
Sekitar jam 8 malam, aku sedang duduk di sebuah restauran hotel bintang tiga. Disana aku sedang menunggu Jesica.
Kami rencana akan membahas sesuatu yang sangat penting. Aku dan dia sedang merancang sebuah perusahaan rintisan di bidang jasa mobile online.
Jesica adalah salah satu kunci dimana aku masih bertahan dengan dunia programing. Dia adalah sahabat sekaligus partner kerja yang setia.
Akhirnya wanita itu datang juga, dengan busana yang tertutup dia tampak sangat anggun. Aku menyukai style nya kali ini. Gaya nya yang urakan perlahan menghilang.
Dia duduk dengan tergesa-gesa, wajah nya berkeringat dan nafasnya di hembuskan kencang.
"Sorry telat," balas Jesica.
"Habis dari mana kamu, gelisah banget," tanya ku sambil melempar senyum.
"Aku habis ketemu sama ayah kamu dan sekertaris nya," jawab Jesica dengan mata melotot.
"Apa?!" Aku kaget.
"Ayah kamu sudah tau semuanya rick, apa yang sedang kamu lakukan selama ini."
"Oh s*it! Aku tahu dia akan terus menguntit ku selama ini, sial." decak ku kesal karena ayah selalu ikut campur dalam hidup nya.
"Dia minta kamu buat balik ke rumah, dia sangat kesal kamu harus tinggal di kandang ayam itu," ledek Jesica dengan wajah remeh.
"Bukan kandang ayam, itu namanya kos kosan. Gak buruk ko tinggal disana. Enak enak aja tuh," kata ku sambil terus membela. Aku tidak suka jesica mengina tempat itu.
"Terus ayah kamu minta buat segera meninggalkan sekolah itu, ayolah itu cuman buang buang waktu saja."
"Jadi sekarang kamu malah balik bela ayah ku Jes!" bentak ku dengan kesal.
"Bukan, tapi aku rasa kali ini ayah mu ada benar nya juga. Ngapain juga sih kamu harus ngumpet disana. Emang ada apa?"
Aku terdiam, ketika Jesica menanyakan alasan ku kenapa masih betah tinggal di lingkungan sana.
Untuk masalah ini aku masih belum bisa terbuka. Aku masih menyimpan rahasia ini rapat rapat. Aku tidak mau nama Dira jadi terseret dalam masalah hidup ku yang tidak ada habis nya.
Jika ayah tahu kalau aku sedang tergila gila dengan wanita yang sudah dewasa, kali ini aku bisa dalam bahaya.
Bahkan Dira yang tidak tahu apa apa, akan terkena imbas oleh pengaruh kekuatan ayah yang otoriter.
"Rick, eh ko malah ngelamun," ucap Jesica.
"Gak ko. Mmmmm... Pokonya aku senang saja tinggal disana. Keren aja," jawab ku dengan sebuah alasan yang kekanak kanakan.
"Paling penting, ini menyangkut masalah projek kita kedepan. Aku rasa kita tidak bisa menolak nya."
"Apa?"
__ADS_1
"Akhirnya setelah lama kamu menunggu ini, kamu di izinkan buat ambil jurusan pemrograman komputer di Amerika! Ayah kamu sendiri bilang ke aku tadi Rick!" Kata Jesica sambil memegang tangan ku dengan erat, mata nya berbinar kebahagiaan.
"APA! Beneran?" teriak ku dengan keras, aku bahkan masih tidak percaya dengan semua ini.
"Disana nanti kita bisa rintis perusahaan di bareng bareng, kita bangun networking besar, kita jalani semua dari nol, kita pasti bisa bikin team yang hebat," kata Jesica dengan sangat bersemangat.
Aku masih belum bisa memberikan respon apa apa, aku hanya merasakan jika semua ini adalah mimpi.
"Please, kamu harus tinggalin tempat itu sekarang, kita kejar cita cita itu sampai berhasil," bujuk Jesica dengan sangat serius.
Kali ini aku merasa bingung, disaat impian ku akhirnya mulai terwujud. Disana tuhan malah memberiku sebuah rasa cinta yang tidak bisa aku tinggalkan begitu saja.
Aku penuh kebimbangan, hati ku penuh dengan ketakutan.
Bibir ini bergetar, sambil terus menahan kegelisahan.
"Aku gak bisa Jes," jawabku dengan perasaan menyesal.
Dahi Jesica mengkerut dan mata nya menyipit.
"Are you kidding me?"
"I'm not. Sorry Jes," balas ku sambil menundukkan pandangan. Saat itu aku memang sudah tidak mampu memandang nya lagi.
Aku memang pria pengecut sekali.
"WHY? HEI Rick, This is your dream, No, Our dream!"
