AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Ketika Percikan Api Menyala


__ADS_3

Tidak ada yang menyangka ataupun percaya, jika pria sekelas konglomerat telah dicampakkan oleh wanita biasa.


Di luar sana, banyak sekali yang ingin merebut hati Erick. Dari berbagai kalangan elit dan status darah biru, para wanita terus saja mendambakan sosok pria yang sangat terkenal misterius itu.


Hanya Dira yang mampu menolak ajakan Erick untuk menikah dan menempuh hidup baru. Hanya Dira yang bisa membuat hati Erick hancur berkeping keping.


Dia hanya seorang wanita berumur, pekerja di sebuah restoran biasa dan membangun keluarga kecil dan sederhana. Dira memang cantik, tapi di luar sana Erick mampu menemukan wanita berkali kali lipat lebih cantik dan menawan.


Karena kejadian penolakan tersebut, Erick memutuskan untuk tidur memisahkan diri. Dia masih belum bisa move on dari rasa kecewa akibat kenyataan pahit.


Dira hanya bisa melihat punggung pria itu dari belakang. Wanita itu merasa kasihan dengan Erick, dia seperti anak kecil yang rapuh karena telah kehilangan sebuah permen.


Sudah larut malam, Dira masih belum bisa memejamkan mata. Pikirannya terus saja mengingat kejadian luar biasa dengan Erick.


Dira hanya tahu jika Erick adalah pria yang menghindari komitmen dalam pernikahan. Dia adalah pria bebas dan tidak peduli dengan hal normal di luar sana.


Dia hanya peduli dengan masa depan bisnisnya. Dia hanya pria yang tergila gila dengan teknologi. Baginya wanita hanya sebuah hiburan yang menarik.


Tapi nyatanya, dia malah dengan bodoh dan merengek seperti anak kecil meminta untuk menikah. Erick belum belajar dari kisah rumah tangganya dengan Hary. Erick masih menanggap pernikahan adalah sebuah dongeng yang indah.


Dira kembali melihat Erick yang sudah tertidur pulas. Syukurlah, semoga saja pria itu segera melupakan apa yang telah terjadi.


Namun secara tiba tiba, Erick mengeluarkan suara serak dengan mata masih tertutup. Dia sedang mengigau dengan jelas.


"Ibu, ibu, ibu..." ucapnya sangat parau.


"Tidak... jangan.. pergi... ibu.. Erick takut."


Mendengar rengekan Erick yang terdengar sangat menyiksa. Lantas Dira bangkit dari sofa, dia lalu menghampiri Erick yang masih tidur dengan posisi yang tidak berubah.


Dira menolehkan wajahnya tepat di depan Erick. Dia melihat seluruh wajahnya basah oleh keringat. Bahkan raut wajahnya yang tampan mendadak berubah sangat ketakutan.


Dira mulai bertanya, kenapa dengan pria ini. Kenapa dia bisa bermimpi begitu menyeramkan. Kenapa dia terus memanggil ibu dan ibu.


Perlahan Dira mengambil handuk kering di meja. Tangannya mencoba untuk mengelap keringatnya yang sudah terlalu banyak.


Mendadak saat itu juga, tangan Erick meraih handuk kecil itu. Kedua matanya mulai terbuka sempit, wajahnya lemas dan letih. Dia sadar dalam keadaan yang tidak menentu.


"Ibuku Dira," ucap Erick meringis kesakitan.


"Kenapa dengan ibu?" tanya Dira pelan.


"Kenapa akhir akhir ini aku sering memimpikannya. Dia selalu hilang dalam kobaran api besar, dia selalu ditelan api hitam pekat," gumam Erick sangat tak berdaya.


Dira baru tersadar, jika mimpi Erick terasa begitu nyata untuknya. Erick ketakutan setengah mati hanya karena sebuah mimpi. Dira pertama kali melihat pria itu bisa kehilangan semua kekuatannya.


