
Mari kita perkenalkan ke tiga bocah tengil yang sangat Erick benci.
Mereka terdiri dari anak anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Berasal dari keluarga yang hidup di lingkungan padat Jakarta.
Hobi mereka hanyalah bermain game dan membaca komik online.
Kalau soal belajar? jangan di tanya. Mereka semua malas dan acuh. Mereka adalah sahabat akrab sejak lahir di lingkungan itu secara serentak.
Bocah pertama paling berani dan cerewet, juga punya perawakan tinggi besar, namanya Baim.
Bocah kedua bisa disebut lumayan ganteng dan bersih, dia bisa dikatakan lumayan pintar di antara semuanya. Namanya adalah Adam.
Terakhir bocah tiga yang paling lemah, penakut dan sering sekali mudah di intimidasi, namanya adalah Cakra.
Ketiga kawan itu kini sudah menjadi bagian dari ingatan Erick. Mereka dengan berani mampu membuat pria jahat itu jadi mati kutu.
"Hei bocah, gara gara kalian sekarang mobil ku masih dalam perbaikan. Kalian tahu harga untuk mengganti cat mobil? ketiga ginjal kalian pun gak cukup!" bentak Erick di depan Dira.
Melihat Erick bersikap berlebihan seperti itu kepada anak kecil, membuat Dira tidak suka.
"Rick mereka masih kecil, lagian ngapain sih kamu harus teriak teriak sama mereka," bela Dira.
"Dira! kamu gak tau mereka itu lebih jahat daripada Hitler, muka polos mereka itu cuman topeng," ucap Erick kesal.
Dira masih tidak percaya dengan ucapan Erick yang begitu tidak masuk akal. Melihat mereka saja seperti anak kecil yang menggemaskan.
"Uuhh sayang, maafin om Erick ya, dia memang kaya gitu, agak agak gitu lah," ucap Dira dengan senyum dan penuh kelembutan.
Baim lalu mulai mengadu pada Dira. Anak itu memasang wajah dengan berlinang air mata palsu.
"Tante, om itu jahat, waktu itu aja om sampai berani dorong kasar sama anak kecil kaya kita," kata Baim dengan sengaja di dramatis.
Dira langsung menghadap Erick, dia sangat terkejut pria itu sampai berani melawan anak kecil.
"Kamu berani nya sama anak kecil, aku jadi gak percaya kamu bilang bisa jaga Hanum," protes Dira dengan sangat kesal.
Erick tentu saja terkejut, bocah itu berani ngadu hal yang tidak tidak. Sampai seorang Dira bisa tertipu oleh ocehan Baim.
"Sumpah Dir! itu bohong, mana mungkin aku bisa melukai anak sekecil mereka," bela Erick dengan perasaan campur aduk.
Erick tidak bisa dihina dan difitnah seperti ini. Sebisa mungkin dia harus menyelamatkan harga diri nya yang sudah jatuh. Dia tidak bisa diam begitu saja.
Erick menghampiri mereka dengan lebih dekat, memasang wajah penuh kemarahan.
"Dengerin kalian bocah, awas aja kalian berani ngomong yang aneh aneh. Ku bunuh kalian!" ancam Erick dengan tatapan bengis.
Baim memang paling banyak ide jahil nya, semakin mereka di intimidasi maka mereka akan lebih berani.
Tiba tiba Baim melakukan sebuah akting amatir. Dia menangis dan merintih kesakitan, tanganya memegang kepala.
"Tante tolong aku! Om ini barusan jitak kepala Baim, aduh aduh sakit," ucap Baim dengan pura pura.
Dira tambah terkejut, dia langsung mendekat pada Baim, mengelus kepala itu dengan penuh rasa kemanusiaan.
Dira lalu memeluk anak itu, dia mencoba menenangkan Baim.
"Duh sayang, sakit nya masih gak?" tanya Dira.
Baim mengangguk, dia terus saja mengusap kepalanya yang baik baik saja.
"Dira tolong jangan percaya bocah itu. Aku gak mukul kepalanya sumpah! Dia cuman akting doang," teriak Erick dengan sangat panik.
Dira sudah tidak tahan lagi, dia adalah wanita yang sangat benci tentang penindasan kaum lemah. Melihat Erick adalah manusia jahat, jadi Dira sangat percaya kepada bocah itu.
