AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Manusia Bodoh


__ADS_3

Malam minggu adalah hari yang sangat sakral bagi mereka yang sudah memiliki target atau pasangan.


Begitu pun dengan Nadira, dia sedang menunggu seseorang yang akan memberi nya banyak kejutan.


Aku melihat dia berdiri di depan gang kosan, dengan senyum dan pipi merona. Sangat cantik sekali, memakai dress katun warna ungu muda.


Saat itu aku tidak tahu, jika Dira akan berkencan. Bahkan aku sangat terkejut jika malam itu pak guru Hary datang menjemput nya.


Dia tidak membawa motor trail kesayangan, kali ini sebuah mobil Honda Jazz hitam. Hary keluar dari mobil dengan gaya casual yang tampak membuat nya lebih muda.


Aku terus mengintip mereka dari lubang dinding yang bolong, kulihat Dira dengan wajah sangat berseri begitu hangat menyambut Hary.


"Gawat," komentar ku dengan geram, aku sama sekali tidak menyangka jika wanita itu dengan mudah jatuh pada perangkap Hary.


Setelah mobil itu melaju pergi, segera kususul mereka dengan taksi. Kuperintahkan supir untuk terus mengikuti mobil itu.


Aku kesal dan marah, sekaligus kecewa. Perasaan yang dulu selalu bahagia, tiba tiba hancur tidak karuan.


Kali ini perasaan ku tidak enak, lebih dari sekedar cemburu. Aku sangat tidak rela dia harus pergi kencan dengan wali kelas ku sendiri.


Apalagi disaat aku tahu, dia pernah membawa mahasisiwi magang ke sebuah hotel. Pria ini sangat berbahaya. Ini tidak bisa dibiarkan, Dira memang selalu tidak beruntung!


Mereka lalu memarkirkan mobil ke dalam basemant mall, lalu masuk menuju lantai atas. Tanpa henti aku terus membuntuti mereka berjalan yang akhirnya berhenti di sebuah bioskop.


Sungguh ini adalah tipe kencan yang norak. kenapa harus nonton film di bioskop sih? Gak heran, memang ini adalah jurus sejuta umat untuk melakukan PDKT.


Dengan selidik ku lihat pak guru sedang memesan tiket film Hary Potter, ku intip dari barisan antrian belakang.


Setelah dia pergi membawa dua karcis, aku langsung memesan tiket yang sama dan tempat duduk yang berdekatan.


Akhirnya kami masuk ke theater 1 sekitar pukul 7 malam. Disana mereka duduk bersampingan di barisan kursi 9 paling belakang. Sedangkan aku duduk di barisan kursi 10.


Film segera di mulai, ruangan bioskop menjadi gela gulita. Spakear mega bass mulai memasuki telinga kami. Namun aku tidak bisa menikmati film fiksi yang aneh ini, aku hanya akan melihat mereka dari belakang.


Sejauh ini Hary masih melakukan hal yang wajar, dia dan Dira terus melontarkan percakapan dan senyuman yang tidak bisa aku cerna sama sekali.


Dengan romantis, tangan mereka saling beradu dalam sebuah wadah popcorn besar. Kulit mereka saling bergesek, mata mereka dengan fokus melihat screen besar di depan.


Aku masih belum bisa paham, kenapa Hary bisa memilih jenis film yang sangat kekanak kanakan. Ini sangat tidak keren, ini film benar benar bukan selera wanita itu.

__ADS_1


Hai Dira, jika saja aku disana. Aku tidak mungkin akan mengajak mu nonton film tentang dunia sihir yang konyol.


Aku tahu sekali selera film yang sangat kau suka, jika aku disana pasti saat ini kita sedang menonton SHUTTER ISLAND.


Dira suka film misteri dan kriminal, mana ada sejarah dia suka pemeran anak anak.


Aku lebih baik daripada pria itu, aku tahu segala nya tentang kamu! Tapi kenapa disana kamu harus duduk berjam jam untuk sesuatu yang kau tidak senangi.


Kenapa harus film Harry Potter? Apa karena nama pemeran pria dan pria yang ada di samping mu itu mirip? Karena mereka sama sama Harry.


Apa aku harus minta J.K . Rowling merubah judul novel jadi Erick Potter?


Hello Dira? Aku disini, di belakang mu. Ayo sadar, dia tidak tahu apa apa tengang kamu. Dia gak tertarik sama kamu, please pulang sekarang juga!


*****


Aku semakin frustasi, jika perjalanan mereka tak sampai di bioskop. Terlalu banyak agenda yang tidak aku tahu, mereka sangat menyebalkan.


Acara kencan ini masih berlanjut ke sebuah cafe romantis yang sangat sepi. Entah karena harga nya mahal atau memang restoran ini sebentar lagi akan bangkrut.


