Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 17 : Miku


__ADS_3

...Maafkan kakak, ya, Miku? Seandainya kakak datang lebih cepat, mungkin kamu tak akan menjadi seperti ini....


...\=•\=•\=...


Matahari mulai membenamkan dirinya. Sinar jingga sore hari mulai memudar, menandakan bahwa hari sudah mulai petang. Rey sedang mengantarku pulang menggunakan motor hijau tadi.


Angin sepoi-sepoi menghembus pelan. Aku yang kini sedang merangkul pinggang Rey pun merasakan kehangatan yang sangat nyaman. Jalan di kota yang perlahan mulai sepi, semakin menambah rasa nyamanku.


Terlalu nyaman, hingga aku tidak menyadari bahwa kami berdua telah sampai di rumah. "Ai, kita sudah sampai," ucap Rey lembut.


"Eeh ... te-ternyata sudah sampai. A-aku tidak tahu hehe ...." Aku langsung melepas pelukanku dari Rey. "Eemm ... a-aku masuk dulu, ya ...." Aku turun dari motor milik Rey dan berjalan ke dalam rumah.


"Ehh ... AI!" teriak Rey memanggilku.


Aku langsung memberhentikan langkahku dan berbalik saat mendengar panggilannya. "Ada apa, Rey?" tanyaku.


"Helm ... kau lupa melepas helmnya," kata Rey sambil menunjuk kepalaku yang ternyata masih mengenakan helm.


"Eh ... iya, aku lupa haha ...." Aku berjalan ke arah Rey seraya membuka helmya. "Ini ...," ucapku sembari menyerahkan helm yang Rey pinjamkan kepadaku.


"Yoshh ...." Rey mengambil helm dsn menggantungkannya di gagang kaca spion.


Aku mengubah posisiku menjadi berbalik. Saat hendak melangkah, tiba-tiba Rey memegang bahuku. "Tunggu sebentar, Ai! Tas ranselmu terbuka di bagian depan. Sini, aku benahi dulu!" ujar Rey.


"Eh benarkah? Kalau memang begitu, biar aku saja yang membenahi. Lagipula itu bukan hal yang sulit," ungkapku sambil melepas tas dari lenganku.


"Tidak usah. Biar aku saja yang menutupnya kembali." Rey berjalan mendekat ke arahku. Sekarang, dia sedang berdiri tepat di belakangku. Kalau dia ... hei, Ai ... sadarkan dirimu. Jangan berpikiran yang aneh-aneh.


Sekitar beberapa detik setelah itu. "Nah, baiklah ... sudah, Ai," ujarnya. Dia kembali berjalan ke arah motornya.


Sudah kuduga, Rey bukanlah laki-laki yang seperti itu. Aku percaya bahwa dia adalah orang yang baik. Kira-kira, bagaimana rupa orangtuanya, ya? Apa mereka baik sepertinya? Hmm ... aku benar-benar penasaran.


Aku baru sadar, bahwa dia sama sekali tidak menceritakan tentang latar belakang hidupnya. Rey tak pernah memberi tahuku tentang pekerjaan orangtuanya.


"Baiklah kalau begitu, Ai. Aku pulang dulu. Hari sudah mulai petang," ujarnya sambil memakai helm dan hendak menyalakan mesin motornya.


"R-Rey ...." Aku memanggil Rey, bermaksud untuk menahannya sebentar lagi.

__ADS_1


"Iya. Ada apa, Ai?" tanya Rey.


Aku tertegun dan terdiam sejenak. "Tidak apa-apa, Rey. A-aku hanya ingin berterimakasih atas segala yang kau berikan untukku hari ini. Semua itu sangat berarti. *Arigatou*." Aku menyondongkan badanku ke depan hingga membentuk sudut siku-siku.


Sebenarnya, aku ingin bertanya tentang keluarga Rey tadi, akan tetapi aku meengurungkan niatku ini, kurasa dia ingin menjaga privasinya.


Rey tersenyum. "Tak perlu dipikirkan. Oh iya, Ai. Jangan lupa, besok kegiatan klub melukis sudah dimulai. Aku juga ada kegiatan di klub musik. Jadi, pada saat kegiatan klub, aku tidak bisa bersamamu," ujarnya yang tampaknya khawatir denganku.


"Tak apa, Rey. Kau fokuslah dalam melaksanakan kegiatan klub musik, jangan memikirkanku. Aku akan baik-baik saja," ungkapku agar membuat Rey tenang.


Rey menghela napas lega. "Syukurlah ... umm ... aku pamit pulang dulu, ya! Dadah!" Rey memposisikan tangannya di gas motor bersiap untuk pulang. Dia lalu melambai-lambaikan tangannya di udara. Setelah itu, Rey langsung menjalankan motornya dan pulang. Aku pun turut melambaikan tangan.


Sepeninggal Rey, aku berjalan masuk ke dalam rumah. Saat baru membuka pintu, tiba-tiba saja aku mendengar suara seorang anak kecil kesakitan.


"HAHHH?! Aku terkejut saat melihat Miku sedang tergeletak di kursi sofa sambil memegangi perutnya.