Dira menghampiri Erick, ekspresi nya sungguh tidak biasa.
__ADS_1
"Cukup Rick! Aku tuh capek lihat kamu suka semenamena sama orang, aku gak habis pikir berani nya kamu mukul kepala anak kecil. Aku kecewa banget sama kamu," Teriak Dira padanya dengan sangat berani.
"Ko kamu jadi bela mereka sih? jelas jelas ini bohong!" bela Erick.
"Sekali kamu berani nyakitin anak kecil, suatu saat kamu pasti bakal melanggar janji untuk Hanum. Kamu tau selama ini aku bertahan hanya untuk Hanum! Dari dulu aku percaya sama janji kamu! Argghh janji busuk ternyata!" teriak Dira histeris.
"Dir Please..." ucap Erick lemas dan pasrah.
"Aku udah gak tahan, aku mau kasih tau orang disini kalau aku di culik!"
Erick melotot tak percaya. Sungguh kali ini Dira tidak main main. Dia pasti akan melakukan hal bodoh lainya.
Dira teriak dengan sangat kencang.
"Tolong, Tolong, Tolong ! aku diculik, Aku diculik CEO tampan. Tolong tangkap Dia."
Erick lalu spontan menutup mulut nya dengan kedua tangan, dia harus menahan mulut Dira dengan sangat rapat.
Dira kesal, dia meronta kesakitan. Dia ingin melepas tangan Erick dari mulutnya.
"Lepas," teriak Dira tambah jengkel.
Dengan hati yang sudah bagaikan percikan petasan. Erick benar benar sangat muak akan kelakuan bengal bocah itu.
Dia lalu tak segan benar memukul kepala ketiga nya dengan serentak.
Duk Duk Duk!
"Rasakan!" ucap Erick kesal.
Tiba tiba Cakra mulai menangis, anak lemah itu sungguh tak berdaya. Tak tinggal diam, Adam dan Baim pun ikut menangis.
Kini semua orang mulai memperhatikan mereka, memberikan pandangan aneh kepada Erick. Erick jadi serba salah, salah tingkah dan malu harus jadi pusat perhatian.
Dia harus menenangkan tangisan ketiga bocah ini.
Mereka masih nangis.
"Kita makan, kalian boleh makan apapun sepuas kalian. Ayo dong nangis nya udahan," bujuk Erick dengan perasaan menyesal.
*****
Mereka sedang makan di sebuah restoran fast food. Baim, Adam dan Cakra dengan sangat lahap menghabiskan semua pesanan kesukaan mereka.
Erick menatap mereka dengan penuh kebencian, gara gara mereka rencana malam ini jadi berantakan.
Seharusnya malam ini semua untuk Dira, menyenangkan hati nya. Bukannya jadi pengasuh anak kecil.
"Bilang apa sama om Erick?" tanya Dira dengan senyuman hangat nya.
"Makasih om Erick," jawab Adam dengan sangat polos.
"Ko cuman Adam doang, Baim sama Cakra mana? walau om Erick sudah jahat sama kalian, tapi kalian wajib dong mengucapkan terimakasih ketika menerima kebaikan dari seseorang, siapapun itu," jelas Dira.
Baim dan Cakra pun terdiam, mereka tidak bisa mengelak sekarang.
"Makasih ya om Erick," kata mereka secara kompak.
Erick tersenyum sinis, dia merasa sedikit senang karena ketiga bocah itu sudah mulai jinak.
"Ini gak seberapa, udah makan aja," balas Erick dengan angkuh.
Mereka kembali dengan semangat makan semua sajian junk food yang amat disenangi anak zaman sekarang.
"Kalian sahabatan ya, kayanya akrab banget," tanya Dira.
__ADS_1
"Kita tuh kompak banget tante, sampai kami mau jadi hacker legendaris. Nanti julukan kami kalau udah terkenal 3 Bocah Hacker," jelas Adam dengan sangat antusias.
Erick tertawa mendengar nya, sungguh bocah bocah ini memang tidak biasa.
"Hacker? om gak salah denger kalian mau jadi hacker? Hahahahaha," ledek Erick dengan sangat puas.
Seketika wajah mereka tiba tiba murung. Mereka tidak suka Erick mentertawakan impian mereka yang sangat berharga.
