
Matahari terbenam dari ufuk barat dengan menawan. Kekuatan fatamorgana dapat dengan mudah menyihir siapa saja yang melihat.
Hari ini sungguh sangat melelahkan, Dira bahkan tak sadar jika waktu cepat berlalu.
Di bawah alas, dia sedang memiringkan badanya. Mencoba menikmati segala keindahan dengan meregangkan seluruh otot nya.
Erick dengan suasana hati yang sedang baik ikut menemani Dira. Dia duduk di samping wanita itu yang masih rebahan di atas pasir.
"Bisa gak kamu ajak aku jalan jalan lagi," tanya Dira dengan sangat percaya diri.
"Nmmmm repot sih, kalau harus bawa kamu keluar terus," balasnya dengan wajah senyum merona.
Dira dengan ekspresi kecewa langsung duduk dan menatap Erick. Dia mengendus kesal.
"Kamu tau gak Rick, aku tuh selalu bermimpi jadi backpacker. Kerjaannya jalan jalan keliling dunia," ucap Dira dengan girang menjelaskan mimpi nya selama ini.
"mmmmmm," jawab Erick yang hanya bergumam.
"Aku pengen banget makan kimchi asli Korea, foto romantis depan menara Eiffel atau naik Yacht di Maladewa. Seru banget kayanya," tambah Dira dengan rasa khayal yang semakin tinggi.
"Pasti kita pergi kesana, kita habiskan waktu bersama sama dengan melakukan semua impian mu," jawab Erick tanpa ekspresi.
"Bener nih? Awas aja bohong."
Erick hanya mengangguk. Dira teramat girang mendengar itu semua.
"YEEEEYYYYY," teriak Dira dengan penuh kegembiraan. Sontak Dira langsung merebahkan tubuhnya di atas pangkuan Erick.
"Aku ngantuk, jangan ganggu aku."
Erick menatap wanita itu dengan penuh rasa cinta, wajah Dira yang begitu bersinar dan cemerlang. Terlalu banyak hal yang sangat Erick suka, dari bibir, mata, hidung bahkan kibasan rambut sekalipun.
Ya, Erick sangat tergila gila dengan kibasan rambut Dira yang terurai indah.
Dira benar benar tidur pulas dalam pelukannya, dia sangat menikmati momen langka ini. Dia sama sekali tidak ingin membangunkan Puteri tidur itu.
Sampai akhirnya malam pun tiba, Erick dan Dira masih dalam posisi yang sama. Erick merelakan tubuhnya untuk menopang berat Dira.
Kedua mata Dira terbuka, perlahan dia melihat suasana pantai sudah jadi gelap gulita. Tiupan angin kencang mulai menusuk kulitnya yang tipis.
Dia bangkit dari posisi rebahan nya. Melihat Erick yang masih setia berada di samping nya.
"Ko masih disini, ini udah malam banget," ucap Dira sambil menggesek-gesekkan bola mata.
"Tau gak kamu itu berat, lihat sampai tangan dan kaki kesemutan semuanya," protes Erick sambil menggerakkan semua bagian tubuhnya.
"Ya maaf," balas Dira dengan masa bodoh.
Dira dan Erick lalu bangkit dari posisi duduk. Mereka bersiap untuk pulang ke tempat persembunyian.
*****
__ADS_1
Malam ini cuaca begitu sangat dingin, bahkan angin kencang mulai mengibas kan kekuatannya.
Untung saja mereka sudah sampai rumah, kalau telat saja bisa terjebak oleh hujan dan angin kencang.
Dira sudah mengganti pakaian extra tebal, agar badanya bisa tertutup dengan hangat. Sambil duduk di kursi ia terus memandangi jendela.
Pandanganya asik melihat deburan ombak yang semakin besar dan pohon bergoyang kesana kemari.
Datanglah Erick, dia memberikan sebuah gelas. Mereka duduk bersama sambil menikmati wine. Menikmati waktu bersama di malam yang sangat indah.
"Baru kali ini aku tahu apa rasanya menghayal," ucap Erick memecah keheningan.
"Ngayal apa kamu?" tanya Dira penasaran.
"Selama kamu tidur di pangkuan ku tadi, aku cuman bisa membayangkan bagaimana rasanya menghabiskan waktu berkeliling dunia berdua saja sama kamu," balas Erick sambil tertawa malu.
Dira tercengang, tak semestinya dia harus berkata seperti itu. Berkeliling dunia memang impian sejak lama, namun bukan dengan Erick.
Dira sangat menyesal mengatakan tentang menjadi backpacker. Dia masih tidak mengerti kenapa otak nya masih saja belum premium.
Selama ini dia merancang mimpi itu dengan Hary. Sebelum jauh bertemu Erick, hanya Hary yang selalu menjadi tempat keluh kesah. Tempat menuangkan segala curhatan hidup yang keras.
Dira tidak merespon, dia harus memikirkan bagaimana ini adalah sebuah kesalahpahaman. Membayangkan harus berlibur dengan Erick saja membuat nya jijik.
Dia tidak bisa menaruh harapan seperti itu, semuanya palsu. Dia tidak ingin mimpi indah itu harus di rebut oleh pria jahat seperti dirinya.
