Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 27 : Tingkah Konyol


__ADS_3

...Tingkah laku mereka bertiga, benar-benar lucu....


...\=•\=•\=...


Pelajaran telah selesai, itu artinya, jam istirahat telah tiba. Ekspresi senang terpancar jelas di wajah Rey. Dia berdiri di depanku dengan senyuman manisnya yang berseri-seri. Dia menampakan gigi putih bersihnya. Aku mengernyitkan keningku saat melihatnya. Kenapa dia bersikap aneh begini? Pikirku.


"Ai!" panggilnya. Posisi mata Rey terlihat menatap mataku lekat.


"Kenapa, Rey?" tanyaku menanggapi panggilannya.


"Terima kasih ...," ucapnya singkat. Dia beterimakasih kepadaku.


Aku melongo kebingungan. "Terima kasih? Terima kasih untuk apa?" tanyaku meminta kejelasan.


Dia mengubah posisi badannya menjadi tegak lagi. "Haaa ...? Tentu saja karena kau telah membantuku mengerjakan soal tadi," jelasnya.


Aku terdiam sesaat, memikirkan maksud dari ucapannya ini. "Ah, itu. Sama-sama. Tidak perlu dipikirkan, lagipula kamu juga selalu membantuku, jadi, apa salahnya jika aku membalas kebaikanmu, ya, 'kan?" ucapku seraya memasukan semua alat tulis ke dalam tas.


Dia tersenyum tipis. “Yaahh, karena kau sudah membantuku ... ummm ... bagaimana kalau kita makan ramen di kantin lagi? Tenang, aku yang akan membayarnya," ujar Rey menawarkanku untuk makan ramen bersamanya.


Aku menutup resleting tasku dan kemudian berkata, "Aigoo ... aku melakukan ini karena murni ingin membantumu. Yah, meski sebenarny aku juga tidak tau pasti, aku sedang melakukan hal buruk atau hal baik."


Rey merangkulku dari samping. "Hei hei ... ayolah Ai! Baiklah, aku mengajakmu makan bukan untuk membalas kebaikanmu kali ini, melainkan memang ingin berbuat baik. Bagaimana? Apa kau masih menolak?" tanyanya yang lebih mengarah ke merayuku.


Aku menghela napas. "Hm, baiklah." Dengan terpaksa, aku harus menuruti ajakannya. Daripada, masalah ini akan semakin memanjang.


"Nah, begitu dong, Ai. Ayo!" Dia menarik tanganku keluar dari kelas.


"Eeeh ... Rey, pelan-pelan!" Aku berusaha untuk memperlambat laju jalannya. Namun, ternyata, usahaku sia-sia saja.


Saat baru sampai di depan pintu kelas. Pandangan kami berdua langsung tertarik kepada Rin dan Ryuji yang tengah melakukan sesuatu. Mereka berdua terlihat sedang menempelkan salah satu telinga mereka ke dinding kelas.


"Kenapa suara mereka tidak terdengar lagi?" tanya Rin kepada Ryuji.


"Iya. Terakhir kali aku mendengar mereka sedang membicarakan sesuatu tentang menraktir ramen di kantin. Waah ... pasti enak sekali. Mungkin, kita harus mengintip dari balik pintu itu!" jawab Ryuji. Dia merencanakan untuk menguping pembicaraan dengan posisi yang lebih nyaman. Namun, sepertinya mereka tidak tahu, bahwa orang yang mereka intai, sedang berada di dekatnya.

__ADS_1


"Ayo!" Akhirnya, Ryuji dan Rin berjalan mengendap-ngendap layaknya seorang pencuri.


Bruk!


"Aduh ...." Karena terlalu serius, Ryuji menjadi tidak fokus dengan sekitarnya. Dia tak sengaja menabrak seseorang di depannya. "Maaf, kami tidak seng ... a ... ja." Ryuji langsung terdiam seketika saat mengetahui bahwa orang yang dia tabrak adalah ... Rey.


"Hei ... apa yang kau lakukan? Cepat ja ... lan ...!" ucap Rin lirih. Dia pun terkejut saat melihat Rey di depan.


Rey berjalan mendekati mereka. "Apa yang kalian lakukan, hm?" tanya Rey dengan mimik wajah layaknya pembunuh. Dia mencengkram bahu Ryuji erat.


"Aah, ka-kami sedang um ... i-itu, mengecek kekokohan tembok. Yah itu. Benar, 'kan, Rin?" tanya Ryuji dengan posisi badan separuh berbalik menghadap Rin.


Rin terdiam sesaat. Tampaknya, dia masih mencerna maksud perkataan Ryuji, sama sepertiku tadi. "He?" tanyanya bingung.


Ryuji menempatkan jari telunjuknya sejajar dengan mulut. Dia lalu melakukan gerakan mengibas-ngibaskan tangan di udara.


"Ah, iya, benar apa yang dikatakan oleh Ryuji. Kami hanya sedang mengecek kekokohan tembok kok. Karena, jika temboknya sudah tidak kokoh, ya ... akan berbahaya nanti. Untuk semua orang di sekolah ini. Iya, 'kan?" jawab Rin mengeles dengan jawaban yang logis, namun tak sesuai. Kebohongannya terlihat sangat ketara. Haih ... Rin, kamu ini memang tak pandai berbohong.