Aku refleks melempar tasku dan lalu menghampirinya. " Miku, kamu kenapa?" tanyaku khawatir saat melihatnya. Wajah Miku tampak sangat pucat. Dia masih memegangi perutnya yang sepertinya sangat sakit.


"Kak ... sakit ...," ungkapnya merintih kesakitan seraya memegangi perutnya.


"Aku ... la-lapar, Kak," ucap Miku yang ternyata sedang kelaparan.


"Lapar? Bukannya ibu sudah memasakan makanan untukmu?" tanyaku bingung.


"Hm ... hm ... tidak." Miku menggelengkan kepalanya, kemudian melanjutkan, "dari tadi pagi, ibu tidak bangun, Kak. Katanya, dia sedang tidak enak badan."


"Ah begitu." Aku melirik ke arah kamar ibu dan ternyata benar. Aku melihatnya sedang tertidur pulas dengan selimut tebal yang membalut.


"AAKHH ... sakit ...." Miku berteriak kencang karena perutnya sakit. Jelas hal itu membuatku bertambah panik. Sikapku menjadi bingung dan ... tidak bisa lagi kuungkapkan dengan kata-kata.


"Baiklah baiklah ... kakak akan membuatkanmu makanan. Tunggu sebentar, ya!" Dengan segera aku belari ke dapur untuk membuatkan makanan untuknya.


Aku membuka lemari kayu yang menempel di dinding bagian atas. Di sana, aku melihat berbagai macam bahan makanan. Pada saat yang bersamaan, aku malah menjadi bingung. Makanan apa yang harus kubuat?


Saat sedang bingung, atensiku tertarik kepada sebuah mie ramen instan. "Baiklah ini saja ...," ucapku yakin. Aku tidak bisa berlama-lama lagi, Miku sudah terlanjur kelaparan.


Sekitar lima belas menit kemudian, aku datang seraya membawa nampan dengan semangkuk Mie Ramen instan yang tersaji di atasnya. "Miku ... makan ini saja, ya? Karena kakak tidak bisa membuat makanan-makanan yang sulit," ucapku sambil memegang mangkuk berwarna coklat kayu tersebut.

__ADS_1


Miku menganggukan kepalanya, menuruti apa yang aku perintahkan. "Tidak apa-apa, Kak ... aduh ...." Miku terlihat semakin kesakitan.


"Eeehh … buka mulutmu. Kakak akan menyuapimu," ucapku sembari memegang sumpit dan mengaitkan mie-mie ramennya. "Aaa ...!" lanjutku menyuruh Miku untuk membuka mulutnya.


Miku pun menurut dan membuka mulutnya. Sebuah suapan pertama mendarat di mulutnya. Dia terlihat mengunyahnya dengan sangat cepat. Sepertinya, Miku sudah sangat kelaparan. Hahh ... adikku yang malang. Seandainya saja, aku datang lebih awal tadi, mungkin kau tak akan menjadi seperti ini. Gomen, Miku.


"Buka mulutnya lagi. Sebuah pesawat akan dataaaangg ... hahaha ...." Aku kembali menyuapinya dengan lembut.


"Aaa ... nyam ... nyam ... wahhh ... enak sekali, Kak." Miku tersenyum senang sembari mengunyah mie tersebut.


"Tentu saja hihi .... Baiklah, ayo habiskan mie nya. Ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu.


"Umm ... maksudnya, kakak ingin memberikan hadiah kepadaku?!" tanya Miku yang tampak sangat berantusias.


"Hmm ... bisa dibilang begitu. Makanya, ayo cepat habiskan!" Aku menghantarkan suapan ketiga kepada Miku.


"Yeaaayyy! Aaa!" Miku membuka mulutnya dan melahap mie tersebut.


Aku mengulangi hal itu hingga mie nya tak tersisa lagi. Tal berselang lama, Miku telah selesai memakan semua mienya hingga tak tersisa sedikitpun. Di mangkuk hanya ada kuahnya saja.


"Anak pintar ...," pujiku kepada Miku sambil mengelus-ngelus kepalanya. Aku lalu berjalan ke arah dapur untuk mencuci mangkuknya, akan tetapi, tiba-tiba Miku menghalangiku.


"Hm? Kenapa Miku?" tanyaku bingung, kenapa Miku menghalangiku.


Miku menunjuk mangkuk ramen tadi. "Kak, di mangkuk itu masih ada kuahnya. Aku mau menghabiskannya." Miku mendongak menatapku dengan jari-jari yang terlihat membuka lalu menutup dengan sangat cepat.


"Hee ... apa kau yakin ingin memakan ini?" tanyaku.


"Iya, Kak," jawabnya singkat.


Aku tersenyum. "Baiklah, tapi makannya pelan-pelan, ya! Ini masih agak panas." Aku memperingatkan Miku.


"Baik ...," balasnya.


Aku menaruh mangkuk itu di meja makan tempat aku menyuapi Miku tadi. Tak lama setelah itu, Miku memanjat naik ke atas kursi. Hee ... ternyata Miku sudah bisa naik ke atas kursi sendiri? Aku tidak menyangka. Miku memang sudah besar, ya.


Miku mulai menyeruput kuah mie-nya perlahan. Sementara aku membersihkan sisa-sisa mie yang berjatuhan di dekat Miku.

__ADS_1


__ADS_2