AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Firasat


__ADS_3

Erick terkulai lemas diatas sofa kantor nya. Dia membaringkan tubuh dengan posisi tengkurap. Di atas tubuh itu ada Jesica, dia sedang memberikan sebuah pijatan khusus.


Selama tubuh nya di pijat, Erick terus merengek kesakitan. Pasca kencan penuh derita di arena camping, membuat semua tubuh nya pegal, letih dan nyeri otot tak tertahankan.


"Duh.. duh.. duh.. nyeri Jes! Pelan pelan dong pijit nya," teriak Erick seperti bebek.


"Duh berisik banget sih! Tahan dong, cemen banget jadi laki. Makanya kalau tubuh lagi gak FIT jangan coba coba naik gunung," celoteh Jesica dengan kesal.


"Pokok nya aku gak puas! Lihat saja nanti bakal ada kencan ronde dua," keluh Erick dengan wajah penuh penyesalan.


"Maksud kamu?"


"Ya kencan, kaya orang pacaran."


"Gak boleh, aku gak setuju!" perintah Jesica tidak main main.


"Apa lagi sih? tiba tiba suka larang gak jelas."


"Kamu udah terlalu sering ajak wanita itu keluar rumah. Bahaya Rick, kamu gak takut apa nanti orang di luar sana pada curiga."


"Ngapain harus takut? Sampai saat ini kita masih baik baik saja kan?" jelas Erick terus membela keadaan.


"Ayolah Jes, kejadian ini sudah hampir dua tahun. Semua orang bakal lupa sama kasus mobil merah," tambah Erick dengan emosi.


"Untuk sekarang memang terlihat baik baik saja, untuk kedepan? untuk esok hari? kita bakalan gak tau."


Mendengar Omelan Jesica yang tiada akhir. Membuat Erick bangkit dari sofa. Dia lalu berjalan menghampiri meja kerja nya. Dia duduk di atas bangku CEO.


Dia terus melamun, pikiran nya melayang pada keluarga korban dan polisi. Selama ini dia sudah lalai dalam mengawasi mereka. Erick terlalu meremehkan keadaan.


Seperti nya dia harus lebih berhati-hati, jangan sampai karena kesalahan kecil saja bisa merusak segala nya.


"Jes, kamu harus jaga ketat setiap pergerakan polisi, keluarga korban bahkan media sekalipun. Kita kontrol mereka 24 jam," perintah Erick dengan sangat serius.


"Kamu lupa satu hal lagi. Kevin, pemuda mesum itu masih hidup kan?"


Kali ini Jesica sedang menyinggung pria mesum bernama Kevin. Pria yang sudah mencelakai Dira di dalam apartemen.


"Kamu gak usah khawatir, dia sudah lama ku bereskan dengan sangat bersih dan rapih," balas Erick dengan tenang.


Erick kembali mengingat kejadian itu. Dia sudah menyewa Yakuza untuk membereskan Kevin dengan rapih. Dia sangat yakin jika keberadaan Kevin tidak akan bocor.


Mendadak hati nya mulai gelisah.


Hati nya mulai frustasi dengan segala kemunginan hal hal buruk.

__ADS_1


Ini kah rasa nya jadi penculik?


Tidak pernah hidup tenang walau sehari pun.


Erick hanya ingin bersama Dira. Dia terlalu menyukai perempuan itu sampai jiwa nya sakit.


Dia ingin memiliki sepenuh nya, dia ingin hidup dengan wanita itu selama lama nya.


Sampai kapan pun, tidak ada yang boleh merusak rencana nya.


****


Dari arah lumayan jauh, Erick sedang berdiri memperhatikan Dira. Wanita itu tengah tidur di atas sofa menghadap jendela.


Dia dengan lekukan tubuh Indah dan menawan, selalu membuat hati Erick tidak berhenti berdebar kencang.


Erick lalu berjalan ke arah sofa itu. Dia duduk di samping Dira yang masih memejamkan mata. Tangan nya mulai mengusap lembut helai demi helai rambut.


Tak lama setelah itu, Dira mulai membuka mata. Di tersenyum melihat kehadiran pria yang selam ini sangat ia rindukan.


Dira sangat menyukai senyuman dingin dan mematikan Erick.