Wajahnya menyimpan luka dan kepedihan. Erick kali ini persis seperti anak kecil yang kehilangan harapan dan arah tujuan.


Hatinya mulai merasa sangat iba.


Hatinya mulai terbang hinggap kedalam jiwanya yang gelap.


Pria itu, tidak sekuat yang Dira bayangkan.


Dira kemudian tidur di samping tubuh Erick. Dia memeluknya dari samping. Sebisa mungkin dia ingin sekali menenangkan ombak yang terus memakan jiwanya.


"Semua akan baik baik saja, tenanglah. Malam ini, kamu tidak akan kehilangan siapapun lagi," ucap Dira dengan perasaan yang tulus.


Erick menerima pelukan hangat Dira. Kedua matanya mulai menangis. Dia ingin membagi rasa sakit dan menyiksa itu dengan Dira.


"Aku sangat mencintaimu, tolong jangan pernah untuk berpikir ingin meninggalkan ku lagi," ucap Erick dengan pelan.


Perlahan Dira menepuk pundak Erick. Perasaanya ikut hanyut dan mengalir pada Erick.


...Aku mencintaimu Erick....


...Ingin rasanya aku berteriak lantang dan menantang dunia, jika cinta itu ada untuk pria jahat sepertimu....


...Hanya saja, kita tidak pantas....


...Kita adalah pendosa yang harusnya tidak menerima kebahagiaan....


...Karena cinta, aku takut akan ada lagi yang terluka dan jatuh....


...Karena cinta, kita sudah banyak kehilangan....


...Bahkan karena cinta, kita sudah banyak melupakan apa makna cinta itu sendiri....


...Yang ada kita akan semakin terpuruk. Kita akan hidup dalam lubang neraka yang tak berujung....


...Anggap saja kita sedang menjalani hidup dalam sebuah pasung hukuman....


...Kita sangat pantas menderita, akan adil jika cinta itu tak akan pernah ada untuk kita....


****


Menjelang hari kedua, mereka akhirnya sudah sampai di kota Surabaya. Kota yang sangat panas dan padat.


Ini sudah menjelang makan siang, Erick dan Dira memutuskan untuk singgah di sebuah rumah makan sederhana.


Tidak ada AC ataupun CCTV, hanya berbaris banyak kursi plastik dan pelanggan para supir angkot dan truk.


Erick lama lama sudah terbiasa dengan keadaan serba kurang dan tidak nyaman. Namun untuk saat ini, justru hal itu yang membuat perjalanan mereka aman.


"Ko aku mual sama pusing banget ya," ucap Dira dengan wajah lemas.


"Kamu makan dulu, udah itu langsung minum obat," kata Erick sambil memilih menu makan.


"Aku mau ke wastafel dulu bentar," ucap Dira langsung bergegas ke arah wastafel dekat dengan TV besar di sampingnya.


Erick memperhatikan wanita itu dari belakang. Dia sangat khawatir dan gundah, karena akhir akhir ini Dira sering mengeluh sakit.


Saat semua orang sibuk dengan hidangan masing masing. Siaran berita TV terus saja menyala, tidak ada yang memperhatikan saluran berita itu.


Hanya tak sengaja Erick melirik siaran TV itu. Perlahan dia mulai menyadari, jika foto dirinya sedang di tampilkan di layar kaca. Foto itu dibicarakan oleh pembawa acara. Bahwa Erick adalah DPO polisi yang sedang di buru.


Masih tak gentar, dia terus melihat isi berita tersebut. Disebutkan polisi sedang menyita dan menggeledah penthouse, kantor dan beberapa aset lain. Tujuannya tak lain untuk mendapatkan bukti tambahan.


Anggota keluarganya mulai dikerumuni banyak wartawan. Para pemburu berita itu sedang mengusik pemilik Sinar Harapan Group. Namun bisa di tebak, ayah dan sang ibu tiri hanya memilih bungkam.


