AKU DICULIK CEO TAMPAN

AKU DICULIK CEO TAMPAN
Semua Panik


__ADS_3

Dengan langkah tergesa-gesa, Dira dan Hary berlarian menuju ruang Riset kriminal umum. Di sana para polisi sedang menyambut kedatangan mereka.


Setelah masuk kedalam ruangan, Dira tak segan langsung mencari sosok polisi senior tersebut. Tangan Dira langsung menyambar kemeja Zaki dengan cepat.


"Dimana Hanum?" tanya Dira dengan mata merah dan urat menegang.


"Sepertinya anda pun sendiripun sudah tahu kan siapa yang menculik anak anda sendiri?" balas Zaki dengan tenang.


"Hanum diculik oleh orang yang berbeda, apa kalian tidak sadar jika dia meminta tebusan? Apa kalian tidak mengerti juga jika ini adalah MO ( Modus Operandi) yang sangat berbeda!" jelas Dira dengan seluruh emosi dan kemarahan yang menggebu.


"Sebaiknya kita harus membicarakan ini dengan lebih tenang. Jika anda bersih kukuh masih tidak ingin memberitahukan penculikannya, baik silahkan. Kita akan bekerja sesuai kesepakatan wanita misterius itu," balas Zaki kembali.


Sejenak Dira menarik nafas dan mengeluarkannya dengan hembusan pelan. Dia harus terus menstabilkan emosinya disaat kasus genting dan rumit.


Dira berusaha untuk terus bertindak tidak gegabah. Karena Dira sangat yakin jika Erick tidak akan melakukan hal ekstrim seperti itu. Dira sangat tahu jika ini adalah orang yang berbeda.


...Erick, aku percaya sama kamu....


...Kamu sudah janji akan selalu melindungi anakku sampai kapanpun....


...Aku tahu kamu bukan pelakunya....


...Aku sangat tahu, kamu tidak akan mungkin bisa menyakiti Hanum....


****


Zaki dan semua tim sedang berkumpul untuk membahas penculikan Hanum. Mereka semua duduk di depan meja bundar yang besar.


Kapten Nasar selaku pemimpin unit kejahatan umum, terus mengkoordinasikan banyak pihak dan para ahli. Dia ingin meminta banyak persetujuan dan pendapat tentang menyikapi masalah ini.


Setelah banyak dilakukan rundingan yang sangat pelik. Para polisi itu akhirnya setuju untuk melakukan transaksi penukaran tebusan untuk penculik tersebut.


Namun Zaki tetap bersikukuh jika penculikan Hanum ada kaitannya dengan kasus mobil merah. Walau MO berbeda dari biasanya, tapi bagi Zaki ini cukup sulit.


Zaki merasakan kejanggalan dari kasus ini. Pertama, jika pelaku menginginkan uang tebusan dari orang tua Hanum kenapa harus repot mengirimkan langsung kepada pihak polisi.


Kedua, wanita misterius itu tahu betul jika Dira sudah ditemukan oleh pihak polisi. Padahal informasi tersebut sangat di rahasiakan dari publik. Jadi kemungkinan penculik Hanum adalah orang yang sangat dekat dengan kasus ini. Dia bukan sekedar sembarang orang.

__ADS_1


Terakhir, Zaki sangat yakin jika penculikan Hanum hanyalah sebuah jebakan untuk polisi. Karena terasa sangat janggal jika penculik meminta tebusan langsung lewat kepolisian.


Justru ini akan sangat membahayakan dirinya sendiri. Karena semua gerak gerik akan lebih leluasa di ketahui oleh polisi. Zaki hanya punya firasat, jika transaksi penukaran uang tebusan ini hanyalah sebuah kedok rahasia.


Namum sayangnya, sampai saat ini pikirannya sangatlah buntu. Dia masih tidak tahu apa motif sesungguhnya dari penculikan Hanum.


Semua serba mendadak dan terlalu banyak rahasia. Memecahkan siapa pelaku mobil merah saja belum terungkap, ditambah kasus baru yang membuat pihak polisi semakin buntu.


"Aku tidak akan ikut untuk operasi pembebasan sandra, biar kalian saja yang urus," celetuk Zaki pada semua orang yang sedang berkumpul.


"Kenapa kamu begitu sangat keras kepala? fokus kita sekarang hanyalah menyelamatkan anak kecil saja!" bentak kapten Nasar dengan gusar.


"Kalian masih tidak sadarkah! jika penculikan Hanum adalah orang yang sama dengan mobil merah?" balas Zaki dengan ketus pada atasannya.


"Bahkan kita masih belum punya petunjuk lagi tentang kasus mobil merah. Disini kamu malah terobsesi dengan kinerja mu yang sangat lambat," ocehan kapten Nasar tidak berhenti.


"Terserah kalian saja, aku akan kembali menyusuri TKP terakhir kasus mobil merah. Aku yakin akan ada bukti baru di hutan itu," jelas Zaki sambil keluar dari kursinya.


Melihat tingkah senior yang sangat ia hormati, Andi tidak bisa berkutik. Sejak pertemuannya dengan sekertaris Jesica di gedung Denka. Membuat Zaki semakin yakin jika keluarga konglomerat itu terlibat.


Namun sayang, akses ketat dan penuh dengan rahasia sangat sulit di tembus polisi. Zaki masih belum bisa menyeret satu nama saja dari group Denka tersebut.


