AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
BERITA VIRAL


__ADS_3

Suasana pagi Indonesia masih baik baik saja. Namun itu berubah ketika waktu menunjukan pukul 07.00 pagi.


Salah satu portal berita di kanal You-Tube dengan subscriber lebih dari 6 juta pengikut, mendadak menggemparkan seluruh Indonesia.


Inet News memberitakan jika salah satu jurnalis nya telah mendapatkan sebuah berita besar dari seorang informan.


Informan itu memberikan sebuah gambar wanita yang sedang duduk di sebuah apartemen milik Informan.


Informan sangat meyakini jika wanita itu adalah korban dari penculikan kasus mobil merah. Berita itu menjelaskan jika kemungkinan wanita itu masih hidup.


Namun berita ini semakin heboh tak kala Inet News menjelaskan Informan mendadak hilang sebelum pertemuan dengan jurnalis berlangsung.


Kanal berita You-Tube mencurigai jika informan tersebut sudah diculik oleh pelaku utama dari kasus mobil merah.


Dengan berita tersebut, meledak lah berbagai komentar dari seluruh netizen Indonesia. Banyak yang memberikan teori konspirasi, berita HOAX bersebrangan di sosial media dan banyak ahli mulai kembali mengomentari kasus ini.


Mendadak semua orang mulai mengingat lagi kasus mobil merah yang sudah lama terlupakan.


Mendadak foto korban penculikan ( Dira ) mulai kembali di posting di jagat maya. Kasus mobil merah menjadi trending no 1 di twitter, Video berita trending di You-Tube dan banyak di bahas content creator di Tik Tok.


Semua orang kini sedang sibuk dengan beragam pemberitaan kasus mobil merah. Bahkan para netizen kini mulai menyoroti kinerja polisi yang buruk.


Netizen menuntut jika kasus ini harus kembali dibuka dan dituntaskan sampai tuntas. Mereka menanti gerak cepat dari kepolisian. Karena kasus ini sudah menghilangkan jejak dua nyawa berbeda.


Semua berharap jika Dira dan Kevin segera ditemukan.


****


Diruang perawatan IGD, Dira masih berbaring di atas ranjang. Namun kali ini dia sudah sadar setelah pingsan selama 8 jam lebih.


Tubuh nya masih lemas tapi ia paksakan untuk duduk. Kepala nya masih terasa pening. Dia mencoba untuk bangkit dari atas ranjang namun petugas polisi mendadak menahan nya.


"Jangan dulu berdiri, lebih baik baringkan saja," ujar petugas polisi dengan ramah.


Dira tidak bisa berkutik dan melawan, tubuh nya kembali terbaring. Dia mulai mengamati keadaan sekitar, mata nya sedang mencari Erick.


"Kenapa aku bisa di rumah sakit?" tanya Dira gugup.


"Kamu belum ingat ya? Tadi malam kami menemukan kamu pingsan di area taman. Langsung saja kami bawa ke rumah sakit terdekat. Dokter bilang kamu Anemia dan dehidrasi parah, " jelas petugas polisi.


Dira masih belum merespon, karena ingatan nya masih samar samar. Namun dia masih ingat jika malam itu Erick sedang mencari apotek.


Tapi dia tidak bisa menemukan Erick. Apa karena sekarang dia sedang bersama polisi? Benarkah Erick menghindar dari situasi seperti ini?


Dira bingung, dia masih belum bisa menemukan jawaban pasti. Namun ada hal yang harus diwaspadai, kali ini dia sedang berhadapan dengan polisi.

__ADS_1


Jangan sampai mereka tahu jika dia adalah Dira, wanita yang selama ini telah menghilang. Dira harus mencari cara agar bisa lolos dari pengawasan polisi.


Tirai hijau terbuka, datang satu petugas polisi lain nya. Polisi terkejut melihat wanita itu sudah sadar. Dia menghampiri mereka dan langsung memberikan sebuah pertanyaan sederhana untuk Dira.


"Maaf ibu, saya harus mencatat informasi pribadi untuk melengkapi data administrasi rumah sakit.


Tolong sebutkan secara jelas nama lengkap, NIK KTP, alamat rumah, usia & nomor telepon yang bisa dihubungi sebagai wali," jelas petugas polisi yang sudah bersiap dengan pulpen dan kertas di tangan nya.


Dira diam seribu bahasa. Tentu baginya hal seperti ini sangat berbahaya. Dia tidak mungkin memberikan identitas nya pada polisi.


Dia tidak ingin jika ada masalah besar menanti nya. Dia sudah cukup letih dengan polisi, baginya semua ini sudah terlambat.


Dia tidak ingin kembali ke rumah itu. Dia ingin terus bersama Erick.


"Bu?" tanya polisi kembali.


Dira masih membisu, tidak bersuara lagi. Dia harus mengunci mulut nya rapat rapat. Rahasia yang selama ini dia simpan harus tetap terkubur selamanya.


Kedua polisi itu saling menatap aneh. Mereka merasa jika ada sesuatu hal yang tidak beres dengan nya. Wajah nya terlihat masih bingung dan lelah.


Dari area jaga perawat, disana mereka sedang berkerumun melihat layar TV yang menempel di alas dinding. Mereka mulai membicarakan banyak hal dengan berita viral tersebut.