Akhirnya, semua telah terbongkar. Satu Indonesia sudah mengetahui siapa sebenarnya penculik wanita malang itu. Dia sedang diburu oleh satu Indonesia.

__ADS_1


Erick lalu menghampiri Dira yang masih berdiri di depan wastafel. Dia menarik paksa wanita itu agar segera meninggalkan tempat makan. Dengan terburu buru Erick dan Dira langsung masuk kedalam mobil.


"Ada apa Erick?" tanya Dira dengan wajah bingung.


"Sekarang, sudah tidak ada tempat sembunyi lagi. Semua orang sudah mengetahuinya, aku sedang dalam pencarian polisi," jelas Erick sambil menancap gas mobil.


"Apa!" ucap Dira dengan sangat terkejut.


"Kita harus secepatnya bertemu Jesica, aku yakin dia sudah sampai Surabaya," balas Erick dengan serius.


****


Erick sedang menemani Dira berbaring di atas ranjang. Sejak siang tadi demamnya belum reda juga. Namun setelah mengkonsumsi obat, Dira akhirnya lekas tertidur.


Tangan Erick terus menyentuh wajah dan mengusap rambut Dira berulang kali. Ada apa dengan wanita ini? mengapa dirinya begitu sangat tangguh untuk bisa bersama Erick?


Bibirnya lalu mengecup kening Dira dengan penuh penghayatan. Dia ingin sekali melihat Dira kembali bersemangat dan ceria seperti biasanya.


Segera ia bergegas keluar dari kamar penginapan. Berjalan menghampiri Jesica yang sedang duduk di salah satu kursi di tengah tengah bangunan.


"Bagaimana kabar Dira?" tanya Jesica.


"Dia masih demam, tapi syukurlah dia akhirnya bisa istirahat juga," balas Erick sambil meneguk botol bir di atas meja.


"Sebaiknya kamu ikut saja dengan kami, tinggalkan Indonesia secepat mungkin," saran Erick.


"Aku tidak bisa meninggalkan Denka begitu saja. Aku harus hadapi dan bereskan kekacauan ini.


Denka sangat berharga bagiku, itu adalah kenangan yang berharga diantara kita berdua. Aku harus menjaganya sampai mati," ucap Jesica lirih.


Respon Erick setelah mendengar jawaban Jesica, ia malah merasa makin bersalah. Di satu sisi, dia malah sibuk mempertahankan ambisi dan cinta untuk seorang wanita yang sudah berumah tangga


Namun ada sosok wanita lain yang sama berharganya untuk Erick. Dia lebih kuat dan tangguh daripada yang ia kira. Jesica begitu hebat mempertahankan prinsip hidupnya.


"Apa kamu takut? tanya Jesica sambil menghisap ujung puntung rokok.


"Aku tidak takut dengan hukum ataupun polisi. Aku hanya terlalu takut kehilangan kalian berdua," tutur Erick dengan santai saja.


"Bohong," celetuk Jesica sambil tertawa.


"Ya emang kaya gitu ko, beneran sumpah," timbal Erick dengan tawa lepasnya.


Erick kemudian bergegas meninggalkan Jesica seorang diri. Dia meminta Jesica untuk menjaga Dira sebentar. Erick ingin keluar sambil mencari stock obat yang hampir habis.


Kini tinggal Jesica duduk sendirian. Dia lalu iseng membuka HP dan melihat pemberitaan viral di internet.


Semua portal berita online maupun youtuber tengah asik membahas sosok Erick. Mereka begitu sangat bersemangat mengulik profil dan masa lalu Erick.


Ada yang menghujat habis habisan, ada yang menyumpahi pria itu dengan sebutan iblis namun ada juga yang hanya sekedar mengaggumi wajah tampan Erick.


Jesica hanya bisa tersenyum tipis melihat semua keributan media online. Bahkan ada sekelompok feminisme yang terus menyerukan agar Erick bisa dihukum kebiri.


