. Namun, ternyata, semua tidak berjalan sesuai dengan bayanganku. Saat aku diam, dia malah ikut diam. Suasana hening, sunyi, dan senyap terasa sangat melekat di antara kami. Huhh ... laki-laki memang tidak ada yang pernah menyadari keinginan perempuan.


"Um ...." Dia bergumam sembari menatap mataku. Entah kenapa aku merasa ini malah menjadi seperti acara sulap hipnotis yang tayang di televisi.


Aku mengepalkan tanganku bersiap untuk melepaskan seluruh rasa kesal ini. Rey terlihat mengubah objek pandangannya yang tadi adalah mataku berubah dan memandangi tanganku yang sedang mengepal.


"Hah?!" Dia tampak sangat terkejut. "A-Ai? Ke-kenapa? Ke-kenapa kau terlihat sangat marah?" Setelah sekian lama aku menunggu, akhirnya Rey menyadari bahwa aku sedang marah.


"Menurutmu ...?" tanyaku singkat dengan memamerkan senyuman terpaksa.


Dia sangat terkejut dan nyaris saja terjungkal ke belakang. "A-Ai? Apa aku melakukan dosa kepadamu hari ini?!" Rey bertanya balik dengan ekspresi wajah ketakutan.


Aku menguatkan senyuman terpaksaku. "Me ... nurutmu ... hm?!" Aku mengulangi pertanyaanku agar membuat dia semakin terpojok dan tak bisa berkata-kata lagi. Saat hal itu sudah terjadi, maka aku akan membalaskan perbuatannya.


"Me-menurutku? Ee ... menurutku, aku sama sekali tidak berbuat hal-hal yang aneh hari ini," ucapnya dengan nada bicara santai, seolah dia sama sekali tidak berdosa.


"A-apa maksudmu? Lalu, bagaimana dengan ciuman tadi? Mencium seseorang secara tiba-tiba tanpa ada izin? Bukankah itu sebuah pelanggaran?" Pada akhirnya, aku pun harus menjelaskan letak kesalahannya. Dia benar-benar tidak peka. "Aku bisa saja melaporkanmu kepada polisi dengan tuntutan telah melecehkan seorang gadis!" lanjutku mengancam Rey.


Sesaat setelah aku mengucapkan hal itu, bukannya takut, dia malah tersenyum. "Pftt ... HAHAHAHAHA ... laporkan saja, aku tidak apa-apa. Sungguh!" ujarnya sembari tertawa lepas.

__ADS_1


"He?" Jelas hal itu membuatku heran. Kenapa dia tidak takut ditangkap polisi? Bukankah semua orang tidak mau masuk penjara. Lantas, kenapa reaksinya terlihat tidak takut sama sekali?


"HAHAHAHAHA ... silakan laporkan kepada polisi saja, aku tidak akan takut!" ujarnya yakin.


"Kenapa kau tidak takut? Kau bisa saja masuk penjara." Aku mengernyitkan keningku.


"Ya karena aku akan mengaku bahwa kau adalah pacarku," jelasnya singkat seraya mengibaskan tangannya di udara, menandakan dia tidak terlalu menggubris hal itu. Tu-tunggu dulu ... apa aku tidak salah dengar? Pa-pacar?


"A-apa maksudmu dengan kata 'pa-pacar' itu?" tanyaku sambil mendekatkan tubuhku kepada Rey dengan posisi kedua tangan menyangga agar aku tidak jatuh tentunya.


"Eeh ... i-itu ... aku .... a ...." Dia membuka mulutnya, akan tetapi tidak mengucapkan satu katapun. Rey mengalihkan tatapannya dan melirik bagian dadaku.


"Hm?" Aku pun melirik ke bagian dadaku pula. "... HEEEEEEEEE ...! KAU MELIHAT APA, REY?!" Aku mendaratkan tubuhku ke kursi lagi seraya menutupi area pribadiku.


"NA-NANI?!" Rey menjauh dari posisinya tadi.


"REY, BAKAAAA, HENTAI!" teriakku sekencang-kencangnya kepada Rey. Aku tak menduga, ternyata dia adalah laki-laki ... mesum.


"Hmph ...." Aku memalingkan wajahku ke samping kanan.