"Sorry," jawab ku penuh dengan rasa malu dan menyesal.
"Tell me the truth, what's going on?"
"Nothing Jes, everything is gonna be okay,"
"OKAY? NO! YOU'R CRAZY! FUCKING CRAZY!" Bentak Jesica dengan sangat marah.
"Jelaskan, apa alasan kamu bisa dengan tolol ini bilang GAK! apa alasan nya Rick! Rahasia apa yang selama ini kamu sembunyikan dari aku?"
"Aku cuman belum bisa, belum siap, semua serba mendadak," jelas ku sambil terbawa emosi.
Aku yakin Jesica akan tambah marah dengan alasan ku kali ini, memang ini sangat tidak masuk akal.
Jesica tau jika aku adalah orang yang tidak mudah melepas ambisi, kali ini mungkin dia sangat terkejut melihat aku bisa berubah menjadi lembek seperti tahu.
Sambil berdiri dia menatapku sangat tajam.
"Aku pasti cari sesuatu yang kamu sembunyikan dari ku, lihat saja Erick aku gak bisa tinggal diam kaya gini," ancam Jesica sambil meninggal kan aku sendirian.
__ADS_1
*****
Aku mengurung diri di sebuah sudut parkiran hotel, termenung dengan segala keputusan yang telah aku ambil.
Saat itu juga Jesica sangat marah padaku, karena aku telah menolak tawaran nya. Mungkin dia akan menggila, jika dia tahu bahwa mimpi itu ku tukar hanya karena seorang wanita.
Disana aku sangat menyesal, karena mimpi yang selama ini kita perjuangan lenyap hanya karena sebuah ego ku yang tidak masuk akal.
Aku mengambil sebatang rokok, kunyalakan dengan pemantik api. Segera ku tenangkan isi otak yang runyam ini dengan kepulan nikotin.
Dari arah timur aku melihat ada motor trail meluncur masuk kedalam parkiran. Aku sekejap teringat, jika motor itu adalah milik pak guru Hary.
Aku penasaran, dengan wanita yang di bonceng nya di jok belakang. Wanita itu menggunakan helm dan kemeja putih.
Motor itu dipakrikan dengan rapih, lalu benar saja pria itu adalah pak guru Hary. Lalu kuselidiki jika wanita itu adalah mahasiswi magang populer di sekolah kami.
Aku terkejut melihat pemandangan langka itu, aku sedikit terhibur malam ini. Karena baru kali ini melihat ada seorang guru dan mahasiswi sedang bergandeng mesra di dalam hotel.
Ya kita tahu bersama, jika mereka akan melakukan permainan main serong yang menggelikan.
Aku iseng menguntit mereka kemana pergi, bahkan aku sempat mengambil foto mesra mereka yang sedang memesan hotel kamar di depan resepsionis.
"Bu Laras sama pak guru Hary emang gila," ucapku sambil tertawa melihat tingkah mereka yang sangat konyol.
Seketika kegalauan ku hilang, saat terus membuntuti mereka berjalan naik lift dan masuk kedalam pintu hotel kamar nomor 564.
Disaat itu juga aku merasa sedih, jika petualangan ku yang konyol harus segera berakhir di pintu kamar ini.
"Ok, selamat bersenang senang pak wali kelas," ucap ku sambil melambai kan tangan dan pergi meninggalkan pasangan yang sedang di mabuk asmara.
Sedangkan di dalam kamar sana, Laras dan Hary sedang bercumbu dengan sangat agresif. Mereka dengan gerakan kasar saling membuka baju masing masing.
Tak membutuhkan banyak waktu, mereka akhirnya segera berhamburan ke atas ranjang tanpa sehelai kain pun.
Namun belum saja mencapai klim*ks, kenikmatan bercinta tiba tiba pecah karena sebuah panggilan telepon dari HP Harry yang tergelatak di meja.
Hary meraih HP itu dan menerima panggilan dengan wajah yang merah dan berkeringat.
"Yah, besok kita pasti ketemu, bye Dira," ucap Hary sambil tersenyum puas.
"Siapa Dira?" tanya Laras dengan wajah kesal.
"Itu wali dari salah satu murid, bukan siapa siapa. Sudah lah gitu saja cemburu," balas Hary dengan wajah sok keren.
"Awas aja ya main sama cewek lain, aku tuh belain magang di sekolah itu karena kamu loh sayang," ucap Laras dengan cemberut.
"Iya sayang, aku tahu. Makasih ya," ucap Hary sambil mencium Laras, mereka kembali tenggelam dalam cinta yang sangat luar biasa.
__ADS_1
Mereka kembali melanjutkan hubungan intim dengan sangat bergairah, penuh dengan adegan erotis yang sangat ekstrim.