
Zaki berlari menuju ruang interogasi, dia masuk kedalam ruangan dengan penjagaan ketat polisi.
Disana Zaki melihat seorang detektif senior lain keluar dari pintu, dia menggelengkan kepala nya.
"Dia masih belum bicara sama sekali," ujar nya dengan wajah bingung.
Detektif itu belum mendapatkan informasi apa apa dari korban penculikan. Berapa kali dia mencecar pertanyaan, Dira selalu memilih untuk diam.
Zaki mengkerut kan kening, seperti nya ada sesuatu yang tidak beres dengan wanita ini. Kemudian dia melihat dari balik kaca, disana ada Dira yang masih duduk santai.
"Izinkan aku untuk berbicara dengan nya," pinta Zaki dengan serius.
Dia sendiri lalu masuk kedalam ruangan interogasi yang serba hitam, lampu redup dan sunyi. Disana hanya ada satu meja dan dua kursi kayu saling berhadapan.
Zaki kemudian duduk di depan Dira. Dia kemudian menatap Dira yang selalu tertunduk lesu.
Sebelum memberikan pertanyaan, Zaki sedikit menganalisa penampilan fisik wanita itu. Dia memperhatikan jaket kulit, sepatu dan aksesoris mahal yang sedang wanita itu kenakan.
Tak hanya itu, Zaki terus memperhatikan kulit Dira yang masih terlihat baik baik saja. Terlihat sangat mulus dan terawat baik.
Ini adalah hal yang cukup aneh untuk seorang korban penculikan. Tidak ada tanda kekerasan fisik atau orang yang habis di lantarkan.
"Apa kamu baik baik saja?" tanya Zaki dengan pelan.
Dira masih menunduk, dia tidak merespon apapun. Dia tidak peduli dengan berbagai macam pertanyaan dari polisi.
"Aku dengar kamu terakhir pingsan di taman kemarin malam? Kenapa kamu bisa ada disana? Dengan siapa kamu sebenarnya malam itu?" Zaki terus mencoba memahami wanita ini, dia tidak akan gegabah dengan korban penculikan.
Dira masih diam mematung, dia tidak akan terpengaruh dengan pertanyaan dasar seperti itu.
"Apa kamu diancam oleh nya? Apa kamu merasa takut? Tenanglah, kamu sekarang aman. Kami janji akan selalu melindungi kamu," bujuk rayu Zaki dengan sabar.
Zaki sangat bingung dengan sikap aneh wanita itu. Ini adalah hal yang tidak biasa dan sulit untuk di pahami. Tidak seperti biasa, umum nya korban penculikan selalu merasa frustasi dan berusaha untuk menceritakan sebanyak mungkin tentang pelaku.
Namun tidak untuk Dira. Dia malah berusaha untuk menyembunyikan kebenaran dari peristiwa kasus mobil merah.
Zaki harus memutar otak, dia ingin sekali membuat wanita itu bicara. Dia harus bisa menggali informasi dari nya sebanyak mungkin.
"Sekeras apapun kamu menyembunyikan orang yang telah menyakiti mu, tapi faktanya aku sudah tahu siapa dalang dibalik semua ini,
Dia pria konglomerat itu kan? Pria maniak yang selalu menguntit mu sepanjang waktu?" tanya Zaki sambil mendekatkan wajah ke arah Dira.
Mendadak psikologis Dira mulai terganggu dengan kata konglomerat. Dia punya perasaan takut jika sebenarnya polisi sudah tau siapa Erick.
Jari kanan nya mulai bergerak dan menyatukan jari jemari nya dengan rapat. kedua mata nya mulai melirik cemas ke kanan dan kiri. Kali ini dia tidak bisa menyembunyikan kegelisahan nya.
Zaki dengan cermat melihat perubahan sikap Dira. Ada sebuah responsif jelas ketika dia menyebutkan ciri ciri pelaku. Gestur nya berubah dan memperlihatkan tanda defensif dan ketidaknyamanan.
Zaki harus menggali nya lebih dalam, dia mencoba untuk terus memojokkan mental wanita itu. Dira cukup bereaksi ketika disinggung masalah detail sang pelaku.
__ADS_1
"Selain itu kami akan segera menangkap kaki tangan pelaku. Apa kamu sering bertemu dengan wanita itu?" tanya Zaki dengan lebih serius.
Wajah Dira naik lurus, dia mulai menatap detektif itu dengan tajam. Kali ini perasaan nya mulai tidak menentu, karena bisa jadi polisi sedang memasang perangkap untuk nya.
Disisi lain, dia sangat tak menduga jika polisi tahu bahwa Erick mempunyai partner kejahatan. Mereka pun tahu jika itu adalah seorang wanita.
Tapi itu hanyalah sebuah pernyataan tanpa dasar. Jika memang polisi tahu siapa Erick dan Jesica, kenapa mereka masih saja ngotot untuk terus mengurung nya disini.
Dira yakin ini hanya sebuah gertakan untuk terus meruntuhkan pertahanan nya. Wanita itu mencoba tenang dan rileks. Dia tidak boleh gegabah hanya karena berbagai tekanan.
Dia lalu menyilangkan kedua tangan nya dan meluruskan punggung nya ke kursi. Dira tersenyum tipis sambil menatap Zaki serius.
"Sebenarnya siapa yang korban dan penjahat disini?" ujar Dira dengan tegas dan berusaha santai.
Zaki dengan cepat menilai keadaan korban. Zaki paham jika wanita itu sudah dapat mengembalikan kepercayaan dirinya dengan cepat.