Ditengah sibuknya menatap layar HP, dari arah belakang penginapan terdengar suara benda berjatuhan. Suara itu cukup berisik dan menganggu konsentrasinya.


Jesica mendadak penasaran dengan sumber suara itu. Dia lalu melangkah menuju belakang penginapan. Jesica lantas tak masuk kedalam kamar Dira. Dia malah langsung bergegas ke arah belakang.


Perlahan dia berjalan menghampiri sumber suara itu dan mendapati Laras sedang berdiri sambil membawa jirigen bensin.


"Ngapain kamu disini?" tanya Jesica langsung menepis jirigen penuh bensin itu.


Dengan susah payah Laras menumpahkan seluruh isi bensin ke setiap sudut belakang bangunan. Dia bahkan dengan berani mendobrak ruang tamu depan. Ditumpahkan kembali isi bensin itu ke dalam ruangan.


"Jangan coba coba kamu bertindak bodoh seperti ini!" ancam Jesica dengan keras. Dia kemudian membanting jirigen itu jauh dari hadapan mereka.


"Karena kalian, aku sangat menderita. Kenapa sih repot repot harus culik lagi wanita ****** itu. Seharusnya kalian bunuh saja dia!" teriak Laras dengan histeris.


"Jangan lakukan itu Laras! aku mohon," bujuk Jesica dengan hati hati. Dia kemudian berjalan sangat pelan mendekati wanita gila itu.


Laras memang tidak main main dengan rencana jahatnya. Dia mengeluarkan sebuah pemantik dari saku celananya. Dia tersenyum ketir dan puas melihat Jesica tak berdaya kali ini.


"Aku hanya ingin melenyapkan wanita itu saja, tapi sayang sekali kamu harus ikut kedalam rencana ini. Malang sekali nasibmu, nyonya sekertaris," ledek Laras sambil memainkan ujung pemantik.


"Sadar Laras! jangan sampai kamu berubah menjadi seorang pembunuh hanya karena pria bejat seperti Hary," ucap Jesica hampir sampai menyentuh pemantik itu.


"Sekali cinta adalah cinta. Wanita itu aku sangat membencinya," jawab Laras dengan tangan yang sudah hampir menekan ujung pemantik itu.


Namun dengan gigih dan berani, Jesica tiba tiba mendorong tubuh Laras sampai jatuh. Dia langsung merebut pemantik yang sudah berserak di bawah lantai.


Belum sempat menyentuh pemantik itu, Laras kembali bangkit dan memukul kepala Jesica dengan sebuah vas bunga.


Dengan tubuh yang terhuyung, Jesica pun jatuh dengan mudah ke atas lantai. Kedua matanya tertutup dan dia tidak sadarkan diri.


Dengan cepat Laras kemudian menjatuhkan pemantik itu ke salah satu genangan bensin. Satu, dua, tiga...


Daaar....


Api menyembur masuk dan menyeruak keseluruh ruangan dengan cepat. Melihat api itu mulai membesar, Laras kemudian lari dan kabur dalam kobaran api tersebut.


Perlahan Jesica mulai membuka kedua matanya. Kesadarannya mulai pulih, namun kobaran api sudah hampir membakar seluruh ruangan.


Dengan seluruh kekuatan, dia mencoba untuk bangkit. Dengan langkah yang terombang ambing, Jesica berusaha untuk melewati banyak titik api. Dia akhirnya berhasil masuk kedalam kamar Dira.


Di sana dia melihat wanita itu sedang merintis kesakitan, dia masih berbaring di atas tempat tidur.


"Dira, bertahanlah!" ucap Jesica sambil menghampiri kasur itu.


"Jes, kenapa tiba tiba semuanya menjadi api?" ujar Dira dengan tangis yang meringis.


"Semua ini adalah ulah Laras, sebaiknya kita harus segera keluar dari tempat ini," jawab Jesica sambil membantu Dira keluar dari kasur itu.


