AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Pantai


__ADS_3

Kapan terkahir kali nya Dira bisa menginjak dunia luar?


Dia sendiri pun tidak tahu. Tidak menghitung hari ataupun bulan. Dia hanya merasa hidup terisolasi begitu sangat lama. Satu hari satu malam, ia anggap bisa 100 tahun lama nya.


Di depan cermin, dia sedang memakai wig pendek palsu. Rambut cokelat panjang harus ia sembunyikan. Dia harus berpenampilan seperti orang lain.


Selain gaya rambut yang di rubah, dia harus memakai kaca mata tebal. Memakai riasan wajah agar kulit terlihat lebih gelap.


Dari jauh, Erick mengawasi Dira. Dia lah sang aktor licik di balik semua ini.


Erick membawa satu stel baju olah raga. Kaos Hoodie dan celana training panjang. Erick menyuruh Dira untuk memakai nya.


Tidak ada sedikit pun perlawanan, dia hanya bisa mengangguk patuh.


Setelah selesai mengganti baju, Erick masih belum puas dengan penampilannya. Dia lalu menghapus lipstik berwarna peach dari bibir Dira.


"Kamu mau goda pria lain? Jangan coba coba menarik perhatian dengan bibir mu itu!" ucap Erick dengan segala intimidasi kekuasaan yang ia miliki.


Sentuhan terkahir, Erick memakai kan sebuah gelang berwarna hitam.


"Gelang ini adalah GPS, aku bisa mengawasi segala langkah, gerak, bahkan detak jantung pun aku bisa tahu."


Hati Dira sebenarnya begitu lelah, melihat perilaku obsesif Erick yang semakin menjadi jadi.


Semenjak kejadian itu, Erick selalu memaksa apapun agar Dira semakin patuh dan takut pada nya.


Dira melihat kembali penampilan baru nya di depan cermin. Dira yang cantik dan anggun, kini berubah seperti wanita culun dan norak.


Erick berhasil merubah wanita itu dalam sekejap.


"Ayo kita pergi," ajak Erick sambil memegang erat telapak tangan kanan Dira.


*****


Pagi dengan segala kehangatan nya, membuat suasana pantai begitu menenangkan.


Suara deburan ombak dan kicauan burung saling beradu. Gerakan pohon kelapa yang melambai lambai.


Ini adalah momen hidup yang paling sempurna, setidak nya bagi Dira. Wanita itu merasakan betapa indah nya arti sebuah kebebasan.


Dia berdiri ditepi laut pantai, kaki nya yang kering mulai perlahan basah oleh sapuan ombak.


Kerang kerang kecil berjalan di sekitaran pasir dan matahari pagi sudah mulai menyinari seluruh pantai.


Dira begitu menghayati ketenangan ini, dia tidak ingin suasana hati nya cepat berubah.


"Benarkah ini surga?" ucap nya dengan pelan.


Dia terus menarik nafas, tak berhenti menghirup udara yang sangat segar.


"Apa kamu menyukai nya," tanya Erick dari belakang.

__ADS_1


Dira membalikan badan, dia tersenyum dengan lebar.


"Makasih Rick, ini indah banget."


Erick berjalan menghampiri, dia lalu mencium kening Dira dengan penuh kelembutan.


Kedua mata Dira terkejut, dia tidak bisa melakukan perlawanan apapun.


"Aku lapar, kita lupa belum sarapan," ucap Dira sambil memegang perut nya yang sebenarnya tidak lapar.


"Ahhh iya lupa, ok tunggu disini sebentar ya. Aku carikan sarapan dulu. Kamu mau ikut?" ajak Erick.


Dira menggelengkan kepala.


"Aku pengen duduk disini aja, mumpung pantai nya lagi sepi banget," balas Dira dengan tenang.


Erick lalu lekas berjalan pergi begitu saja. Membiarkan Dira sendirian di tengah pantai. Sungguh tidak disangka, pria itu pergi dari hadapannya.


Dira terus saja memantau pergerakan Erick, sampai pria itu sudah jauh dari pandanganya.


Begitu sampai dia menghilang dari sudut mata nya. Dira lalu berlari dari tepi pantai.


Dia berlari sekencang mungkin dan berusaha meminta pertolongan. Namun dia sadar, pantai ini begitu sepi.


Dia harus menemukan manusia lain di dasar pasir putih ini. Tak sengaja dia melihat ada dua orang nelayan sedang berjalan dari tengah laut menuju tepi pantai. Dua nelayan itu sambil menarik jaring berisikan ikan ikan besar.