"Jika kamu merasa korban penculikan seharusnya disini kamu sedang bekerja sama dengan polisi sebaik mungkin," jelas Zaki tidak ingin terpengaruh apapun.
Kedua kaki Dira lalu dia silangkan dengan seksi, dia ingin mengisyaratkan jika sekarang dia baik baik saja. Dira merasa sangat percaya diri dengan semua perilaku polisi. Dia ingin menunjukan bahwa ia sama sekali tidak merasa terintimidasi sedikitpun.
"Kerja sama? Itu yang kalian mau? Kenapa baru sekarang, itu semua sudah tidak berguna," balas Dira dengan sangat remeh.
Dibalik kaca ruang investigasi, banyak polisi lain sedang memantau jalan nya interogasi. Mereka pun dibuat frustasi dengan keadaan yang serba terbalik ini.
Kali ini mereka harus menghadapi korban penculikan yang sedang berusaha menyembunyikan semua fakta.
Dia melihat berkas dokumen itu dan mengambil satu foto informan. Kita bisa tahu jika pria itu adalah Kevin.
Disodorkan foto itu di hadapan Dira.
"Kevin, kamu sudah tau siapa dia kan? Kamu tahu apa yang telah terjadi dengan nya? Dia menghilang seperti kamu dahulu. Apa penjahat itu dalang dari semua ini? tanya Zaki berusaha tetap tenang.
Dira menatap foto itu dengan wajah biasa saja. Karena hal ini sudah dapat ia prediksi.
"Aku tidak tahu siapa pria jelek ini," ucap Dira sambil tersenyum lebar.
****
Didalam kamar mandi, Dira sedang mencuci wajah nya di atas wastafel. Dia terus menggosok wajah nya dengan air mengalir.
Kali ini dia melihat wajah nya di cermin, ditatap dengan sedih dan gundah gulana. Dira merasa jika dia sudah menjadi orang asing.
Bahkan dia tidak tahu siapa dirinya sekarang. Benarkah dia masih menjadi seorang Nadira yang terkenal baik hati?
Bisakah orang orang sekitar mengenal Dira yang sudah banyak berubah?
Dira memutuskan untuk keluar dari kamar mandi, disusul oleh penjagaan ketat dari polisi yang terus membuntutinya seperti maling.
Dia berjalan kearah lorong dengan tatapan hampa. Dia merasa hidup nya akan habis jika Erick tidak ada di samping nya.
__ADS_1
"Bunda...." teriak Hanum dari depan. Kedua mata Dira terbuka lebar lebar. Dia segera tersadar dari lamunan nya.
Dia sangat tahu siapa pemilik suara indah itu. Kemudian Dira segera menyadari jika Hanum sedang berdiri di hadapan nya.
"Hanum.." ucap nya lirih.
Hanum hanya bisa tersenyum polos, dia lalu berjalan kecil menghampiri ibu nya yang sudah hampir pingsan.
Mereka akhirnya berpelukan, Dira dan Hanum saling merekatkan ikatan yang sudah lama telah lepas.
Dira sudah tidak bisa menahan nya lagi. Dia lalu menangis sejadi jadi nya. Dia berteriak histeris karena sangat merindukan anak nya.
"Maafin Bunda sayang, maafin bunda," kata Dira sambil terus memeluk anak nya erat.
"Bunda jangan sedih, Hanum kangen banget sama bunda," balas anak perempuan itu dengan penuh ketulusan.
Dari arah lurus, tak jauh dari posisi mereka saling berpelukan. Ada Hary sedang memperhatikan mereka berdua. Dia memasang wajah seribu wajah.
Dia memancarkan kesedihan, kegundahan sekaligus rasa takut yang begitu besar. Ingin rasa nya Hary memeluk wanita yang sangat ia rindukan, namun disisi lain hati kecil nya tidak menginginkan wanita itu kembali.
Dia sedang terjebak dengan dua ego jahat dan egois yang terus mengakar dalam hati nya.
Akhirnya Hary hanya bisa memilih untuk diam, namun pandangan Dira kini bergerak. Wanita itu sedang melihat Hary lurus kedepan.
Dira melepas pelukan itu dengan lembut, dia meminta izin kepada Hanum jika ia harus menemui ayah nya.
Kini mereka saling berpandangan satu sama lain. Sorot mata mereka saling menerkam dan menghancurkan. Banyak sekali hujatan dan beban di hati mereka masing masing.
Namun ini bukan saatnya mereka melepas rasa beban itu. Mereka harus bersikap normal didepan anak yang sangat ingin mereka jaga.
Dira memutuskan untuk perlahan maju, dia ingin memulai langkah ini dengan berani. Dia terus menatap suami nya dengan misterius.
Tangan kanan nya mulai menyentuh pipi Hary dengan lembut. Gerakan wanita itu mulai merasuki jiwa Hary yang kosong.
Dia sangat merindukan sentuhan isteri nya yang sudah lama hilang.
"Apakah ini nyata? Kamu memang suamiku," kata Dira dengan sekuat tenaga menahan sakit dalam hati nya.
Hary pun menyentuh tangan itu dengan kuat dan kembali membalas tatapan mengerikan itu.
"Sebaik nya kamu pulang Dira," balas Hary dengan wajah galau.
"Tapi tampak nya kamu tidak senang jika aku pulang, benarkan itu sayang?" tanya Dira kembali dengan hati yang teriris.
Hary tidak menjawab, dia memilih untuk mengalihkan pandangan.
Dia sudah tidak sanggup menatap wajah isteri nya yang sudah sangat berubah. Dira berubah menjadi sangat dingin dan begitu asing.
.
__ADS_1