Volume TV itu sedikit dinaikan, sehingga berita TV itu mulai menganggu petugas polisi. Satu polisi mulai menghampiri kerumunan petugas kesehatan, dia ingin menegur mereka karena telah menganggu kenyamanan pasien.


Belum saja sempat menegur mereka, petugas polisi itu tak sengaja melihat layar TV. Dia menyaksikan foto Dira sedang ramai dibahas oleh banyak narasumber.


Sejenak dia terus memperhatikan wajah korban dengan seksama. Dia sedikit terganggu dengan wajah itu, terlihat tidak asing.


Tiba tiba, dia mulai sadar jika korban penculikan mirip dengan wanita yang baru saja ia temui. Wanita itu ada disana, di kamar perawatan.


Polisi itu langsung lari kembali menghampiri bilik kamar pasien. Namun disana dia tambah terkejut jika wanita sudah berdiri dengan membawa sebuah pisau bedah.


Rekan polisi satu nya berdiri menjauh. Dia sedang mencoba melakukan negosiasi agar wanita itu tidak melakukan hal berbahaya.


"Tolong turunkan dulu pisau nya. Setelah itu kita bisa bicarakan semua ini," ucap rekan polisi dengan sangat hati hati.


"Kalian harus pergi dari sini, biarkan aku sendiri. Aku tidak butuh kalian," teriak Dira ketakutan.


Dira mulai mengancam kedua polisi itu, dia mengayunkan pisau bedah jika mereka berani mendekat.


Ini sudah berbahaya, situasi ini harus segera dilaporkan dan ditindak lanjuti. Lalu petugas polisi yang sudah mengetahui kebenaran mulai menelepon atasan di kantor.


Dia memberitahu jika korban penculikan sudah ditemukan.


*****

__ADS_1


Sementara di ruang reset kriminal umum, terjadi banyak kesibukan mendadak akibat berita viral tersebut.


Seluruh telepon kantor berbunyi dan mereka sedang sibuk menerima banyak keluhan dari masyarakat.


Masyarakat terus meneror kantor polisi agar segera ditemukan korban. Ada juga yang hanya sekedar iseng dengan mengatakan pernah melihat korban di suatu tempat.


Semua informasi hoax dan kabar burung menjadi tercampur aduk, fokus para detektif menjadi pecah.


Zaki melihat jika keadaan ini sudah tidak efektif. Dia kesal dengan serangan brutal dari berbagai media masa. Dia lalu membanting gagang telepon dengan keras.


"Sial! Mereka hanya bisa mengkritik tanpa tahu jika mataku sudah hampir buta melihat seluruh rekaman CCTV!" teriak Zaki dengan amarah membludak.


Ditengah kepanikan kantor, tiba tiba datang sosok IRJEN polisi didampingi kapten Nasar. Mendadak suasan kantor jadi hening karena atasan mereka datang.


Irjen polisi dengan wajah kesal dan penuh amarah mulai membanting dokumen ke atas meja. Dia lalu melototi semua bawahan nya dengan sangat tajam.


"Apa yang selama ini lakukan? Karena kerja kalian yang lambat dan tidak becus membuat nama polisi jadi terganggu!" bentak pak Irjen dengan penuh amarah.


Semua masih diam, mereka tidak berani membalas atau melawan atasan. Mereka hanya bisa menunduk malu.


"Aku tidak mau tahu, segera selesaikan kasus ini dalam satu minggu. Jika tidak berhasil, aku pastikan kalian akan turun pangkat!" ancam nya secara serius.


"Satu hal lagi, tolong bereskan kanal berita You-Tube itu untuk berhenti menyiarkan berita mobil merah. Berhenti untuk terus menggunjing polisi. Aku sampai pusing terus dikomplain oleh pak KAPOLRI."


Setelah omelan atasan tersebut selesai, pak Irjen pun segera meninggalkan ruang kantor yang sudah terlalu pengap.


Kapten Nasar lalu menyuruh semua tim berkumpul dan berdiskusi. Dia menyuruh Zaki untuk segera memimpin kasus ini kembali.


Kapten Nasar sangat menyesal, jika saat itu dia telah menolak permintaan Zaki untuk membuka kasus ini kembali.


Inilah saat yang sangat tepat untuk memberikan kesempatan pada Zaki dan tim segera memperbaiki citra polisi.


"Zaki kamu harus segera mendatangi jurnalis berita tersebut. Kita harus segera memiliki keterangan dan identitas informan. Kita harus segera pastikan jika berita itu valid," perintah kapten Nasar.


"Baik kapten," balas Zaki dengan semangat.


Suara dering telepon kembali berbunyi, Andi si polisi yang sudah tidak muda lagi mengambil gagang telepon itu.


Dia lalu menerima telepon dan mulai mendengar pembicaraan dengan seksama.


Mendadak ujung kedua matanya menarik ke atas, dia menampakan wajah gelisah dan terkejut. Lalu dia menatap Zaki yang tengah melihat dirinya juga.


"Senior, wanita itu baru saja ditemukan."


"APA!" teriak Zaki dengan wajah tidak percaya.

__ADS_1


"Sekarang dia sudah ada di ruang interogasi," ujar Andi dengan mulut bergetar.


__ADS_2