
Mereka sedang berada di dalam rumah makan Padang. Tentu, Dira merasa ini hal aneh, sejak kapan Erick mulai menyukai masakan lokal.
Dia sedang melihat Erick makan dengan begitu lahap, seolah dunia ini adalah milik nya sendiri. Bahkan dia sampai tak percaya pria itu bisa makan pedas.
Selama hidup satu atap dengannya, dia tidak pernah sedikit pun masak yang mengandung cabai. Erick adalah tipe pria western yang tidak neko neko.
"Diantara seluruh tempat makan di dunia ini, kenapa harus nasi Padang," tanya Dira aneh.
"Kamu tahu, dari tadi aku nahan lapar duduk kaya orang bego. Seharusnya gedung kesenian Jakarta menyediakan popcorn, soda atau snacks," jawabnya dengan santai.
"Kamu kira tadi kita lagi nonton di bioskop hah!" bentak Dira dengan cemberut.
"Sejak kapan kamu suka makan nasi Padang," tanya Dira.
"Sejak aku bertemu dengan seorang wanita yang jago banget masak khas Padang."
"Siapa?" tanya Dira penuh kecurigaan.
Erick tidak menjawab, dia hanya fokus pada piring yang berisi rendang CS.
"Kenapa kamu gak makan?"
"Gak selera," balas Dira dengan ekspresi lesu.
Erick tentu sangat memahami hal ini, Dira sedang dilanda sebuah kegalauan. Dia tahu betul wanita itu masih sangat merindukan anak nya.
"Perempuan tadi siapa?" tanya Erick pura pura tidak tahu apapun.
"Miss Laras," jawab nya pelan.
"Kayanya mereka dekat sekali," tambah Erick.
"Bukan dekat lagi, dia sudah sangat aku hormati?"
Mendengar nya Erick langsung menampakan wajah tidak percaya.
"Kamu tahu orang yang pertama menyadari bakat Hanum dari usia 3 tahun adalah Miss. Laras, dia adalah guru piano pertama yang Hanum punya. Sekaligus mentor yang hebat."
Erick diam saja mendengar nya, dia tidak bisa berkata apapun. Dia malah sedih melihat kebodohan wanita itu.
"Dia bagaikan malaikat tak bersayap, tanpa nya Hanum tidak akan sampai pada titik ini," lanjut Dira dengan wajah yang berkaca kaca.
Apa malaikat! jerit Erick dalam hati.
"Guru piano sama kimia ternyata cocok juga," celetuk Erick dengan sangat pelan.
"Apa? siapa yang cocok?" tanya Dira yang sedikit mendengar ocehan Erick.
"Gak, lupain saja," kata Erick.
*****
Mereka berdua berdiri saling berhadapan. Di depan teras rumah makan nasi Padang.
Mungkin, ini adalah akhir dari malam yang berharga ini.
Dira menjulurkan tangan kanannya.
"Terimakasih buat malam ini. Saat nya kita pulang," ucap nya sedih, dia harus segera meninggalkan udara kebebasan ini.
__ADS_1
Erick tidak membalas tangannya, ada rasa ingin tidak segera berpisah begitu cepat.
Dira pun bingung, kenapa kali ini Erick hanya banyak diam.
"Sebaiknya, kita harus sedikit lagi menikmati malam ini," jawab Erick tiba tiba jadi sendu.
"Ko kamu yang jadi sedih gitu," tanya Dira dengan perasaan bingung.
Sejujurnya Erick merasa kasihan dengan Dira, seharusnya dia mengatakan yang sejujur nya bahwa Hary dan Laras telah berselingkuh.
Tapi dia tidak bisa mengatakan itu! Dira tidak akan pernah percaya pada ucapannya.
Dia ingin menghibur nya malam ini, dia harus memberikan waktu yang lebih banyak.
Erick lalu menggenggam telapak tangan Dira dengan lembut, merasakan sentuh kulit nya yang halus dan dingin.
Erick tidak akan melepas Dira begitu saja.
"Ayo kita pergi," kata Erick.
"Pergi kemana lagi? jawab Dira heran.
"Kemana aja, penting kamu gak lepas tangan ku," jawab Erick datar.
Sudah jam 10 malam, mereka berjalan bersama melewati deretan ruko panjang. Malam ini suasana masih sangat ramai.
Dengan keluarga, pacar, sahabat & orang terdekat. Tempat ini cocok sekali untuk melepas akhir pekan.
Banyak sekali pedagang kaki lima berjejeran di jalan trotoar. Hilir mudik manusia dengan segala kebahagiaan yang ada.