Kini Jesica dan Dira sedang berjalan bersama menghindari banyak kobaran api. Perlahan seluruh perabotan dan tiang bangunan roboh dan berjatuhan.


Dira yang masih dalam keadaan demam tinggi, membuatnya sulit untuk bertahan. Tubuhnya lemas dan tak berdaya. Sekali kali dia tersungkur jatuh.


"Kamu harus bertahan," ujar Jesica sambil mencoba membantu Dira berdiri.


"Aku sudah tidak melihat ada jalan keluar, semua penuh dengan api. Sebaiknya kamu tinggalkan aku saja disini. Selamatkan dirimu dan cegah Erick untuk masuk," ucap Dira dengan pandangan yang sudah berkunang-kunang.


"Gila ya kamu, kita pasti bisa keluar. Kita pasti bisa selamat," sanggah Jesica dengan kesal.


Dia lalu membantu Dira agar bisa berjalan sampai titik pintu keluar. Namun suara dari atas atap tiba tiba terdengar bergesekan.

__ADS_1


Kreek.. kreek..


Bruuuk...


Sebuah kusen kayu berukuran besar jatuh dari atas. Kayu besar tersebut lalu jatuh tepat di posisi mereka berdua. Lantas kayu besar itu menghimpit dan menjebak tubuh mereka.


Jesica tidak bisa bergerak sama sekali. Kedua kakinya terasa sangat remuk karena hantaman kayu berukuran besar. Sedangkan Dira sudah terkapar dan pingsan tak berdaya.


"Sial," decak Jesica kesal.


"Jesiiicaaaaaa!!!!" teriak Erick berjalan menerobos banyak rintangan api di depannya.


Dengan wajah yang sudah kotor karena debu, Erick akhirnya datang menuju tempat dimana mereka terjebak.


"Rick, kamu bawa saja Dira dulu! kamu cukup singkirkan kayu ini saja," ucap Jesica sambil mengerang kesakitan karena kedua kakinya sudah lecet dan ter kilir.


Langsung Erick menarik kayu besar itu keatas. Dengan mengerahkan semua kekuatannya, akhirnya perlahan kayu itu mulai terangkat dari tubuh mereka berdua.


Bruuuk..


Suara kaya besar pun terdengar, tak kala kayu itu berhasil Erick singkirkan.


"Ayo kita keluar bersama sama," ucap Erick dengan panik.


"Gak bisa, kamu akan kewalahan merangkul kami berdua. Sebaiknya kamu bawa saja dulu Dira, aku bisa menyusul sendiri," balas Jesica sambil berusaha berdiri.


"Tapi kaki mu, lihat saja!" jawab Erick sambil sedikit berteriak.


"Ayo cepat, bawa saja Dira. Sudah tidak ada waktu lagi," ujar Jesica sambil tersenyum pahit.


Dengan terpaksa, Erick akhirnya harus membawa Dira terlebih dahulu. Dia lalu memboyong wanita yang sudah tak sadarkan diri.


"Tunggu aku Jes, aku pasti akan susul kamu setelah ini," gumam Erick dengan sedih dan penuh kebimbangan.


"Santai saja," balas Jesica sambil menahan kakinya yang sakit.


Erick lalu berusaha berlari cepat membawa tubuh Dira ke luar bangunan. Cukup sulit dan sangat terjal, namun pada akhirnya Erick mampu untuk menyelamatkan Dira.


Lalu Erick merebahkan tubuh Dira di atas tanah. Dia kemudian mencoba untuk menyadarkan Dira.


"Sayang, sayang.. kamu gak papakan?" tanya Erick dengan sangat kacau.


"Jesica, jesica...." ucap Dira dengan suara parau dan serak.


Mendengar Dira terus memanggil nama Jesica. Dia lalu segera tersadar jika sahabatnya itu masih belum keluar. Erick yakin jika sahabatnya itu masih terjebak di dalam kobaran api.


Dengan semua keberanian dan tekad yang sudah tak bisa di tukar apapun. Erick langsung kembali menerobos bangunan yang sudah hampir dilahap amukan api.