"Kenapa kamu terus membuntuti ku?" tanya Zaki dengan kesal.


"Sudahlah senior, sekarang kita fokus saja mencari pelaku itu. Objek tersangka kita sudah sangat dekat. Denka adalah sasaran kita," jelas Andi dengan sangat sabar.


"Apa kamu sudah mendapatkan informasi lebih dari organisasi payung putih itu?" tanya Zaki dengan serius.


"Senior harus melihat ini, aku baru saja mendapatkan banyak informasi tentang organisasi payung putih," ucap Andi sambil membuka sebuah dokumen PDF dari dalam layar HP.


Dia lalu menyodorkan dokumen itu langsung dihadapan Zaki. Dengan gerakan mata yang sangat cepat dia sedang menilik status dan AD + ART dari organisasi tersebut.


"Ada yang sangat menarik dari fakta pembentukan organisasi perusahaan ini. Senior bisa lihat kan? jika sejarah pembentukan organisasi ini awalnya di bentuk oleh nyonya pertama Presdir dan operasi mereka dilakukan di pabrik sepatu di daerah Jakarta Selatan," jelas Andi.


"Pabrik?" tanya Zaki dengan serius.


"Itu adalah pabrik kesayangan istri Presdir yang pertama. Hampir semua pekerja pabrik itu adalah wanita yang mengalami keterterbelakang ekonomi.

__ADS_1


Istri pertama Presdir adalah wanita yang sangat terkenal karena kedermawanan dan senang dengan pemberdayaan wanita kala itu.


Paling mengejutkan adalah pabrik itu pernah terbakar secara misterius 16 tahun yang lalu dan menewaskan istri Presdir dan semua karyawan di sana," ucap Andi dengan serius.


"Jangan jangan, pabrik pertama organisasi payung putih adalah tempat dimana saat kita menemukan jejak mobil merah dan kaki tangannya?" tebak Zaki dengan mata melotot.


"Yah, betul sekali. Semua fakta ini akhirnya saling berkaitan. Apa senior masih ingat dengan perkataan petugas forensik saat itu mengenai pabrik tua tersebut?" tanya Andi kembali.


"Pelaku sengaja memilih pabrik tua sebagai tempat kejahatan karena tempat itu memiliki banyak ikatan dengan pelaku itu sendiri," jelas Zaki dengan sangat lancar.


"Aku bisa tebak siapa orang yang sangat mempunyai banyak ikatan dan kenangan dengan pabrik tua ini," ujar Andi dengan tatapan misterius.


"Menurutmu siapa?" tanya Zaki dengan penasaran.


"Disaat kejadian kebakaran pabrik tersebut, ada satu yang selamat. Dia adalah anak semata wayang dari istri Presdir. Anak itu adalah Erick, CEO Denka Group," jelas Andi dengan yakin.


"Erick? apakah dia orang yang sedang kau curigai," tanya Zaki dengan tatapan terkejut dan tidak percaya.


"Semenjak kematian ibunya. Dia adalah yang paling tersiksa dari kejadian ini. Presdir saat itu langsung menikah dengan selingkuhannya. Dia pasti telah banyak melewati hidup yang sulit sebagai putra konglomerat," tutur Andi.


Untuk saat ini, Zaki cukup tercengang dengan semua praduga Andi. Memang profil pelaku sangat cocok dengan Erick. Dari mulai usia, kemiripan struktur tubuh dan status sosial.


Namun untuk menilik lebih jauh alasan motif Erick melakukan kejahatan masih sangat bias. Zaki mulai menduga duga, gangguan psikologis dan beban mental sejak kecil bisa jadi penyebab utama Erick melakukan tindak penculikan.


Sebuah trauma besar akibat kehilangan sang ibu di masa kecil bisa jadi adalah pemicu dendam dan ketakutan luar biasa.


Erick bisa saja menganggap Dira adalah ibunya sendiri. Pria itu merasa jika Dira adalah sosok perempuan yang sama menyedihkan seperti ibunya sendiri.


Nasib istri Presdir yang telah disingkirkan oleh selingkuhan mungkin bisa terjadi oleh Dira dalam kehidupan rumah tangganya.


Erick tidak ingin melihat Dira hancur seperti nasib ibunya yang tragis. Erick melindungi Dira dengan cara yang salah.


Tapi semua itu masih spekulasi dan bersifat kemungkinan. Sampai saat ini, mereka bahkan belum mampu menemukan bukti kuat untuk menyeret Erick ke ranah hukum.


Bahkan Zaki sendiripun masih belum yakin, jika Erick adalah pelaku dari kasus mobil merah. Alibinya masih sangat kuat saat waktu kejadian.


Karena saat itu Jesica telah memberikan keterangan, jika Erick dan dia sedang berada di sebuah bar untuk menghadiri pesta dengan teman temannya.

__ADS_1


Zaki dan Andi pun saat itu telah mendatangi bar tersebut. Pihak bar pun telah mengkonfirmasi jika Erick dan Jesica memang hadir di acara pesta dari pukul 8 sampai 12 malam.


Hanya saja keterangan pemilik bar itu masih punya kelemahan. Karena tidak ada bukti CCTV yang mengkonfirmasi kehadiran mereka di tempat itu secara nyata. Pihak bar pun beralasan jika tamu VVIP mereka sangat suka privacy dan keamanan ketat.


__ADS_2