
Sejak kejadian di club malam, Dira sudah lima hari tidak keluar kamar nya. Dan selama lima hari juga, aku tidak masuk sekolah. Aku beralasan, jika aku kena malaria.
Setiap hari, setiap jam, menit bahkan detik, tak pernah lelah untuk terus memantau nya dari kamar bawah. Aku selalu melihat kamar nya dari sudut tirai jendela.
Aku sedang menuggu lampu kamar itu mati. Aku harus menunggu dia tidur. Kepala ku kini sedang dirasuki jenis setan entah berantah.
Sudah tidak tahan, cemas ku menjalar sampai ke syaraf otak. Aku sungguh harus bertemu dengan nya malam ini.
Biarkan lah aku merindukan nya seperti ini, biarkanlah rasa terlarang ini merenggut kewarasan ku.
Aku kembali lagi mengintip jendela, aku lihat kamar Dira sudah gelap gulita. Aku yakin, jika wanita itu sudah terlelap tidur.
Aku segera bersiap melakukan aksi gila lain nya. Kali ini aku harus bisa menyelinap masuk kamar nya.
Jangan sampai ketahuan, jangan sampai gagal, aku harus bergerak seperti Ninja.
Dengan gerakan sangat pelan, aku berjalan menuju tangga atas. Di sanalah tempat dia tidur sendirian. Karena bibi nya, setiap malam Jumat harus pulang ke rumah aslinya.
Ini kesempatan berharga, tidak sia sia aku terus mengintai kebiasaan mereka selama ini. Sebagai penguntit sejati, aku bahkan tahu merek CD milik wanita itu.
Tidak ada yang ku tidak tahu tentang dia dan kos kosan ini.
Karena rumah ini sudah tua, tak sulit untuk membobol pintu rumah. Hanya dengan alat sederhana seperti kawat khusus, aku sudah bisa masuk ke lantai atas.
Rumah itu sangat sederhana, semua perabotan masih bertahan dari zaman dulu. Aku yakin saja, jika Dira memang tidak berniat mengganti nya dengan baru.
Lalu mata ku tertuju pada foto kedua orang tua nya yang sudah tua. Aku pun tahu alasan dia sudah menjadi sebatang kara. Orang tua nya meningal karena mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan.
Tapi hanya dengan melihat wajah mereka saja, aku sudah tahu jika mereka adalah orang tua yang sangat baik dan penyayang.
Aku berjalan lurus saja, tentu aku sedang melihat pintu kamar yang tidak tertutup. Aku masuk kedalam nya dan terlihat ada Dira yang sedang terlelap tidur di atas kasur.
Dia memakai kaos pink Hello Kitty dan celana jeans pendek. Kulit bening mengkilap semakin membuat nya begitu spesial.
Posisi tidur nya sedang menyamping, aku bisa melihat jelas bagaimana lekukan tubuh itu terbentuk seperti gitar spanyol.
Bibir nya yang menganggap sedikit, menambah keyakinan jika dia terlahir cantik secara natural.
Ini pertama kali nya aku melihat wanita tidur begitu sempurna. Jika ada dongeng tentang putri tidur, maka harus nya aku yang menjadi pangeran saat ini.
Kuambil kamera dalam saku jaket ku. Ambil terus bagian bagian indah yang harus ku jepret dari lensa kamera. Semua sempurna, dia memang model terbaik yang pernah ada.
"Indah," ucapku pelan.
"Aku kangen," ucapku semakin pelan dan senyap.
"Plese, udah jangan sedih lagi," kini aku tidak bersuara, karena semua itu hanya ucapan dalam hati.
Aku rapuh dan hancur, melihat wanita yang aku sangat sukai bisa terluka seperti itu. Aku menyesal saat itu, harusnya aku bunuh saja dia.
Sekilas aku melihat ukuran kasur itu, karena Dira tidur menyamping jadi ada ruang kosong di sebelahnya.