"A-Ai ... hahh ...." Dia menghela napas.


Kringgg ...


Suara bel tanda jam istirahat telah berakhir, berbunyi di seluruh bagian sekolah. Setelah mendengar hal itu, murid-murid mulai masuk ke dalam kelas satu per satu.


"He? Sudah berakhir? Bukankah tadi baru istirahat?" tanyaku bingung.

__ADS_1


"Haishh ... apa kau tidak tahu? Kau menghabiskan waktu sepuluh menit di kantor guru tadi." Rey menunjuk-nunjuk keningku dengan jari telunjuknya. "Baiklah, aku duduk di bangkuku dulu, jangan merindukanku, ya? Hahaha ...," goda Rey dan lalu duduk di bangkunya. Sekarang adalah jam pelajaran fisika.


Singkat cerita, bel pulang sekolah telah berbunyi. Aku dan Rey berjalan keluar kelas bersama.


"Ai, kau tidak lupa kalau hari ini ada kegiatan di klub bukan?" tanya Rey.


"Eh ... ah iya ... aku hampir lupa." Aku baru ingat, bahwa hari ini adalah kegiatan klub akan dimulai. Beruntung, Rey mengingatkanku.


"Aigoo ... apa kau sudah jadi nenek-nenek? Dasar pikun!" ejeknya sambil mengacak-ngacak rambutku, meski hanya sedikit. Namun, itu tetap saja menyebalkan.


Dia kemudian berjalan menuju klub musik dan mendahuluiku. "REY!" panggilku berteriak akan tetapi dia terus berjalan dan mengacuhkanku. Huhhh ... sekarang dia sudah berubah menjadi laki-laki remaja yang sangat menyebalkan. Namun kalau boleh jujur, aku lebih suka sifat Rey yang sekarang.


Dia sekarang selalu membuat candaan-candaan yang dapat mencairkan suasana. Hal itu jelas sangat berbeda dengan dirinya yang dulu. Dulu, dia hanya terpaku untuk membuatku nyaman tanpa melukai perasaanku.


Aku berlari menuju ruang klub melukis. Setibanya di sana, aku melihat banyak murid-murid sedang berdesak-desakan untuk masuk ke dalam. Ternyata, yang mendaftar masuk klub sangat banyak, ya. Lebih banyak dari perkiraanku.


Lantas, bagaimana nasibku nanti? Bagaimana jika mereka mengejekku? Bagaimana jika—tidak. Tidak, Mizhunashi Ai. Kau tidak boleh berpikiran negatif setiap saat. Sekarang adalah saatnya kau mengubah mindsetmu ini. Pokoknya kamu harus berubah!


"Semuanya! Tolong diam dan jangan ricuh. Silahkan masuk satu per satu secara teratur!" perintah seorang remaja laki-laki dengan suara keras. Sepertinya, dia adalah seorang senior di sini.


Semua siswa dan siswi pun seketika terdiam. Mereka mulai masuk ke dalam ruangan dengan teratur. Saat hendak masuk, tiba-tiba seseorang menyela di depanku, hingga membuat seluruh peralatan melukisku berjatuhan.


"Kya ...." Aku terkejut dan langsung berjongkok untuk memunguti barang-barangku yang jatuh berserakan. Ahh ... belum masuk saja aku sudah sial.


"Eh aku minta maaf. Aku sungguh tidak sengaja tadi." Gadis yang tadi menabrakku pun ikut berjongkok dan membantuku memunguti alat-alat melukisku. Hee ... aneh ... biasanya orang-orang tidak peduli denganku. Namun, dia berbeda.


Saat semua telah selesai dikumpulkan, kami berdua berdiri lagi. "Aku benar-benar minta maaf, ya! Aku tidak sengaja tadi," ungkapnya merasa bersalah.

__ADS_1


"Eh ... tidak apa-apa kok. Terima kasih karena telah membantuku," ucapku sambil tersenyum.


Dia tertegun. "Baiklah," ujarnya seraya membalas senyumanku. "Oh iya, ngomong-ngomong namaku adalah Nakamura Rin. Kau bisa memanggilku Rin," lanjutnya memperkenalkan diri.


__ADS_2