Dia masih saja banyak menyimpan rahasia.


Erick adalah pria dengan sejuta misteri yang tak terpecahkan.


"Kapan kamu pulang?" tanya Dira sambil merubah posisi, dia lalu duduk sambil merenggangkan kedua tangan dan kaki.


"Barusan ko," balas Erick sambil mencium kening Dira dengan sangat romantis.


"Capek ya kerja terus?" tanya Dira sangat manja.


"Aku bakal lebih capek kalau sehari saja gak lihat kamu," jawab Erick dengan tatapan menggoda.


Dira lalu menyandarkan tubuh ke atas pangkuan Erick.


"Akhir akhir ini aku lihat kamu sering duduk melamun di depan jendela," ucap Erick.


"Aku lagi banyak pikiran, tapi kalau lihat pantai rasa nya beban ini menjadi lebih ringan aja," balas Dira.


Erick lalu memperhatikan pantai itu dari balik jendela. Pantai itu tidak pernah berubah, selalu penuh kedamaian dan ketenangan.


"Kamu lagi mikirin apa sebenar nya?" tanya Erick serius.


Sejenak Dira terdiam.

__ADS_1


"Entah lah, aku cuman berpikir bagaimana pandangan orang lain jika sebenar nya aku masih hidup.


Bagaimana heboh nya dunia di luar sana, jika aku sedang duduk mesra dengan penculik. Melewati setiap hari yang indah bersama sama.


Bahkan aku penasaran, bagaiman reaksi Hary jika dia tahu kalau aku - - -," Dira terdiam, dia mendadak tidak bisa melanjutkan akhir kalimat itu dengan sempurna.


"Selingkuh?" balas Erick tajam.


Hati nya mendadak sakit dan meledak ledak.


"Kamu pikir kamu telah selingkuh dari pria bajingan seperti Hary?


Kamu pikir semua yang telah kita lewati bersama adalah sebuah tindakan penghianatan?" bentak Erick.


Dira kembali duduk, dia terlihat sangat cemas. Dia takut Erick akan salah paham.


"Bukan gitu Rick, maksud ku - - -"


"Kalau kita selingkuh? Ya sudah, aku gak peduli. Aku cuman mau kamu. Gak ada lagi yang aku inginkan. Emang salah jika kita menjalin hubungan?" tanya Erick sambil terus bersikap tidak biasa.


Dia terlalu cemas dengan membahas topik seperti ini.


"Gak salah Rick, gak ada yang salah. Hanya saja ini gak normal. Cinta antara penculik dan tawanan itu aneh," jelas Dira dengan sangat takut.


"Aku gak peduli, persetan dengan pandangan dunia. Kita harus berani melawan itu Dira, Ayolah jangan gentar," Erick terus membujuk Dira, dia sangat takut kehilangan wanita itu lagi.


Erick menggenggam tangan Dira dengan erat, dia menatap Dira dengan penuh belas kasih. Erick terus memohon pada wanita itu seperti pengemis jalanan.


"Kita jahat Rick. Kita sudah sangat jahat dengan menipu dunia," kata Dira dengan sendu.


Erick tidak kuasa menahan emosi, dia memilih untuk memeluk Dira dengan sangat erat.


"Aku yang jahat Dira, maaf."


Dira melepas pelukan dan menatap Erick dengan sebuah simpati. Dia menyentuh pelupuk mata Erick yang sudah sembab karena air mata.


"Terimakasih sudah mencintai ku dengan waktu yang tidak sebentar. Pasti kamu lelah sudah lama menanggung perasaan itu diam diam," kata Dira mencoba menenangkan Erick sebisa mungkin.


"Apa kita menikah saja? Apa kamu mau hidup normal seperti orang lain?" tanya Erick dengan sangat polos.


"Kita tidak bisa menikah, NEVER! Pernikahan itu terlalu suci untuk kita yang sudah penuh dosa."


"Juga pernikahan itu pahit Rick. Jangan sampai kamu merasakan apa yang telah aku rasakan."


Dira tersenyum pada Erick. Dia tidak main main dengan ucapan nya.

__ADS_1


...Menikah....


...Sungguh, Dira membenci pernikahan nya sendiri....


__ADS_2