
Tidak mudah bagi seorang Andi untuk bisa memecahkan satu persatu semua teka teki kasus mobil merah.
Apalagi dia adalah pemula dalam bidang ini, semua harus butuh kerja ekstra.
Sudah ber jam - jam lamanya Andi duduk di bangku kerja nya, melihat layar laptop dengan frustasi.
Beberapa kali dia terus memutar rekaman CCTV kejadian. Scene pertama saat mobil merah terlihat di trotoar dan scene ke dua saat mobil merah masuk keluar tol.
Sisanya tidak ada lagi rekaman yang berarti, semua menuju bukti buntu.
"Aaargghhhh," ujar Andi kesal.
Zaki tertawa melihat junior nya tersiksa. Dia akan mencoba untuk sesekali membantu nya.
"Apa yang kamu cari, bolak balik - bolak balik. Pusing aku lihat nya juga," jelas Zaki sambil tertawa menggoda nya.
"Senior, gimana kalau ternyata kasus ini pelaku gak bertindak sendirian."
Zaki terdiam, mencoba untuk mencerna segala sesuatu dengan hal kemungkinan.
"Tahu dari mana kamu?"
Andi mulai bersemangat, dia harus menceritakan temuan baru nya.
"Senior masih ingat kan waktu kejadian di jalan Simpang Raya? Kakek yang mau loncat dari atas atap. Ternyata disana ada seorang saksi yang di lewatkan polisi."
"Saksi?" tanya Zaki heran.
"Saksi melihat kejadian tepat saat kasus mobil merah beraksi, ada sebuah pabrik tua yang aku yakin tempat itu menjadi aksi kejahatan. Saksi juga melihat ada dua orang yang sedang membersihkan mobil sekitar jam 11 malam."
"Aku tahu nih, jadi selama ini kamu coba melihat CCTV untuk memastikan bahwa mereka ada dua orang kan?"
Andi mengangguk, memang itu lah selama ini yang dia cari.
"Pelaku ini sangat pintar, dia seperti nya punya banyak kekuasaan untuk mengatur CCTV kota. Dari sekian banyak CCTV bertebaran kenapa hanya ada dua rekaman saja yang bisa kita akses," jelas Zaki dengan argumen nya yang penuh dengan selidik.
Zaki lalu mengeluarkan handphone dari tanganya, dia menekan layar untuk melakukan sebuah panggilan.
"Aku butuh bantuan kamu, secepat nya." jelas Zaki pada si penelepon.
Zaki menutup panggilan itu dengan kilat.
"Kamu kirim kan alamat gudang itu ya segera,"
"Aaaa ok ok baik baik," Andi terheran karena senior nya tiba tiba menjadi berubah lebih serius.
"Kita harus cari bukti yang lebih konkrit," ucap Zaki.
*****
Wanita seksi dan sangat eksotis. Rambut kriting berwarna cokelat dan meng kilau. Andi di buat gugup oleh kehadiran nya. Andi masih tidak menyangka, wanita ini adalah tim forensik andalan.
Memakai baju khas lapangan forensik saja sangat menawan. Apalagi saat sedang bersiap menggunakan kamera.
Wanita yang di panggil Zaki adalah Widi. Seorang yang juga memiliki hubungan khusus dengan Zaki.
Mereka bertiga sedang berada di depan lokasi kejadian. Bersiap siap untuk mengolah TKP. Berharap bisa mendapatkan sebuah petunjuk baru.
__ADS_1
"Aku gak bisa janji banyak hal, kejadian sudah sangat lama mungkin sudah banyak terhapus oleh hujan. Tapi untung nya ini tempat kosong, tidak terlalu banyak campur manusia," jelas Widi dengan ciri khas nya, suara serak dan basah.
Zaki mengangguk paham, dia pun harus bisa memanfaat kan ini.
"Makasih banget ya kamu udah datang, aku tahu kamu sangat sibuk," balas Zaki dengan rasa bersalah.
Ke dua mata Widi mulai melirik kehadiran Andi. Dia merasa heran, kenapa laki laki itu hanya diam mematung.
"Bocah itu siapa?" tanya Widi.
"Oh dia junior ku, udah jangan mikirin dia. Dia masih sangat polos, masih perjaka."
Andi tertawa. Baginya Zaki memang selalu terlihat konyol.
Widi mulai menjalankan tugas nya. Dia melihat sekeliling daerah yang mungkin saja bisa menjadi target.
Dengan kemampuan naluri nya. Dia mulai melihat dan memotret dengan fokus berbagai sudut dan celah.
Tak luput jalan aspal yang menjadi pusat perhatian nya. Dia membungkukkan badan dan memiringkan kepala.
"Baiklah."
Widi mengeluarkan sebuah botol berisi cairan. Di tumpahkan cairan kimia khusus di sepanjang jalan.
Tak menunggu waktu lama, cairan itu bekerja. Jalan aspal yang tadi nya terlihat bersih kini menampakan sebuah pola.
Terlihat jelas jejak ban mobil di jalan itu. Andi di buat kagum melihat nya.
"Waaahh... lihat itu, lihat itu senior. Ada jejak mobil. Senior lihat." Andi terlihat panik.
Zaki menarik nafas panjang, mungkin ini lah waktu nya dia harus bekerja kembali.