Dira dengan langkah yang terburu buru langsung menghampiri dua nelayan. Mereka adalah sepasang suami isteri yang sudah tua.


"Aduh aduh kaget kaget," ucap ibu nelayan dengan logat daerah nya.


"Bu tolong aku," ucap Dira dengan nafas yang masih terengah-engah.


Bapak nelayan masih belum mengerti dengan sikap aneh Dira.


"Kamu kenapa nak?" tanya bapak nelayan dengan suara rapuh nya.


"Aku di culik, polisi. Tolong panggilkan polisi."


Kebetulan ke dua nelayan itu sudah sangat tua, jadi mereka tidak bisa mendengar suara Dira dengan jelas. Kedua telinga mereka sudah tidak bisa bekerja dengan baik.


"Aku di culik," jelas Dira berulang kali dengan wajah frustasi.


"Apaaa?" ibu nelayan masih kebingungan.


Tiba tiba ada sosok lain yang mengejutkan dua nelayan itu. Perhatian mereka kini teralihkan.


"Anak muda kamu datang lagi," ucap bapak nelayan dengan senang nya.


Bapak nelayan itu berjalan maju, menghampiri Erick. Dia adalah Erick yang mereka kenal.


Erick tersenyum dan mata nya menyipit. Dia lalu menghampiri si bapak tua dan membantu mengangkat kan jaring ikan.

__ADS_1


"Kan Erick bilang kalian sudah tua, jangan sering melaut kaya gini," gumam Erick dengan sikap penuh kesopanan.


Jantung Dira hampir berhenti, dia sangat tidak tahu bahwa Erick bisa segera menemukanya. Dia bahkan sampai tidak mengerti kenapa dua nelayan ini bisa sangat mengenal Erick dengan baik.


Ibu nelayan lalu menghampiri Erick dan memangil Dira sambil teriak teriak.


"Nak tadi kamu mau nanya apa, kamu tanya aja sama Erick!"


Dira buru buru menghampiri mereka bertiga yang sudah mau meninggalkan tepi pantai.


"Gak bu aku cuman mau tanya dimana toilet," sanggah Dira dengan sangat cemas. Dia takut jika kedua nelayan itu sampai mengatakan niat nya untuk memanggil polisi.


"Oh toilet, bilang dong Nak dari tadi. Ibu juga bingung liat kamu ko kaya takut gitu mukanya," celetuk ibu nelayan dengan polosnya.


Dira terpaksa tertawa saja, dia ingin segera mengalihkan situasi. Dia sangat takut jika Erick mencurigai nya lagi.


*****


Mereka berdua sedang duduk di atas pasir. Kedua nya saling sibuk melempar pandang ke arah laut yang tenang.


Dira sedang menyedot susu dari kotak UHT. Lalu mengunyah satu potong roti isi vanila.


"Maaf aku cuman bisa nemu itu," kata Erick.


"Sarapan terbaik pernah ada," balas Dira dengan lesu. Sebenarnya pikirannya sedang berlarian kesana kemari.


"Kamu pasti penasaran kan, kenapa nelayan disini kenal sama aku," sambung Erick.


Dira tidak merespon apapun, dia hanya terus fokus pada makanan nya.


"Aku adalah donatur tetap untuk organisasi perkumpulan nelayan disini."


"Oh pantesan. Uang dan uang," ucap Dira kesal dalam hati nya.


Dira berdiri, lalu menepuk telapak tangan yang berserakan oleh remahan roti.


Pria itu lalu melihat Dira melepaskan satu persatu pakaian nya. Melepaskan kacamata dan wig palsunya.


Kini yang hanya tersisa di badanya adalah tank top putih dan celana jeans pendek.


Rambutnya yang indah terurai kembali menghiasi lekukan pundak. Kulit nya yang pucat terlihat lebih jelas.


Semua pria pasti akan tersadar, wanita itu sangat cantik dan penuh dengan godaan.


"Ok... kita nikmati saja hari ini," teriak Dira dengan suara kencang.


Dira berlarian lagi ke arah tepi pantai, kini dia berani melawan deburan ombak.


Seluruh tubuhnya basah dan dia sangat menikmati sentuhan air laut.


Erick berdiri, dia ingin memantau wanita itu dari jauh. Dia melihat Dira sedang bermain main dengan air.

__ADS_1


Wanita itu terlihat sangat bahagia, namun Erick sadar jika itu hanyalah sebuah topeng.


__ADS_2