
Air shower terus saja mengalir membasahi rambut Erick dan mencoba membantu menangkan pikiran kalut nya.
Dia sudah cukup lama melamun di kamar mandi, memandangi setiap bulatan embun yang menempel di kaca.
Dia keluar sambil membalut kan tubuh nya dengan handuk putih, mengganti nya dengan piyama berbahan satin.
Selesai berganti pakaian, dia berjalan keluar menuju kamar di samping nya. Dia ingin melihat keadaan Dira yang masih belum sadar.
Namun tak disangka, wanita itu sedang tidak berada di atas kasur. Erick mencarinya, dia melihat Dira sedang berdiri di balkon luar.
Erick menghampiri dia yang sedang melamun. Dia lalu ikut berdiri di samping Dira.
"Aku sedang dimana?" tanya Dira sedari tadi terus memandangi kota Jakarta dengan keindahan ribuan cahaya kecil.
"Sekarang kita sedang di Penthouse, waktu itu aku gak sempat bawa kamu ke rumah kita," jawab Erick pelan.
Erick mengambil sebuah kesempatan, dia mencoba menyentuh telapak tangan Dira.
"Kamu gak papa kan?" tanya Erick sambil mencoba menghangatkan suasana.
Dira menyampingkan tubuh, dia lalu melihat Erick dengan sebuah perasaan yang sangat mendalam.
Kali ini untuk pertama kali, Dira melihat Erick sebagai seorang pria. Bukan sebagai penjahat yang licik.
Kedua mata Dira menyilaukan sebuah kegelisahan dan kesedihan teramat dalam. Dia sedang mengalami rasa trauma atas kejadian saat itu.
Mendadak Dira mendekatkan tubuh ke arah Erick, dia lalu memeluk pria itu dengan nafas yang hangat. Dira sekuat tenaga untuk tidak terus menangis. Dia mencoba untuk terlihat kuat.
Erick menerima pelukan itu, kedua tanganya lalu memeluk Dira kembali. Kini mereka saling berpelukan satu sama lain. Dengan waktu yang sangat lama.
Mereka tidak berbicara sepatah katapun, semua mendadak bisu.
Hanya saja mereka sedang ingin memberi sinyal pada hati mereka masing masing melalui sebuah sentuhan.
Kedua mata Dira terus saja menutup, dia terbawa emosi dan amarah. Serta sebuah penyesalan yang begitu besar.
Akhirnya Dira bersuara dengan suara yang serak.
"Maafkan aku."
****
Ini sudah sangat larut malam, Erick harus segera memberikan obat kepada Dira.
Tubuh wanita itu masih sangat lemah, dia harus banyak istirahat agar cepat pulih.
__ADS_1
Erick mengendong tubuh Dira dari arah balkon menuju kasur. Dia lalu membantu Dira merebahkannya di atas kasur.
Dia lalu memberikan obat dan air kepada Dira.
"Kalau sudah makan obat, sebaiknya segera istirahat," perintah Erick.
Segera dia membereskan gelas dan lekas membawa nya keluar kamar.
"Kamu mau kemana?" tanya Dira lemas.
"Aku mau ke dapur terus aku juga mau istirahat di kamar sebelah," balas Erick dengan senyum manis nya.
"Bisa gak malam ini aja kamu temenin aku tidur?" tanya Dira dengan wajah malu.
Kedua mata Erick sedikit melotot karena merasa hal itu adalah kejutan.
"Aku masih sangat takut, bahkan aku terbangun karena sebuah mimpi buruk," tambah Dira dengan wajah yang sedih.
"Ok," balas Erick sambil membalikan arah dan kembali menyimpan gelas itu.
Erick naik ke atas kasur, dia lalu ikut merebahkan tubuh nya di samping Dira.
Jujur saja, malam ini membuat nya sangat canggung. Ini bukanlah hal yang mudah, jantung Erick berdebar sangat cepat.
Ini pertama kali nya, dia bisa mencium bau tubuh wanita itu dengan sangat intim. Bagaimana ia bernafas, cara nya menjulurkan kedua kaki dan sensasi satu ranjang yang sangat langka.
Keduanya terjebak dalam suasana canggung.
"Terimakasih kamu sudah nyelamatin aku," ucap Dira sambil menundukkan kepala.
"Aku pria yang gagal, harusnya aku tidak meninggalkanmu, harusnya aku melindungi kamu setiap saat," jawab Erick dengan sangat galau.