Andi mencoba kembali memperhatikan pola tersebut, memang benar ada jejak ban melintir.
"Apa kamu bisa mengidentifikasi jenis ban dan merek mobil?" tanya Zaki dengan serius.
"Tentu tapi aku tidak janji bakalan cepat."
Zaki mengangguk.
"Terus kenapa pelaku harus mendadak rem? di tempat seperti ini," tanya Andi.
"Pelaku sengaja ingin membuat korban celaka," respon Zaki dengan cepat.
"Jika memang ada dua orang pelaku disini, pasti harus ada meninggalkan jejak." jelas Widi.
"Apa itu?" tanya Andi dengan semangat.
"Entahlah kita harus mencari nya lagi," ucap Widi dengan santai.
Widi terus memotret semua sisi. Dia dengan sangat fokus menyisir bagian yang terkecil sekalipun. Lalu ada sebuah hal menarik lain, ada jejak oli yang menetes dekat dengan pagar pintu.
Dia lalu membungkuk dan mencoba melihat dari bawah. Jejak oli itu ternyata bercecer ke dalam pabrik.
"Aku tahu dimana kaki tangan itu bersembunyi."
Dengan sebuah gerakan yang sangat cekatan, Widi memanjat pagar pabrik. Dia dengan lihai dapat mendarat bebas di atas tanah.
__ADS_1
Zaki menyusul wanita itu namun Andi masih terlihat ragu untuk mengikuti para senior.
"Apa kamu mau menunggu saja disana," teriak Zaki.
"Baik baik senior," Andi menunjukan muka masam nya.
Dia dengan gerakan lambat dan banyak perhitungan mulai memanjat pagar itu. Dia tidak punya ke seimbangan bagus dan akhirnya terjatuh.
Badan nya tersungkur, punggung nya mulai kesakitan.
"Hei bocah selama ini kamu ngapain aja di satras narkoba?" tanya Zaki dengan jengkel melihat junior nya sangat tidak berpengalaman.
"Aku benci hal seperti ini, dari kecil aku trauma banget sama manjat" gerutu Andi.
Widi hanya bisa pasrah, ke dua pria yang ada di hadapan nya sama sama tidak berguna.
Dia lalu melanjutkan pekerjaan nya. Menambahkan cairan kimia khusus untuk melihat jejak mobil. Lalu memotret tanpa detail yang terlewatkan.
Widi terus menyusuri setiap tanah, dia meraba raba bagian tanaman liar yang menjalar. Widi menemukan sesuatu, puntung rokok.
Di lihat nya puntung rokok itu, dia lalu mengamati nya dengan seksama. Benda itu adalah bukti baru, maka ia harus memasukannya dalam kantong kecil.
"Hai bocah, cepat kamu cari bengkel dekat sini cari mana yang telah melakukan perbaikan kerusakan mobil di hari kejadian" Perintah Widi dengan tegas.
"Kenapa aku harus mencari orang orang yang pergi bengkel," tanya Andi.
"Kamu tidak lihat oli berceceran, itu pasti keluar dari kenalpot. Mobil yang di pakai pelaku ke dua pasti mengalami kebocoran dalam mesin."
Andi mengangguk paham, dia senang usaha nya akhirnya mulai menemukan sebuah awal yang baik.
"Apa kesimpulan mu Wid?" tanya Zaki.
"Memang benar ada dua pelaku dalam kasus ini. Terlihat ada banyak jejak sepatu, dua jejak ban mobil yang bisa di identifikasi lebih lanjut. Namun ini paling penting."
Zaki dan Andi menunggu kelanjutan dengan sangat penasaran.
"Pelaku sudah memilih pabrik kosong ini sejak lama, seperti nya tempat ini mempunyai banyak ikatan dengan pelaku."
"Ikatan?" tanya Zaki penasaran.
Widi lalu berjalan menuju pagar pembuka, dia menunjuk pada bagian gembok yang masih di segel.
"Aku yakin pelaku sering mengunjungi tempat ini sejak lama. Kalian lihat kan gembok ini masih terlihat baru? Hal yang mustahil bagi pabrik tua yang sudah lama kosong."
Andi sangat takjub dengan analisa Widi. Dia bahkan tidak memperhatikan hal kecil seperti itu.
Zaki mulai menemukan benang merah yang sangat kusut ini. Dia akan mengikuti alur kasus ini lebih hati hati.
Zaki melihat pabrik ini lebih luas. Kini pandanganya mulai melirik semua bagian tanpa ada celah. Pabrik bekas kebakaran bukanlah sebuah tempat biasa, pikir nya dalam dalam.
"Aahhh Mba Widi kamu memang hebat, aku yakin laki laki di luar sana pasti segan deh sama mba Widi." celetuk Andi dengan tengil sambil memberikan jempol pada wanita itu.
Widi tertawa mendengar bocah itu. Sedangkan Zaki memasang wajah yang jengkel.
"Itu sebabnya aku bercerai dengan dia, aku tidak tahan dengan wanita egois yang terlalu sempurna." Zaki berkata dengan ekspresi datar.
"Apa bercerai?" tanya Andi tak percaya.
__ADS_1
"Hai bocah, senior mu itu adalah mantan suami ku."
Andi tidak menyangka, bahwa penyidik kriminal senior dan ahli forensik handal adalah sepasang suami isteri yang telah bercerai.