Aku tertegun dan merenung, haruskah malam ini aku tidur di samping nya?
Harus kah aku berbuat curang?
Sekuat tenaga aku menahan segala bisikan iblis, aku tidak boleh berbuat jahat untuk wanita itu. Dia lain daripada yang lain, dia bukan wanita nakal yang selalu aku temui sebelumnya.
Tapi perasaan ini terus memuncak dan meledak, aku sudah tidak tahan lagi. Setidaknya, aku ingin merasakan bagaimana tidur bersampingan dengan nya.
__ADS_1
Aku merusak pertahanan itu, segera aku naik keatas kasur yang kosong itu. Dengan pelan aku membaringkan tubuh ku. Dengan sangat hati hati aku bernafas dan bergerak, jangan sampai dia terbangun dari mimpi indah nya.
Aku hanya bisa diam, mata ku menatap langit langit yang sudah berlubang. Sekujur tubuh ku berkeringat, debaran jantung sudah di atas titik normal dan pikiran liar ku sedang berfantasi.
Tahan Erick!
Tahan sebisa mungkin!!
Sial, kenapa wanita itu kini bergerak dan berbalik kearah ku. Kini kami berdua saling berpapasan.
Dia masih tidur pulas sedangkan aku disini sedang terjebak diantara surga dan neraka.
Pertama kalinya, aku bisa melihat wajahnya dengan jarak yang sangat dekat.
Aku melemah, aku pasrah dan aku sangat menikamati maha karya hebat ini.
Dia bagaikan seni. Abstrak, unik, mengairahkan seksi dan erotis. Lukisan tubuhnya bahkan mengalahkan lukisan terkenal dari Flaming June karya Frederic Leighton.
sumber : wikipedia
Haruskah? Haruskah?
Aku mengggila dan tergila gila oleh buaian wajah nya yang sangat magis. Tak sadar, tangan kiri ku menyentuh kulit nya yang tipis.
Rasanya dingin dan hangat. Aku bisa merasakan kombinasi yang luar biasa itu.
Tiba tiba ekspresi wajah Dira berubah, mungkin dia merasa sedikit terganggu dengan sentuhan tadi. Aku harus lebih hati hati dan waspada.
Jangan sampai malam ini hancur hanya karena kesalahan kecil. Tapi untung nya dia kembali tidur dengan nyenyak, aku sangat lega.
Aku melihat lubang leher kaos itu terbuka, disana aku melihat kedua payu dara nya menonjol. Aku tertegun, sebagai pria normal tentu aku menyukai nya.
Terlihat juga butiran keringat menempel di bagian leher dan payu dara. Sentuhan basah itu membuat segalanya menjadi gelap, aku hilang akal.
Pikiran kotor ku kembali muncul menjamah otak ku. Jujur saja, aku sangat ingin menikmati tubuh wanita itu. Aku ingin bercinta denganya, aku ingin bersetubuh dengan nya.
Aku tahan sekuat mungkin, tapi aku tidak bisa kabur ataupun lari. Aku hanya bisa memejamkan kedua mata ku.
Aku memilih untuk berfantasi dengan nya, semua bayangan yang aku buat harus segera memuaskan nafsu bejat ku.
Aku membayangkan bagaimana dia membuka baju nya di hadapan ku. Aku membayangkan bagaimana dia telanjang, memamerkan seluruh bagian tubuh nya yang eksotis.
Aku membayangkan bagaimana dia merayap di atas tubuh ku dan membayangkan bagaimana kami saling berciuman di atas ranjang ini.
Dalam imajinasi penuh dosa ini, kami saling bertumpuk dengan sangat lekat. Aku terus mencium setiap lapisan kulit yang indah itu. Saking tenggelam dalam kenikmatan, ku jambak rambut panjang nya dengan keras.
Aku mendengar dia merintih kesakitan, aku tidak bohong! Ini seperti nyata. Bahkan jelas aku mendengar des*han wanita itu dengan jeritan.
