
Mereka berdua sedang duduk di depan kursi mobil. Dira, untuk pertama kali nya bisa melihat pemandangan kota Jakarta lagi.
Mobil meluncur dengan tenang, namun hati nya sama sekali tidak merasa tenang.
Malam ini, adalah kesempatan yang harus ia gunakan dengan baik, tentu sangat hati hati. Dia jangan sampai membuat lagi kekacauan seperti sebelumnya, dia tidak akan kabur.
Tidak mudah baginya untuk bisa berlenggang bebas keluar, tahu sendiri kan Erick seperti apa?
Dia semakin posesif dan malah menerapkan aturan gila.
Pertama, dia harus menyamar sebaik mungkin. Jangan sampai ada orang yang mengenalinya. Buatlah style yang jauh seperti Dira.
Dira memakai gaun hitam panjang, kaca mata hitam, memakai topi jenis Cartwheel Hat putih dan kacamata besar hitam.
Kedua, dia harus selalu memakai gelang hitam khusus. Gelang hitam itu lebih dari pemantau biasa, dia bisa merekam semua percakapan, lokasi dengan akurat, suhu tubuh bahkan detak jantung.
Paling penting, gelang itu tidak akan pernah bisa dilepas dengan cara apapun. Hanya Erick yang bisa melepas akses.
Ketiga, dia dilarang untuk berbicara pada siapapun. Dilarang merespon komunikasi dengan orang sekitar bahkan ia dilarang menatap orang lain.
Ini adalah paling gila dari semuanya.
Terkahir, Erick terus mengancam bahwa dia sudah menyewa sniper bayaran. Jika saja dia berusaha kabur atau meminta pertolongan orang lain, maka tak segan sniper itu akan menembak Hanum dari jarak jauh.
Memang pria ini begitu kejam, pintar manipulatif and otak psikopat. Dira pun sampai ketakutan jika dia salah berbuat sesuatu, bisa jadi tembakan akan melubangi jantung anak nya sendiri.
Sampailah mereka di depan gedung kesenian Jakarta, tempat ajang itu berlangsung.
"Kamu harus ingat semua yang aku katakan dengan mu tadi, sedikit saja kamu berani melangkah untuk meninggalkan ku."
Erick lalu membuat sebuah peragaan kecil, tangan kanan nya membuat sebuah bentuk pistol.
"Dooorrr! anak mu akan mati di tempat dengan piano yang berlumuran darah," ucap nya sambil tertawa girang. Dia memang si gila Erick.
Dira tetap berusaha tenang, dia tidak ingin terprovokasi dengan ancaman itu. Dia harus berpikir dingin, jangan sampai emosi nya yang meledak ledak bisa membahayakan anak nya.
Dira harus tunduk pada nya, dia tidak boleh sedikitpun menentang Erick. Dia harus menyerahkan segala hidup nya malam ini.
"Iya Rick, kamu tenang aja. Aku kesini cuman mau lihat Hanum main piano bukan mau jadi Jhon Wick," balas Dira dengan senyum mengembang.
__ADS_1
Untuk lebih meyakinkan Erick, Dira lalu mengusap pipi nya dengan tangan kanan. Dia menatap Erick dengan sangat dalam.
Dia ingin memberitahu lewat matanya, Percayalah aku!
*****
Mereka berjalan menuju auditorium, namun untuk menghindari kecurigaan orang. Mereka berjalan memisah, seakan mereka bukanlah orang yang dekat.
Erick sedang menyusun rencana, bahwa malam ini mereka harus terlihat seperti saling tidak mengenal satu sama lain.
Dira berjalan sendiri, dia duduk di kursi paling dekat dengan panggung. Sedangkan Erick duduk di atas nya. Tujuannya, agar Erick bisa terus memantau pergerakan Dira.
Acara lalu di mulai. Semua bertepuk tangan dengan meriah dan gegap gempita. Ajang bergengsi ini, memang selalu di nantikan oleh pecinta musik klasik.
Dira sungguh tidak berhenti berharap, semoga saja anak nya selamat malam ini. Dia tidak berharap anak nya menang, dia hanya ingin Hanum bermain tanpa ada tumpahan darah.