Erick cukup kesulitan menghindari banyak sekali sisa sisa bangunan yang roboh. Dari berbagai sudut, perlahan bangunan itu akan segera runtuh. Namun Erick tidak peduli, dia harus segera menyelamatkan Jesica.


Pada akhirnya dia hanya melihat, jika tubuh Jesica kembali terhimpit oleh lemari kayu jati besar yang sudah sebagian terbakar.


"Jes... Jes..." teriak Erick dengan histeris.


Dengan sekuat daya dan tenaga yang tersisa, Erick mencoba untuk menyingkirkan lemari itu. Namun sial, lemari itu terlalu besar untuk disingkirkan hanya dengan tangan kosong.


Erick tak bisa menyerah begitu saja, dia terus saja mendorong lemari itu dengan kedua kakinya.


"Sial, sial , sial...." teriak Erick dengan gusar.


"Jes, aku akan meminta bantuan. Semoga ada warga sekitar yang melihat kebakaran ini!"


"Jangan Erick..." balas wanita semakin lemah. Pandangannya kini mulai kabur dan buram.


"Apa kamu mau mati begitu saja HAH!" bentak Erick dengan sangat frustasi.


"Pergi.."


"Gak! aku gak bisa pergi!"


"Tinggalkan aku.."


"Bodoh!"


"Jika kamu terus disini, maka kita berdua akan mati bersama. Jadi aku mohon, kamu lebih baik pergi. Biarkan saja aku yang mati," ucap Jesica sambil menangis dan nafas yang sudah habis.


Erick lalu menghampiri tubuh Jesica yang sudah hampir di ujung kematian. Erick berusaha keras menarik tubuh wanita itu keluar. Namun tetap saja dia tidak bergeser sedikitpun.


Langsung saja, pecah tangis Erick membludak . Dia tak kuat menahan rasa sakit yang sangat memuncak di dalam dadanya.


Erick meraih tangan Jesica dengan erat. Kali ini mereka saling menatap satu sama lain untuk terakhir kalinya.


"Maafkan aku," ucap Erick sambil terus menangis.


"Pergi.."


"Jesica.. maafkan aku."


Dari luar tiba tiba terdengar sirine mobil pemadam kebakaran. Namun itu masih sangat jauh, mereka datang terlambat.


Jesica dengan kekuatan terakhirnya, mencoba untuk menyentuh rahang pipi Erick. Dia menatap wajah itu penuh dengan kelembutan.


"Love you, bodoh" ucap Jesica sambil tersenyum tipis.


Setelah itu dia menutup mata untuk terkahir kalinya. Tangannya langsung jatuh dan terkulai begitu saja.


Erick pun mencoba menarik tangan Jesica sebisa mungkin dan mencium tangan itu dengan derai air mata penuh penyesalan.


"Maaf.." ucap Erick untuk terkahir kalinya di depan Jesica yang sudah terbujur kaku seperti mayat.


Mendengar sirine mobil sudah semakin mendekat. Erick langsung berdiri dan bergegas untuk meninggalkan tempat ini. Dia akhirnya memilih untuk pergi dan membiarkan Jesica masih terhimpit di atas lemari.


Setelah berhasil keluar dari kobaran api itu. Langsung saja terdengar suara ledakan dahsyat dari dalam bangunan yang sudah habis terbakar.


Erick menatap serbuan api itu dengan seluruh penyesalan yang tak pernah ter ampunkan. Di dalam sana, masih ada Jesica. Dan di dalam sana pun, masih tertinggal sayup sayup jiwa Erick yang melayang seperti hantu.


...Seharusnya aku yang mati....


...Tapi kenapa harus pria bajingan seperti ini yang kau cintai....


...Jesica, aku sangat menyayangimu....

__ADS_1


...Sahabatku.....


...Jadi ku mohon, jangan pernah memaafkan ku sedikit saja....


__ADS_2