AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Seorang Penguntit


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya sedang berjalan sambil membawa baki dengan dua cangkir teh hangat.


Dia lalu menyerahkan satu cangkir di hadapan polisi muda yang sedang bertamu ke rumah nya.


Andi menerima teh itu dan meminum nya.


Satu cangkir teh pun disajikan untuk suaminya.


Mereka berdua dengan penuh kehangatan menyambut Andi yang ingin meminta keterangan dari mereka berdua.


"Maaf kami gak punya banyak cemilan di rumah," jelas wanita itu.


Andi tersenyum malu, baginya ini hanya sebuah pertemuan biasa.


"Aku langsung saja pada pertanyaan, pada tanggal 30 Januari 2021, mobil Mercedes Benz bapak tertulis telah melakukan perbaikan di bengkel Permata Hijau?


"Oh iya betul, saat itu ada kerusakan pada mesin dan oli bocor," jawab pria paruh baya itu dengan santai.


Andi lalu mengangguk paham, lalu ia menuliskan sesuatu di catatan kecil nya.


"Apa boleh saya tahu, bapak dan ibu sedang dimana pada tanggal 10 Januari 2021 pada pukul 10/11 malam?"


Mereka berdua tampak bingung, karena ini pertama kalinya mereka harus menjawab sesuatu yang sudah lama tidak diingat.


Pria paruh baya itu bangkit berdiri dan mencari sebuah tablet di laci meja. Dia sedang mencari sesuatu hal penting di dalam tablet nya.


"Aku tidak yakin, cuman bisanya aku dan istriku jam segitu masih lembur di toko jam kami. Coba aku cek rekaman CCTV tahun lalu, semoga saja masih ada."


Pria itu lalu dengan cermat terus memilih tanggal dan waktu kejadian yang dimaksud polisi.


"Nah ini ada," ucap pria itu dengan terburu buru.


Andi lalu melihat rekaman CCTV itu, dengan seksama. Memang benar apa yang dikatakannya, mereka berdua terlihat masih berjaga di toko jam pada saat jam dan waktu kejadian mobil merah.


Andi terdiam, dia harus terus memutar otak.


"Apa kalian mempunyai seorang anak sekitar usia 25/28 tahun?" tanya Andi tidak menyerah begitu saja.


"Ah, anak kami masih remaja, dia baru sekolah menengah. Walau kami sudah tua, tapi anak kami masih sangat muda," ucap wanita itu dengan penuh keyakinan.


*****


Ini sudah sore hari, total 4 daftar pemilik mobil yang sudah ia mintai keterangan.


Semua mempunyai alibi yang kuat, tidak ada yang mencurigakan. Lalu kemanakah mobil itu sebenarnya?


Andi sedang duduk di taman kota, ia terlihat sangat lelah dan frustasi. Sudah tidak ada lagi pemilik mobil yang harus ia temui.


Dia sangat buntu, pikirannya sangat mumet.


Tiba tiba pundak nya di sentuh dari belakang, Andi menoleh dan melihat ada wanita cantik sedang tersenyum padanya, Natalie.

__ADS_1


Natalie dan Andi sedang duduk bersama, saling menikmati pemandangan sore hari, senja yang memikat.


Ini adalah sebuah pertemuan yang tidak disangka sangka. Antara mereka saling menyimpan sebuah kenangan lucu.


"Ngapain polisi disini?" tanya Natalie dengan senyum manis.


"Seharian aku bekerja di lapangan, tapi tidak menghasilkan apapun. Ya beginilah jadinya, cuman bisa melamun gak jelas," jawab Andi santai.


"Kalau aku sih cuman pingin cari angin segar, ternyata enak juga jalan jalan disini," ucap Natalie.


"Santai banget hidup kamu, emang gak ada kerjaan lain?" tanya Erick.


"Ngapain aku harus kerja keras, toh aku udah kaya raya. Aku gak usah mikirin hal hal berat apapun hehe," jawab Natalie sambil tertawa kecil.


Mendengar nya Andi senang, karena baru kali ini dia bertemu dengan wanita yang sangat terbuka dan sesantai itu.


Andi menyadari, jika Natalie adalah wanita baik yang selalu berada di tempat tidak baik.


"Aku harus pergi, ada banyak sekali urusan hari ini," kata Andi sambil bersiap untuk meninggalkan percakapan singkat ini.


"Emang ngapain sih? Cari apa kamu?" tanya Natalie, jujur ia tidak mau cepat berpisah dengan polisi muda itu.


"Kira kira dimana aku harus menemukan sebuah mobil yang disembunyikan oleh pelaku kejahatan? Bengkel, showroom mobil bekas sampai komunitas pecinta mobil sudah aku cari, namun semua nihil," curhat Andi dengan wajah tidak bersemangat lagi.


Natalie terdiam sejenak, dia mencoba berpikir sesuatu hal yang mungkin bisa membantu Andi.


"Kalau aku jadi penjahat, pasti aku bakal pesan mobil ilegal di situs black market, ya gitu sih kira kira," jelas Natalie dengan asal.