Peserta pertama, seorang remaja pria berbadan kurus duduk dengan percaya diri. Sebelum bermain dia terlebih dahulu membungkuk untuk juri dan tamu undangan.
Dia lalu memainkan musik dari Lizt - Hungarian Rhapsody no.2 dengan sangat elok dan karisma.
Semua orang terpana dengan permainan remaja pria itu, terhipnotis.
Peserta kedua, ini lah yang paling di tunggu Dira. Dia tidak menyangka, jika akan melihat ini dengan capat.
Dia membungkuk memberikan tanda penghormatan. Anak itu lalu duduk menghadap piano besar dengan penuh keyakinan.
Dengan penuh perasaan dan ketenangan, Hanum si gadis kecil itu mulai memainkan jari tangan nya dengan magic.
Dia memainkan permainan yang sulit, Gaspard de Lau Nuit Scarbo.
Permainannya seperti ombak, lembut dan menantang. Matanya bagaikan elang ketika melihat sheet music. Gestur nya yang stabil dan penuh gairah.
Hanum, dia adalah pianis jenius. Diusianya yang masih 9 tahun, dia yang termuda dapat memainkan kompos musik yang terkenal sangat sulit.
Dira hanya bisa menangis tersedu sedu, dia sudah tidak tahan ingin memeluk anak nya. Namun itu adalah hal yang mustahil.
Begitu bahagia dan takjub, akhirnya momen itu datang.
*****
__ADS_1
Perhelatan lomba sudah hampir selesai. Kini Dira sedang menunggu pengumuman kejuaraan.
Datanglah seorang pria yang segera membacakan hasil, dia mengeluarkan kertas dari sebuah amplop.
Juara 3 dan 2 sudah di umumkan, mereka berjalan ke atas panggung didampingi oleh orang tua nya masing masing untuk menerima tropi penghargaan.
Giliran pengumuman inti, di bacakanlah dengan hasil skor tertinggi dari dewan juri.
"Juara pertama jatuh pada HANUM SILIA NUGROHO."
Semua berdiri memberikan standing applause. Dira melihat Hanum kecil berjalan ke atas panggung, di dampingi oleh Hary dan wanita lain, yaitu Laras.
Dira begitu terkejut melihat Laras mendampingi Hary sebagai wali. Wanita itu, Dira sangat mengenal nya.
"Miss Laras," ucap nya pelan.
Namun bukan nya marah atau kesal, Dira justru semakin menangis terharu. Dia bahagia melihat Laras bisa bergandengan dengan anak nya.
Dira tersenyum bahagia, dia bersyukur ternyata selama ini Laras adalah wanita yang mendampingi Hanum. Dia sangat bersyukur.
Hanum lalu segera menerima tropi penghargaan bergengsi, dia lalu tersenyum dan membungkuk pada semua orang.
Sekali lagi, semua orang bertepuk tangan untuk anak kecil itu.
Hanum lalu berfoto dengan kedua walinya. Keduanya memeluk Hanum dengan wajah bahagia. Mereka bertiga seperti sebuah keluarga yang sangat harmonis.
Namun di samping keberhasilan Hanum, semua orang tidak ada yang mengingat siapa Dira. Sosok ibu yang hebat telah terlupakan.
Dira sudah menghilang dari ingatan semua orang. Tidak ada yang mengingatnya, dia sudah pergi dari kenangan manusia.
Dira mengakui, hati nya sedang penuh kecemburuan. Bukan karena ia tidak bisa naik panggung atau berfoto depan awak media.
Dia hanya cemburu, dia ingin ada disana sekedar memeluk anak nya saja. Dia ingin sekali memeluk tubuh kecil itu.
Tapi ternyata, tuhan tidak memberinya sedikit saja belas kasih. Kali ini tuhan sudah terlalu kejam untuk nya.
Diatas balkon, Robi sedang mengamati Erick dari jauh. Pria itu masih belum menemukan hal mencurigakan lainya. Dia hanya melihat Erick biasa saja.
Erick pun memandangi Dira, dia terus saja bertanya kenapa wanita itu tidak bereaksi apapun.
__ADS_1
Ada apa dengan Dira atau ada apa dengan Laras?
Kenapa wanita itu masih tidak menyadari bahwa sebuah perselingkuhan telah terjadi di depanya.