Bahkan saat itu aku merasakan sangat jelas bagaimana bergairah nya kami melakukan hubungan intim itu. Walau semua itu hanya fantasi kotor, aku yakin saat itu kami benar benar saling memandu cinta.
Aku terbangun dan segera tersadar. Kubuka kedua mata ku dan ku lirik wanita itu yang masih saja tertidur lelap.
Sayang sekali, itu hanya fantasi. Seketika aku merasakan keserakahan yang tak terbendung.
Aku merasa tidak puas, aku butuh lebih dari sekedar sebuah bayangan erotis itu.
Aku ingin dia secara nyata! Lebih nyata!
__ADS_1
Haruskah aku mengambil kesempatan emas ini? Haruskah aku berubah menjadi pria brengsek lain nya?
Haruskah aku menghancurkan wanita itu dalam sekejap?
Dorongan iblis itu berhasil merayu iman ku yang sudah robek. Kedua mata mu fokus melihat bibir nya yang seksi.
Aku mendekatkan wajah dengan bibir nya. Terus dan terus sampai tidak ada jarak lagi di anatara kami berdua.
Tinggal beberapa senti lagi, jarak antara bibir ini akan saling beradu. Aku langsung bangkit dari kasur itu, aku langsung sadar sepenuh nya.
Tiba tiba entah dari mana aku mempunyai kekuatan untuk menepis perbuatan cabul itu.
Lalu secepat kilat aku kabur dari lantai atas dan berlarian kencang menuju kamar bawah. Aku masuk kedalam kamar dan mengunci pintu.
Aku berdiri saja, seluruh tubuh ku kaku. Lalu aku mulai menampar pipi berulang kali dengan tangan ku sendiri.
PLAK! PLAK! PLAK!
"SADAR ERICK!" ucapku sambil menahan emosi yang sebentar lagi akan membludak.
Tapi tetap saja, kemarahan pada diriku sendiri terus saja menjalar. Aku sudah tidak bisa menahan nya.
Dengan sangat brutal aku langsung melampiaskan segala amarah ku. Ku obrak abrik seluruh isi kamar. Ku tendang tendang meja dan kursi.
Ku lempar semua buku komputer ku ke dinding. Bahkan hancurkan keyboard komputer kesayangan ku.
Bahkan seluruh koleksi foto Dira yang selama ini sembunyikan rapih, ku hambur kan ke seluruh penjuru ruangan.
Lembaran demi lembaran kertas foto itu melayang layang jatuh ke lantai. Mereka jatuh berserakan dimana mana.
"Brengsek kamu ERICK!" ucapku sambil memukul tembok berulang kali. Hingga kepalan tangan keluar darah.
Saat itu juga aku menyesal, aku malu pada diriku sendiri. Aku sangat hina sebagai laki laki, hampir saja diriku akan memperkosa wanita itu.
Diriku sangat rendah, bahkan lebih rendah dari seekor binatang.
Aku ambruk, aku terkulai lemas. Aku merunduk di atas lantai. Aku merasakan jika ada sedikit air mata yang turun di pipiku.
...Maaf Dira,...
...Aku memang pria bajingan...
...Aku bukan pria baik, aku aneh...
...Kamu terlalu spesial untuk hidupku...
...Bisakah kau membiarkan aku menjadi spesial juga?...
...Berikanlah perhatian mu untuk ku...
...Katakan apa saja yang kau suka, jelaskan apapun yang membuat mu bahagia...
...Kamu seperti agama baru dalam hidupku. Aku akan menjadi pengikut yang taat dan fanatik....
...Aku tidak akan melakukan dosa apapun untuk mu. Setidaknya, jika melenceng berikanlah kesempatan untuk bertaubat dan pengampunan....
...Aku sanggup, aku mampu, aku bisa...
...Tolong jangan lari dari hidupku...
__ADS_1
...Jangan seperti diri ku, lari seperti pecundang yang menyedihkan...