Mereka berjalan berdua. Saling bergandeng dan memegang tangan satu sama lain. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih, namun tidak ada yang menyadari bahwa mereka adalah penculik dan tawanan.
Untuk pertama kali nya, mereka berjalan tanpa ada nya sebuah beban. Walau terkadang mereka menjadi perhatian, karena Dira berdandan bagaikan perempuan bangsawan.
Tok Tok Tok Tok
Kapal mainan legendaris. Dira senang melihat kapal kecil mengeluarkan suara tok tok tok di atas air dalam baskom besar.
Dira menghampiri nya. Dia senang bukan main dengan hanya melihat kapal kaleng itu bergerak.
Erick tidak bisa hanya diam. Dia merasa penasaran dengan mainan anak kecil itu.
"Tau gak sih Rick, dulu ayah ku suka belikan kapal otok otok otok ini."
Pedagang kapal otok otok ikut nimbrung, dia mulai menggoda mereka.
"Ayo dong mas belikan buat pacarnya," celetuk khas pedagang dengan jahil.
"Bukan bukan, dia bukan pacar saya," balas Dira dengan cepat.
"Berapa pak itu kapal nya?"
"Cuman 50 ribu aja."
Erick mengeluarkan uang berwarna biru dalam dompet. Menyerahkan kepada si pedagang. Pedagang memasukan mainan kapal itu ke dalam keresek putih.
Dira bangkit, melanjutkan safari malamnya. Erick senantiasa berjalan mengikuti kemana pun Dira melangkah.
Lagi lagi Dira berteriak histeris, dia mendadak memegang lengan baju Erick.
__ADS_1
"Ayo Rick cepat jalanya."
Mereka kembali pada ronde dua. Dira mengajak pria itu untuk melihat baskom baskom. Berjejer rapih berisikan pasir dan hewan kecil.
Hewan legendaris lainya, hewan bercangkang bernama Kelomang.
"Ih lucu banget," ucap Dira dengan penuh kegembiraan.
Dira mengambil satu Kelomang berukuran sedang bercorak kuning dan putih.
"Liat ya baik baik."
Untuk bermain dengan hewan kecil ini cukup unik. Cara agar Kelomang bisa keluar dari cangkang yaitu dengan meniup- niup ujung lubang cangkang tersebut.
"Dir, itu keluar kaki kaki nya," ujar Erick panik.
Dira buru buru meletakan Kelomang ke barisan arena balap. Kelomang bergerak maju dengan cepat.
"Hayo hayo Jalan," Dira dengan riuh menyemangati Kelomang pilihan nya.
Kelomang cap kuning itu menjadi peserta balap. Dia harus bersaing dengan 4 Kelomang lainya.
Erick di buat gelisah, ia ingin sekali Kelomang kuning itu menjadi pemenang.
"YEEEEE SI KUNING MENAAAAAANGGG..." Dira terpingkal pingkal di buat senang. Dia meloncat kesana kemari.
Akhirnya si kuning Kelomang mencapai garis finish. Dia dapat mengalahkan Kelomang besar lain.
Erick apa yang sedang ia lakukan sekarang?
Dia sama sama merasakan eforia kemenangan si kuning. Dia ikut senang!
Erick melupakan segala nya malam ini. Dira wanita yang penuh dengan kejutan.
Erick lalu memeluk Dira depan semua orang, dia begitu sangat menyayangi wanita ini. Dia bahkan tidak malu di lihat banyak orang.
"Rick, lepasin! malu di lihat bocah bocah," bisik Dira dengan wajah memerah.
"Udah mereka kan cuman bocah," balas Erick sambil tersenyum senyum.
"Tapi ko mereka,"
"Tapi apa?"
Erick lalu melepaskan pelukan itu. Dia lalu berbalik menghadap arah yang berlawanan.
Erick sangat terkejut melihat nya, sampai mata nya terlihat melotot keluar.
Erick melihat sosok tiga bocah berwajah iblis yang sangat ia benci sampai detik itu juga.
"Kalian bocah tengik," teriak Erick dengan kesal.
"Hai om, kita ketemu lagi," lambai bocah Baim dengan senyuman jahil nya.
Ketiga bocah yang menyebalkan itu, mereka datang lagi!
Mereka bertiga memasang wajah yang tengil. Tertawa terbahak bahak dengan tujuan merendahkan pria dewasa di depannya.
"Kamu kenal sama mereka?" tanya Dira terheran dengan tingkah Erick.
__ADS_1
"Mereka adalah bocah minimarket yang sudah merusak mobil kesayanganku!" teriak Erick histeris.
"Aaaaaaargggggggghhhhhh sial," ucap Erick dengan frustasi.