"Rasanya malam itu, aku sudah hampir kehilangan harapan untuk hidup. Aku sangat takut, semuanya mendadak hancur."
Bibir Dira bergetar mengingat semua apa yang telah menimpanya. Erick merasa jika saatnya dia harus segera menyadarkan Dira. Dia harus mencuci otak wanita itu sebelum terlambat.
Jiwa nya yang rapuh, trauma psikologis yang mendalam dan luka batin, adalah senjata paling ampuh untuk menundukkan keras nya hati Dira.
"Coba kamu pikir, diluar sana semua orang sudah melupakan mu. Mereka hanyalah sekumpulan mahluk egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri."
Dira terdiam, dia sedang bersiap mendengar apapun penjelasan Erick.
"Bahkan keluarga mu sendiri, mereka bisa apa? Hary, suami mu sendiri cuman sibuk dengan urusan polis asuransi jiwa, dia tidak mencari mu selama ini. Kamu masih mengharapkan polisi juga? Ayolah Dira, belum genap satu tahun kasus mu di bekukan begitu saja. Dokumen kasus mu sudah masuk tong sampah," jelas Erick dengan berapi api.
Mendengar semua itu, membuat Hati Dira menjadi sangat sakit, kecewa dengan semua orang disekitarnya.
__ADS_1
Benar apa yang dikatakan Erick, jika saja keluarga, teman, rekan kerja bahkan polisi terus berusaha untuk memecahkan kasus ini, mungkin tidak mustahil baginya sudah bisa keluar.
Tapi apa? semua terlihat baik baik saja tanpa kehadirannya. Semua masih berjalan normal, tidak ada kesedihan, semua masih bisa tertawa, tidak ada perjuangan bahkan tidak ada yang mengingat lagi namanya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Dira dengan wajah lesu.
"Hanya aku, hanya aku dan selalu aku yang selalu ada buat kamu. Kamu cuman butuh aku, kamu gak butuh siapapun lagi. Bahkan anak mu sendiri, Hanum? dia sudah sangat bahagia dengan sekolah barunya." Jelas Erick kembali.
Erick lalu mulai mendekati Dira yang masih membeku, dia ingin sekali meyakinkan hati Dira dan menghempaskan semua keraguannya.
Pria itu lalu mengangkat wajah Dira dengan sangat erat, dia tidak ingin melihat wajah nya terus menunduk dan menghindar.
"Kamu harus percaya sama aku, hanya aku yang pantas buat kamu."
Dira akhirnya menangis, pertahanan nya runtuh seketika. Dia diambang sebuah pilihan hidup yang pahit. Seketika otaknya dipaksa harus menerima sebuah fakta yang menyakitkan.
"Kamu beneran gak akan ninggalin aku?" tanya Dira sambil menangis tersedu sedu.
"Aku janji, kamu harus percaya sampai kapanpun."
Erick lalu berbalik, kedua tangan nya seketika merangkul tubuh Dira. Pria itu sangat ingin memeluk erat seluruh jiwa yang telah lama putus.
Dengan kata lain, misi Erick mulai membuahkan hasil. Dia perlahan sudah bisa membalikan keadaan. Dia dengan segala bujuk dan rayu bisa menyimpan setitik cinta, harapan dan simpati dalam hati Dira.
Itulah Erick, bagaimanapun cara nya dia harus selalu bisa mencapai segala hal mustahil. Terlalu banyak beban, tangisan dan kekecewaan hanya untuk sebuah rasa itu.
Rasa cinta yang teramat sulit
Dia tidak peduli dengan apapun. Dia harus terus meyakinkan Dira bahwa dunia luar sudah tidak menginginkan dirinya.
Dia harus menjadikan wanita itu sebagai manusia buangan, tak diharapkan dan tak dicintai.
Dira lalu melepaskan pelukan itu, dia kembali menatap wajah pria yang selama ini selalu disampingnya.
Dialah Erick, tidak ada yang lain.
"Ayo kita tidur," ajak Dira.
Dengan gerakan sangat lambat, ia mulai merebahkan kepalanya ke atas bantal. Erick lalu membantunya untuk melebarkan selimut.
Dengan sebuah tatapan penuh kasih, Erick lalu mencium kening wanita itu dengan penuh penghayatan.
Sebuah ciuman dengan tanda ketulusan dari hati yang terdalam.
Ini adalah ciuman sempurna yang pernah diberikan Erick untuk Dira.
__ADS_1
"Selamat malam," ucap Erick dengan lembut.