Yang jelas mereka duduk saling berhadapan dengan penuh tatapan kebahagiaan. Mereka memesan beef steak dengan harga relatif masih murah. Dengan sebotol wine yang murahan juga.


Padahal, aku bisa memberikan jutaan kali lebih hebat dari sekedar kencan seperti ini. Aku punya semua nya Dira, harta, tahta dan cinta.


Tapi kenapa kamu malah melirik pria miskin dan buaya seperti pak guru. Coba saja kamu perhatikan aku, sebentar saja. I am a good boy!


Ditengah tengah makan malam romantis, tiba tiba di depan stage ada satu penyanyi pria memakai tuksedo. Dia dan band nya sedang bersiap membuat mini show.


Dira tertawa melihat mereka akan tampil, seakan akan Hary telah memberikan nya sebuah kejutan spesial.


Penyanyi cafe itu lalu bernyanyi sebuah lagu Jazz lawas dari Frank Sinatra berjudul Fly me to the moon. Dengan suara sangat lembut dan menghanyutkan suasana.


Aku dengan jelas melihat ke dua mata Dira sangat berbinar dan hangat, dia selalu tersenyum menikmati lagu Jazz itu.


Padahal aku tahu, Dira tidak terlalu menyukai lagu Jazz seperti ini. Aku pun sangat tahu, jika dia sangat menyukai musik Rock seperti Muse, The Beatles, Radiohead atau Queen.


Dia suka gaya aksi yang panggung nyentrik dan berisik. Bukan seperti ayunan air yang mengalir sangat lambat dan membosankan.


Ayo Dira, katakan saja jika kamu tidak menyukai tempat seperti ini. Jujur lah pada pria itu, kalau kamu sangat ingin mendengar lagu dengan dentuman drum dan gitar yang saling beradu keren.

__ADS_1


Untuk ke dua kalinya Hary tidak tahu apa apa tentang wanita itu. Dia nol besar, dia hanya aktor yang berotak udang.


Aku tambah kesal dan geram melihat kencan ini berjalan sangat buruk dan tidak bernilai.


Coba saja jika malam ini aku yang ada di samping wanita itu. Sudah jelas akan kubawa dia terbang ke Inggris dan masuk ke studio rekaman Abbey Road.


Kalau bisa, kusuruh Jhon Lenon untuk bernyanyi lagu Stand By me di depan Dira. Kusuruh musisi dunia rock and roll untuk mengadakan konser tunggal di depan menara Eiffel Paris.


Apapun itu, dengan sangat mudah bisa kuberikan untuk mu Dira. Tolong jangan sampai kamu percaya dengan jenis pria seperti Hary.


He's a bad man ever.


He's nothing.


****


Ini sudah larut malam, mereka kini sedang menghirup udara segar di sebuah taman kecil dekat dengan gedung apartemen.


Mereka berdua duduk dengan santai sambil menikmati sekaleng soda. Aku terus menguntit mereka dari arah yang tak terlalu jauh.


Kudengar mereka tertawa, saling bermain sentuhan yang sangat aku tidak suka. Bahkan sekarang aku lihat Hary sudah berani menyentuh helain rambut Dira yang sangat berharga itu.


Seperti cacing tanah, aku kepanasan. Aku sangat dibakar api cemburu. Aku sudah sangat tidak tahan terus melihat mereka semakin dekat dan lekat seperti lem.


Namun, aku tetap lah Erick si pengecut. Kala itu, aku masih tidak berani untuk melangkah. Aku sangat takut jika Dira akan menolak ku.


Bagaimana mungkin dia akan percaya pada bocah jelek dan runyam seperti ku. Aku masih anak SMA yang tidak mungkin mengalahkan pesona Hary.


Jujur saat itu, Hary benar benar seperti laki laki yang sangat keren. Dia tampan dan berkarisma. Suara nya pun serak basah.


Jauh beda dengan aku yang bersuara seperti babi hutan. Aku yakin Dira akan ketakutan saat itu juga. Aku harus bagaimana? Aku harus bertindak seperti apa?


Pikiran ku kosong saat itu juga, tekad ku yang awal nya menggebu kini sudah lenyap bagaikan hembusan kentut.


Tiba tiba mereka kini saling bertatapan dengan serius. Aku tahu dan sadar jika ini akan segera terjadi.


Tunggu beberapa detik saja, kini mereka sudah berciuman. Ini ciuman yang beda dari sebelum nya. Dira sangat menikmati ciuman dan menerima nya dengan lapang dada.


Aku tidak bisa menghentikan adegan itu, aku tidak bisa seperti dulu ku hajar pria brengsek di club malam.

__ADS_1


Ini sangat berbeda, tergambar jelas jika wanita itu menyukai Hary.


__ADS_2