Mimpi itu hanya untuk Hary! siapapun tidak berhak merusak nya.
Erick diam dan menatap kosong. Dia lalu tersenyum sinis lalu menuangkan wine penuh ke dalam gelas.
Dia langsung meneguk nya langsung.
"Aku tahu itu Dir," jelas Erick.
Dira tertawa terbahak bahak dia lalu kembali menuangkan segelas wine.
"Aku dan Hary bertemu di sekolah. Dia dulu adalah seorang guru Kimia," kata Dira sambil setengah mabuk.
Dira dengan sengaja menceritakan bagaimana masa lalu ia dengan Hary. Dia mencoba mengingat sebuah kisah yang sudah sangat lama.
Bagaimana dia harus berurusan dengan seorang guru Kimia. Harus datang ke sekolah untuk perwakilan seorang siswa bandel.
"Waktu itu aku harus pergi kerja ke kantor, tapi aku dipanggil oleh wali kelas karena ulah siswa bandel itu. Aku ingat betul, saat itu aku sampai bertengkar dengan Hary di ruang guru." Dira menjelaskan dengan wajah yang bahagia.
"Kenapa kamu bertengkar hanya untuk siswa bandel itu?" tanya Erick penasaran.
"Dia yatim piatu, aku hanya kasian melihat anak itu selalu saja bermasalah. Mukanya selalu lesu, miskin dan selalu kesepian."
Sambil mabuk Dira mengatakan bahwa anak itu tiba tiba menghilang. Dia bahkan sudah lupa bagaimana wajah anak itu.
Dia hanya berharap jika anak itu akan tumbuh menjadi orang yang selalu bahagia dan tidak kesepian lagi.
__ADS_1
Sudah sangat larut malam, mereka berdua masih saja minum. Mereka menjadi sangat mabuk, bahkan Dira sudah ingin memuntahkan isi perutnya.
Dengan sekuat tenaga, Dira berjalan menuju toilet. Lalu dia muntah berkali kali di wastafel. Langkah nya terhuyung kesana kemari, pikirannya sudah hilang entah kemana.
Dira masih melihat Erick duduk termenung, ternyata pria itu jago sekali dalam urusan minum.
Tiba tiba pandanganya buyar, dia ambruk ke lantai. Dia pingsan tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol yang begitu kuat.
Erick melihat Dira terkapar lemas di lantai, dia dengan kuat masih bisa berjalan. Menghampiri wanita itu lalu menggendong nya masuk ke dalam kamar.
Bruuuk!
Dia menghantam kan tubuh Dira ke kasur. Dia ingin membiarkan wanita itu istirahat. Sudah cukup dia harus merusak tubuh nya dengan alkohol.
Ketika Erick berjalan keluar, tangan Dira lalu meraih nya. Dia melihat wanita itu masih bangun dan memegang lengan nya.
"Jangan pergi," ucap nya lirih.
Erick tertahan, dia lalu kembali duduk di kasur menghampiri wanita mabuk itu.
"Istirahatlah, nanti sakit," ucap Erick sambil cepat melepas tangan Dira.
Dira masih mabuk berat, dia hanya menggelengkan kepalanya.
Tiba tiba Dira mendaratkan sebuah ciuman tepat di bibir Erick. Tentu dia kaget bukan main, ini pasti hanya sebuah kegilaan saja.
Erick beranjak dari kasur dan segera menghindar. Erick tahu betul jika wanita itu sedang tidak berpikir normal, otak nya rusak oleh alkohol.
Namun dia kembali menatap Dira, wanita itu masih saja menutup matanya. Masih terhuyung lemas, wajah nya memerah dan kulitnya tadi begitu dingin.
Erick harus mengakui, bahwa dia adalah pria normal seperti yang lain. Dia adalah pria yang tidak bisa menahan segala nafsu birahi yang selama ini memuncak.
Selama ini dengan waktu yang sangat lama, ia terus menahan rasa itu. Dia butuh gairah yang selama ini dia sembunyikan.
Dengan buru buru Erick kembali ke kasur itu, dia langsung kembali mencium Dira.
Dengan gaya yang kasar, mereka saling membalas ciuman satu sama lain. Saling melumatkan bibir dengan penuh adrenalin.
Erick lalu mendorong tubuh Dira ke atas kasur, dia terus mencium segala bagian tubuh itu dengan sangat mudah. Leher, telinga bahkan sudah beranjak turun ke bagian dada.
Dengan kekuatan nya sebagai pria sejati, ia lalu melepas baju Dira dengan cepat. Membuka kancing satu persatu.
Kembali dia mencium bagian payu dara tiba tiba Dira mendesah. Dia mengeluarkan sebuah suara yang begitu mengusik kenikmatan malam ini.
"Hary," ucap Dira dengan penuh gairah.
Erick terkejut, lalu dia segera keluar dari atas kasur. Dia masih meninggalkan Dira dengan tubuh setengah telanjang.
Erick tidak berkutik, semua menjadi beku. Erick sungguh tidak bisa menyentuh wanita itu lagi. Wanita yang pikiran dan jiwa nya hanya melayang pada pria bajingan seperti Hary.
Dia keluar dari kamar dan menutup pintu. Rasa cemburu itu perlahan mulai membakar hati nya.
__ADS_1