Rey melepas cengkaraman bahunya. "Yah, aku tak tahu ucapan kalian ini benar atau salah. Tapi, aku masih mencoba untuk mempercayai kalian. Awas saja kalau bohong, ya ...!" ancam Rey dengan ekspresi yang tak bisa dituliskan dengan kata-kata lagi.


Sementara, Rey berbalik dan menghampiri tempat aku berdiri lagi. "Ayo, Ai! Sebelum jam istirahat berakhir!" ajak Rey berjalan mendahuluiku.


"Ba-baiklah." Aku berjalan mengikuti Rey. Saat baru beberapa langkah, aku menengok Rin dan Ryuji di belakang. Dia memandangiku dengan tatapan mata penuh harap. Aku tahu maksud mereka.


"Tu-tunggu sebentar, Rey!" Aku menyuruh Rey untuk berhenti berjalan sebentar.


Dia langsung menghentikan langkahnya dan berbalik. "Ada apa lagi, Ai?" tanya Rey dengan posisi kedua tangan masuk ke dalam saku celana.


Aku berlari menghampirinya. "Rey, ayo kita ajak mereka berdua makan bersama!" rayuku meminta Rey agar mengajak Rin dan Ryuji untuk makan bersama.


"Tidak," jawabnya singkat dan kembali berjalan.


Melihat responnya yang seperti itu, aku pun berinisiatif merayunya lagi. Namun, kali ini aku akan merayunya lebih dramatis lagi. Dengan sigap, aku menghalangi jalan Rey.


"Hei, Ai! Kenapa kamu malah menghalangiku seperti itu? Ayo cepat!" ucap Rey kesal.

__ADS_1


Aku tidak menggubris perintahnya dan tetap berdiri menghalangi jalannya. Aku melompat dan memeluk Rey. "Rey, ayolah ... kumohon!" Aku memohon sambil memasang wajah imut seperti kucing.


Tiba-tiba, pipi Rey terlihat sedikit memerah. "Ba-baiklah. Ta-tapi, bisakah kau kembali berdiri. Aku merasa tidak nyaman," ungkap Rey seraya memegang tengkuk kepalanya.


"Yeeeyy ... RIN, RYUJI, KEMARILAH! REY MENGAJAK KALIAN MAKAN RAMEN BERSAMA!" teriakku dengan suara lantang.


Tentu saja Ryuji dan Rin menjadi sangat senang. Mereka menghampiri kami berdua sambil melompat girang.


"Nah, begitu. Itu baru temanku!" ujar Ryuji merangkul leher Rey.


"Hei ... lepaskan!" Rey memberontak dan berusaha melepas cengkaraman Ryuji.


"Aigo ... terima kasih banyak, Ai! Aku tau, ini semua pasti karenamu, 'kan? Kau ini memang sahabat terbaikku. Aku benar-benar mencintaimu," ucap Rin seraya merangkul bahuku.


"Yah, sebagian besar memang aku hehe .... Eh tunggu, apa maksudnya kau mencintaiku?" tanyaku kebingungan.


Rin hanya tersenyum sambil menatapku. "Ya seperti itu. Pokoknya kau itu sahabat terbaikku!" terang Rin dengan penjelasan yang sulit dipahami. Dia mencintaiku? Tapi hanya sahabat. Heeeh sudahlah ... lupakan saja.


"A-ah iya iya ...," tanggapku singkat.


"Hei apa kalian berdua tau? Saat sedang memperkenalkan diri di klub musik, Rey tak sengaja menginjak tali sepatunya. Alhasil, dia pun terjatuh dan menibani seorang senior perempuan BWAHAHAHA ...." Ryuji menceritakan tentang kejadian yang Rey alami di klub musik.


Sesaat setelah Ryuji mengucap hal itu, Rey pun langsung menatapnya dengan pandangan kesal. "Kau ini! Kenapa menceritakan hal itu lagi, hm?!" tanya Rey kesal.


"Ya ... karena kejadian itu sangat lucu. Aku tau perasaanmu saat itu. Andai saja saat itu aku yang berada di posisimu, maka aku pasti akan senang," ujar Ryuji sambil membayangkan sesuatu.


"Kurasa memang benar, otakmu tertinggal saat ibumu melahirkanmu," ledek Rey.


"Hei! Apa maksudmu, ha?!" tanya Ryuji kesal.


"Ya, kurasa Rey benar. Otakmu ini agak sedikit error," lanjut Rin yang ikut mengejek Ryuji.


"Hee kau juga? Kenapa aku selalu terbully ha? Aku selalu mendapat perlakuan buruk. Sebenarnya, aku ini salah apa?!" Ryuji mulai mengucapkan hal-hal tidak masuk akal lagi.


"Hihi ...." Aku tertawa kecil sambil melihat tingkah konyol mereka bertiga.

__ADS_1


__ADS_2