Mendengar penjelasan Natalie cukup masuk akal. Mendadak Andi menjadi bersemangat, dia lalu mengeluarkan handphone.


"Kalau aku minta tim cyber crime, hah itu sangat lama. Butuh pengajuan yang tidak sebentar," keluh Andi dengan muka masam nya.


"Aku punya satu kenalan handal, pasti apa yang kamu butuhkan akan cepat dia dapat."


"Beneran kamu tahu siapa?"


Natalie mengangguk.


****


Andi keluar mobil dengan terburu buru, ia lalu segera menghampiri Zaki yang sedang berada di dalam kantor.


Dengan cepat Andi menyerahkan selembar kertas kecil, sebuah nama pemilik mobil Mercedes-Benz yang ia temui di black market.


"Tolong periksa Identitas orang ini, seperti nya dia cukup dekat dengan profil pelaku yang kita miliki," ucap Andi dengan nafas yang tersedak.


Zaki melihat tulisan kecil itu, dia lalu memasukan nama dan ID penduduk nya dalam data base. Keluarlah sebuah biodata atas nama Marisa Lestari, usia 25 tahun.


Kedua mata Zaki terus meng scroll seluruh data dari atas sampai bawah, namun ada sesuatu yang aneh.


"APA? dia sudah meninggal 2 tahun yang lalu? ucap Zaki dengan mata yang gemetar.

__ADS_1


"Gak mungkin senior, masa orang mati bisa melakukan transaksi pembelian mobil? ini mustahil," jawab Andi dengan sangat kaget.


Mendadak kepala Zaki menjadi berputar, semua bergerak seperti kunang kunang. Lalu dia dengan marah membanting semua dokumen di depanya. Ia juga melempar telepon kantor dengan keras ke lantai.


"Sial, semua jadi buntu," gumam Zaki dengan perasaan yang meledak ledak.


****


Di dalam mobil, Zaki dan Widi sedang bersama. Di belakang jok, mereka menaruh sebuah boneka beruang besar dan cokelat.


Ini adalah pertemuan rutin bulanan mereka, menjenguk anak semata wayang mereka yang sedang liburan di rumah kakek dan nenek.


Mereka sudah sampai, begitu keluar dari mobil anak perempuan yang berusia 10 tahun lalu menyambut mereka dengan pelukan hangat.


"Mamah sama papah bawain hadiah kan?" tanya anak itu dengan senyum.


"Tuh ada di belakang, coba deh Kiara ambil sama mamah," jawab Zaki dengan lembut.


Kiara dan Widi lalu mereka bersama mengambil hadiah itu, tiba tiba papah mertua Zaki menyambut nya.


"Hai, nak gimana kerjaan kamu?" tanya papah mertua dengan ramah.


"Baik pak, Zaki cuman lagi stres mikirin kerjaan doang," jawab Zaki sambil memberikan salam.


"Ceritain dong sama papah?" ajak papah mertua sambil mengantar menantu nya itu masuk kedalam rumah.


****


Meskipun Widi dan Zaki sudah bercerai, hubungan antara mertua dan menantu masih berjalan sangat baik.


Zaki dan papah mertua sedang duduk santai berdua, mereka ngobrol sambil menikmati kopi susu hangat.


Karena papah mertua adalah pensiunan detektif polisi, jadi Zaki pun tak segan menceritakan kasus mobil merah yang sedang ia tangani.


"Aku sudah bingung harus memulai nya darimana lagi, aku sudah cek apakah ada hubungan antara korban dengan daftar 150 dugaan tersangka. Korban sama sekali tidak punya hubungan apapun," curhat Zaki dengan perasaan sedih.


Papah mertua hanya bisa tersenyum tipis, dia lalu mencoba mencairkan suasana.


"Jika korban memang masih hidup, harus nya kamu menghawatirkan sesuatu yang lain," kata papah mertua.


"Apa itu?"


"Keadaan psikis korban sudah tidak akan sama lagi, dia akan mengalami banyak perubahan. Banyak faktor, salah satunya adalah pencucian otak secara brutal."


Zaki melamun mendengar hal tersebut, memang pasti akan ada sebuah transisi antara korban dan pelaku.


"Korban aku melakukan banyak defensif ketika melihat dunia luar, dia akan berbalik menyerang kita," jelas papah mertua dengan penuh ketenangan.


"Menurut papah, dia pria seperti apa?" tanya Zaki ingin menekankan bagaimana sosok pelaku sebenarnya.


"Penguntit, dia bisa jadi orang yang selalu menguntit korban dengan sangat ekstrim," tutur papah mertua sambil menyeruput kopi nya yang hampir habis.

__ADS_1


"Penguntit?" decak Zaki dengan wajah yang sedikit terkejut.


"Kamu bisa memulai nya lagi dengan korban, cari bukti CCTV apakah korban selalu di ikuti oleh orang asing," perintah papah mertua.


__ADS_2