"Gini yah, hacker adalah pekerjaan yang sangat tidak mudah, butuh otak jenius kaya om nih yang sanggup. Om yakin coding aja kalian mana ngerti," jelas Erick dengan sangat percaya diri.
"Coding? Apaan tuh om?" tanya Baim.
"Tuh kan coding aja gak tau, mau sok sok an jadi hacker segala hahahaha," ucap Erick tertawa.
"Udah Rick, daripada kamu ketawa kaya gitu, tuh Baim nanya apa itu coding, jelasin dong," bela Dira.
Erick senang, kini dia sudah tidak di rendahkan lagi oleh mereka.
"Komputer juga bisa berkomunikasi seperti kita, cuman gak kaya kita, bukan bahasa manusia. Komputer membutuhkan bahasa mesin atau semacam kode, nah itu disebut coding," jelas Erick dengan sumringah.
"Jadi komputer bisa ngobrol ya om, berarti kalau kita ke warnet ternyata mereka suka gibahin kita!" jelas Cakra dengan sangat polos.
"Duh bukan ngobrol kaya gitu, emang ini Toy Story apa?" celetuk Erick kesal karena mereka benar benar bodoh.
Erick tidak bisa membiarkan mereka mempunyai salah tafsir, dia harus lebih menjelaskan secara real.
"Mobil om di luar itu adalah mobil canggih yang semua sistem kendali sudah terhubung dengan internet, perhatikan baik baik ya," ucap Erick.
Erick lalu mengeluarkan sebuah handphone, ia menunjukan apa itu coding dengan sederhana. Dia dengan gerakan cepat membuat deretan kode kode yang rumit dan sulit.
Butuh waktu 5 menit saja, Erick sudah menyelesaikan deretan coding itu. Saat nya melakukan pemograman terhadap hasil coding nya.
"Lihat baik baik ya," ucap Erick serius
Dari jauh, mobil itu tiba tiba menyalakan lampu depan dengan sendiri nya. Lalu mobil itu mengeluarkan suara klakson. Semua itu dilakukan tanpa ada orang, mobil itu kosong.
Ketiga bocah itu sangat takjub dengan apa yang mereka lihat. Seperti melakukan sihir, mobil itu bisa melakukan perintah tanpa sentuhan tangan secara real.
"Gila keren banget," ucap Baim dengan sangat terpesona.
Erick tersenyum bangga, dia akhir nya bisa menunjukan sedikit skill pada bocah tidak tahu di untung itu.
"Aku dengan sangat mudah bisa meretas sistem mobil hanya dengan coding yang sangat sederhana," lanjut Erick.
Ketiga bocah itu berdiri secara kompak dan mereka bertepung tangan.
"Coding, Coding, Coding!" kata mereka dengan semangat.
*****
Dira sedang membasuh seluruh wajah nya dengan air di wastafel. Dia lalu menatap cermin, melihat wajah nya yang mulai kasar dan berkeriput.
"Apa Hary masih mencintai ku?" ucap nya dalam hati, dia takut jika saat nya tiba dia harus menemui Hary dengan wajah yang sudah tidak muda lagi.
Dira lalu mengeringkan wajah dengan tisu dan memakai kacamata hitam nya lagi.
Dia berjalan keluar dan tak sengaja melihat di sudut ruangan lain.
Dira melihat ada Hanum dan kedua orang itu sedang makan malam di restoran fast food yang sama dengan nya.
Dari jauh, dia melihat Laras dan Hary sedang tersenyum ke arah anak nya. Namun ada sebuah pemandangan cukup aneh, Dira merasa kali ini Laras begitu sangat dekat dengan suami nya.
Dira mulai berpikir, sejak kapan Laras bisa begitu sangat akrab dengan anak dan suami nya. Namun tetap saja Dira membuang semua kecurigaan nya.
"Bodoh kamu Dir, jelas jelas Miss Laras sedang bantu Hary. Dia pasti kelabakan ngurus anak itu sendirian. Hary butuh bantuan karena aku selama ini menghilang," debat nya dalam hati.
__ADS_1
Tiba tiba Hanum tidak sengaja melihat sosok ibu nya dari arah jauh. Dira sangat kaget, dengan buru buru ia langsung memalingkan badan.
"Please Hanum, ini bukan saat nya kita bertemu. Ada Erick disini," pinta nya dalam hati.